Elina Tiara Cahya Pradipta, wanita yang cantik, anggun, menarik, dan segalanya ada padanya. Namun, hal itu tidak membuatnya dikelilingi oleh banyak orang. Teman, bahkan pasangan, dia hanya punya keluarganya.
Sampai satu kejadian, yang membuatnya bertemu Raefal. Laki-laki yang sangat mempesona. Mereka bernasib sama, tidak punya siapapun selain keluarga. Hingga akhirnya mereka sadar bahwa selain keluarga ada Tiara yang membutuhkan Raefal dan Raefal yang membutuhkan Tiara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayna', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang Bersama
Hari ini, cuaca cukup mendukung untuk melakukan aktivitas. Terlihat dari banyaknya orang yang berhamburan keluar untuk melakukan aktivitasnya. Begitu juga dengan Tiara.
Tiara dan ditemani oleh Lucas sekarang sedang menuju salah satu perusahaan yang juga kebetulan bekerjasama dengan perusahaannya. Mereka akan mengadakan rapat dengan CEO perusahaan itu secara langsung. Karena, sebelumnya mereka hanya bertemu dan membicarakan masalah kerjasama dengan sekretaris CEO.
Mereka menggunakan mobil dan Lucas sendirilah yang mengendarainya.
"Ra, katanya CEO perusahaan ini orangnya galak dan dingin banget. Kayaknya beda deh sama Raefal, pemilik Celeste Group," ucap Lucas membuka obrolan ditengah perjalanan mereka. Tapi, Tiara hanya acuh, tak berminat, karena baginya yang penting kerjasama ini akan berjalan lancar.
"Terus?"
Lucas menoleh ke arahnya yang duduk di kursi penumpang di sebelahnya. "Kamu gak penasaran, Ra?" tanyanya, lalu kembali fokus menatap ke jalanan.
"Hm, enggak sih. Tapi, itu info bagiku untuk bagaimana bersikap nanti." Tiara menyahut Lucas yang dibalas anggukan olehnya.
"Lagipula, siapa tahu sifatnya berubah saat bertemu klien? Apalagi yang memberikan keuntungan besar bagi perusahaannya?" lanjut Tiara.
Lucas terkekeh, "tidak Ra, aku tahu ini kan dengar-dengar dari perusahaan yang pernah kerjasama dengannya."
"Sifatnya yang dingin, tapi berkharisma begitu katanya. Namanya --" Perkataan Lucas terjeda karena dipotong oleh Tiara.
"Sudah, sudah. Nanti juga tau," potong Tiara agar Lucas bisa diam dan kembali fokus menyetir. Dia sedang menyetir mobil, kalau kebanyakan bicara bisa gagal fokus dan mereka bisa jadi kecelakaan. Itu sebenarnya yang membuat dirinya tidak terlalu meladeni perkataan Lucas.
••••
AMAJAYA CORP
"Permisi, Buk, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis yang baru mereka datangi. Dia tersenyum manis dan ramah.
"Iya, perkenalkan kamu dari perusahaan Pradipta Abadi, saya Tiara dan ini asisten sekaligus sekretaris saya. Kami kesini, karena ada janji ingin bertemu dengan CEO perusahaan Amajaya CORP karena kami terlibat kerjasama," jelas Tiara pada resepsionis tersebut. Resepsionis itu mengangguk dan segera menelpon ke bagian atas untuk memberitahukan mengenai kedatangan mereka.
"Baik, Bu. Mari saya antar untuk ke ruangan CEO, karena Pak Darrelnya sedang keluar." Tiara hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah resepsionis itu menuju ruang CEO.
Setelah sampai, mereka disambut oleh seorang sekretaris laki-laki. Badannya tegap, rahang yang tegas, dan mata yang tajam. Bahunya juga terlihat lebar dan terlihat pula sedikit otot-otot pada lengannya.
Ini sekretarisnya kayaknya merangkap juga sebagai bodyguard. Kayak Lucas dong, tapi bedanya badan Lucas lebih kerempeng. Batin Tiara, membandingkan Lucas dengan sekretaris yang ada di hadapannya sekarang ini.
"Selamat siang, Bu Tiara. Perkenalkan nama saya Jody, sekretaris Pak Darrel. Mohon maaf karena mengharuskan Ibu menunggu terlebih dahulu, karena Pak Darrel sedang ada urusan di luar kantor. Silahkan masuk ke ruangan beliau, Bu, Pak." Sekretaris bernama Jody itu, berbicara begitu lembut berbeda dengan wajahnya yang terlihat garang.
Setelah dipersilahkan masuk, Tiara dan Lucas pun langsung memasuki ruangan CEO. Hawa dingin mulai menyapa permukaan kulit. Sebetulnya, di luar juga sudah dingin karena AC, cuman sekarang terasa lebih dingin, mungkin suhu AC nya lebih rendah.
Mereka pun duduk di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut. Sambil menunggu, Tiara maupun Lucas membahas mengenai dokumen yang mereka bawa dalam map dan memilih berdiskusi tentang kerjasama perusahaan.
Selang 15 menit, pintu ruangan terdengar terbuka dari luar. Muncullah seseorang yang sedari tadi mereka tunggu, yaitu Darrel Amajaya.
Badannya terbilang tinggi, tegap, dan sama dengan sekretarisnya juga dia memiliki bahu yang lebar. Dada yang bidang menambah kesan seksi saat melihatnya.
Darrel berjalan menuju sofa menghampiri Tiara dan Lucas. Tiara dan Lucas sudah lebih dulu berdiri menyambut kedatangannya.
Saat tepat berada di depan mereka, mereka jadi bisa melihat Darrel lebih jelas. Tampangnya yang katanya dingin dan terlihat galak memang benar adanya, namun satu yang tertinggal, Darrel sangat tampan. Tidak beda jauh dengan Raefal, hanya menurut Tiara, Raefal lebih tampan dari Darrel.
Bola mata yang berwarna hitam kecoklatan, membuat orang yang memandangnya pasti tidak akan bosan untuk terus memandangi itu. Hidung mancung, rahang yang tegas, dan bibir yang pink alami. Pahatan yang sempurna.
"Selamat siang, mohon maaf karena saya baru bisa kembali ke perusahaan sekarang. Karena ada urusan mendesak, jadinya saya harus menanganinya terlebih dahulu." Darrel meminta maaf akan keterlambatan dirinya.
"Siang, Pak Darrel. Tidak apa-apa, apabila urusan itu sangat mendesak, itu harus didahulukan. Kami maklumi," sahut Tiara, diiringi dengan senyum manisnya yang menampilkan deretan gigi-gigi putihnya.
Darrel yang melihat itu merasa terpana akan kecantikan orang yang sedang menjalin kerjasama dengannya mulai sekarang. Sungguh, baru kali ini dia bertemu perempuan yang sangat cantik dan manis. Karena, sebelum-sebelumnya, dia hanya mementingkan kerja dan tidak terlalu dekat dengan wanita.
Darrel masih terus menatap Tiara. Namun, tak berselang lama, dirinya mulai tersadar. Untung Tiara dan Lucas yang berada di depan sepertinya tidak terlalu memperhatikan.
"Terimakasih, ehm- bagaimana kalau kita membahas kerjasama ini sembari makan siang. Saya liat jam, ini sudah memasuki waktu makan siang. Jadi, kita bisa membicarakan nanti di restoran saja. Bagaimana?" tanya Darrel meminta persetujuan, tetapi hatinya berdoa agar Tiara mau makan siang bersamanya, walau hanya membicarakan tentang kerjasama perusahaan.
Tiara tampak berpikir, matanya mengarah ke jam dinding yang terdapat di belakang meja CEO. "Baik, Pak Darrel. Saya setuju," ujar Tiara menyetujui saran dari Darrel.
"Baiklah, ayo ikuti saya. Kita akan segera ke restoran," ajak Darrel, setelah itu berlalu dari ruangannya terlebih dahulu.
Tiara yang masih di dalam ruangannya menengok ke arah Lucas yang berdiri di sampingnya." Kata kamu dia dingin dan galak, mana menurutku dia berbicara cukup lembut pada kita," ujar Tiara dengan alis yang berkerut. Dia beranggapan kalau Lucas membohongi dirinya dan malah mendengarkan omongan-omongan yang berseliweran di luar.
"Yeee, lihat wajahnya aja ngeri, galak sih. Ya, walaupun dia bicaranya lembut. Tapi, suer deh, kata orang begitu." Lucas mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
"Ah, sudahlah. Makanya jangan terlalu dengar perkataan orang lain, siapa tau mereka ada salah omong jadi sikapnya Pak Darrel lebih dingin atau apalah gitu. Buktinya ke kita lembut gitu, walau setelan mukanya galak, tapi dia sepertinya cukup hangat." Tiara berpendapat.
"Alah, baru aja ketemu sekali. Eh, Ra tunggu." Lucas segera menyusul Tiara yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan.
••••
Disinilah mereka di ruangan VIP sebuah restauran yang sudah Darrel pesan, agar saat pembahasan, mereka merasa nyaman dan tidak terganggu oleh suara ramai pelanggan lain.
"Jadi, bagaimana dengan pendapat saya tadi?" tanya Darrel terhadap Tiara.
"Ya, saya setuju. Saya rasa untuk produk kita ini, bisa juga dipasarkan di daerah kecil. Produk ini juga bisa dijual di beberapa swalayan, agar masyarakat menengah ke bawah juga bisa merasakan keunggulan dari produk kita. Hanya mungkin untuk harganya kita sesuaikan saja. Namun, kualitasnya harus tetap sama." Kali ini Tiara yang berpendapat. Darrel mengangguk menyetujui pendapat Tiara.
"Baiklah, saya setuju. Semoga produk kita akan laku di pasaran dan diminati oleh masyarakat, apalagi produk ini bisa dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat."
"Iya, Amin. Semoga ya, Pak." Tiara mengaminkan ucapan Darrel.
"Oh, ya. Panggil Darrel saja, saya belum terlalu tua," ucap Darrel diselingi kekehan. Tiara juga ikut terkekeh kecil. Begitu pula dengan Lucas.
Setelah itu, mereka kembali menikmati makan siang mereka masing-masing. Darrel sesekali mencuri pandang pada Tiara yang sedang asik memakan makan siangnya. Tanpa ia sadari, Lucas yang duduk di sebelah Tiara itu melihat dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh partner kerja perusahaannya kali ini.
"Dia ngeliat Tiara, kenapa? Wah, tanda-tanda nih, pantas perlakuannya lembut, kayaknya dia naksir nih." Lucas berpendapat dalam hatinya.
••••
-bersambung-