Setelah pertemuan tidak sengajanya dengan sang CEO di sebuah acara membuat Hasya harus terus berpura-pura menjadi orang lain. Karena dia juga butuh kekuatan untuk membaaskan dendam untuk sahabatnya, akhirnya dia memanfaatkan kedekatannya dengan sang CEO.
Namun, tanpa Hasya sadari, Jun sang CEO juga diam-diam melakukan hal yang sama padanya. Karena desakan orang tua untuk segera memiliki pasangan.
Lalu bagaimana jadinya jika mereka salinge mengetahui rahsaia satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaBlue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Istri yang Kabur
Pintu lift terbuka, disusul Luna yang berjalan keluar. Hari ini dia akan menemui Rivan, bahkan secara khusus dia membelikan makanan untuk laki-laki itu. Saat sampai di depan meja kerja Jun, dia tidak melihat keberadaan laki-laki itu. Akhirnya, dia berinisiatif untuk mengetuk sendiri pintu ruangan Rivan. Wanita itu perlahan membuka pintu dan melangkah masuk.
"Permisi," salamnya ketika memasuki ruangan. Akan tetapi, dia juga tidak menemukan keberadaan Rivan di sini.
"Apa mungkin dia sedang meeting?" Luna meletakkan tas makanan itu di atas meja. Lantas melangkah menuju meja kerja laki-laki itu.
Senyum di bibirnya tak pernah luntur, tangannya menyentuh satu persatu barang milik Rivan yang ada di atas meja.
"Bahkan, tidak ada foto mereka berdua." Seketika senyum mengejek terukir di bibirnya.
"Apa mungkin hubungan mereka tidak sebaik yang terlihat?" sambungnya lagi. Mendadak wanita itu penasaran dengan hubungan mereka. Siapa yang tahu jika dugaannya memang benar.
Suara gagang pintu yang diputar mengalihkannya. Dengan cepat wanita itu berjalan menuju sofa dan duduk. Melihat sosok Rivan yang kini sudah berdiri di depannya, Luna tersenyum.
"Sejak kapan kau di sini?" tanya Rivan yang terkejut dengan kehadiran Luna di ruangannya.
"Baru saja. Maaf aku masuk tanpa izin dulu. Soalnya aku tidak melihat Jun di depan," jelas Luna. Mendengar itu Rivan hanya mengangguk acuh. Laki-laki itu berjalan menuju meja kerjanya, melewati Luna.
"Ada perlu apa, sampai kau secara khusus datang kemari?" tanya Rivan tanpa menoleh. Laki-laki itu memilih fokus pada berkas di atas mejanya.
"Aku hanya datang berkunjung sebagai seorang teman. Oh iya, tadi saat aku makan di sekitar sini, aku juga sekalian membawakannya untuk mu." Luna dengan semangat membuka tas makanan di atas meja. Semua itu tak luput dari pandangan Rivan. Wanita ini sebenarnya tipikal orang perhatian. Hanya saja nasib percintaannya kurang beruntung.
"Terima kasih. Kau bisa meletakkannya di situ." Rivan kembali fokus pada berkasnya. Luna masih tidak menyerah, setelah menata makanan itu di atas meja. Wanita itu kembali merayu Rivan.
"Makanlah dulu, baru setelah itu kau lanjutkan pekerjaanmu. Kau punya asam lambung, ingat?" Gerakan Rivan terhenti. Wanita itu memang hampir mengetahui sebagian dari dirinya. Mungkin karena efek pertemanan mereka yang sudah lama.
Namun, jika ingin jujur. Dia memang sedang lapar. Bekerja sedari tadi sangat menguras energinya, di tambah tidak sempat sarapan. Jadi saat mencium aroma makanan, perutnya semakin keroncongan.
"Baiklah, aku akan makan."Ingin rasanya Luna berteriak kencang saking senangnya. Dengan telaten dia menyiapkan makanan itu untuk Rivan.
Rivan duduk di salah satu sofa. Seleranya semakin tergugah, saat melihat semaunya adalah makanan kesukaannya. Akhirnya, tanpa banyak berfikir dia langsung menyantapnya dengan lahap.
Luna menuangkan air ke dalam gelas dan meletakkannya di depan Rivan. Mata mereka bertemu, Luna mengulas senyum manisnya. Sesaat, Rivan tertegun, namun dengan cepat dia mengalihkan pandangannya.
Luna yang menyadari itu, diam-diam mengulas senyum licik. Dia sudah lama mempelajari sifat dan karakter Rivan. Walau terkadang laki-laki itu mengabaikannya, namun perlahan dia pasti bisa merebut laki-laki itu.
Kau itu hanya milikku Rivan. Sejak dulu, sudah begitu. Batin Luna.
Luna mengambil ponselnya. Kali ini dia akan melancarkan rencana keduanya.
"Aduh!" Rivan menoleh pada Luna yang tampak seperti orang kebingungan.
"Kenapa?" tanya Rivan.
"Ini, ayah ku. Dia menyuruhku mengirimkan bukti, jika aku memang tidak keluyuran," jawab Luna sambil mengetik balasan untuk ayahnya.
"Kemarikan." Rivan mengambil ponsel Luna. Dia mengarahkan kamera ke arah mereka berdua. "Kenapa wajah mu tegang begitu? Nanti ayah mu mengira aku menindas mu," tambah Rivan yang melihat raut wajah kaget Luna.
"Oh iya baiklah."
Cekrek!
"Kirimkan ke ayah mu." Rivan menyerahkan ponsel Luna dan kembali melanjutkan makanannya, sedangkan Luna sudah terbang ke atas awan. Dia tidak menyangka, jika Rivan dengan suka rela berfoto dengan dirinya.
****
Risma sedang fokus merapikan meja dan kursi, tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Dia mendongak pada TV yang tergantung tidak jauh darinya. Di TV itu sedang menayangkan kejadian penembakannya minggu lalu. Terdengar juga jika penembak itu sudah di tangkap beserta orang yang menyuruhnya.
Tanpa sadar Risma meremas sandaran kursi dengan kuat saat pembawa berita mengatakan jika Rivan sendiri yang menangkap pelakunya. Perasaannya semakin tidak karuan. Risma terlanjur membenci laki-laki itu, sejak dia menghinanya sebagai wanita gatal.
"Wah, Ris. Suami mu memang keren," celetuk Asri di sampingnya. Akan tetapi, kata-kata itu tidak berhasil menggoyahkan kebenciannya. Mungkin dia akan berterima kasih, namun tidak memaafkan laki-laki itu sepenuhnya. Baginya, penghinaan itu sangat melukai harga dirinya.
"Biasa saja." Risma kembali melanjutkan pekerjaannya. Memilih untuk menghiraukan celotehan pembawa berita dan Asri yang menyanjung serta mengagung-agungkan sosok Rivan.
"Kalian kenapa? Bertengkar yah?" goda Asri.
"Tidak."
"Terus kok reaksi mu dingin begitu. Padahal itu suami mu loh,"sambung Asri masih terus menggoda Risma.
"Bukan urusan mu!" hardik Risma lantas pergi meniggalkan Asri yang sudah memberengut.
****
"Silahkan, Tuan." Bibi Elia meletakkan secangkir kopi panas di atas meja.
"Terima kasih, Bi." Rivan meraih cangkir itu dan menyesapnya perlahan. Bibi Elia pamit kembali ke dapur. Setelah beberapa menit bermain ponsel, laki-laki itu baru sadar sesuatu. Sejak tadi, dia tidak melihat Risma. Padahal ini sudah menunjukkan pukul 8 malam.
"Sepertinya dia masih marah padaku." Rivan mengusap wajahnya gusar. Dia harus meminta maaf pada wanita itu. Akhirnya, laki-laki itu menaiki anak tangga menuju lantai dua. Perlahan dia mengetuk pintu kamar Risma.
"Risma!" panggil Rivan.
"Risma!" panggilnya lagi.
"RISMA!" kali ini suaranya lebih keras. Akan tetapi, tetap tidak aja jawaban dari si pemilik kamar. Merasa ada yang aneh, Rivan segera mengambil kunci cadangan di kamarnya. Pintu kamar Risma berhasil di buka. Laki-laki itu masuk dengan tidak sabaran, matanya menelisik setiap sudut ruangan.
"RIsma!" Rivan terus memanggil sambil mengitari seluruh bagian kamar. Bahkan, kamar mandi pun tak luput dari jangkauannya.
"Sialan!" umpatnya saat membuka lemari pakaian istrinya. Pakaian Risma sudah hilang setengahnya, yang tersisa hanya beberapa piyama saja. Rivan keluar kamar, terburu-buru menuruni anak tangga sambil meneriaki Bibi Elia.
"Ada apa, Tuan?" Bi Elia datang dengan tergopoh-gopoh lantaran mendengar Tuan Mudanya berteriak.
"Dimana, Risma?" tanya Rivan setengah membentak.
"Saya kira Nyonya ada di kamar, Tuan," jawab Bibi Elia dengan suara bergetar
"Tidak ada. Bahkan, bajunya sudah habis di lemari!" Bibi Elia terkejut mendengar penuturan Rivan.
"Maksudnya, Nyonya kabur, Tuan?" ujar Bibi Elia takut-takut.
"Sudah pasti." Rivan meraup wajahnya gusar. Dia tidak menyangka jika efek dari perkataannya sampai sebesar ini.
"Aku akan mencari, Risma. Tolong segera hubungi aku, jika dia kembali yah Bi," sambung Rivan.
"Baik, Tuan."
Rivan bergegas keluar rumah lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Mobilnya melaju membelah jalan yang hanya di lalui beberapa kendaraan saja. Mengingat jam sudah menunjukkan pukul tengah malam. Rivan segera menghubungi Jun untuk membantunya melacak jejak Risma.
"Istriku kabur dari rumah. Periksa semua cctv di sekitar rumah ku. Aku mau hasil nya malam ini juga!"
"Baik, Tuan." Rivan langsung mematikan sambungannya. Dia kembali fokus menyetir. Tujuannya saat ini adalah tempat kerja wanita itu. Semuanya tidak akan luput dari jangkuannya.
"Kau tidak akan bisa lari dari ku, Risma."