Bagaimana cinta dapat mengembalikan kehidupan manusia ke dalam kebahagiaan? Jika bukan dengan perjuangan dan kesungguhan doa.
Dengan kekuatan perjuangan dan doa segala yang mustahil menjadi mungkin. Segala yang muskil menjadi mustajab.
Cerita ini tentang seorang perempuan dan laki-laki yang berjuang untuk mendapatkan cinta seutuhnya. Cerita diawali dengan matinya banyak gadis sesaat setelah dinikahi Aabid. Itupun saat malam pertama sehari setelah pernikahan.
Tiada yang tahu sebab musabab matinya para istri Aabid. Walau ada banyak rumor yang berseliweran, namun semuanya belum dapat dipastikan kebenarannya.
Ya, ada yang bilang bahwa matinya istri Aabid karena guna-guna. Ada juga yang bilang karena dijadikan tumbal. Ada juga yang bilang karena dibunuh Aabid sendiri. Semua cerita yang beredar baru sebatas rumor yang lagi-lagi belum dibuktikan kebenarannya.
Dan cerita ini berlanjut di saat pernikahan ketujuh Aabid dengan seorang gadis bernama Neha....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SitiMamay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24. Percayalah Neha. Dia anak ku...
"Assalamu'alaikum....."
Sebuah suara menyapa telinga bersamaan dengan semilir angin yang berhembus. Dari suara yang dihasilkan, sukses membuat bulu kuduk meremang. Neha terdiam. Ia berusaha tak menggubris suara tersebut. Perempuan cantik itu tetap terus melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
"Assalamu'alaikum...."
Sekali lagi suara itu terdengar. Dan kali ini Neha sepertinya tak dapat mendiamkannya. Ia pun menoleh pada suatu arah yang ia duga sebagai sumber suara. Berharap ada di empunya suara di sana. Tapi nihil.
Neha tidak menemukan si empunya suara. Neha pun mencari ke sisi lain ruangan, namun hasilnya tetap sama. Neha tidak menemukan siapapun.
WUSH....
Mendadak ada hembusan angin yang menerpa wajah Neha. Hembusan itu telah menerbangkan ujung mukena yang dikenakan Neha sesaat. Juga sukses membuat Neha terkejut.
"Kau mencari ku..." ucap sebuah suara.
Dari arahnya, jelas berasal dari belakang Neha. Perempuan cantik itu spontan memutar tubuh. Rasa terkejut Neha yang belum usai, justru kini bertambah.
Berdiri sesosok laki-laki tampan dengan rambut ikal. Senyumnya pun begitu menawan. Mana Neha mengamati laki-laki itu.
"Wajahnya mirip kak Aabid. Tapi aku yakin dia bukan kak Aabid. Apakah dia makhluk penghuni hutan Tanggamus?" batin Neha.
"Apa kau tidak mengenaliku? Aku suami mu. Beberapa waktu lalu kita selalu berbagi ranjang. Apa kau lupa....?" ucap laki-laki itu.
"Aku bersama suami ku, bukan kau. Jadi pergilah aku tidak mengenal mu..."
"Haha...Aku akan pergi, tapi percayalah aku akan selalu datang kepadamu. Kenapa? Ehm, aku akan mengatakan sebuah rahasia yang hanya kita berdua mengetahuinya..."
Selepas mengatakan itu, dan sebelum mata berkedip, laki-laki itu sudah berada di dekat Neha. Ia pun mendekatkan bibirnya pada telinga Neha.
"Kau harum Neha. Keharuman tubuh mu dapat ku cium berpuluh-puluh kilometer sekalipun. Kenapa? Karena jabang bayi yang ada di perut mu itu. Dia anak ku..." ucap laki-laki itu bak berbisik bersamaan dengan semilir angin dingin yang baru saja berhembus.
"Tidak! Aku tidak sedang mengandung. Kau berbohong...!"
"Percayalah Neha. Dia anak ku..." ucap laki-laki itu yang lenyap begitu saja.
"Tidak...! Aku tidak mungkin mengandung...! Terlebih anak makhluk terkutuk itu...!" teriak Neha tertahan.
Tangannya memukuli perutnya yang masih tampak biasa saja itu. Bertubi Neha melakukannya seraya berurai air mata.
"Neha...! Neha....!"
Terdengar suara Ummy Salamah di balik pintu bersamaan dengan ketukan keras pada daun pintu. Dari nada suaranya, jelas jika ia begitu khawatir akan sosok perempuan yang disebutnya sebagai anaknya itu.
"Dobrak....!" ucap ummy Salamah kepada seorang santri yang baru saja datang.
BRAKK....!
Pintu pun dipaksa terbuka. Dan alangkah terkejutnya ummy Salamah saat pintu terbuka. Ia menjadi histeris saat melihat Neha yang tengah berdiri di atas tempat tidur. Neha tengah berdiri menghadap dinding. Ia tengah membentur-benturkan kepala di dinding. Darah pun berbekas di dinding.
Ummy Salamah segera saja merengkuh tubuh Neha. Dan merebahkannya pada sisi lain tempat tidur. Sesaat bibir Ummy Salamah bergerak komat-kamit. Rupanya ia tengah merapal doa-doa. Sesekali ia meniupkannya pada segelas air.
"Apa yang kau lakukan? Sadarlah, Ndok..." ucap ummy Salamah sambil mengusapkan air ke wajah Neha.
Bukan sekali, namun berulangkali. Ummy Salamah lagi-lagi mengusapkan air ke wajah Neha sambil terus merapal doa-doa. Tak berapa lama, Neha pun tersadar. Mengetahui hal tersebut, segera saja Ummy Salamah memberi minum dari gelas yang sudah dibacakan doa-doa tadi.
Neha memeluk Ummy Salamah. Begitu erat seakan tak ingin melepaskannya. Neha tersedu dalam dekapan Ummy Salamah. Ia menumpahkan segala sesak di dada. Walau bibir tak bicara, namun tangis sudah mencerminkan suasana hati.
"Neha...! Ada apa, sayang...."
Aabid datang tergopoh. Kemudian ia berdiri di ambang pintu. Ia sungkan karena Ummy Salamah masih berada di sana.
"Neha sepertinya kurang sehat. Kenapa kau meninggalkannya sendirian. Atau paling tidak kau menitipkannya kepada Ummy. Jadi Ummy bisa menjaga nya..."
"Ya, Ummy. Maafkan saya. Tadi Neha mengeluh kurang sehat sebelum menghadiri pengajian. Jadi Aabid meninggalkannya, itu pun atas bujukan Neha. Aabid tidak tahu jika akan begini" jelas Aabid.
Neha terdiam. Matanya terpaku pada jendela yang tertutup. Fikirannya kembali menerawang pada sosok laki-laki yang mirip Aabid barusan.
"Ada apa, Ndok? Cerita pada Ummy..."
"Ummy, Neha..."
Kata Neha terhenti. Tangannya secepat kilat menutup mulutnya. Kemudian tanpa ba-bi-bu lagi, kaki Neha langsung melangkah menuju kamar mandi yang tak jauh dari tempatnya berada. Diikuti Ummy Salamah dan Aabid.
Neha memuntahkan segala isi perutnya. Rasa mual yang berlebihan, membuat Neha enggan beranjak dari kamar mandi. Kepalanya pun menjadi amat berat.
"Kau harus istirahat, kita ke tempat tidur ya..." ucap Aabid yang langsung ditepis Neha.
"Menjauhlah...! Jangan mendekati ku apalagi menyentuhku...!" ucap Neha.
"Ada apa, sayang....?"
"Pergi....!!"
Kata terakhir Neha memaksa Aabid meninggalkan kamar. Hati laki-laki tampan itu di duduki sejuta tanya. Ia benar-benar tidak tahu apa yang tengah terjadi. Atau apa yang tengah dialami Neha, istrinya itu. Namun ia yakin, bahwa Neha sedang tidak baik-baik saja.
Sepeninggalan Aabid. Neha terisak. Ada sesal yang mencubit hatinya. Namun hanya itu yang sepertinya harus ia lakukan sebagai wujud kebimbangannya.
"Ada apa, Ndok?Mengapa kau mengusir Aabid suami mu?"
"Karena aku tidak tahu apakah ia kak Aabid suami ku atau...makhluk laknat itu" ucap Neha.
"Makhluk laknat...?"
"Ya, Ummy. Beberapa saat lalu, datang kepada ku seorang laki-laki. Ia begitu serupa dengan kak Aabid. Hanya gerak-gerik nya saja yang berbeda. Laki-laki itu bergerak begitu cepat. Hanya dalam sekejap mata ia sudah berada di dekat ku. Dan di waktu lain ia pergi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Dan yang membuat Neha cemas adalah ucapannya...."
Neha terdiam. Ia seperti mengingat sesuatu.
"Apa ucapannya?"
"Ummy, dia berkata bahwa aku sedang mengandung. Dan Bayu yang ku kandung ini adalah anaknya. Ummy..." ucap Neha.
Tangannya mengguncang lengan Ummy Salamah saat perempuan paruh baya itu terdiam. Mungkin Ummy Salamah tengah mencerna setiap kata yang terlontar dari bibir Neha.
"Apa kamu yakin, Ndok...?"
"Entahlah, Ummy. Neha tidak merasa tengah mengandung..."
"Lalu apa tadi?"
"Apa Ummy..?"
"Kau muntah-muntah. Bisa jadi itu tanda bahwa kau sedang mengandung..."
Neha menggeleng. Sebelah tangannya memegang dahi yang dibalut kain kasa. Matanya menerawang entah kemana.
"Sudahlah. Kita nanti kedatangan dokter Ameer. Kita akan segera tahu apakah benar kau mengandung atau tidak..."
"Ummy, Neha takut..."
"Mengapa harus takut...? Suami mu kan ada. Apa yang kau khawatir kan?"
"Neha takut anak ini adalah anak makhluk laknat itu seperti yang ia katakan tadi..."
"Ah, jangan berfikir macam-macam..."
"Ummy sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan jika benar kau mengandung anak dari makhluk terkutuk itu. Ya, Allah ujian macam apa ini? Sungguh kami tidak mengetahui rencana Mu. Kami mohon perlindungan kepada Mu. Hanya kepada Mu..." batin ummy Salamah.