Wulandari, seorang gadis berusia 17 tahun yang meninggal dunia karena sebuah kemalangan, tiba-tiba mendapatkan dirinya di tubuh wanita lain, yang tinggal di sebuah tempat antah berantah yang sangat terpencil dan sama sekali tidak berpenghuni.Hanya ada binatang buas dan pepohonan besar di sekelilingnya. Bukan hanya itu, dia juga ternyata memiliki dua anak yang sangat menggemaskan.
Setelah bertemu dengan sekelompok pemburu, dia mulai menemukan rahasia tentang siapa dirinya dan anak-anaknya. Dia juga harus menyelesaikan masalah-masalah mengejutkan lainnya juga muncul di hadapannya.
Bisakah dia menghadapi semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
anak-anak?
.
.
"Melissa, kenapa kamu kemari?" Cahir terlihat sangat terkejut dan juga khawatir.
"Menurut mu?" Melissa menggerakkan tangannya, memberikan aba-aba pada prajuritnya untuk segera menyerang mereka semua.
"Bunuh mereka semua! Jangan meninggalkan satu orang pun untuk bisa lari dari sini! Mereka semua harus mati dengan sangat mengenaskan!" Perintahnya.
Melissa mungkin adalah wanita lemah lembut yang anggun dengan kebangsawanannya. Namun dia tidak akan pernah membiarkan siapapun mencoba untuk mengganggu kehidupan keluarganya. Terlebih orang-orang yang ingin menyakiti suami dan anaknya. dia tidak akan pernah mengampuni orang-orang semacam itu.
Melissa segera menyiapkan prajuritnya begitu mendengar suaminya mengalami penyerang saat dia akan membawa kembali putrinya. Dia yakin kalau mereka yang sangat ingin membunuh putrinya tidak akan tinggal diam, sampai Lithera benar-benar lenyap.
Untuk itulah, setelah Max memberitahu tentang keberadaan suami dan putrinya, dia segera mempersiapkan diri. Dan ternyata apa yang dia pikirkan memang terjadi.
Kini pertarungan hebat terjadi di depan mereka semua. Entah berapa banyak nyawa yang sudah tergeletak berserakan di sana.
"Tempat ini jauh lebih buruk dari yang kubayangkan!" Melissa Neutswand menggerakkan tali kudanya untuk mendekati suami dan juga putrinya. Setelah itu dia menggerakkan tangannya, menciptakan sihir pelindung yang merupakan kekuatannya. Melissa menciptakan barrier pelindung yang bisa melindungi mereka dari musuh yang akan menyerang mereka.
Melissa berasal dari keluarga Erkand, dimana mereka adalah keluarga yang turun temurun memiliki sihir pelindung yang luar biasa.
"Kamu benar-benar berencana untuk mati, huh?!" Melissa Neutswand turun dari kudanya, kemudian memeluk suaminya yang penuh darah. Walaupun dia terdengar marah, dia sebenarnya sangat mengkhawatirkan suaminya itu.
"Menyenangkan bertindak sebagai pahlawan?!" Melissa menjewer keras telinga suaminya.
"Maaf, sayang." Cahir memeluk istrinya dengan erat.
"Bodoh!!!" Melissa memukul keras punggung suaminya.
"Sekarang bukan waktunya untuk itu!" Melissa mendorong suaminya, kemudian berjalan mendekati gadis yang tergeletak di atas tanah dengan lemah.
Walaupun begitu, tatapan matanya yang jernih masih memperlihatkan betapa cantiknya dia. Dan rambutnya yang berwarna keemasan tetap berkilauan walaupun di malam hari yang gelap gulita.
"Li-Lithe-ra..." Melissa menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Rasanya masih sangat tidak percaya, jika gadis di hadapannya saat ini adalah putrinya yang sepuluh tahun lalu hilang tanpa kabar.
Walaupun mereka sudah berusaha sangat keras untuk mencarinya, namun mereka tidak pernah bisa menemukannya.
"A-ap-apa yang terjadi padanya?" Tangan Melissa Neutswand gemetar, dia berusaha menyentuh wajah Lithera yang terlihat begitu pucat.
Lithera sudah membuka matanya, namun dia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk menggerakkan tubuhnya.
"Li-Lithera...." Suara Melissa terdengar serak dan gemetar, walaupun begitu tatapannya begitu hangat.
Sentuhan lembut tangannya juga terasa begitu hangat.
"Ini ibumu, sayang..." Melissa menahan air matanya yang hampir keluar, "maaf, ibu baru bisa menemukan mu sekarang ini..." Melissa mengusap air matanya yang keluar begitu saja membasahi pipinya.
"Ibu sangat merindukan mu, Lithera..." Lithera tidak bisa menahan air matanya yang keluar begitu saja tanpa izin darinya. Dia tidak ingin mendengar apapun dari siapapun. Entah itu ayahnya atau ibunya sekalipun. Rasa sakit yang dia rasakan di dalam hati 'lithera' begitu dalam, dia tidak bisa memaafkannya begitu saja.
Namun melihat wanita di hadapannya saat ini, rasanya seluruh kebenciannya runtuh begitu saja. Kesedihan yang dia rasakan juga terasa sirna begitu saja.
'aku tidak bisa memahami apa yang sebenarnya kamu inginkan, 'lithera'...' Lithera merasakan hangatnya sentuhan tangan Melissa yang mengusap lembut air matanya di pipinya.
'aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu setelah perceraian keluarga ku... Apa rasanya memang begitu hangat?' Lithera lagi-lagi tidak bisa membendung air matanya.
'hangat dan menenangkan... Rasanya seperti matahari pagi. Aku tidak pernah merasakannya sebelumnya. Atau aku sudah melupakannya...'
"Jangan khawatir Lithera... Ibu akan melindungi mu mulai saat ini." Melissa mengusap lembut puncak kepala putrinya.
'inikah yang di namakan kasih sayang seorang ibu? Lithera bukanlah kamu sangat beruntung bisa memiliki ibu sepertinya? Atau kamu masih ingin tetap membencinya?'
Lithera memejamkan matanya sejenak. Mengatur dilema di hatinya sendiri yang tidak bisa dia selesaikan.
"Melissa..." Cahir mengusap lembut pundak istrinya.
"Bagaimana bisa kamu membiarkan putri kita menjadi seperti ini?!"
"Ini semua salahku." Jawab Cahir pasrah.
"Kenapa kamu...!" Melissa menahan kata-katanya. Rasanya menyakitkan melihat bagaimana kondisi putrinya yang begitu lemah di hadapannya. Terlebih setelah sekian lama mereka baru bisa bertemu kembali.
"Kenapa dia sampai seperti ini?" Melissa memeluk Lithera dengan penuh kasih sayangnya.
"Izin menjawab, Duchess Neutswand." Ucap Liola seraya membungkukkan badannya memberikan salam hormatnya.
"Sepertinya nona Lithera menggunakan aura pedang untuk pertama kalinya. Itu sebabnya tubuhnya tidak bisa menahannya... Mengingat dia tidak pernah mendapatkan pelatihan sebelumnya. Itu sebabnya dia belum bisa mendapatkan kembali tenaganya seperti sebelumnya..." Jelasnya.
"Dia sudah bisa menggunakan aura pedang?"
"Dari laporan yang Cyril berikan, nona Lithera sudah menggunakan aura pedang saat mereka di serang kemarin." Jawab Liola masih dengan sikap hormatnya.
"Jadi, ini semua salah orang-orang brengsek itu! Mereka memaksa putriku untuk menggunakan kekuatannya, agar mereka bisa membunuhnya tanpa melakukan apapun! Beraninya sampah seperti mereka melakukan ini pada putriku!!!" Melissa Neutswand mengatur nafasnya yang memburu karena kemarahannya.
"Bedebah itu! Aku akan membunuh mereka semua dengan tangannya tangan ku sendiri!"
Melissa Neutswand melihat pertarungan sudah berakhir dengan kemenangan di tangannya.
Dia melihat semua orang yang berusaha untuk membunuh putri dan suaminya tergeletak tidak bernyawa.
"Yang Mulia! Semuanya sudah selesai!" Laporan captain pemimpin prajuritnya.
"Ayo kita kembali." Jawab Melissa seraya beranjak dari tempatnya.
Sementara Cahir Neutswand mengangkat tubuh Lithera yang masih sangat lemah. Begitu juga dengan Liola yang bersiap untuk kembali setelah melakukan tugasnya.
"Kamu sudah sangat bekerja keras. Terimakasih, Liola!" Ucap Melissa tulus.
"Bukan apa-apa, Duchess. Hamba hanya menjalankan perintah dari Yang Mulia putra mahkota." Jawab Liola seraya membungkukkan badannya.
"Dari sini, hamba akan memisahkan diri. Hamba akan menuju ke istana kerajaan untuk memberikan laporan hamba pada Yang Mulia putra mahkota."
"Sekali lagi terimakasih banyak. Dan hati-hati."
Liola membungkukkan badannya sebelum dia menaiki kudanya dan segera melesat pergi dari sana.
"Kita juga harus segera kembali..." Ujar Cahir.
"Hati-hati." Ujar Melissa saat Cahir menaikkan tubuh lemah Lithera ke atas kudanya.
"Oh, federry!" Cahir memanggil captain pemimpin prajuritnya.
"Siap Yang Mulia!" Federry mendekat padanya.
"Kamu pergilah ke kediaman Milford! Bawa anak-anak ke kediaman kita." Perintahnya.
"Anak-anak?" Melissa tampak kebingungan. Max lupa untuk mengatakan tentang keberadaan Ashley dan Vion padanya.
Cahir menganggukkan kepalanya, "mereka anak-anak Lithera."
"Apa?!! Anak-anak Lithera?!" Melissa Neutswand menganga lebar. Tidak tahu harus mengatakan apa.
Bahkan captain federry juga terlihat sangat terkejut.