✰REKOMENDASI KARYA INTROSPEKSI✰
Cerita ini tidak terlepas dari Dahlia sebagai pemeran utama. Dahlia adalah seorang remaja yang begitu cantik, tak hanya soal kecantikan yang di miliki Dahlia? Dia memiliki berbagai pesona yang terpancar, hidupnya terlihat begitu sempurna ketika semua orang mengira Dahlia memiliki segalanya.
Namun, siapa sangka dibalik pesona Dahlia yang terlihat ternyata tak mempesona kenyataannya?
Seperti apakah hidup Dahlia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Detia Fazrin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Bercerita
Masih di tempat yang sama? sebuah taman yang memiliki hamparan bunga-bunga yang indah. Saat ini Dahlia dan Nando bercerita tentang apa yang membuat Lia merasa kesal sewaktu di dalam mobil.
Sebelumnya, Nando pun bertanya akan perasaan Dahlia. "Gimana perasaan mu sekarang udah lebih baik?" tanya Nando.
"Iya, lebih baik... namun masih banyak teka-teki yang belum selesai." jawab Lia wajahnya sedikit cemberut.
"Ah jadi itu yang membuat kamu tadi kesal?" tanya Nando untuk memastikannya lagi.
Dahlia mengangguk, kemudian menghela napas nya.
Napas nya sangat panjang, dan terasa begitu berat. Tapi, Nando benar-benar ingin tahu apa saja yang membuat Lia banyak memikirkan hal? begitu dengan teka-teki yang di maksudnya.
"Lia... ayo kita bercerita," ucap Nando.
Dahlia melirik Nando, "Nando peduli juga," pikir Dahlia. Kemudian dirinya mengangguk setuju. Dahlia berharap dengan bercerita bebannya tak begitu berat.
"Ok! Kamu tau... aku senang bisa memiliki teman seperti kamu Lia, Aku berharap kamu menjadi dirimu ketika bersama ku ya..." kata Nando lalu tersenyum.
Dahlia kembali mengangguk, ternyata benar yang dikatakan Nando? Dia laki-laki yang menyebalkan tapi, dia peduli dan salah satu orang yang berhasil mengetahui sisi lain dari sosok Dahlia yang biasanya pendiam.
Nando memperhatikan Dahlia.
"Jadi... apa yang membuat kamu kesal waktu di mobil?" lanjut Nando kembali bertanya.
Dahlia menghela napas, kemudian dirinya mengambil daun kering yang jatuh dari pohon dan Lia pun melirik Nando. "Aku... aku tidak suka jika ayah lebih memperdulikan anak selingkuhannya,"
Nando mengangguk.
"Kamu tahu saat aku melihat mobil Ayah di gerbang sekolah aku pikir dia menjemput ku ternyata... bukan, dia... menyuruh seseorang untuk menjemput anak dari selingkuhannya," Jawab Dahlia dengan wajah sedih.
"Jadi kamu merasa iri... merasa cemburu ?"
"Iya jelas... ayah ku berbeda tidak lagi sama, ngomongnya aja peduli tapi kenyataan nya dia lebih peduli dengan anak itu!" jawab Lia penuh dengan ekspresi geregetan sambil merobek-robek daun.
Kini di pikiran Nando penuh dengan pertanyaan? yang juga berkaitan dengan daddy nya Daniel.
"Lia, jadi kamu sudah tau bahwa ayah mu juga selingkuh dan kamu tahu siapa selingkuhannya?" Nando bertanya penasaran, yang mana semua ini akan memperkuat kebenaran bahwa daddy nya yang dia kira perusak hubungan orang adalah keliru.
"Ya aku udah tahu, orang tua ku itu berselingkuh... tapi untuk siapa selingkuhannya ayah aku belum tau, yang pasti anak selingkuhan ayah sekolah di sekolahan yang sama," ucap Lia terus tertawa kecil.
"Hah? kamu baru tau atau udah lama tau semua ini?"
Dahlia memutar bola matanya, "Baru tau dalam waktu dekat ini... dan itu sangat menyakitkan!" kata Lia dengan penuh emosi.
Nando mengangguk, "Sabar yaaa... aku rasa aku juga kemarin-kemarin merasakan yang sama seperti mu,"
"Aku cemburu karena daddy itu perhatian banget, bahkan saking lebih perhatian nya aku jadi curiga..."
"Curiga... coba-coba mana surat itu?" kata Lia yang ingat dengan secarik surat yang diberikan Daniel kepadanya.
Nando pun dengan semangat langsung merogoh sakunya, "Ini dia... aku akan membacanya," kata Nando yang membuka lipatan kertas itu.
Selanjutnya...
Ini benar-benar membuat Nando kaget? Bagaimana bisa daddy yang menganggap Dahlia sebagai anaknya itu diberikan sepucuk surat yang gaya bahasanya seperti surat cinta ditambah puisi? Ah... apa-apaan ini, Daniel membuat anak nya merasa ilfil dan malu pada Dahlia.
"Enggak!"
"Aku yakin daddy ini suka sama kamu Li, ini beda banget perlakuan daddy kepada ku, dan kepada tante Laras..."
"dan setiap perubahan daddy itu seperti sedang menarik perhatian seseorang, daddy itu kayak anak remaja yang jatuh cinta lagi..." Lanjut Nando menjelaskan.
Dahlia mengangguk paham, jadi dugaan dirinya dan Nando itu sama. "Sekarang yang bisa membuktikan itu adalah ucapan daddy mu," kata Lia.
Sekarang mereka berdua memiliki teka-teki tentang hubungan Daniel dan Laras? Kenapa bisa orang tua mereka bisa menjalin hubungan, dan selanjutnya apakah benar Daniel mencintai Laras?
"Ok kita harus tanya kepada masing-masing kenapa mereka bisa memutuskan untuk memiliki hubungan, bahakan kenapa ibu kamu memilih berselingkuh?" kata Nando.
"Yah aku setuju itu..." jawab Dahlia.
Mereka berdua akan menggali semua informasi yang berkaitan dengan kisah cinta dan perselingkuhan yang terjadi.
Selanjutnya...
Nando tiba-tiba saja merasa penasaran dengan siapa anak dari selingkuhannya ayahnya Lia, hehe... dirinya pun bertanya. "Lia... Li, boleh aku tahu siapa anak dari selingkuhannya ayah kamu, siapa tahu aku kenal atau tau keluarga mereka?"
"Hmm cewek yang kamu taksir," jawab Lia sambil beranjak dari duduknya.
"Hah?" kata Nando yang tidak tau.
"Ah pura-pura gak ngerti, gak tau..." jawab Lia malas.
"Beneran... siapa?"
"Yah cewek yang kamu taksir siapa?"
Nando terlihat berpikir, "Claudia?"
"Nah itu tau... dia kan cewek yang kamu taksir?" Kata Lia.
"Enggak tuh, aku gak naksir... yang naksir itu Claudia," kata Nando.
"Eh tapi, kalau begitu Claudia tau dong kamu anak nya siapa dan dia tahu juga dong kalau ibunya menjalin hubungan dengan siapa?" lanjut Nando.
"Seharusnya dia tahu, karena dia fans ku... tapi bisa jadi anak-anak nya itu enggak tahu kalau ibunya sudah menjalin hubungan dengan ayah ku." jawan Dahlia.
"Yah... aku berharap hubungan kalian nanti baik-baik saja sih, hmm jangan khawatir juga aku akan selalu mendukung mu, dan ada untuk mu..." kata Nando yang tiba saja merasa kasihan dengan Dahlia.
"Terimakasih ya Nan," ucap Dahlia.
Ting. (Notifikasi pesan untuk Dahlia)
Ayah : Lia, jangan lupa dimakan ya sayang...
Dahlia membaca pesan ayahnya, dan dia baru ingat bahwa ayahnya membelikan makanan kesukaannya yang sekarang mungkin sudah ada di rumah.
Dahlia : Ok ayah, terimakasih...
Jawab Dahlia tanpa menanyakan apa pun lagi.
Kemudian Dahlia pun kembali melihat hamparan bunga-bunga, di sana banyak sekali dan berbagai macam bunga-bunga tumbuh satu sama lain dengan indah.
Dahlia melihat Nando yang berlari kearah bunga itu. " Lia sini... aku ingin memperlihatkan sekumpulan kupu-kupu cantik," teriak Nando.
Dahlia pun berlari menemuinya. "Wah... ini bener-bener tempat yang indah loh, aku baru kali ini menemukan tempat seperti ini di sini," jawab Lia. Sejenak mereka menghilangkan segala penat yang hadir.
Setelah beberapa menit mereka menikmati keindahan alam, dan berlari-lari sambil menikmati wanginya bunga-bunga, kini sudah waktunya mereka kembali.
"Ayo Lia... kita pulang," pinta Nando sambil berjalan meninggalkan Lia.
"Ih tunggu dulu Nan! Aku baru sebentar di sini..." teriak Lia yang masih betah berlama lama.
"Astaga ayo Lia... kita harus pulang!"
"Sebentar lagi..." pinta Dahlia yang kini malah bersembunyi di balik bunga-bunga.
Begitu ketika Nando menoleh ke belakang dirinya tidak melihat sosok Dahlia yang tadi berdiri di balik bunga-bunga. "Haduh... anak itu kemana lagi!" pikir Nando yang mulai kesal dengan tingkah Lia.
"Lia!" berteriak.
"Lia kalau kamu tidak keluar dalam hitungan mundur 5-1 aku akan tinggalkan kamu ya?"
"Ok Lia..." lanjut Nando.
Nando pun berteriak berhitung mundur dari angka lima sampai dengan angka 1.
"Lima..."
"Empat,"
"Tiga..."
"Dua..."
"Sa... satu..." teriak Nando.
Namun Dahlia masih saja tidak muncul, yang membuat Nando semakin geram.
"Lia!?"
"Lia ayo lah keluar, jangan kayak anak kecil deh..."
"Lia... aku ada acara, kalau kamu tidak keluar masa bodo aku tinggalin kamu," kata Nando yang sudah tak mau peduli dirinya pun melangkah pergi ke motornya.
Tak lama Dahlia pun terpaksa keluar, dia kini berlari mengejar Nando. "Nando... kok kamu nyebelin sih!" ucap Lia dengan wajah cemberut.
"Aku ada urusan... teman-teman ku sudah menunggu,"
"Lah kenapa kamu gak bilang ada acara ama kawan!"
"Iya iya sorry... aku yang salah, maaf ya tuan putri... menggangu kamu, ayo sekarang kita pulang," kata Nando sambil meraih tangan Lia, dan mengenakan helm.