[Update : Suka-Suka Author]
Cinta itu sama seperti kehidupan, setiap jalan yang dilalui kehidupan tidak mudah untuk ditempuh dan tidak selalu ada kebahagiaan di setiap jalannya. Jadi, ketika kita tidak bisa menghentikan kehidupan kenapa harus menghentikan cinta?.
Cinta itu sangat menyenangkan dan begitu menyesakkan, manis namun sedikit pahit.
Seperti halnya kisah cinta Abilla yang mencintai kakak kelasnya yaitu Arham, demi ingin selalu bersamanya ia juga ikut masuk di SMA yang sama dengannya, namun tanpa ia sadari ternyata kakak kelas yang selama ini dia sukai, mencintai orang lain yang ternyata sahabatnya sendiri yaitu Nafysa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Resma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
"NAFYSA...." teriak Arham memekakan seisi jalanan membuat pengendara yang tengah melintas seketika menghentikan kendaraannya.
Arham segera menghambur ke tubuh Nafysa yang tergeletak di pinggir jalan, seragam sekolah yang dikenakan oleh Nafysa sudah terlumuri oleh darah segar miliknya.
"Naf, Bangun, Naf. Nafysa..." Berkali-kali Arham mencoba membangunkan Nafysa yang sedang tak sadarkan diri itu, namun tak ada respon darinya membuat Arham semakin panik.
"Dek, kita bawa kerumah sakit saja." Ucap salah satu pengendara mobil yang ikut menyaksikan kejadian tersebut.
Sedangkan orang yang tidak sengaja menyerempet Nafysa pun juga ikut dilarikan kerumah sakit karena ia juga tidak sadarkan diri.
Arham menggendong tubuh Nafysa dan mesuk kedalam salah satu mobil seseorang yang ikut membantunya, karena tidak memungkin bagi Arham untuk dirinya mengambil mobil miliknya yang masih terpakir di parkiran sekolah.
***
Sesampainya di rumah sakit, Nafysa segera mendapatkan penanganan dari dokter. Arham terlihat mondar-mandir di depan ruangan tersebut. Seandainya ia tidak meluapkan emosinya kepada Nafysa mungkin semua ini tidak akan terjadi, pikirnya. Namun apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur.
Sedangkan Tim Ribut yang mendengar berita kecelakaan yang menimpa salah satu anggota mereka membuat mereka segera meninggalkan ruang kelas dan menghampiri rumah sakit, tempat dimana Nafysa dirawat.
Sepatu fantofel yang bergesekan dengan lantai terdengar tak berirama terdengar di lorong-lorong rumah sakit, hingga pada akhirnya Abilla melihat Arham yang tengah duduk di kursi yang telah disediakan dengan tangan yang meremas rambut bagian belakangnya serta kepalanya yang tertunduk menatap lantai membuat Abilla segera berlari mendekatinya di ikuti oleh empat temannya.
"Kak Arham." Panggil Abilla dengan napas yang tersengal karena lelah berlarian mencari ruangan yang tengah menangani sahabatnya tersebut.
"Billa" ucap Arham lirih seraya menatap sorot mata Abilla yang tersirat kekecewaan disana.
PLAKKK...
"Apa yang Kakak lakukan sampek Nafysa masuk rumah sakit" ucap Abilla setelah menampar pipi Arham.
"Kenapa Kakak begitu teledor?" ucap Abilla seraya memyenggol salah satu Arham berkali-kali, "Kenapa Kakak nggak bisa menjaganya? Kenapa Nafysa juga harus elo sakiti juga? Jika Kak Arham sama gue, jangan elo lampiasin semua kemarahan elo pada Nafysa. Gue kecewa sama elo, Kak!" Lanjutnya lagi.
Arham terdiam dan ia menerima semua perlakuan yang diberikan oleh Abilla, meski Abilla memukuli dadanya berkali-kali.
"Bil, hentikan" ujar Renata seraya mencoba menahan tangan Abilla yang masih setia memukuli Arham.
"Billa, berhenti membuat keributan dirumah sakit." Bentak Renata yang berhasil membuat Abilla berhenti melakukan aksinya dan bersamaan dengan itu tubuh Arham serasa tak bertenaga hingga ia terduduk dikursi dengan perasaan bersalah yang teramat menyakitkan.
Abilla memeluk erat Renata dengan air mata yang mengalir begitu deras hingga membasahi seragam sekolahnya, Renata membiarkan sahabatnya itu menangis untuk meredam emosinya.
Tak lama kemudian kedua orang tua Nafysa datang bersamaan dengan dokter yang tengah menangani Nafysa.
"Dokter bagaimana keadaan putri saya?" Ucap Mamanya Nafysa.
"Pasien tidak apa-apa, tapi saya perlu bicara dengan kedua orang tua pasien. Mari ikut keruangan saya" ucap Dokter.
"Dok, apa kami boleh menjenguknya sekarang?" Tanya Abilla sesenggukan.
"Boleh, tapi saya harap kalian tidak membuat keributan didalam, karena pasien membutuhkan istirahat yang intensif" jawabnya.
Setelah mendapat persetujuan dari dokter, Abilla segera masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Renata, Erika dan Riko. Sedangkan Arham masih terdiam dan rasanya ia tidak berani untuk masuk kedalam.
"Kenapa sampai seperti ini?" tanya Yusuf yang berada dibelakang Arham mengagetkannya. Arham pikir semuanya sudah masuk ke dalam.
"Sebenarnya tadi... Entahlah, yang pasti tadi Nafysa marah sama gue dan dia lari keluar sekolah. Gue udah berusaha nyegah dia dan akhirnya...." Suara Arham terdengar semakin mengecil di akhir kalimat.
Arham tak kuasa meneruskan ucapannya. Yusuf memperhatikan mata Arham yang terlihat berkaca-kaca dan berusaha untuk menahan air mata agar tidak jatuh dari tempatnya.
"Gue paham" ucap Yusuf, "Maaf tadi gue sempat terpancing emosi sama lo, Kak." Lanjutnya. Arham hanya mengangguki ucapan Yusuf.
***
Air mata Abilla luruh ketika melihat tubuh Nafysa yang terbaring lemah di atas kasur rumah sakit. Ia berjalan mendekati Nafysa yang terlihat masih memejamkan matanya. Lidahnya terasa keluh, ia merasa bersalah atas kejadian yang menimpa sahabatnya itu.
"Naf, maafin gue... Pasti elo milih belain gue sampai elo bertengkar sama Kak Arham, dan akhirnya elo seperti ini." ucap Abilla sesenggukan seraya memegang salah satu tangan Nafysa yang tidak terkena infus.
"Bil, berhentilah nangis. Lo nggak denger tadi dokter bilang apa?" ujar Renata.
Abilla mengusap air matanya dan kini ia memilih diam seraya mengamati lekat wajah Nafysa yang terdapat perban di kepalanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
a Novel by : DEAN RESMA
lanjutkan thor
salam hangat dari 🌺 IMPIAN GADIS MANIS
salam hangat dari 🌺 IGM 🥰
kalau berkenan silahkan mampir ya
salam hangat dari 🌺 IGM 🥰