Ada pepatah terkenal, "Jangan menilai seseorang dari luarnya."
Theodore Arvan Ilyas. Semua wanita akan setuju kalau dia tampan bak jelmaan malaikat. Namun, apakah hatinya juga sebaik malaikat? Sayangnya iya. Itulah yang membuat Farah merasa dirinya tak pantas untuk sekedar berharap Theo melihat ke arahnya.
Karya kedua setelah Hutang Kepada Mr. Devil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Propose
Theo merogoh saku celananya dan mengambil barang kecil dalam genggaman tangan. Fatma terlihat paling antusias dan penasaran. Sedangkan Farah menghindari wajah pria yang sekarang berubah status menjadi tunangan, jadi ia tidak tahu apa yang Theo lakukan. Ia masih berusaha menetralkan segala macam emosi yang menerjangnya. Dulu tak seperti ini, tak pernah terasa sama bahkan seperempatnya pun tidak.
Dulu Farah hanya mengikuti alur. Dipertemukan calon yang sudah dipilih ibunya. Lamaran dan menikah sudah jadi satu paket yang harus dia terima. Keniscayaan yang tak pernah melibatkan pikiran dan hatinya untuk memutuskan. Tak ada ruang untuknya memutuskan sesuatu. Bahkan konsep pernikahannya dengan Ian, ibunya dan mantan mertua yang memilihkan.
Sehingga ketika Theo tiba-tiba mendekat dan turun di depannya dengan satu kaki berlutut, Farah terkesiap. Dengan gerakan pelan dan pasti, Theo membuka kotak beludru berwarna biru tua. Benda mungil bertahtakan berlian tunggal menyapa Farah.
“Would you marry me?”
“Apa ... Theo?” Farah melihat wajah Theo yang tersenyum, lalu cincin di hadapannya, Theo lagi. Pria itu dengan sabar menunggu Farah mengambilnya. Farah melihat ke arah ibunya, seakan meminta pendapat. Fatma mengangguk.
Theo menyadari bahwa gerakan halus dan konstan pada tangan Farah menandakan kalau wanita yang terlihat sangat cantik di depannya sedang gugup. Di sini tidak ada Gwen dan Sammy yang akan membantunya. Hari ini dia harus memberi sendiri keputusan tentang masa depannya, dan Galen.
Galen, iya ...Galen lah yang sangat ia pikirkan. Theo sudah terbukti sangat penyayang terhadap anak-anak. Farah pikir dengan Theo seperti itu tidak perlu latihan atau adaptasi antara anak dan ayah baru. Kemarin Galen terlihat nyaman berada dalam gendongan Theo dan ia tersenyum, bukan ... Galen tertawa dan ia yang mengulurkan sendiri tangannya agar Theo mau menggendongnya. Bukankah anak-anak selalu jujur?
Farah melihat ke arah Theo dan berkata “Yes, I would.” Ia mengambil kotak beludru itu dengan jemari yang tak berhenti gemetar. Theo tersenyum lebih lebar, memperlihatkan giginya yang putih.
Gurat lega dan bahagia mewarnai wajah Theo, juga kedua orangtuanya. Fatma dan suaminya sudah yakin putri mereka akan mengatakan hal itu. Mereka berdua tersenyum melihat Theo dan orangtuanya.
“Terima kasih, Farah,” ucap Theo dengan senyuman khas. Senyuman yang membuat perut Farah bergolak.
“Kupikir aku harus berlutut setengah jam lagi sampai kamu mau ambil cincinnya,” ujarnya seraya berdiri. Diana dan Arvan spontan tertawa kecil. Rona merah merambat di pipi-pipi Farah. Ia yakin kalau blush-on sudah membuat pipinya merah, tapi perasaan ini pasti membuat seluruh wajahnya lebih merah lagi seperti tomat.
“Oh Boy, kamu lebih beruntung daripada Papa. Dulu mama kamu memaksa Papa memakan eggnog sebelum menerima lamaran Papa. Kamu tahu kan itu gimana rasanya? Papa mau muntah, tapi demi Mama terpaksa Papa mau.”
Theo bertanya, “Sungguh? Aku baru dengar soal itu.”
Diana mengangguk sambil tertawa mengingat peristiwa itu. “Papa kamu terlalu berlebihan. Padahal eggnog buatan mama itu enak, kok.”
Theo tahu bahwa keluarga mamanya sering membuat eggnog ketika musim dingin, tapi Theo tidak berani mencicipinya karena Diana bilang eggnog mereka mengandung alkohol. Diana membuatkan Theo eggnog versinya sendiri dan Theo masih bisa mentolerir rasanya. Mirip dengan STMJ tapi tanpa J. Menurut Arvan minuman itu terlalu amis. Ralat, bukan minuman tapi makanan mentah.
-----
“Fiancé,” kata Theo pelan setelah para orangtua pergi ke lantai atas dengan alasan menemui Galen yang sendirian di kamarnya. Mereka meninggalkan kedua orang yang sekarang resmi bertunangan itu.
“Hm?” tanya Farah bingung. Memang status mereka berubah, apa Theo membuat panggilan baru kepadanya?
Theo menunjuk ke kotak mungil di tangan Farah. “Cincin itu menangis menunggu kamu memakainya.”
Farah melihat ke tangannya. Ia terlihat malu di depan Theo, bagaimana dia bisa lupa dengan cincin itu. “Sini kupakaikan.” Seperti biasa Theo mengulurkan lengannya tanpa canggung lalu mengambil kotak dari telapak tangan Farah. Theo mengambil cincin itu dan memegangnya dengan jemari lalu tangan kiri Theo mengambil telapak tangan Farah dengan lembut. Bagai air mengalir, cincin itu tersemat dengan mudah ke jari manis Farah.
“Cantik,” ujar Theo ia melihat Farah sambil masih memegang telapak tangan kanannya.
Farah yang heran bertanya, “Kenapa kamu pasang di jari tangan kanan?”
“Aku lebih suka tangan kanan,” jawab Theo singkat sambil melepaskan pegangannya ke telapak tangan Farah. Meninggalkan jejak hangat yang Farah rasakan. Membuatnya tak rela Theo lepaskan. Eh? Farah mengerjab bingung, dan bertanya kepada dirinya sendiri, “Kenapa jadi perempuan jablai?”
“Kapan enaknya kita nikah, ya?” tanya Theo yang sekarang duduk di sofa, menjajari Farah. Aroma memabukkan khas Theo kembali merayu hidung Farah untuk menghidu lebih banyak. Menikmati harum maskulin yang sangat ia sukai. Farah hanya berani mengatakannya dalam hati. Suka ....
Tadi mereka belum sempat membicarakan kapan akan melangsungkan pernikahan. Farah bingung. Dia tidak pernah melakukan perencanaan seperti ini sebelumnya.
“Kalau kamu inginnya bagaimana?” tanya Farah. “Aku tahu kamu sibuk sekali di New York, aku bisa menyesuaikan jadwal kamu.”
Theo menahan senyuman. “Kalau kamu tanya aku, sekarang juga kalau perlu kita ke penghulu.”
Farah terperangah mendengar jawaban Theo. “Sekarang?”
Theo merasa beruntung bisa membuat Farah mengeluarkan ekspresi wajah yang menurutnya unik. “Cute,” komentarnya dalam hati. “Sayangnya ini hari Minggu. Pintu KUA pasti tutup.”
“Kamu ... serius?”
“Ya tentu saja, Farah. Dua tahun ini udah kebelet.” Dan Theo menikmati sekali saat wajah Farah memerah mendengar kata-katanya.
“Jangan menggodaku terus,” ucap Farah lirih.
“Godain tunangan sendiri masa gak boleh?” tanya Theo dengan kerlingan menggoda. “Lagipula itu jujur Farah.”
“Mmm apa kamu gak sibuk?”
“Aku selalu sibuk kalau nurutin kata Adrian. Dia hobi sekali mengatur jadwalku, bahkan berusaha mendapatkan undangan untuk pesta-pesta yang tak penting agar aku bisa bersosialisasi katanya. Semakin banyak koneksi, semakin banyak peluang untuk memenangkan projek. Kadang aku sampai bingung, sebenarnya dia yang bos apa aku yang bosnya? Ngatur-ngatur aku seenaknya.” Farah tertawa kecil.
“Jadi ... Senin kita nikah?” Pertanyaan Theo membuat mata Farah membola.
“Apa? Senin kapan?”
“Besok lusa,” jawab Theo, “mumpung kedua orangtuaku di sini juga. Masalah resepsi bisa menyusul kapanpun.”
“Tu tunggu!” cegah Farah dengan panik. “Itu terlalu cepat.”
Theo tersenyum untuk kesekian kalinya. “Baiklah. Kapan menurut kamu waktu yang tepat?”
“Mmm ....” Farah menggigit bibirnya. Dan Theo meremas sofa menahan gejolak dalam dadanya ketika melihat bibir Farah.
“Kalau bulan depan?”
Theo memperkirakan apa dia bisa menahan diri untuk bisa menyecap manis di bibir itu sampai bulan depan? “Hell, no. Tiga hari lagi.”
“Jangan itu terlalu cepat.” Farah menggeleng kecil, guratan di dahinya tercipta, bibirnya memberengut, menambah tekanan kepada Theo untuk lebih menahan diri. “Sammy udah rencana nikah bulan depan, aku gak enak duluin dia.”
“Aku bisa ****** kalau lebih dari seminggu.”
besttt
semangat author 💞💞💞💞💞💞💞
kebayang g sih wajah Zach yg ituuu truss senyum2 gaje🤣🤣
bumi kepada othor
bumi kepada othor
tapii
Theo nya kurang gahar dikit
ganteng pinter tapi kok aga be... dlm mslh asmara sich
gemeshh dweh
thd siapa saja
terutama anak dan pasangan kta
kan cerita ini ada mafia2nya juga.