Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Di Balik Senyum yang Tak Pernah Tulus
Hari-hari berlalu dengan pola yang kini sudah menjadi rutinitas di rumah mewah itu. Setiap pagi, Cynthia bangun lebih awal dari siapa pun, menyiapkan sarapan, merapikan seluruh ruangan dari lantai hingga langit-langit, dan memastikan segala sesuatu sudah berada pada tempatnya sebelum Karen membuka mata. Di hadapan YB, Karen selalu bersikap lembut, penuh perhatian, dan seakan sangat menyayangi Cynthia layaknya saudara kandung. Namun begitu pintu tertutup dan hanya mereka berdua saja, wajah Karen berubah seketika menjadi dingin dan penuh penghinaan yang tak bisa disembunyikan lagi.
"Cepat ambilkan minumanku sekarang juga! Jangan lambat begitu, kau pikir aku bisa menahan haus seharian menunggu kemauanmu?" sentak Karen suatu pagi, saat YB baru saja berangkat ke kantor. "Dan ingat, jangan sampai ada debu sedikit pun di ruang tamu maupun di ruang tengah. Kalau sampai aku melihat satu butir debu saja, kau yang harus bertanggung jawab! Kau tinggal di sini makan dan tidur dengan nyaman tanpa biaya, jadi wajar kalau kau harus bekerja keras sebagai gantinya. Itu sudah kewajibanmu di rumah ini."
Cynthia menunduk dalam, menahan rasa sakit yang menusuk tajam di dadanya. "Baik, Karen. Sekarang juga akan kubuatkan."
Ia berjalan pergi, meninggalkan Karen yang tersenyum puas seakan baru saja memenangkan sesuatu yang besar dan berharga. Di dalam hati Cynthia, setiap kata kasar, setiap tatapan merendahkan, setiap perintah yang tidak adil — semuanya ia simpan rapi di dalam ingatannya. Bukan untuk diingat sebagai kesedihan yang meratap, melainkan sebagai bahan bakar untuk tekadnya yang semakin membara setiap harinya. Tahanlah sedikit lagi, batinnya berulang-ulang menyemangati diri sendiri. Waktu pasti akan membuktikan siapa yang sebenarnya pantas berada di rumah ini, dan siapa yang seharusnya tidak pernah ada di sini.
Namun di sisi lain, kehadiran Cynthia di rumah itu justru menjadi alasan bagi YB untuk selalu pulang lebih awal dari jam kerjanya. Setiap kali ia melangkah masuk melewati pintu utama, wajahnya langsung berubah cerah begitu melihat Cynthia ada di ruangan itu. Ia tak pernah melewatkan kesempatan untuk berada di dekat wanita itu — baik saat Karen sedang beristirahat karena lelah, pergi ke dokter kandungan, maupun saat sedang sibuk dengan urusan telepon dan pertemuannya dengan teman-temannya yang sering berkunjung.
Suatu sore, Karen baru saja pergi ke salon kecantikan dan diperkirakan baru akan kembali beberapa jam kemudian, meninggalkan rumah berdua saja. YB segera mencari Cynthia dan menemukannya sedang melipat pakaian di kamar tamu yang juga menjadi tempat tidur Cynthia. Tanpa banyak bicara, ia berjalan mendekat perlahan, lalu memeluk Cynthia dari belakang dengan erat, seakan tak ingin melepaskan wanita itu lagi.
"Kau tak tahu betapa aku menantikan momen ini setiap hari sejak pagi tadi," bisik YB di telinga Cynthia, suaranya terdengar lembut namun penuh kerinduan yang mendalam dan tulus. "Sejak pagi aku sudah tidak sabar untuk pulang, hanya untuk bisa melihat wajahmu, mendengar suaramu yang menenangkan, dan memelukmu seperti ini tanpa perlu takut ada yang melihat. Cynthia, kau adalah satu-satunya alasan aku tetap tinggal di rumah ini. Tanpamu, rumah ini terasa seperti penjara bagiku."
Cynthia berhenti melipat pakaian di tangannya, namun ia tidak langsung berbalik. Ia membiarkan dirinya dirangkul erat, membiarkan kata-kata manis itu masuk ke telinganya, sambil matanya melirik perlahan ke arah sudut ruangan tempat kamera pengawas yang ia pasang tersembunyi. Semuanya terekam jelas — suara, gerakan, kata-kata, pelukan — semuanya tersimpan rapi.
"YB," ucap Cynthia pelan, berbalik perlahan menatap pria itu dengan tatapan yang seakan penuh perasaan dan keraguan. "Kau ini sudah beristri. Jangan sampai Karen mengetahui hal seperti ini. Aku tak ingin menimbulkan masalah di rumahmu sendiri. Aku takut hal ini akan merusak rumah tanggamu."
YB menggeleng kuat tanpa ragu, tangannya beralih memegang bahu Cynthia dengan lembut namun tegas. "Biarkan saja dia. Yang aku tahu, hatiku bukan miliknya dan tak akan pernah menjadi miliknya. Hatiku tetap milikmu, Cynthia. Hanya milikmu, sejak dulu hingga sekarang, dan sampai kapan pun. Dan tak ada satu pun yang bisa mengubah itu, bahkan pernikahan sekalipun."
Tanpa menunggu jawaban, YB mendekatkan wajahnya perlahan, lalu menyentuh bibir Cynthia dengan lembut dan penuh perasaan. Ciuman itu bermula pelan, namun semakin lama semakin dalam, seakan semua kerinduan yang terpendam selama bertahun-tahun tumpah ruah pada satu momen itu. Cynthia membiarkannya terjadi, bahkan membalas sentuhan itu seakan ia benar-benar terhanyut dalam kerinduan yang sama. Namun di dalam hatinya, ia tetap sadar dan waspada — ini semua bagian dari rencananya. Setiap sentuhan, setiap ciuman, setiap kata manis — semuanya adalah bukti yang sedang ia kumpulkan, perlahan namun pasti.
Hari-hari berikutnya berulang dengan pola yang serupa. Setiap kali ada kesempatan berdua saja, YB selalu mendekati Cynthia — di ruang kerjanya, di ruang tamu saat sepi, di dapur saat Cynthia sedang menyiapkan makanan, maupun di kamar tamu. Tangannya diam-diam menggenggam tangan Cynthia di bawah meja saat makan malam, berusaha menyentuhnya sebisa mungkin tanpa diketahui Karen yang duduk di seberangnya. Dan Cynthia selalu membiarkannya — tidak pernah menolak, tidak pernah mendorongnya pergi, justru sesekali membalas sentuhan itu dengan tatapan yang membuat YB semakin tak bisa melepaskannya.
Semua itu terekam sempurna. Rekaman demi rekaman tersimpan rapi di perangkat yang ia siapkan, menumpuk menjadi bukti yang semakin kuat setiap harinya. Cynthia tahu, suatu hari nanti, saat semua ini terungkap, tak ada satu pun yang bisa menyangkal kebenaran itu. Bahwa bukan dirinya yang mendekati YB, melainkan YB yang tak pernah berhenti mendatanginya.
Suatu sore, saat Karen sedang tidur siang karena merasa lelah setelah berbelanja barang-barang kebutuhan bayi yang semakin lengkap, YB kembali menyelinap ke kamar Cynthia. Ia terlihat begitu bahagia, begitu tenang, seakan dunia milik berdua dan tak ada orang lain di dalamnya.
"Kau tahu, Cynthia," ucap YB sambil mengusap lembut rambut wanita itu dengan penuh perhatian, "kadang aku berharap waktu berhenti saja di momen-momen seperti ini. Di mana hanya ada kau dan aku, tanpa Karen, tanpa status, tanpa kewajiban apa pun. Hanya kita berdua yang saling mencintai seperti dulu."
Cynthia menatapnya, tersenyum tipis — senyum yang menyembunyikan ribuan perasaan yang tak bisa diucapkan. "Semua ada waktunya, YB. Sabarlah."
Namun di sudut ruangan itu, kamera kecil itu terus merekam — merekam setiap kata, setiap tatapan, setiap sentuhan — menyimpan semuanya sebagai saksi bisu dari kebohongan yang perlahan-lahan mulai terjalin menjadi jaring yang semakin rapat, menunggu waktu yang tepat untuk jatuh dan menghancurkan semuanya sekaligus.