Indonesia
NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Pertemuan Tak Terduga.

Sore itu, angin bertiup cukup kencang. Jun-seok masih berdiri di kursi tunggu, menunggu jemputan sopirnya, hari ini dia sangat bahagia karena Nala akan pulang malam ini sudah dua hari dia tidak melihat ibunya. Meskipun ada Junho, rasanya lebih menyenangkan jika Nala juga ada.

“Jun-seok,” panggilnya, membuat Jun-seok menoleh.

“Ekhh... Saem-nim,” jawabnya sopan pada gurunya itu.

“Sopirmu terlambat lagi?” tanyanya pelan.

“Iya, Saem,” balas Jun-seok.

“Kalau mau, Saem bisa antarkan?” tawarnya, namun Jun-seok menggeleng cepat.

“Terima kasih... Mommy bilang aku tidak boleh pulang dengan orang asing,” jawabnya sopan.

Hae-in menatap bocah itu lama, ucapannya konsisten sejak awal mereka bertemu. Ada kekaguman tersendiri dalam tatapan Hae-in pada cara orang tua Jun-seok mendidiknya. Bocah itu masih kecil, tetapi sudah memahami batasan yang diajarkan kepadanya dan tidak mudah menerima tawaran dari orang yang belum terlalu dikenalnya.

“Saem akan temani sampai sopirmu datang,” ucapnya, membuat Jun-seok hanya diam. Dia kembali memainkan kedua kakinya yang menggantung, mengayunkannya perlahan untuk mengusir rasa bosan.

Hae-in duduk di samping Jun-seok, lalu berkata,

“Ayahmu kerja apa? Ibumu juga?” tanyanya ragu.

Jun-seok menoleh tatapannya seolah menunjukkan keraguan untuk menjawab, tetapi pada akhirnya dia tetap menjawab.

“Daddy kerja di gedung tinggi... Dia... Eum, Seok tidak tahu apa, tapi dia punya gedung yang besar dan tinggi. Semua orang menghormatinya... Kalau Mommy... Dia... Seok tidak tahu juga... Dia hanya pernah bilang kalau pekerjaan itu adalah jiwanya,” ucapnya pelan.

Angin sore kembali berembus, kali ini membawa aroma tanah lembap dan dedaunan yang mulai menguning. Jun-seok masih mengayunkan kakinya perlahan. Jemarinya sesekali meremas tali tas yang berada di pangkuannya, sementara matanya terus mengarah ke jalan, seolah berharap mobil yang ditunggunya segera muncul.

Hae-in memperhatikannya dari samping. Ada keheningan yang nyaman di antara mereka, bukan jenis hening yang terasa canggung. Ia terbiasa berada di sekitar anak-anak, tetapi Jun-seok berbeda dia terlalu tenang untuk anak seusianya, terlalu berhati-hati dalam memilih kata, seolah setiap ucapan telah lebih dulu dipikirkan sebelum keluar dari bibirnya.

“Pekerjaan yang jadi jiwa...” ulang Hae-in pelan, seolah sedang mencerna kalimat itu lebih dalam daripada sekadar jawaban polos seorang anak. “Itu terdengar seperti orang yang mencintai apa yang ia lakukan,” lanjutnya, membuat Jun-seok mengangguk kecil.

“Mommy suka diam kalau sedang berpikir. Kadang lupa makan tapi Daddy selalu ingatkan,” katanya, nyaris seperti catatan harian yang terbuka tanpa ia sadari.

Hae-in tersenyum sambil menatap anak itu cukup lama, dia menoleh ke wajah kecil tersebut. Garis rahang dan sorot matanya mengingatkannya pada seseorang dari masa lalu—seseorang yang pernah ia kenal sangat dekat, lalu perlahan menghilang bersama waktu.

“Ayahmu perhatian,” ucapnya, membuat Jun-seok mengangguk mantap.

“Iya. Daddy jarang bicara banyak, tapi selalu dengar apa yang Mommy dan aku katakan,” jawab Jun-seok mantap.

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk menggambarkan sosok yang jelas di kepala Hae-in. Ia menoleh sebentar ke halaman parkir, memastikan belum ada mobil yang berhenti, tatapannya kemudian kembali kepada Jun-seok yang masih duduk tenang di sampingnya.

“Kamu kelihatan dekat dengan ibumu,” ujarnya, membuat Jun-seok berhenti mengayunkan kakinya.

“Aku lebih tenang kalau Mommy ada. Kalau Mommy pulang, rumah terasa... lengkap karena Daddy juga pulang cepat,” katanya jujur.

Hae-in terdiam ada sesuatu dalam kalimat itu yang terasa terlalu dewasa untuk diucapkan anak seusianya; sebuah pemahaman sederhana tentang kehadiran, tentang bagaimana sebuah rumah bisa terasa berbeda hanya karena satu orang tidak berada di dalamnya.

Seolah bagi Jun-seok, rumah bukan sekadar bangunan tempat ia tinggal, melainkan tempat di mana orang-orang yang ia cintai harus berada agar semuanya terasa utuh.

Hae-in menundukkan pandangan sesaat. Entah mengapa, kalimat sederhana itu meninggalkan sesuatu yang samar di dadanya rasa hangat sekaligus asing, seperti sedang melihat gambaran kehidupan yang pernah ia bayangkan dahulu, tetapi tidak pernah benar-benar ia miliki.

Sebelum ia sempat menanggapi, suara mesin mobil terdengar mendekat. Sebuah sedan hitam berhenti tidak jauh dari area tunggu. Jun-seok refleks menegakkan tubuhnya matanya langsung berbinar, seolah sudah mengenali kendaraan itu bahkan sebelum pintunya terbuka.

“Daddy,” ucapnya spontan.

“Seok?” panggil Hae-in refleks, menahan geraknya agar tidak langsung berlari ke arah kendaraan sebelum memastikan siapa yang datang.

Pintu pengemudi terbuka dan bukan sopir berseragam yang turun, melainkan seorang pria tinggi dengan jas gelap. Langkahnya mantap, wajahnya tenang, tetapi ada kelelahan samar yang tidak sepenuhnya dapat disembunyikan dari sorot matanya.

Jun-seok membeku selama sesaat kemudian, wajahnya seketika berubah cerah.

“Daddy!” Ia berlari kecil menghampiri pria itu dan langsung memeluk pinggangnya dengan antusias. Junho menunduk, membalas pelukan putranya dengan satu tangan, lalu mengusap rambutnya singkat.

“Sopirmu terjebak macet, jadi Daddy putuskan jemput sendiri,” katanya pelan.

Jun-seok mengangguk. Setelah itu, ia melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah bangku tempatnya tadi duduk.

“Saem-nim yang selalu Seok ceritakan menunggu Seok,” katanya sambil menunjuk ke arah Hae-in.

Junho mengikuti arah pandang putranya namun langkahnya terhenti, seketika tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang terasa... familiar.

Terlalu familiar sampai untuk beberapa detik, Junho hanya diam, tatapannya berpindah dari perempuan di ujung area tunggu itu kepada Jun-seok yang masih berdiri di sampingnya.

Sementara itu, Hae-in yang sejak tadi memperhatikan keduanya perlahan kehilangan senyumnya. Ia baru saja melihat seorang anak berlari memeluk pria yang selama bertahun-tahun hanya tersimpan sebagai kenangan dalam hidupnya.

Junho.

Tetapi bukan itu yang membuat dadanya seketika terasa sesak tanpa sadar, tatanya turun kepada Jun-seok kemudian kembali kepada Junho.

“Daddy...”

Panggilan itu kembali terngiang di kepalanya membuat Hae-in membeku sejenak, selama beberapa saat ia hanya menatap bocah yang sejak tadi duduk di sampingnya, bercerita tentang ibu, dan ayah yang selalu mengingatkan ibunya untuk makan, tentang rumah yang terasa lengkap ketika kedua orang tuanya berada di sana.

Anak itu... putra Junho?

Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat tidak pernah sekalipun Junho memberitahunya bahwa ia telah memiliki seorang anak. Bahkan selama pertemuan mereka kembali setelah bertahun-tahun, Hae-in tidak pernah membayangkan bahwa pria yang berdiri beberapa meter di hadapannya kini telah menjadi seorang ayah.

Lebih dari itu... Ia baru saja menghabiskan waktu bersama anaknya tanpa mengetahui siapa sebenarnya bocah itu.

Hae-in berdiri perlahan ada jeda singkat ketika ia masih ragu pada penglihatannya sendiri. Waktu telah mengubah garis wajah Junho, memberinya ketenangan dan kematangan yang berbeda dari pria muda yang dulu ia kenal.

Namun, sorot mata itu—sorot mata yang tidak mungkin salah. Tatapan lembut dengan mata sedikit menyipit, yang dulu begitu ia kenal. Wajahnya kini jauh lebih matang; garis rahangnya tegas, hidungnya tetap khas, dan rambut hitamnya tertata rapi dengan beberapa helai jatuh natural di dahi. Namun, lesung pipi yang selalu ia puji ketika Junho tersenyum masih sama, begitu pula garis wajah yang dahulu selalu ia banggakan.

Bibir Hae-in terbuka sedikit suaranya nyaris hilang tertiup angin.

“Junho...?” tanyanya pelan.

Junho berhenti sepenuhnya tatapannya tertuju pada perempuan di hadapannya cukup lama, seolah sedang membongkar kembali potongan-potongan masa lalu yang telah lama tersimpan dan kini tiba-tiba berdiri tepat di hadapannya.

“Hae-in,” jawabnya akhirnya.

Satu langkah. Dua langkah.

Keraguan Hae-in runtuh seketika ketika pengenalan itu berubah menjadi kepastian. Tanpa basa-basi, tanpa sempat memikirkan etika sosial yang seharusnya ia jaga setelah bertahun-tahun tidak bertemu, Hae-in melangkah maju dan memeluknya.

Erat namun spontan seperti refleks dari sebuah ingatan lama yang tidak pernah benar-benar hilang.

Junho sempat membeku sesaat, tubuhnya sempat kaku karena terkejut, tetapi perlahan lengannya terangkat dan membalas pelukan itu.

Tidak ada kata-kata di antara mereka, hanya keheningan yang dipenuhi sesuatu yang sulit dijelaskan; keakraban dari dua orang yang pernah begitu dekat, kemudian terpisah oleh waktu tanpa pernah benar-benar mengucapkan perpisahan.

“Sudah lama,” ucap Hae-in lirih. Suaranya sedikit bergetar, seolah kalimat sesederhana itu tidak cukup untuk menampung bertahun-tahun yang telah berlalu.

“Terlalu lama,” jawab Junho singkat.

Beberapa detik kemudian, Hae-in melepaskan pelukannya. Namun, matanya masih tertahan pada wajah Junho, seakan sedang memastikan bahwa pria yang berdiri di hadapannya benar-benar orang yang sama dengan sosok yang selama ini hanya hidup dalam ingatannya.

Jun-seok memperhatikan mereka dengan mata membesar. Ia tampak bingung, tetapi tidak menunjukkan rasa takut. Setelah beberapa saat, ia bangkit dari kursinya dan mendekat setengah langkah.

“Daddy?” panggilnya hati-hati.

Junho segera melepaskan pandangannya dari Hae-in dan menoleh kepada putranya. Ekspresinya kembali tenang, seperti biasanya, tetapi ada sesuatu yang bergerak halus di balik sorot matanya sebuah kesadaran bahwa pertemuan yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi kembali, kini berlangsung tepat di depan anaknya.

“Iya?” tanya Junho pelan.

“Daddy kenal Saem ini?” tanya Jun-seok penasaran.

“Iya... Dia sahabat Daddy dulu, saat masih sekolah,” jawabnya, yang akhirnya membuat Jun-seok mengangguk. Ia kemudian menoleh kepada Hae-in.

Hae-in masih memandangi bocah itu untuk beberapa saat, ada rasa penasaran yang belum sepenuhnya hilang dari wajahnya.

“Dia benar putramu?” tanyanya sembari menatap Junho.

Junho mengangguk.

“Iya... Putraku,” ucapnya.

Untuk sesaat, Hae-in hanya terdiam. Matanya kembali jatuh kepada Jun-seok, seolah baru saja menyadari hubungan yang sejak tadi tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Bocah yang beberapa waktu lalu duduk di sampingnya, bercerita tentang ibu dan ayahnya, ternyata adalah putra Junho.

Senyum perlahan muncul di wajahnya, ia menurunkan tubuh sedikit agar sejajar dengan mata Jun-seok.

“Pantas saja... Ketika aku melihat wajahmu, aku seperti tidak asing. Kamu tampan sekali,” katanya tulus.

Jun-seok tersenyum kecil, sedikit malu menerima pujian itu.

“Terima kasih, Saem,” ucapnya pelan.

Hae-in mengusap lembut rambut Jun-seok sebelum kembali berdiri. Pandangannya kemudian beralih kepada Junho.

“Sejak kapan kau bekerja di sini?” tanya Junho.

Pandangan Hae-in kini tertuju penuh kepadanya.

“Baru beberapa minggu lalu aku pindah ke Seoul karena satu dan lain hal,” jawabnya.

“Akhh... Begitu,” jawab Junho singkat.

“Daddy, ayo pulang. Kita tidak boleh keduluan Mommy,” ajak Jun-seok sambil meraih tangan Junho.

Junho menunduk sekilas melihat tangan kecil yang menggenggam tangannya, lalu kembali menatap Hae-in.

“Sebentar.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Terima kasih sudah selalu menemaninya. Dia sering bercerita banyak tentangmu. Aku menghargainya.”

Tatapan Junho bertahan beberapa saat pada Hae-in. Ada sesuatu yang nyaris menyerupai senyum di sudut bibirnya, sebuah ekspresi kecil yang muncul dari rasa terima kasih yang tulus.

Hae-in menggeleng pelan.

“Tidak perlu. Aku tidak keberatan menunggunya, Junho-ya.” Ia kemudian melirik Jun-seok yang masih menggenggam tangan ayahnya sebelum kembali menatap Junho.

“Aku harap bisa bertemu dengan istrimu lain waktu. Aku dengar banyak tentangnya dari putramu... Dia begitu mengagumi ibunya,” ucapnya pelan.

Junho hanya mengangguk kecil namun tanpa Hae-in sadari, kalimat terakhirnya membuat sesuatu yang hangat melintas sekilas di wajah Junho. Adanya Nala di dalam setiap cerita Jun-seok terasa begitu jelas bahkan kepada seseorang yang baru saja kembali ke dalam hidupnya.

“Lain kali... Dia memang wanita hebat,” jawab Junho.

“Aku tahu. Jika tidak, dia tidak akan menjadi istrimu,” balas Hae-in.

Jun-seok kembali meraih tangan ayahnya. Kali ini, jemarinya menggenggam lebih erat, seolah takut Junho kembali mengalihkan perhatian kepada percakapan mereka.

“Daddy... Ayo...” ajaknya dengan nada kesal.

Sejak tadi ia sudah tidak sabar ingin pulang. Sudah tiga hari ia tidak bertemu ibunya karena Nala harus mengikuti lokakarya, dan sekarang, ketika akhirnya tahu ibunya akan pulang malam ini, sang ayah justru masih berdiri dan mengobrol. Kesabarannya yang sejak tadi ia tahan mulai habis.

Junho menunduk menatap putranya.

“Iya... iya,” ucap nya menenangkan. Namun, bukannya langsung beranjak, ia kembali menoleh kepada Hae-in. “Kita akan bicara lagi. Aku tidak bisa mengabaikan Seok.”

Junho mengeluarkan ponselnya, lalu menyodorkannya kepada Hae-in. Ia tersenyum tipis sembari menerima ponsel itu dan mengetikkan nomor teleponnya sebelum menyerahkannya kembali kepada Junho.

“Daddy... Cepat, ihhh...” rengek Jun-seok tidak sabar.

Ia mulai menarik-narik tangan ayahnya. Wajahnya mengerucut, sementara kedua alisnya bertaut kesal karena sekarang keinginannya hanya satu: segera pulang dan bertemu Mommy.

Junho menatap putranya dengan helaan napas kecil.

“Sebentar, adeul. Astaga... Daddy masih bicara,” ucapnya, lalu kembali menatap Hae-in.

Hae-in tersenyum lembut melihat tingkah Jun-seok. Ada sesuatu yang menghangatkan hatinya ketika melihat bagaimana bocah itu begitu merindukan ibunya sampai tidak sanggup lagi menyembunyikan rasa tidak sabarnya.

“Aku pasti tunggu,” ucapnya sembari tersenyum. Kemudian, Hae-in menatap Jun-seok. “Hati-hati, ya. Saem tunggu cerita kamu yang selanjutnya,” ucapnya sembari mengusap puncak kepala anak itu dengan lembut.

Jun-seok hanya mengangguk singkat. Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali menarik tangan Junho.

“Daddy, ayo!” ucapnya kesal, kali ini nada suaranya lebih tegas.

Junho akhirnya menyerah. Ia mengangguk kecil kepada Hae-in sebelum menggandeng tangan putranya dan berjalan menuju mobil. Mereka berpisah dengan jarak yang sopan. Tidak ada gestur berlebihan, tidak ada kata-kata yang melampaui batas. Namun, mata mereka menyimpan terlalu banyak kenangan untuk benar-benar disebut netral.

1
Namira Mara
Nala kaya perempuan zaman batu aja deh lawan ke Nala lawan
Ramapratama
Junho nyebelin nya awet bahkan setelah 13 tahun berlalu 🤭
Namira Mara
🤣🤣🤣🤣🤣 mimpi bisa barengan gitu 😭
Namira Mara
Junho ternyata gak berubah Thor, tetep dia yang sama nyebelin nya. 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!