Indonesia
NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drip Drip

Ara masih saja tidak beranjak dari tempatnya sejak hampir tiga jam yang lalu. Ia hanya duduk terdiam di samping Bara, terus menggenggam tangan kekasihnya yang masih terasa hangat.

Hangat sekali. Sampai-sampai Ara kembali merindukan pelukan Bara.

Ia hanya bisa menatap nanar wajah Bara yang masih terbaring lemah dengan selang oksigen terpasang di hidungnya. Napas Bara terdengar teratur. Ara ingin percaya bahwa Bara sedang bermimpi indah dalam tidurnya dan tidak merasakan sakit sedikit pun.

Kali ini, Ara hanya ditemani oleh Biru di ruang rawat tersebut. Teman-temannya yang lain terpaksa kembali mengikuti kuliah Pak Adam karena dosen killer itu lagi-lagi memberikan kuis dadakan.

Sementara Ara masih membolos. Ia sudah tidak peduli lagi dengan kuliahnya. Toh, tinggal menghitung hari sebelum ia kembali ke masa depan.

"Dek, makan dulu. Kamu mau duduk kayak patung sampai berapa lama lagi? Pantatmu nggak sakit?"

"Aku mau nunggu sampai Bara sadar, Bang. Aku juga nggak lapar. Rasanya aku udah kenyang cuma dengan melihat Bara tidur lelap kayak gini."

Biru menghela napas pelan.

"Kamu sayang banget sama dia, ya, Dek? Abang jadi pengin disayang kayak Bara juga kalau abang punya pacar. Abang jadi iri."

Biru kemudian berdiri di samping Ara sambil menatap Bara dengan tatapan iba.

"Bang."

"Kenapa, Dek?"

"Abang tahu Vano yang mau dijodohkan Papa sama aku, kan?"

"Iya, tahu. Kenapa?"

Ara mengambil ponselnya dari dalam tas, kemudian memutar rekaman suara yang berhasil ia ambil secara diam-diam pagi tadi.

Biru mendengarkan ucapan Vano dengan saksama. Semakin lama, kedua tangannya semakin mengepal karena geram.

"Gila! Kenapa Papa bisa-bisanya menjodohkan kamu sama psikopat kayak dia? Sialan! Tadi pagi waktu Abang lihat wajahnya, dia kelihatannya kayak anak mami. Ternyata semuanya cuma akting?"

"Iya. Rasanya sakit banget waktu dia ngomong kayak gitu tentang Bara. Aku udah berusaha nahan emosi tadi di dalam mobil. Aku juga nahan takut."

Ara menunduk.

"Takut kalau dia macam-macam sama aku, Bang. Tapi untungnya nggak terjadi apa-apa."

"Mendingan rekaman ini langsung kamu kirim ke Papa sekarang."

"Niatku memang kayak gitu, Bang. Tapi aku takut Papa malah marah, terus melakukan sesuatu ke Bara. Mending aku kirim beberapa hari lagi aja."

"Sebelum kamu balik ke masa depan?"

"Iya."

Biru mengangguk pelan.

"Ya udah. Kirim aja rekaman ini ke grup teman-temanmu. Biar mereka juga bisa jagain kamu kalau Abang lagi sibuk."

Ara mengangguk setuju. Ia kemudian mengirimkan rekaman suara tersebut ke grup chat, lengkap dengan penjelasan mengenai siapa Vano dan apa yang telah dikatakannya.

Tidak butuh waktu lama sampai teman-temannya mulai membanjiri grup dengan umpatan. Mereka bahkan berjanji akan melindungi Ara dan Bara selama beberapa hari ke depan.

Tumben banget abangku cerdas. Terima kasih, ya, Bang. Nanti aku bantu Abang buat ngedeketin Kak Marissa.

Ara tersenyum kecil membaca pikirannya sendiri.

Instagram

aramoana_:

Cepet bangun sayang @barasamudera 😭 aku kangen!!! 😭😭😭

Comments:

sorazura_:

Sabar, Ra! Bara pasti bangun, kok 😭

yuvindipt:

Bara itu cowok kuat, Ra. Dia pasti bangun. Terus doa aja 😭

yohan.dewa:

Kok gue jadi sedih, ya? 😭

biru_namaku:

😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

marissabrn:

Ara? Bara drop lagi? Tunggu sebentar, ya. Kakak mau meluncur ke rumah sakit sekarang 🙏🏻

...---...

"Araaa!!! Kita bawa makanan, nih! Ayam geprek level sepuluh kesukaan lo!"

Suara Sora beserta langkah kaki teman-temannya yang lain membuyarkan lamunan Ara.

Mereka masuk satu per satu ke dalam kamar, kemudian memeluk Ara yang masih terdiam sambil menatap Bara yang belum juga sadar.

"Gue nggak mood makan."

"Kalau lo sakit, gimana? Nanti lo nggak bisa jagain Bara."

"Tapi gue beneran nggak mood makan, Sora!"

"Gue suapin, deh. Yang penting lo mau makan sedikit aja."

Ara hanya mendengus kesal. Namun, pada akhirnya ia terpaksa membuka mulut dan membiarkan Sora menyuapinya.

Sementara itu, Yuvin dan Yohan mengobrol dengan Biru mengenai Vano.

"Dek, si Vano punya Instagram, nggak? Abang yakin dia pasti juga cari informasi tentang kalian di sana."

"Ada. Nama penggunanya vanonym. Dia sering ninggalin komentar di unggahan foto Bara yang aku unggah, tapi aku nggak pernah merespons. Apalagi setelah tahu busuknya dia kayak apa."

"Oh, iya. Akunnya ternyata dikunci. Fotonya juga kosong. Dia pasti sengaja pakai akun yang nggak jelas."

Ara mengangguk.

"Guys, tolong bantuin jagain Bara kalau gue lagi keluar, ya? Misalnya waktu gue pulang buat ngambil baju ganti atau apa pun. Intinya, jangan sampai Bara ditinggal sendirian di kamar."

"Siap, Nyonya Bara."

Yuvin mengangkat tangannya dengan gaya hormat.

"Yuvin dan Yohan akan menjaga dua puluh empat jam secara bergantian. Kan lo tahu sendiri, kos-kosan kita udah pindah ke sini."

Pembicaraan mereka terpotong ketika seorang wanita cantik tiba-tiba masuk ke dalam kamar Bara dengan wajah kebingungan.

"Waduh! Ini ada apa, ya? Kok ramai sekali? Kalian semua temannya Bara?"

Ara segera menoleh ke arah sumber suara. Matanya langsung membulat ketika melihat sosok Marissa berdiri di ambang pintu.

"Kakak!"

Ara segera berlari menghampiri Marissa dan memeluknya erat. Marissa membalas pelukan itu sambil tersenyum lembut.

"Maafin aku, Kak. Aku nggak bisa jagain Bara dengan baik."

"Ara, jangan bicara kayak gitu."

Marissa mengusap punggung Ara perlahan.

"Sekarang Kakak mau lihat Bara sebentar. Setelah itu, Kakak mau bicara berdua sama kamu di luar."

Ara mengangguk. Ia kemudian membiarkan Marissa mendekati Bara. Begitu melihat keadaan adiknya, raut wajah Marissa berubah. Kesedihan yang begitu dalam terpancar jelas dari matanya. Ia mengusap pipi Bara perlahan, lalu mengecup kening adiknya.

"Terima kasih, ya. Kalian semua sudah membantu menjaga Bara."

Marissa berbalik menatap mereka.

"Saya kira Bara nggak punya teman selama ini karena yang dia ceritakan setiap hari cuma Ara. Saya nggak tahu kalau ternyata teman Bara sebanyak ini."

"Kak, nggak perlu berterima kasih," ujar Sora. "Semua ini juga berkat Ara. Lagian kami bantu jagain Bara karena Bara juga teman sekelas kami."

Marissa tersenyum.

"Nama kamu siapa? Dan yang lainnya juga? Kakak ingin mengenal kalian semua."

"Ah, saya Sora, Kak. Lalu ini Yuvin, itu Yohan, dan yang di pojok itu Bang Biru, kakaknya Ara."

Marissa menyalami mereka satu per satu sambil berusaha mengingat nama masing-masing. Namun, ketika tiba giliran Biru, tangan laki-laki itu justru terlihat gemetaran.

Marissa terkekeh manis melihatnya. Sontak saja Biru ingin melebur di tempat. Ia benar-benar terbuai oleh sosok Marissa.

"Jangan-jangan ini calon kakak iparku," celetuk Yohan pelan.

Biru langsung melotot.

"Diam lo!"

Marissa hanya tertawa kecil.

"Saya tinggal sebentar, ya. Saya mau bicara dengan Ara dulu."

Marissa kemudian mengajak Ara keluar dari kamar. Keduanya duduk di sebuah bangku yang berada tidak jauh dari ruang rawat Bara. Di sana, Ara mulai menceritakan semuanya kepada Marissa.

Tentang kondisi Bara. Tentang bagaimana tubuhnya semakin melemah. Sampai akhirnya, Ara menceritakan bahwa kanker Bara sudah berada di stadium akhir.

Marissa terdiam cukup lama.

"Kakak sudah ikhlas, Ra."

Suara Marissa terdengar lirih.

"Apa pun yang terjadi, Kakak ikhlas. Kakak nggak tega melihat Bara terus menderita dan kesakitan seperti itu."

Marissa menggenggam tangan Ara.

"Kakak sama sekali nggak menyalahkan kamu. Justru Kakak senang karena kamu sudah ada di samping Bara di sisa-sisa waktunya. Kakak percaya, pasti Bara sudah berhasil melakukan semua keinginannya, meskipun dia cuma diberi waktu sedikit untuk kembali."

Ara mengerutkan kening.

"Sebentar. Aku masih bingung sama perkataan Kakak."

Marissa langsung terdiam.

"Maksudnya... diberi waktu sedikit untuk kembali itu apa?"

"Oh?"

Marissa tampak sedikit terkejut, kemudian tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya.

"Memangnya tadi Kakak bicara seperti itu?"

Ara hanya menatapnya penuh tanda tanya. Marissa kemudian menggeleng.

"Aduh, Ara. Maksud Kakak, Kakak senang karena sekarang Bara sudah memiliki kamu."

Marissa tersenyum.

"Ara tahu? Setiap hari, yang diceritakan Bara sejak dulu itu cuma kamu. Kakak sampai bosan mendengarnya."

Ara terdiam.

"Sekarang Kakak senang karena keinginan Bara akhirnya terkabul. Jadi, Ara harus selalu berada di samping Bara, ya? Tolong bahagiakan dia."

Ara mengerutkan kening. Ada sesuatu dari ucapan Marissa yang terasa janggal. Seolah-olah wanita itu sedang menyembunyikan sesuatu.

Begitu pula dengan Bara. Entah kenapa, Ara merasa ada rahasia yang belum ia ketahui di antara kakak dan adik itu. Namun, ia berusaha menepis prasangka tersebut.

Ara mengangguk, lalu memeluk Marissa erat. Tentu saja ia sudah berjanji akan membahagiakan Bara. Dan ketika Bara sudah sadar nanti, Ara juga harus segera memberikan buku hariannya.

Ia ingin Bara membaca semuanya. Ia ingin Bara tahu betapa besar cintanya. Betapa ia rela melakukan apa pun hanya untuk kembali ke masa lalu dan menghabiskan waktu bersamanya. Bahkan jika waktu yang dimilikinya hanya tinggal beberapa hari.

Karena bagi Ara, beberapa hari bersama Bara jauh lebih berharga daripada bertahun-tahun hidup dengan penyesalan. Ia tidak ingin kehilangan Bara untuk kedua kalinya.

1
Justjeha
Kisah fantasi yg pokoknya tidak akan mengecewakan
Justjeha
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!