Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Mafia

Istri Kontrak Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*

Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.

Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.

Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.

Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NAMA PANGGILAN

Hari kelima setelah mereka mengetahui kehamilan itu.

Jika dihitung dari hari pertama haid terakhir, usia kandungan hari ini adalah lima minggu empat hari. Di dalam rahim, sesuatu yang kemarin masih berukuran dua milimeter kini bertambah sekitar satu milimeter lagi. Masih sebesar biji wijen, masih berupa kantong kehamilan kecil berwarna hitam di layar USG, belum ada detak jantung yang bisa dilihat, belum ada bentuk janin yang jelas. Tapi ia tumbuh, setiap hari, tanpa pernah berhenti.

Pukul 08.41 pagi, Alya masih tidur.

Rafael sudah terbangun sejak pukul tujuh. Ia tidak membangunkan Alya. Ia ingat betul apa yang dikatakan dokter kandungan dua hari lalu di klinik. Pada minggu kelima, hormon progesteron meningkat sangat tinggi. Tubuh Alya sedang bekerja membangun plasenta awal dan sistem pendukung kehidupan. Energi terbesarnya tersedot ke dalam perut. Maka wajar jika rasa lelahnya ekstrem, wajar jika ia mengantuk terus, wajar jika tidurnya menjadi lebih panjang dan lebih dalam dari biasanya.

Rafael hanya duduk di sisi ranjang, membuka laptop dengan kecerahan paling rendah, mengerjakan laporan yang bisa ia kerjakan tanpa suara.

Pukul 09.18, Alya akhirnya bergerak. Ia membuka mata pelan, menatap langit-langit kamar yang putih.

"Jam berapa?" Suaranya serak.

"Jam setengah sepuluh kurang," jawab Rafael, menutup laptopnya.

Alya langsung terduduk. "Kelas online. Kelas Ilmu Negara jam sembilan. Ya Allah."

"Sudah aman," kata Rafael dengan tenang. "Tadi pagi aku chat Rinda. Aku bilang kamu pusing dan tidak enak badan. Dia sudah absenin kamu pakai screenshot Zoom. Dosen tidak menanyakan apa-apa."

Alya menatap Rafael, menghela napas panjang. Antara lega dan merasa tidak enak.

"Kamu tidak bohong sepenuhnya kan?" tanya Alya.

"Tidak. Kamu memang tidak enak badan. Kamu kelelahan. Itu fakta. Dokter sendiri yang bilang kelelahan pada trimester pertama itu bisa lebih berat daripada kelelahan karena sakit flu. Jadi aku hanya menyampaikan fakta medisnya saja dengan bahasa yang lebih sederhana."

Alya tersenyum tipis. Ia kemudian berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Saat ia kembali, wajahnya sudah dicuci, rambutnya diikat asal.

Ia berdiri di depan cermin kecil di meja rias, memegangi dadanya dengan kedua tangan. Wajahnya terlihat cemas.

"Fa, sini," panggilnya.

Rafael menghampiri.

"Rasanya sakit. Di sini. Seperti penuh dan nyeri kalau tersentuh. Apakah ini tidak apa-apa? Aku takut."

Rafael mengangguk pelan. Ia mengerti. Ini adalah salah satu keluhan yang paling sering muncul di minggu kelima.

"Itu normal, Sayang. Payudara memang akan terasa lebih sensitif, lebih penuh, dan kadang nyeri tekan. Itu karena aliran darahmu meningkat dan kelenjar susu mulai bersiap. Hormon estrogen dan progesteron yang naik. Dokter bilang ini akan terasa selama beberapa minggu pertama. Nanti kita ganti pakaian dalammu dengan yang lebih lembut ya, yang tanpa kawat, agar tidak menambah nyeri."

Alya mengangguk, sedikit lega karena ada penjelasan yang masuk akal. "Jadi bukan karena aku salah tidur?"

"Bukan. Ini karena tubuhmu sedang berubah. Kamu sedang membangun sesuatu."

Mereka sarapan di meja kecil dekat jendela. Rafael menghangatkan nasi goreng sisa semalam, menambahkan telur dadar, dan membuat teh hangat yang tidak terlalu manis. Sejak tiga hari terakhir, Alya tidak suka manis yang menyengat. Hidungnya menjadi sangat tajam. Bau manis yang terlalu kuat membuatnya tidak nyaman.

Di tengah makan, Alya tiba-tiba berhenti. Ia meletakkan sendoknya.

"Tadi malam aku memanggilnya Wijen," kata Alya.

Rafael menatapnya. "Iya, aku dengar. Selamat malam Wijen."

"Tapi kalau dipikir-pikir, Wijen itu seperti nama makanan. Kasihan kalau nanti dipanggil begitu terus. Seperti nama taburan roti," lanjut Alya sambil mengelus perutnya yang masih rata dan lembut. Tidak ada perubahan bentuk dari luar sama sekali.

Rafael tersenyum. "Lalu kamu mau panggil apa?"

Alya berpikir lama. Dahi berkerut, bibirnya sedikit maju. Kebiasaan lamanya setiap kali sedang berpikir serius.

"Rahasia," katanya akhirnya, pelan tapi mantap. "Bagaimana kalau kita panggil dia Rahasia? Atau Sia saja, biar lebih pendek dan lembut."

"Kenapa Rahasia?"

"Karena dia adalah rahasia kita. Janji kita. Kita bilang kita tidak akan memberi tahu siapa pun dulu. Tidak Ayah, tidak Mama, tidak Dinda dan adik-adik, juga tidak Papa dan Mama kamu di Jakarta. Sampai kita benar-benar siap. Sampai USG-nya sudah jelas, sampai detak jantungnya sudah bisa didengar. Jadi selama dia masih menjadi rahasia, kita panggil dia Sia."

Rafael mengulang nama itu. "Sia."

Kata itu terdengar lembut di dalam apartemen studio yang kecil itu. Tidak berlebihan, tidak dibuat-buat, tapi penuh makna yang hanya mereka berdua yang tahu.

"Sia," kata Rafael lagi, meletakkan tangannya di atas tangan Alya yang masih menempel di perut. "Selamat pagi, Sia. Pagi ini Ibu bangun siang karena Sia membuat Ibu sangat lelah. Tidak apa-apa. Ayah sudah jaga Ibu."

Alya tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak testpack positif itu, tawanya terdengar ringan, tidak bercampur cemas.

"Pelan-pelan," bisik Alya. "Nanti tetangga sebelah dengar. Dikira kita memanggil kucing."

"Kalau mereka dengar, biar saja mereka mengira kita memang memelihara kucing bernama Sia."

Setelah sarapan, Rafael mengambil spidol hitam dan berjalan ke arah kalender dinding kecil yang menempel di dekat kulkas. Kalender itu biasanya hanya untuk menandai jadwal meeting dan tanggal bayar listrik.

Ia menulis dengan tulisan yang rapi:

*13 Okt 2026 - 5 minggu 4 hari - 2-3 mm - Sia - Gejala: hidung tajam, mudah lelah, nyeri payudara, BAK sering, belum mual, mood naik turun.*

Alya membaca tulisan itu dari belakang, sambil memeluk punggung Rafael.

"Untuk apa ditulis seperti itu?" tanyanya.

"Supaya kita ingat. Nanti ketika Sia sudah besar, sudah bisa membaca, kita bisa tunjukkan kalender ini. Kita bisa ceritakan bahwa pada hari ini, Sia masih sebesar biji wijen, dan Sia membuat Ibunya rindu rumah sampai menangis jam dua pagi, dan membuat Ibunya mencium bau karpet sampai ke dalam mimpi."

Alya memejamkan mata, menyandarkan kepalanya di punggung Rafael. Ia ingat kejadian semalam. Bagaimana ia tiba-tiba rindu Ayah, rindu suara Ayah mengaji, rindu rumah, tanpa alasan yang jelas. Dokter bilang itu juga bagian dari perubahan hormon. Suasana hati menjadi lebih sensitif, lebih mudah tersentuh.

"Fa," kata Alya pelan. "Janji kita masih berlaku kan?"

"Janji yang mana?"

"Janji untuk tidak memberi tahu siapa pun dulu. Aku ingin Ayah menjadi orang pertama yang tahu dari mulutku langsung. Aku ingin melihat wajahnya. Aku ingin Mama memelukku langsung. Aku tidak ingin mereka tahu dari telepon. Aku ingin pulang dan memberi kejutan."

Rafael berbalik, menatap Alya dengan serius. "Aku ingat. Aku pegang janji itu. Papa dan Mama ku pun tidak akan aku beri tahu dulu. Kita simpan dulu. Ini milik kita berdua. Sampai minggu depan, saat usia tujuh minggu, saat detak jantungnya sudah bisa terlihat di USG. Baru kita pulang bersama. Kita bawa foto USG yang sudah lebih jelas."

Alya mengangguk lega.

Sisa hari itu berjalan dengan tenang. Tidak ada drama mual di wastafel. Tidak ada muntah. Tidak ada ngidam aneh yang sering diceritakan orang. Karena secara medis, mual dan muntah akibat puncak hormon hCG biasanya baru muncul di minggu keenam atau ketujuh, bukan di minggu kelima.

Yang ada hanyalah Alya yang bolak-balik ke kamar mandi empat kali dalam tiga jam karena lebih sering buang air kecil. Itu juga normal, karena rahim yang mulai membesar meski masih di dalam panggul menekan kandung kemih, dan ginjal bekerja lebih keras menyaring darah.

Yang ada hanyalah Alya yang meminta Rafael menutup jendela karena bau deterjen dari jemuran tetangga tercium terlalu kuat sampai ke dalam kamar.

Dan yang ada hanyalah Rafael yang belajar bahwa tugasnya di minggu kelima ini bukanlah membeli baju bayi atau mengecat kamar.

Tugasnya adalah mengingat bahwa teh Alya tidak boleh terlalu manis, bahwa bra tanpa kawat lebih nyaman untuknya sekarang, bahwa ia harus membiarkan Alya tidur lebih lama, dan bahwa ia harus menjaga sebuah nama rahasia agar tetap menjadi milik mereka berdua.

Menjelang sore, Alya kembali mengantuk. Ia berbaring di sofa, dengan kepala di pangkuan Rafael. Matanya sudah berat.

Sebelum benar-benar terlelap, ia berbisik sambil mengelus perutnya yang rata.

"Selamat sore, Sia. Hari ini Ibu tidak mual sama sekali. Ibu masih kuat. Ibu hanya lelah dan sedikit rindu rumah. Kamu di dalam juga harus kuat ya. Tetap jadi Rahasia kita dulu. Tetap jadi Sia kita dulu."

Rafael mengusap rambut Alya dengan lembut. Di luar jendela, Jakarta kembali macet dan berisik seperti biasa. Suara klakson, suara motor, suara orang mengobrol di lorong apartemen.

Tapi di dalam kamar studio yang kecil itu, semuanya tenang.

Hanya ada dua orang yang sedang belajar menjadi orang tua, dan sebuah rahasia kecil sebesar biji wijen yang baru saja diberi nama, yang dijaga dengan sebuah janji untuk tidak diceritakan kepada siapa pun, sampai waktu yang tepat tiba.

Bersambung....

1
Renjana
🥰
ocvia
sudah kak
Mia Camelia
lanjut thor
Nda
mampir disini thor..😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!