Kisah ke 2 ini menceritakan tentang gadis berusia 8 tahun bernama Malla yang mengalami kelumpuhan karena kanker tulang yang dia derita semenjak lahir.
Keajaiban pun berpihak kepadanya saat ayah Malla berhasil menyelesaikan penemuanya yang di beri nama project D.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ibu Malla memilih mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak sanggup menanggung rasa bersalahnya.
Sedangkan ayah Malla, mengirimkanya ke pasukan revolusi untuk menyembunyikan Malla dari pihak yang menginginkan project D di tubuh Malla.
Bahkan gadis kecil ini dipaksa untuk bisa memegang pisau untuk membunuh di usianya yang masih 8 tahun.
note : untuk kisah ke 2 ini tidak harus membaca kisah sebelumnya, karena menceritakan tokoh yang berbeda meski semua cerita Milky Way saling terhubung
warning!
Milky Way adalah cerita penuh dengan kekerasan dan hal hal berbau dewasa. selain itu, tidak akan ada kisah yang berakhir dengan happy end.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Alex
Alex yang terbaring di ruang perawatan dalam pesawat, dipanggil temannya dari balik ruangan.
Dengan susah payah dan menahan rasa sakit yang luar biasa, Alex merayap sambil memegang dinding.
“alex!kau masih hidup?! Lihat ini!”
Alex perlahan lahan memicingkan matanya sambil menatap ke arah monitor yang agak jauh darinya. Dari monitor kecil tersebut, Alex melihat siaran langsung pertarungan Yuan dan Malla.
“bukankah anak gadis ini yang mau kau selamatkan?” tanya teman Alex
“di mana lokasinya?” tanya Alex
“agak tersembunyi. Sepertinya memang sengaja disembunyikan agar Sadonz tidak bisa menemukannya”
“sepertinya dugaanku, Vergus memang kuat, tetapi dia bodoh”
“apa rencanamu?”
“kuasai saluran komunikasi dengan para peserta. Aku ingin katakan sesuatu kepada mereka”
“itu mudah, beri aku 2 menit” ucap teman Alex sambil mengacak system komunikasi Sadonz
“perlukan ku ambil alih siaran langsung ini?”
“abaikan, itu buat pengalihan. Vergus terlalu mementingkan uangnya.”
“selesai! Silahkan bicara pak!” ucap seorang teman Alex dengan lantang
...****************...
Di pulau tempat ujian. Para peserta tampak saling bertarung satu sama lain seperti ujian biasanya.
Meski mereka tersebar di seluruh pulau, mereka tidak memiliki cukup bahan pangan maupun persediaan makanan.
Sadonz memang sengaja menyiksa mereka agar bisa saling membunuh jika beberapa bahan pangan mereka jatuhkan di pulau.
Di sebuah pesisir pantai, seorang pemuda sedang menahan pisau seorang perempuan yang menjadi lawannya. Mereka tampak berebut sebuah daging kaleng yang sadonz jatuhkan.
Di saat mereka saling membunuh, tiba tiba terdengar suara Alex dari gelang masing masing peserta ujian.
Semua peserta di seluruh pulau saling bertatap muka ke arah lawan maupun kawan mereka. Mereka heran, kenapa suara operator tampak berbeda dari sebelumnya.
“aku tahu saat ini kalian tengah berjuang untuk hidup, sebagaimana yang ku rasakan dahulu. Hingga saatnya pasukan revolusi menyelamatkanku dan merekrutku menjadi bagian mereka.
Saat ini, sebagai pasukan revolusi, aku akan menyelamatkan kalian sebagaimana pasukan revolusi menyelamatkanku dahulu.
Jika kalian menginginkan perubahan, pergilah menuju sebuah kapal khusus milik Vergus. Kita bertemu disana. Bantu aku selamatkan seorang perempuan, aku akan membawa kalian ikut bersamaku menjadi bagian pasukan revolusi.”
Setelah Alex berbicara, di gelang para peserta tampak sebuah map tujuan yang Alex kirimkan.
Mereka yang sebelumnya hendak membunuh maupun saling bunuh, tiba tiba berhenti dan berlari mengikuti arahan Alex.
Semua anak didik Sadonz yang menjalani ujian di pulau, berhamburan menuju kapal di mana Malla dan Vergus berada. Mereka memiliki harapan untuk keluar dari neraka Sadonz dan menjadi pasukan revolusi.
Di dalam pesawat Alex, beberapa teman Alex mulai berpencar memakai pesawat mini. Sebagian menuju ke camp camp lain milik Sadonz untuk menyelamatkan anak anak yang lain.
Sedangkan beberapa yang lainya, masih bersama Alex menuju ke kapal di mana Malla berada.
“apakah ada kabar dari pasukan revolusi yang berperang?” tanya Alex
“ini sudah berhari hari mereka berperang di atas sana. Sepertinya kali ini serangan pasukan revolusi cukup membuat kerepotan” jawab teman Alex
Pesawat Alex melesat dengan kecepatan penuh menuju kapal Vergus.
...****************...
Di dalam kurungan, Malla masih di hajar habis habisan oleh Yuan. Meski tubuh Malla cukup kuat, pukulan dan bantingan Yuan cukup mengguncang isi tubuhnya hingga Malla memuntahkan beberapa darah.
Tubuh kecil Malla yang tampak lemas dan tidak berdaya tersebut ditarik lagi kaki kirinya dan di putar putar dengan kencang hingga terpelanting dengan keras membentur dinding hingga dia terpental ke arah yang berlawanan.
Yuan yang sudah siap dengan kekuatannya pun langsung memukul lagi hingga tulang punggung Malla yang keras terlihat patah.
Untuk ukuran manusia normal, seharusnya Malla sudah sekarat akan hal ini, namun, tulang tubuh Malla yang memiliki kadar logam Adamant tersebut tampak dengan mudahnya menyembuhkan diri.
Tulang punggungnya yang patah dengan mudah menyatu dan menyusun ulang bagian organ organ tubuhnya yang rusak.
Sekilas mata Malla berubah memutih dan tubuhnya tampak sedikit mengembang menjadi wanita dewasa, namun Malla berusaha untuk tetap mengendalikan dirinya agar kesadarannya tidak diambil alih oleh sisi lain dirinya. lebih tepatnya tulangnya yang mengandung kadar logam Adamant memiliki kecerdasan sendiri
Malla masih berusaha untuk terus bertahan dari setiap serangan Yuan. Dengan cepat Malla menghindari setiap Yuan hendak meraihnya.
Kaki Malla yang lincah dengan mudahnya menghindar dan menjauhi Yuan setiap Yuan mendekatinya. Hal tersebut membuat emosi Yuan semakin memuncak.
Semakin Yuan emosi, semakin kuat dan cepat dirinya bergerak. Malla yang berhasil dia tangkap, langsung diangkatnya tinggi tinggi di atas kepala dan di patahkan tulang punggungnya lagi.
Untuk kesekian kalinya Malla bertekat untuk menyerah, dia meringis merasakan rasa sakit saat tulang punggungnya yang patah. Bahkan gadis manis tersebut berteriak kesakitan saat Yuan menarik tubuhnya agar terpisah jadi dua bagian.
Dalam akhir kesadarannya, Malla berusaha menyentuh dada Yuan dengan telapak tangannya. Namun hal itu sia sia, Malla kehilangan kesadarannya duluan.
Melihat lawanya sudah tidak berdaya, Yuan menariknya dengan lebih kuat agar tubuh Malla segera terbelah dua.
Namun, Yuan menyadari bahwa gadis tersebut menoleh ke arah wajahnya dan meringis sambil tertawa kecil dengan tatapan kosong.
Tubuh Malla yang sudah di bawah kendali tulangnya, mulai mengembang dan berubah wujud menjadi wanita dewasa.
Beberapa pakaian kecilnya langsung robek saat pinggul remaja tersebut mengembang.
Yuan yang merasa mendapat lawan yang jauh lebih kuat, langsung melempar tubuh Malla yang mengembang menjadi wanita dewasa ke udara.
Dengan kekuatan penuh, Yuan memukul tubuh Malla ke samping hingga tubuh Malla terguling guling menabrak dinding dengan kecepatan 300 meter/jam.
Belum sempat Yuan menyusul untuk menghajar Malla lagi, tubuh Malla merayap dengan posisi terlentang seperti serangga menuju atas dinding tepat di sudut ruangan. Tampaklah tangan tangan Malla meruncing dan memanjang seperti dua pedang yang menyatu dengan kedua tangannya.
Malla begitu cepat melompat dan menusuk tubuh Yuan tepat di dadanya. Meski Malla yang sekarang cukup mampu mengimbangi Yuan, entah kenapa tusukan hanya sebatas ujung saja, Malla seperti enggan melukai Yuan lebih dalam.
Yuan yang sudah tidak mengingat apapun lagi selain emosi dengan apa yang ada di hadapannya, langsung meraih tangan Malla dan memukul kepala Malla dengan kuat.
Pukulan Yuan yang masuk berkali kali seperti tidak di rasa oleh Malla, bahkan Malla langsung merubah posisi tangannya hingga tangan tajamnya langsung menggores beberapa luka di badan dan tangan Yuan.
Melihat lawannya melukainya, Yuan menjadi lebih marah lagi, diraihnya sebelah tangan Malla yang menyerupai pedang tajam tersebut.
Dengan kuat, Yuan mematahkannya dan menyerang balik Malla menggunakan tangannya sendiri.
Malla yang merasa terpojok karena sebelah tangannya terputus, mencoba bertahan dengan memusatkan beberapa kekuatan dan pikirannya ke arah sisa tangannya.
Belum sempat, Malla melakukan perlawanan, Yuan sudah menusuk pundak Malla.
Seberapapun kerasnya tubuh Malla, ternyata tubuhnya bisa dengan mudah di lukai oleh anggota badannya sendiri.
Melihat tubuh lawanya bisa terluka, Yuan dengan beringas meraih sisa tangan Malla dan mematahkannya dengan mudah sekaligus menggunakannya untuk melukai Malla dengan membuta.
Entah berapa puluh kali Yuan menusuk dan merobek tubuh Malla dengan beda tajam dikedua tangannya, Malla hanya tampak seperti tidak mau melawan maupun menghindar.
Malla hanya terdiam sambil menatap Yuan yang penuh emosi dan terlihat juga rasa kepuasan di raut wajah Yuan yang menunjukkan bahwa dia sedang menikmati serangannya kepada Malla.
Tubuh Malla yang berusaha berontak dari hati Malla dengan cepat menjulurkan beberapa taring taring tajam menyerupai tulang.
Namun taring taring tersebut dengan cepat di raih oleh Yuan dan di patahkannya dengan benda tajam di tangannya.
Berapa kali pun tubuh Malla mengeluarkan taring taring tajam, Yuan dengan mudahnya mematahkannya hingga terlempar ke beberapa sudut ruangan. Bahkan beberapa tampak menancap di sisi sisi dinding.
“berhenti” ucap Malla dengan lirih.
Tampaklah Malla yang mulai menyusutkan tubuhnya tengah menatap Yuan dengan seluruh perasaan dihatinya.
Yuan tidak peduli apapun, saat ini yang ada dipikiranya adalah membunuh apapun di hadapannya.
“berhenti!!” teriak Malla di dalam posisi di rajam oleh puluhan tusukan.
Seketika itu juga Yuan tampak terdiam tidak melanjutkan tusukannya ke tubuh Malla.
Terlihat jelas kedua mata Malla yang tampak berkaca kaca menatap wajah Yuan yang memerah. Semerah darah.
Yuan melihat sekelilingnya, dia menyadari ratusan pecahan taring taring tajam dari badan Malla yang dia patahkan tadi sudah memenuhi ruangan sambil bergerak dan bersiap menusuk ke tubuh Yuan.
Ucapan Malla bukan untuk Yuan agar berhenti menyerangnya, akan tetapi ucapan itu untuk dirinya sendiri yang hendak membunuh Yuan.
Perlahan lahan pecahan pecahan tajam tersebut mulai bergerak menyatu di badan Malla satu persatu.
Dengan lembut juga Malla mengangkat telapak tangannya yang penuh darah menuju ke dada Yuan.
Telapak tangan Malla dengan lembut menyentuh kulit dada Yuan dan berkata
“sepertinya ini akan menjadi luka lagi untukmu nanti”
Ucapan terakhir Malla tersebut telah menunjukkan bahwa serangan Yuan tadi benar benar fatal.
Beberapa tusukannya mampu menembus dan merusak jantung Malla.
Merasakan telapak tangan yang menyentuh dadanya, Yuan seketika mulai sadar dan kembali ke wujudnya semula.
Yuan yang meraih kesadarannya mulai menyadari apa yang telah dia perbuat. Semua hal yang dia rencanakan beberapa tahun ini gagal total karena dia telah melukai Malla dengan begitu kejamnya.
Kesedihan yang tidak bisa dia bendung ini membuatnya teringat dengan masa lalunya akan kematian Rini dan Carlla karena dirinya.
Penyesalan penyesalan tersebut seperti sebilah pisau yang menembus dan hinggap dihatinya tanpa bisa dia cabut lagi.
Yuan menatap kedua mata Malla yang berlinang air mata tanpa bisa berkata apapun, begitu tangan Malla terkulai, detak jantung Yuan langsung bergejolak.
Detak jantungnya bukan meningkat karena marah, akan tetapi berdetak dengan nada bagai beberapa pukulan penderitaan.
Yuan meraih dan merangkul Malla tanpa bisa berucap apapun. Bahkan dia tidak cukup mampu untuk berteriak meski hatinya meronta dengan apa yang terjadi.
Meski detik detik waktu terus berlalu, Yuan tidak peduli lagi. Karena Malla mati ditangannya, pemuda ini sudah tidak memiliki apapun untuk dia pertahankan untuk melanjutkan hidup.
Setelah beberapa saat, kalung di leher mereka berdua langsung bergetar dan terlepas sendiri. Bahkan detik waktu yang sudah dipersiapkan oleh Vergus untuk mengancam mereka berdua pun sudah berhenti.
Yuan tampak tidak peduli, dia masih memeluk tubuh Malla dan bersandar di dinding sambil menatap kosong ke sisi tembok lainnya.
Kedua tangan Yuan tampak merangkul dengan kuat tubuh Malla hingga dia tidak menyadari pintu kurungan sudah dibuka oleh Alex dan beberapa anggota pasukan revolusi lain.
Alex yang melihat Malla terkulai dipelukan Yuan langsung meraih dan mendorong Yuan untuk menjauhinya.
Melihat kondisi Malla yang sudah tidak memiliki denyut nadi lagi, Alex langsung murka dan mengeluarkan pisaunya dan mengarahkan ke leher Yuan.
Meski pisau sudah siap dan melekat ditenggorokan Yuan, Alex tampak seperti enggan membunuh Yuan.
Setelah melihat Yuan dari jarak yang begitu dekat, Alex mengurungkan niatnya karena dia tahu, saat ini Yuan sudah sangat menderita hanya dengan melihat sikap Yuan yang sudah pasrah.
“aku akan membunuhmu nanti jika kau tidak berguna untukku” ucap Alex sambil kembali ke tubuh Malla untuk membawanyanya pergi.
Setelah Alex menggendong Malla, terjadilah beberapa guncangan yang cukup kuat hingga mampu menggoyang kapal induk Sadonz yang begitu besar.
Alex buru buru keluar dari kurungan sambil menggendong mayat Malla, begitu sampai di mulut pintu, Alex melihat Vergus yang sudah murka kepadanya dari jarak yang tidak jauh.
Vergus tampak sibuk bertahan dari ribuan para peserta ujian yang sudah tiba di kapal untuk membantu Alex.
Beberapa pesawat tempur yang di kemudikan teman teman Alex pun tampak berkeliling di sekitar kapal sambil memantau Vergus.
Vergus yang marah berusaha menggunakan pisau hitamnya, akan tetapi, beberapa peserta ujian tampak mengetahui akan hal itu. Mereka serempak menyerang Vergus bagai serangga mengerubuti makanan.
Begitu kuatnya Vergus, dengan mudahnya dia melempar dan memukul semua peserta ujian hingga mereka terlempar dan beberapa tampak cedera begitu parah.
Vergus yang berhasil menusukkan pisau hitamnya di tubuhnya sendiri, membuatnya tertawa keras tanda betapa marahnya dia akan tindakan Alex yang mengacaukan pertunjukannya.
Dengan cepat nano cell berwarna hitam di pisaunya mengalir ke darah Vergus melalui luka hingga tubuh Vergus mengembang agak besar dan memperkuat selur anggota tubuhnya.
Meski ada ribuan para peserta ujian yang menyerang Vergus, pria monster ini dengan mudah menghancurkan tubuh mereka dengan sekali serang.
Mereka yang melihat Vergus sekuat ini langsung mengambil langkah untuk mundur menjaga jarak dari monster berbahaya ini.
Teman teman Alex yang membawa pesawat tempur pun langsung menembakkan beberapa peluru hingga Vergus sedikit bergeming menerima beberapa biji besi tersebut.
Vergus yang melihat beberapa pesawat tempur bertaburan bagai lalat untuk mengganggunya, tampak sedikit kesal dan meraih besi dari lantai kapal.
Dengan mudahnya Vergus merobek dan melempar puing puing besi tersebut ke arah pesawat hingga mereka saling bertabrakan dan hancur.
Vergus yang melihat Alex sedang menggendong Malla pun langsung menyerangnya. Alex yang berusaha menghindar pun langsung terlempar oleh hempasan angin dari pukulan Vergus ke dinding kurungan.
Melihat Vergus yang hendak menyerangnya kembali, Alex langsung mengambil langkah cepat untuk menghindar dan menjauhinya.
Sedangkan Malla yang terjatuh dari gendongan Alex, terseret oleh goyangan kapal induk yang membuatnya terjatuh ke dalam lubang kapal hingga terjatuh didasar lantai paling bawah.
Sedangkan Yuan, dia masih di dalam kurungan sambil menatap ke sisi dinding dengan tatapan kosong. Saat ini dia benar benar hilang akal sehatnya untuk sekedar bergerak.
Vergus yang mengejar Alex, dikejutkan oleh sebuah moncong meriam kapal yang bergerak mengarah ke arahnya.
Vergus yang merasa terancam, langsung mengalihkan perhatiannya dan melompat ke arah ujung bibir meriam yang sangat besar tersebut.
Dengan kedua tangannya, Vergus merangkul bibir meriam yang sebesar 4 kali tubuhnya untuk mencabutnya.
Belum sempat Vergus mencabut, meriam tersebut menembaknya hingga tubuh Vergus terhempas jauh hingga terlempar keluar dari kapal Sadonz.
Para peserta yang berada di kapal pun langsung bersorak gembira. Mereka berpikir bahwa meriam tersebut sudah menghancurkan tubuh Vergus.
Akan tetapi mereka salah, tubuh Vergus masih bergerak dan berdiri di atas tanah. Meski ada beberapa bagian pundak dan lenganya yang hancur, nano cell yang berada di tubuhnya pun dengan cepat menyusun ulang dan memulihkan semua bagian tubuh Vergus yang hancur.
Alex yang melihat inipun menyuruh temannya yang sedang memegang kendali meriam untuk menyerang lagi.
Vergus yang menyadari itupun langsung mengepalkan kedua tangannya di depan wajahnya.
Kedua tangan tersebut bertemu dan membesar hingga menyerupai sebuah perisai hitam. Sehitam nano cell di tubuhnya.