Namaku Aynara, aku seorang ibu rumah tangga. Hidupku selalu di limpahkan kebahagiaan yang luar biasa. Suami yang baik, setia dan anak - anak yang penurut. Kehidupan yang sederhana membuat kami menjadi lebih mengerti arti suatu perjuangan. Hingga sampai suatu saat cobaan datang bertubi - tubi. Suami yang aku percaya menjadi temperamental dan juga menodai arti dari suatu pernikahan.
Hujan di bulan Juni ini seakan ikut mewarnai seluruh jalan hidupku. Bisakah aku memperoleh ketenangan seperti suara rintik hujan yang menenangkan. Bisakah kemarau hidupku di tenangkan oleh air hujan.
Inilah cerita hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neen@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Dimulai
Yoga kembali ke rumah dengan wajah berseri. Ia sangat puas dengan pijatan yang di berikan oleh Leny. Untuk sementara waktu ia bisa melupakan masalahnya.
"Yoga. Hari ini bisa antar adikmu ke dokter?" tanya Mama.
"Aku capek Ma."
"Kau sekarang berubah."
"Apalagi sih Ma. Aku itu capek harus kerja banting tulang demi Mama dan Dina." Yoga menjawab dengan nada tinggi. "Apa urusan sepele seperti itu harus aku juga yang urus! Berangkat sendiri kan bisa!"
"Mama itu sudah tua. Dan juga Dina baru penyembuhan. Mama takut kalau naik angkutan umum ada kenapa - napa dengan adikmu."
"Panggil taksi atau ojek online kan bisa."
"Mama masih takut kalau harus naik taksi. Apalagi kejahatan sekarang kan meraja lela."
"Aman Ma.. Aman!" Yoga naik ke atas dan membanting pintu kamar.
Mata Mama berkaca - kaca. Yoga sekarang sudah berani membentaknya. Dina yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka merasa geram dengan kelakuan Yoga yang sekarang.
"Ma, kita panggil taksi saja."
"Kamu nggak apa - apa?"
"Nggak apa - apa Ma. Dari pada kita diantar orang tidak ikhlas."
"Ini semua gara - gara Nara. Kakakmu berubah sejak ada masalah dengannya."
"Mama kenapa menyalahkan mbak Nara terus? Dia itu nggak tahu apa - apa. Harusnya Mama menegur mas Yoga. Dia itu berubah sejak bersama Jasmine dan dunia malamnya."
"Jangan menjelek - jelekkan Jasmine. Ini semua salah Nara. Istrinya kakakmu kan Nara."
"Iya tapi sejak kenal dengan Jasmine mas Yoga berubah kelakuannya seperti binatang. Mbak Nara sudah tidak di sini saja masih di salahkan terus. Sebenci itukah Mama dengannya."
"Jangan berkata seperti itu tentang kakakmu."
"Mama memang lebih sayang dengan mas Yoga." Dina masuk ke dalam kamarnya. Mama terlihat terduduk di sofa. Airmatanya mulai mengalir.
☔️☔️☔️☔️
Yoga terbangun dari tidurnya dan itu menunjukkan waktu sudah malam. Ia turun ke bawah menuju ke meja depan. Ia membuka tudung saji dan ternyata tidak ada makanan di atas meja.
"Mama! Mama!" teriaknya. Tidak ada jawaban. "Mama! Mama!" teriaknya lagi. "Pada kemana sih!"
Yoga mengambil handphonenya dan melakukan panggilan.
"Kamu di mana?"
"Di rumah sakit."
"Jangan bohong. Kamu pergi sudah dari siang tadi dan sekarang sudah malam. Keluyuran kemana kamu?!"
"Aku benar - benar di rumah sakit."
"Mama?"
"Mama sedang di tangani dokter."
"Mama sakit?" tanya Yoga.
"Masih peduli?"
"Brengsek kamu. Jangan menambah masalah. Cepat katakan apa yang terjadi pada Mama?!"
"Kami di tipu supir taksi dan tangan Mama terkena pisau."
"Ya tuhan.. Bagaimana keadaan Mama sekarang?"
"Agak shock."
"Tunggu aku akan kesana."
Yoga bergegas ke kamar mandi. Tapi ada yang terasa aneh ketika ia sedang buang air kecil. Terasa panas dan nyeri. Yoga sama sekali tidak memperdulikan karena ia menganggap itu wajar dan masih bisa di tahan. Lagipula ia habis bangun tidur.
Setelah mandi ia bergegas ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Mama saya dok?"
"Secara fisik tidak apa - apa. Tangannya hanya mendapat enam jahitan dan itu tidak terlalu dalam. Beruntung tidak sampai melukai syarafnya. Hanya saja___."
"Hanya saja apa dok?"
"Penyakit jantung beliau kambuh. Tadi waktu di bawa kemari derak jantung tidak normal dan beliau mengalami nyeri dan sesak napas. Menurut saya lebih baik di rawat beberapa hari di sini untuk kami observasi."
"Baiklah. Lakukan yang terbaik dok."
"Baik pak Yoga kalau begitu saya permisi."
Yoga masuk ke dalam ruang rawat inap Mama. Dina sedang menyuapi Mama yang terbaring lemah.
"Ma."
Mama hanya diam.
"Ma, maafkan aku." ucap Yoga penuh penyesalan.
"Mas, di bahas nanti saja. Mama baru makan."
Yoga terdiam. Ia masih berusaha membujuk Mama. "Ma, yang sehat ya. Nanti aku ajak jalan - jalan ke Singapore seperti keinginan Mama."
"Benarkah?" wajah Mama berubah menjadi sumringah.
"Iya. Mama mau belanja apa saja pasti akan aku belikan."
"Baiklah, Mama akan berjuang untuk sembuh."
"Nah gitu dong." Yoga mencium kening Mama.
Tak lama kemudian Jasmine datang menjenguk Mama.
"Malam Ma." Jasmine meletakkan buah dan beberapa kue di meja.
"Merepotkan kamu saja Jasmine."
"Nggak apa - apa Ma. Tadi Yoga meneleponku, dia panik banget dan pasti butuh orang untuk menemaninya."
"Terima kasih sudah perhatian sama anak Mama. Yoga itu pada dasarnya agak manja walaupun dia anak pertama."
"Itu betul Jasmine. Apalagi dulu waktu masih ada mbak Nara. Manjanya minta ampun." sahut Dina yang memang merasa kesal dengan pasangan itu.
"Dina jangan omong seperti itu." Mama berusaha menjaga perasaan Jasmine yang terlihat berubah mendengar perkataan Dina.
"Ma, karena sudah ada Jasmine sama mas Yoga. Aku pamit pulang dulu."
"Hei anak kecil mau kemana kamu?"
"Pulang Mas, aku capek."
"Kamu harus jaga Mama malam ini."
"Kan sudah ada mas sama Jasmine."
"Jasmine tidak terbiasa tidur di rumah sakit, aku akan mengantarnya pulang."
"Manja. Dulu saja mbak Nara tidak seperti ini. Kalau Mama sakit dia pasti yang merawatnya." Dina berusaha mengeluarkan enuk - uneknya. "Atau jangan - jangan, Mas sudah tidak sabar mau bercinta dengannya?"
"Tutup mulutmu Dina!"
"Sudah.. Sudah.. Jangan bertengkar lagi. Ini di rumah sakit." ucap Mama sambil memegang dadanya. "Dina kau temani Mama malam ini, biar besok pagi Yoga."
Dina mendengus kesal, ia kembali menjatuhkan dirinya ke sofa dan kembali asyik bermain handphone. Yoga dan Jasmine segera pamit pulang.
"Hei cowok mau ke apartemenku?"
"Lain kali."
"Wow, kau masih marah padaku soal tadi pagi di kantor." Jasmine memeluk Yoga. "Maafkan aku."
"Malam ini aku capek."
"Ayolah, aku punya permainan yang seru. Kau pasti akan suka. Lagian dari apartemenku ke rumah sakit jaraknya sangat dekat. Kau tidak akan terlambat menemani Mama besok pagi." Jasmine masih terus berusaha membujuk Yoga.
Akhirnya Yoga luluh juga, ia meninggalkan mobilnya di parkiran rumah sakit dan menuju ke apartemen menggunakan mobil Jasmine.
Kegiatan panas yang mereka lalukan benar - benar membuat Yoga seakan mendapat pengalaman baru. Ini yang tidak ia dapatkan dari Aynara istrinya. Ia merasa Aynara terlalu pemalu dan lugu.
☔☔☔☔
Yoga ke kamar mandi, lagi - lagi ia merasakan nyeri ketika buang air kecil. Kali ini nyerinya luar biasa. Badannya juga terasa sedikit demam. Semalam jasmine melakukan permainan yang benar - benar menguras tenaga. Yoga duduk di atas closet sambil beberapa kali menarik napas perlahan. Seluruh tubuhnya merasakan sakit.
Setelah bisa menenangkan diri ia memutuskan untuk keluar, ia masih melihat Jasmine yang tertidur pulas dengan berbalut selimut. ia sengaja tidak membangunkan karena ia tidak mau terlambat, malas harus bertengkar dengan Dina.
Dengan memesan taksi ia menuju ke rumah sakit.
"Mau periksa pak?" sapa sopir taksi.
"Iya."
"Oh pantes tadi bapak jalannya agak tertatih - tatih, Nggak ada keluarga yang menemani?"
"Nggak ada." jawab Yoga singkat. Sebenarnya ia malas menjawab pertanyaan sopir itu yang menurutnya sok akrab.
"Habis booking siapa pak?" ucap sopir gaksi itu sambil tersenyum.
"Maksudnya?"
"Di sana kan terkenal dengan apartemen simpanan om - om."
"Tutup mulutmu! Dan jangan suka ikut campur urusan orang."
"Wah.. Wah.. Jangan galak - galak pak."
"Bisa diam nggak!" Yoga memukul kepala sopir taksi itu dari belakang karena merasa jengkel. Sopir taksi itu tidak bisa menghindar dan hanya pasrah menerima pukulan dari Yoga.
Yoga keluar dan kemudian menariknya krah baju sopir taksi itu hingga ia terpaksa ikut keluar. Tanpa ampun Yoga menghajarnya. Beberapa orang yang melihatnya melerai mereka dan berakhir di kantor polisi.
Sementara itu...
Dina tampak gelisah.
"Dari tadi Mama lihat kamu mondar mandir terus. Ada apa?"
"Mas Yoga mana sih Ma. Ini sudah siang. Aku butuh mandi dan ganti baju juga."
"Telepon saja."
"Sudah tapi tidak diangkat. Pasti sama wanita ****** itu." Dina melakukan panggilan lagi. "Dimana mas Yoga?"
"Aku tidak tahu." jawab Jasmine di telepon
"Jangan bohong! Aku yakin semalam dia pasti tidur di tempatmu."
"Dia memang tidur di tempatku tapi pagi tadi aku sudah tidak melihatnya."
"Sialan!" Dina menutup panggilannya.
"Sudah jangan marah - marah." ucap Mama menenangkan.
Tak lama kemudian handphone Dina berdering.
"Selamat siang."
"Ya selamat siang."
"Dengan keluarga pak Yoga."
"Ya betul. Saya adiknya."
"Ini dari kantor polisi."
"Ada apa dengan kakak saya?"
"Pak Yoga untuk sementara ini kami masukkan sel karena terlibat perkelahian dengan seorang sopir taksi."
"Ya tuhan."
"Kami mohon anda sebagai keluarga bisa datang untuk menyelesaikan administrasi."
"Baik pak. Terima kasih." panggilan di akhiri.
"Ada apa Dina?"
"Mas Yoga masuk penjara Ma."
"Kenapa?"
"Ia terlibat perkelahian"
"Ya tuhan." ucap Mama sambil memegang dadanya. "Ya sudah kamu datang ke kantor polisi. Urus kakakmu."
"Mama nggak apa - apa aku tinggal sendiri?"
"Nggak apa - apa."
"Baiklah aku tinggal dulu Ma."
Dina bergegas ke kantor polisi. Di sana ia segera menyelesaikan permasalahan dengan sopir taksi. Dan beruntung sopir taksi itu mau berdamai akan tetapi ia meminta uang ganti rugi.
Setelah semua terselesaikan secara kekeluargaan Dina dan Yoga pulang.
"Mas itu kenapa sih akhir - akhir ini selalu membuat masalah." ucap Dina, walau pelan tapi sangat tajam menurut Yoga.
"Kamu jangan ikut campur masalahku."
"Kasihan Mama mas."
"Memang yang membuat masalah hanya aku saja. Ingat kamu juga tidak lebih buruk dari aku. Perempuan kotor!"
"Selama ini aku sudah bersabar dengan kata - kata mas Yoga yang selalu menyakiti aku. Dulu mbak Nara memang selalu menasehatiku tapi dengan kata - kata yang lembut dan hati - hati, takut melukai perasaanku."
"Ya sudah kamu ikut Nara yang miskin itu."
Dina terdiam dan memilih meninggalkan Yoga dari pada harus bertengkar dengan kakak kandungnya.
"Aku langsung pulang." pamit Dina sambil masuk ke dalam taksi.
"Terserah!" teriak Yoga. Ia mengacak - acak rambutnya sambil menendang tong sampah yang ada di depannya. "Sial!"
Yoga mengatur napasnya yang memburu karena luapan emosi dan tiba - tiba. "Aauuww!" teriaknya. Ia merasakan nyeri pada alat kelaminnya. Yoga dengan sedikit tertatih duduk di sebuah kursi taman. Ia menekan perut bagian bawahnya. Entah mengapa rasa nyerinya menjadi lebih terasa.
"Apa yang terjadi pada diriku." gumamnya. Aku harus periksa dokter pikirnya.
☔️☔️☔️☔️
ditunggu bab2 selanjutnya thor.semangat....🥰🥰🥰
sedangkan ha joon slaku menilai dr apa yg dia lihat tanpa mencari kebenaran'a duku
mending tinggalin aja pergi sejauh mungkin !!!!!