Indonesia
NovelToon NovelToon
CLASS CLOWN!

CLASS CLOWN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berondong / Teen Angst / Teen School/College / Masalah Pertumbuhan / Persahabatan
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alfina A

Kalo aja bukan Jaka yang jadi ketua kelas, Marissa gak bakalan kena BK terus.

Ini soal si Troublemaker Marissa yang gak pernah bisa dikendalikan siapapun kecuali dirinya sendiri, semua hal yang Marissa lakukan tidak pernah ditegur oleh orang sekitar, tapi Jaka tidak bisa tinggal diam saat anak nakal dikelasnya mulai hampir merusak nama baik kelasnya.

Namun, dibalik semua kisah si Troublemaker dengan si Ketua kelas ini, akan ada saat dimana mereka akan sadar bahwa diri mereka saling membutuhkan satu sama lain sekalipun dunia banyak memberi mereka cobaan.

Class Clown, 2024.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfina A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Call

“nanti anterin gue balik dulu, ya?”

Jaka menghela napas untuk kesekian kalinya, “jadinya gimana? Pulang apa ke Vector aja?”

“Ke Vector, Jaka. Cuman anterin gue balik dulu.”

“Mau ngapain?”

“Ambil baju ganti sama cek rumah sebentar, gue takut ninggal rumah pas gak rapih, Jaka. Nanti gue temenin lo balik juga kalo lo mau.” Jelasnya sembari menawarkan opsi lain kepada Jaka yang langsung ditolak.

“dirumah gak ada orang, langsung aja.”

“Lo gak ganti? Bau matahari tau! Keringet lo juga pasti kotor!” seru Marissa tidak terima dengan pilihan Jaka.

“tapi – “

“ – lo kan habis main bola sama temen – temen lo tadi! Gak deh, ganti pokoknya.”

***

Ingat soal permintaan Marissa diatas, kan? Itu bukan hanya sekedar omelan dan permintaan kecil saja, ia benar – benar serius dengan ucapannya sekarang. Jaka berhasil membuat Marissa memilih apa yang ia inginkan untuk hari ini, namun Jaka tetap harus membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum mereka akan pergi.

Sepulangnya dari sekolah, Jaka diminta Marissa untuk mandi dirumahnya dan ia akan menyiapkan pakaian ganti yang mana itu milik ayahnya dulu. Mau tidak mau, apalagi Jaka tidak bisa pulang karena tidak punya kunci cadangan rumahnya sekarang. Marissa menyiapkan beberapa makanan ringan yang bisa ia buat secara darurat dan praktis dibawa mereka ke Vector nantinya.

Jaka yang melihat Marissa segitu seriusnya hanya karena akan keluar bermain dengan dirinya, ia tersenyum bangga. Bukan dengan Marissa, tapi bangga dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tau, kenal, bahkan bisa mendapatkan Marissa untuk dirinya sendiri sekarang? Ia beruntung bukan main dan Jaka bahagia.

“Bikin apa?” tanyanya setelah berpapasan dengan Marissa yang akan pergi mengemas makanan yang ia bawa.

“Jajan. Buat kita nanti disana.” Balasnya.

“kenapa bawa? Disana bisa bikin, Sa. Gak harus bikin disini.” Ucapnya sembari membuka salah satu kotak bekal itu.

“karena ini buat gue, bukan buat lo. Gue pengen bikin jadi bikin, gue pengen bawa ya dibawa.”

Jaka mendelik tidak terima dengan jawaban Marissa, bagaimana bisa Marissa melupakan dirinya dan hanya menyebutkan bahwa jajanan itu hanya untuk Marissa sendiri bukan untuk dirinya juga.

“kata lo buat kita tadi?” seru Jaka tidak terima, “kita yang gue maksud tuh gue sama Kak Riena dan Kak Jean, bukan gue sama lo.” Jawab Marissa.

Yang awalnya Jaka bangga dan senang, ia sekarang malah badmood hanya karena Marissa tidak membuatkannya jajanan juga. Marissa malah mementingkan orang – orang yang baru ia kenal ketimbang Jaka yang sudah bersamanya sejak lama, bahkan nanti Jaka yang akan membawa dirinya kesana dan akan memulangkannya juga nantinya.

Bagaimana bisa Jaka dilupakan?

Tau jika Jaka tidak senang dengan penjelasannya, Marissa tertawa kecil dan bergegas pergi mengemas makanan ditangannya. Ia meraih ponselnya dan mengabari seseorang bahwa ia akan segera pergi dari rumah untuk siang ini dan akan pulang pada malam harinya, mungkin.

Jaka dengan lemas mengikutinya dari arah belakang, meraih jaketnya dan mengusak rambut panjangnya yang basah tanpa ragu. Marissa yang terciprat airnya pun menegur anak itu dengan cepat dan menariknya untuk duduk disofa.

“hidup lo tuh ngapain aja sih? Gak pernah tau sama yang namanya handuk ya? Minimal lo ngusak rambutnya dikamar mandi, bukan dimuka gue.” Omelnya sembari menyiapkan sebuah oengering rambut yang akan ia gunakan kepada Jaka.

Jaka? Anak itu hanya diam, menikmati momen yang ia tau tidak akan pernah lagi terulang, untuk jaga – jaga saja. Tapi ia harap semuanya akan terulang dan bertahan sampai kapanpun, apapun yang Marissa dan ia lewati.

“Jangan tidur. Nanti nyetir motor bahaya kalo lo ngantuk.” Tegur Marissa membuat Jaka bergegas membuka matanya dan langsung menemukan wajah Marissa yang tengah serius mengeringkan rambutnya.

Jaka menatapnya lekat tanpa ragu, “lo gak nyatok rambut?” tanyanya.

“enggak, males nyatok, kenapa?”

“Gak papa, tanya aja. Rambut lo biasanya bergelombang, pake make up, cantik kayak bidadari turun dari surga.” Ucap Jaka yang langsung membuat Marissa berhenti bergerak.

Jaka menyadari itu dan hanya tertawa awalnya, tapi pada akhirnya ia berteriak kesakitan karena pengering rambut yang Marissa pegang hanya menghembuskan angin panas pada satu titik dikepalanya yang membuat Jaka kepanasan.

“Sa!” teriakan itu membuat Marissa ikut kaget dan reflek mematikan pengiring rambutnya.

“Sorry sorry, serius gak sengaja. Maafin gue.”

Jaka tidak marah, ia hanya tertawa dan menenangkan Marissa yang merasa bersalah kepadanya.

“gak papa, gak papa. Gue gak papa.”

Pada akhirnya pun mereka mengakhiri sesi tersebut dengan berkemas untuk pergi ke Vector. Marissa sudah ditunggu kedatangannya oleh Riena dan Jean yang sejak beberapa hari lalu ada disana, sedangkan Jaka sudah membuat janji untuk bermain beberapa game bersama Kaizan maupun Nathan dirumah itu, jika Nathan bisa pulang kerja lebih awal.

“gue diatas, nanti kalo ada apa – apa bisa langsung kesana aja atau telpon gue, ya.” Marissa mengangguk sebagai jawabannya terhadap permintaan Jaka.

Jaka berjalan menuju atas, menemui Kaizan yang sedang asik memberi makan seekor kucing putih yang biasa dipanggil Snowie disana. Itu milik orang lain, bukan milik anggota Vector maupun Riena dan Jean, lalu milik siapa?

“Masih aja ditaro sini buntelan kapas itu?” ucap Jaka membuat Kaizan menghela napas.

“Anaknya masih ke luar kota, baru minggu depan balik.” Jawab Kaizan.

“Abang lo udah tau?”

“tau soal?”

Jaka tersenyum konyol, “tau kalo itu buntelan kapas punya gebetan lo disekolah.”

Kaizan langsung mendelik dan berlari membungkam mulut Jaka, ia celingukan mengelilingi sekitar rumah hanya untuk memastikan jika tidak ada orang lain yang bisa mendengar ucapan Jaka sekarang.

“bangsat, yang bener aja lo! Gimana kalo Bang Nathan dateng terus denger omongan lo?, Bisa diaduin mama gue.” Jangan tanya Jaka bagaimana sekarang, ia hanya bisa tertawa.

***

Untuk yang bertanya – tanya kenapa Marissa sempat membawa beberapa jajanan ke Vector, ini ada jawabannya.

Bukan karena untuk teman berbincang dengan Riena dan Jean, tapi itu untuk camilan selagi mereka sibuk bereksperimen didapur. Mereka bertiga begitu asik menikmati waktu untuk membuat banyak makanan dan kue – kue kering yang bisa disajikan nanti jika anak Vector lainnya akan datang dan kembali berkumpul disana.

“Ini bahannya gak ada lagi, ya?” tanya Riena yang kebingungan mencari satu bahan penting yang harus segera ia campurkan ke adonan.

“Waduh, kayaknya gue kurang banyak belinya, kak.” Seru Jean.

Marissa bergegas meraih ponselnya dan menelpon orang yang sempat dengan suka rela menawarkan bantuan sebelumnya, siapa lagi kalau bukan Paduka Raja Jaka Ardinan.

“turun dong, minta bantuan.” Ucap Marissa.

“ada apa beb?” Candanya yang dibalas santai oleh Marissa.

“Anterin gue beli bahan dong, beb. Sebentar doang. Nanti gue kasih hadiah.” Seketika suara gedubrakan terdengar dari lantai atas dan disusul oleh munculnya seorang Jaka yang terlihat habis melakukan lari maraton dadakan.

“Ayo.” Katanya cepat dengan posisi tangan yang menggenggam kunci motornya.

Hal ini mengundang gelak tawa dari Riena maupun Jean, bahkan Marissa ikut menertawakan kelakuan ajaib Jaka barusan.

Mereka pun bergegas pergi ke sebuah toko yang menjual komponen – komponen yang diperlukan Marissa, Jaka dengan senantiasa mengintili Marissa kemana pun Marissa melangkah. Tidak ada sepatah kata pun di antara mereka selama Marissa mencari bahan yang ia perlukan, namun Jaka dengan senang menikmati momen dimana ia bisa melihat Marissa dalam waktu yang lama.

Sayangnya, momen itu harus berakhir saat Marissa sudah selesai mencari bahan yang ia inginkan dan mereka harus segera kembali ke Vector sebelum sore berganti malam. Pembuatan kue – kuean yang mereka lakukan pun harus segera selesai. Karena itu, Jaka banyak diabaikan oleh Marissa dan membuatnya bosan bukan main.

Bermain game dengan Kaizan adalah satu – satunya cara menghilangkan bosan, berjam – jam mereka duduk diatas sofa dengan console game ditangannya. Matanya fokus kearah depan dan mereka seolah menulikan pendengaran.

Marissa datang membawa beberapa makanan yang berhasil ia dan kakak lainnya buat, meletakkannya tepat dimeja depan mata Jaka sekaligun mencoba mengambil perhatian anak itu. Berhasil.

Bukan seperti Kaizan yang tidak terganggu, Jaka malah gampang mendapat distraksi dari Marissa.

“kemana lagi?” tanyanya, “ ke bawah, masih ada yang belum selesai kuenya.” Jawab Marissa.

“lo dari tadi anggurin gue tau, masa iya gue kesini sama lo tapi mainnya sama Ijan, kan, gimana Sa.”

Marissa tertawa mendengar keluhan Jaka, “yaudah main dulu aja, dimakan juga cookiesnya. Kalo Kak Nath sama Kak Jerico dateng nanti kita dibawah bareng – bareng sambil nunggu yang lain.”

Jaka akhirnya luluh dan meneruskan bermain game dengan Kaizan, sedangkan Marissa berjalan kembali ke arah daput. Namun, sebuah panggilan ia terima setelah sampai di depan Riena dan Jean. Ia mengenal siapa orang yang menelponnya, tapi ia merasa aneh kenapa beliau melakukan panggilan kepadanya di jam – jam seperti ini?

“Halo ibu, ada apa ya bu?”

“Marissa lagi dirumah gak?” Tanya beliau dengan nada lembut khas seorang ibu.

“Kebetulan Marissa lagi main dirumah temen, bu. Ada apa ya kalo boleh tau?”

“waduh, tapi rumahnya dikunci, kan? Udah dicek belum tadi? Apa Marissa langsung main habis pulang sekolah?”

Marissa menatap Jean dan Riena yang juga fokus mendengarkan obrolan si ibu dengan dirinya, “ udah kok bu, Marissa sempet pulang dan cek seluruh rumah. Dikunci juga, bahkan pake kunci dobel kok.”

“syukur deh kalo gitu.”

“Kenapa emangnya bu? Ada yang cari Marissa atau gimana?”

“dari sejam yang lalu ada beberapa orang yang seliweran disekitar komplek, kayak maling gitu. Orang komplek pada ngewanti – wanti tetangga biar hati – hati dirumah. Takut dimaling atau disakitin.” Jelas si ibu yang membuat Marissa antara lega dan juga was – was diwaktu yang sama.

“Kalau bisa Marissa nginep disana aja, jangan pulang dulu, nak. Kamu sendirian dirumah, bahaya sekarang.”

Marissa tertawa kecil, “iya bu, nanti coba Marissa pikir – pikir dulu ya. Semoga ibu juga baik – baik aja dirumah, hati – hati ya, bu.”

“Iya kamu juga. Nanti kabarin ibu ya gimananya, biar ibu gak kepikiran, nak.”

“Siap bu, nanti dipikirin.”

Panggilan tersebut pun berakhir, Marissa kembali melakukan aktivitas yang ia lakukan sebelumnya. Berusaha menghilangkan rasa khawatir dan perasaan tidak enak yang ia rasakan sejak tadi.

1
Putrynxx
mantap, jangan lupa mampir kak ke karyaku ASKARA😊
there
wah seru kak.
jangan lupa mampir yaaa
Harala
Mampir kak 'Ilene For Atlas' thanks/Smile/
matcha
next thor
Selviana
Aku sudah mampir nih kak.Jangan lupa mampir juga di karya aku yang berjudul ( Terpaksa Menikah Dengan Kakak Ipar)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!