Enjelina Parker seorang Detective yang telah menyelesaikan berbagai kasus sulit di seluruh negeri.
Seiring berjalannya waktu, ia menemukan rahasia yang tidak pernah di ceritakan oleh orang tuanya. Apa hubungan keluarganya dengan peristiwa yang terjadi di masa lalu? Dan apa hubungannya dia dengan anak laki-laki di dalam mimpinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinta Saniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Bayang-Bayang Masa Lalu
Gedung tua itu kini berdiri di hadapan mereka seperti raksasa bisu yang menyimpan rahasia gelap. Udara malam terasa semakin dingin, dan suara angin yang bertiup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Enjelina berdiri diam di depan pintu kayu besar, tangannya gemetar sedikit saat ia menyentuh permukaannya. Namun, ia menenangkan dirinya, menarik napas dalam-dalam, dan mendorong pintu itu perlahan.
"Apakah kau yakin ini ide yang baik?" bisik Clarissa dengan nada penuh kecemasan. Meski selalu ceria, ia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya terhadap tempat ini. "Tempat ini... terasa sangat salah."
"Jika ada sesuatu yang ingin mereka sembunyikan, maka kita harus menemukannya," jawab Enjelina dengan tegas, meski matanya memancarkan kehati-hatian.
Hellena melangkah maju, tubuhnya tegap seperti seorang penjaga. "Aku di sini. Jika ada yang mencoba menyerang, aku yang akan menghadapi mereka."
Gregory menyalakan senter kecilnya, menyinari koridor gelap di dalam gedung. "Kita harus tetap bersama. Jangan berpencar apa pun yang terjadi."
Mereka bergerak perlahan ke dalam, suara langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong sempit. Dinding-dindingnya terlihat kusam dan berlumut, sementara bau lembap menyeruak di udara. Enjelina memimpin, matanya tajam mengamati setiap sudut ruangan, mencari petunjuk yang bisa membawa mereka lebih dekat pada jawaban.
Setelah beberapa menit berjalan, mereka tiba di sebuah ruangan besar dengan dinding yang penuh coretan dan rak-rak kayu tua. Gregory menyinari ruangan itu, dan tiba-tiba matanya tertumbuk pada sesuatu di sudut.
"Enjelina, lihat ini," katanya, suaranya pelan namun tegas.
Enjelina mendekat, dan apa yang dilihatnya membuat darahnya berdesir. Sebuah peti tua terletak di sudut ruangan, terlihat sudah lama tidak disentuh. Di atas peti itu, ada ukiran simbol yang familiar, sebuah simbol yang pernah ia lihat di salah satu dokumen lama keluarganya.
"Simbol ini..." Enjelina berbisik, tangannya menyentuh ukiran itu dengan hati-hati. "Ini adalah lambang keluarga Parker."
Hellena dan Clarissa saling bertukar pandang, sementara Gregory memperhatikan dengan seksama. "Apa artinya ini, Enjelina?" tanya Gregory.
"Aku tidak tahu," jawab Enjelina, jujur. "Tapi ini berarti tempat ini memiliki hubungan langsung dengan keluargaku."
Ia mencoba membuka peti itu, namun terkunci rapat. Gregory mengeluarkan alat kecil dari sakunya dan mulai mencoba membukanya. Setelah beberapa menit, dengan suara klik yang lembut, kunci itu terbuka.
Ketika tutup peti itu terangkat, mereka semua terkejut. Di dalamnya, terdapat tumpukan dokumen tua, foto-foto usang, dan sebuah buku catatan dengan sampul kulit hitam. Enjelina mengambil buku itu dengan hati-hati, membuka halaman pertamanya.
Tulisan tangan yang rapi memenuhi halaman itu, dan nama di bagian atas membuat napasnya tertahan: Lucas Aldridge.
"Lucas Aldridge?" gumam Gregory, mengerutkan kening. "Siapa dia?"
"Dia seseorang dari masa lalu keluargaku," jawab Enjelina dengan suara pelan. "Ayah dan ibu pernah menyebut namanya, tapi selalu dengan nada yang penuh misteri. Aku tidak tahu pasti siapa dia, tapi aku merasa dia memiliki hubungan penting dengan semua ini."
Hellena mendekat, melihat isi buku itu bersama Enjelina. "Apakah ini berarti Lucas Aldridge adalah bagian dari rahasia keluargamu?"
Enjelina mengangguk. "Kemungkinan besar. Kita harus membawa semua ini kembali ke rumah dan memeriksanya lebih lanjut."
...****************...
Malam itu, di Parker Mansion, Enjelina duduk di meja kerjanya, dikelilingi oleh dokumen-dokumen yang mereka temukan di gedung tua. Gregory, Hellena, dan Clarissa duduk di dekatnya, masing-masing memegang dokumen dan membantu memeriksa isinya.
"Banyak dari ini adalah surat-surat pribadi," kata Hellena sambil membaca salah satu dokumen. "Sebagian besar ditulis oleh Lucas Aldridge untuk seseorang bernama Evelyn. Itu ibumu, bukan?"
Enjelina mengangguk, jantungnya berdetak lebih cepat. "Iya. Tapi aku tidak mengerti... Mengapa Lucas menulis surat-surat ini untuk Ibu? Apa hubungan mereka?"
Clarissa, yang sedang memeriksa foto-foto, tiba-tiba berseru, "Lihat ini!" Ia menunjukkan sebuah foto kepada Enjelina. Foto itu menunjukkan seorang pria muda yang tampak tampan, berdiri di samping seorang wanita yang tak lain adalah Evelyn Parker. Mereka terlihat dekat, terlalu dekat.
Gregory mengamati foto itu dengan cermat. "Apakah mungkin Lucas dan ibumu memiliki hubungan di masa lalu?"
Enjelina menatap foto itu dengan perasaan campur aduk. Jika benar Lucas memiliki hubungan khusus dengan ibunya, ini bisa menjelaskan mengapa ia merasa ada sesuatu yang selalu disembunyikan oleh Evelyn. Namun, ini juga membuka lebih banyak pertanyaan.
"Aku harus berbicara dengan Ibu," kata Enjelina akhirnya. "Dia mungkin satu-satunya orang yang bisa menjelaskan semua ini."
Namun, sebelum ia sempat beranjak, suara telepon di ruang kerjanya berbunyi, memecah keheningan. Enjelina mengangkatnya, dan suara di ujung sana membuat bulu kuduknya berdiri.
"Enjelina Parker," kata suara itu, dingin dan tanpa emosi. "Jika kau ingin keluargamu tetap aman, berhenti mencari tahu tentang Lucas Aldridge."
Telepon terputus sebelum Enjelina sempat merespons. Ia menatap telepon itu dengan ekspresi tegang, sementara Gregory, Hellena, dan Clarissa menatapnya dengan cemas.
"Siapa itu?" tanya Gregory.
"Ancaman," jawab Enjelina singkat, matanya penuh tekad. "Tapi aku tidak akan berhenti. Apa pun yang terjadi, aku akan menemukan kebenarannya."