cerita ini mengisahkan tentang dua orang kakak beradik yg dimana seorang kakak berjuang untuk adiknya yg terlahir lemah... tak mudah untuk melawan penyakit yg tidak biasa dengan kondisi rumah yg tidak mendukungnya untuk sembuh.
* cerita ini mengandung kekerasan*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meyyaza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Adeline terdiam sejenak, meresapi kata-kata Louis yang begitu tulus. Meskipun hatinya masih berat, ada rasa lega yang perlahan tumbuh di dalam dirinya. Rasa takut yang selama ini membelenggunya mulai sedikit memudar. Louis tidak menghakimi, tidak menuduh, dan yang lebih penting, dia tidak berusaha mengubah siapa dirinya. Louis hanya hadir untuk mendengarkan, untuk ada saat ia membutuhkannya.
Louis mengamati Adeline dengan seksama, menunggu reaksinya. Ia tahu bahwa perjalanan untuk sembuh tidak akan mudah, dan ia tidak bisa mengharapkan Adeline untuk membuka diri begitu saja. Namun, Louis juga merasa ada kemajuan, sedikit demi sedikit, seperti sesuatu yang sedang mulai tumbuh di dalam diri Adeline—sesuatu yang akhirnya bisa memberi harapan.
"Adeline," kata Louis, suaranya lebih lembut kali ini. "Aku nggak tahu persis gimana rasanya, tapi aku ngerti kalau kamu pasti merasa kesepian. Dan aku ngerti kalau kadang, ketika orang nggak ngerti kita, kita merasa seperti nggak punya tempat. Tapi aku janji, kamu nggak sendiri."
Adeline menatap Louis dengan mata yang mulai sedikit berbinar. "Tapi aku... aku nggak tahu bagaimana harus berbuat lebih baik. Aku takut kalau aku mulai cerita, malah makin banyak orang yang nganggap aku lemah."
Louis menggelengkan kepala. "Kamu bukan lemah, Adeline. Kamu kuat. Kamu udah melalui banyak hal yang nggak bisa dilakukan orang lain. Kalau ada orang yang nggak ngerti kamu, itu bukan kesalahan kamu. Itu masalah mereka."
Adeline merasakan sesuatu yang sangat mendalam dalam kata-kata Louis. Kata-kata itu membuatnya teringat pada Adelio, kakaknya yang selalu ada di sisinya. Meskipun kakaknya tidak selalu bisa berada di sana, tapi selalu ada dorongan dan pengingat bahwa ia tidak sendirian. Kini, dengan Louis, perasaan itu kembali muncul, meski dalam bentuk yang berbeda.
"Louis," Adeline berkata, suaranya masih terdengar pelan, namun lebih kuat. "Aku nggak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tapi... aku merasa sedikit lebih baik sekarang. Mungkin, aku nggak harus berjuang sendirian."
Louis tersenyum lebar, penuh kebanggaan. "Aku senang denger itu. Aku di sini, Adeline. Kalau kamu butuh apa-apa, aku selalu ada. Kita bisa hadapi semua ini bersama-sama."
Mendengar kata-kata Louis, Adeline merasa sedikit lega. Rasanya seperti beban yang selama ini menekan hatinya mulai sedikit terangkat. Ia tidak perlu memikul semuanya sendirian lagi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa bahwa ada harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Hari itu berlalu dengan lebih tenang. Adeline merasa sedikit lebih ringan, meskipun masalahnya belum selesai. Tapi dengan Louis di sisinya, ia tahu bahwa ia memiliki teman yang bisa diandalkan. Louis tidak hanya mendengarkan, tetapi juga memberikan dukungan yang nyata, tanpa penilaian atau prasangka.
Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka semakin dekat. Adeline mulai merasa sedikit lebih berani untuk membuka diri, berbicara lebih banyak tentang apa yang ia rasakan, dan mencoba untuk menghadapi rasa sakitnya, sedikit demi sedikit. Ia tahu, meskipun perjalanan ini akan penuh tantangan, ia tidak lagi harus melaluinya seorang diri.
Louis, yang telah menjadi sahabat yang ia cari selama ini, tetap ada di sana, memberi dukungan dan kebersamaan yang sangat ia butuhkan. Dan bersama-sama, mereka mulai menata langkah-langkah menuju hari-hari yang lebih baik, dengan harapan yang perlahan tumbuh dalam hati Adeline.