Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pagi hari tiba, dengan suasana yang berbeda, sinar matahari menembus tirai kamar dengan lembut. Burung-burung bernyanyi lebih merdu. Dan hari baru di mulai.
Clare terbangun di ruangan yang berbeda, asing namun membuatnya aman. Kamar itu sangat megah, luas, dengan langit-langit tinggi dihiasi lampu kristal yang memantulkan cahaya keemasan ke seluruh sudut ruangan. Dindingnya dilapisi wallpaper putih gading dengan ukiran halus, dan di samping ranjang tempatnya berbaring, ada jendela besar yang menghadap ke taman penuh bunga mawar merah.
Mata Clare terbuka perlahan. Kepalanya terasa berat, dan selimut sutra di atas tubuhnya yang asing. Aroma melati di nakas dan dinginnya AC menyentuh kulitnya. Ia berbaring diam, mengumpulkan nyawa, sembari mencoba mencerna seluruh yang yang sudah ia lalui semalam.
Tiba-tiba suara ponsel berdering terdengar dari arah sofa. Clare menyadari itu adalah nada dering ponselnya, lalu Ia langsung beranjak untuk mengambil ponsel itu.
Clare berjalan pelan, rasa pusing di kepalanya membuat langkahnya berat.
Di atas meja, ponsel Clare tergeletak dengan layar yang menyala.
Clare mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya pagi-pagi.
"kemana aja kamu! Kenapa selama berhari-hari ini kamu nggak pulang!"
Clare terdiam. Ia melirik nama di layar ponselnya. Itu Hans. ia menatap layar ponsel itu lama. Tak ada niatan untuk menjawab bentakan Hans.
"aku nggak mau tau sekarang juga kamu harus pulang!" ucap Hans, lebih menekan.
"aku nggak akan pulang" jawab Clare, rendah. Tanpa ragu
Di seberang, Hans terdiam. Terdengar desahan napasnya yang berat, kesal.
"Clare! Kamu—" Hans membisu, kalimatnya terpotong
"kalo kamu nggak pulang, ke mana kamu mau pulang. Ini cuma rumah yang kamu punya satu-satunya"
Clare memejamkan mata, ia tersenyum kecil, kalimat itu terdengar seperti ancaman yang di bungkus oleh kepedulian.
Dia tak menjawab
"Bicara Clare! Apa kamu bisu!" hentak Hans lagi
Clare mendengus pelan "hmph" ia memalingkan wajah seolah muak dengan keluarga Hans
"Itu bukan lagi rumahku!" ucapnya, tenang
"Bukankah segalanya milikku sudah kamu ambil!? sekarang kemanapun aku pergi nggak ada hubungannya denganmu, Hans!"
Hening...
"Dan!"
"aku ingin kita bercerai"
—
Dari pintu kamar yang tinggi
Tok... tok...
Suara ketukan kecil muncul, di susul suara pintu yang berdecit terbuka
Clare menoleh ke arah suara. Di sana Jhon masuk, di kedua tangannya ia membawa roti bakar dan susu. Badannya yang kekar itu memakai celemek tanpa kemeja ataupun kaos
Jhon berjalan menghampiri Clare dengan senyum lebar namun masih terasa dingin
"Sarapan!" ujarnya, singkat
Ia menaruh makanan itu di meja
Telepon belum terputus
"Oh! Ini alasan kamu minta cerai!" suara Hans pecah dari ponsel yang masih Clare genggam
Clare tak bergeming. Ia menoleh sekilas ke arah Jhon yang baru saja meletakkan nampan di atas meja, lalu kembali menatap lurus ke depan.
"kamu memelihara gigolo di sampingmu"
"Dia bukan gigolo!" Clare memotong tegas, tanpa ragu dengan omongannya
Jhon sedari tadi diam, ia menoleh. Rahangnya mengeras setelah mendengar suara Hans. ia berniat merebut ponsel Clare, namun Clare menghentikannya cepat
Dari seberang terdengar tawa sinis Hans, pendek
"oh begitu? Lalu siapa dia!?" nada Hans merendah
Tangan Clare mengepal di sisi tubuhnya, lalu ia mengangkat dagu. "jangan bicara seolah kamu suci, Hans. Orang yang sudah tahu sifatmu seperti apa! mungkin merasa jijik mendengar itu!"
"kurang ajar!" ujar Hans, kesal
Clare tertawa kecil, singkat. "yang kurang ajar itu kamu, Hans. Bukan aku!"
"oke! lihat sampai kapan kamu mau kaya gini!"
"Ceraikan aja dia, kak. Semua hartanya udah milik Kaka, biarin Clare hidup Luntang Lantung sama gigolo itu!" sahut Lena
Clare diam sejenak. Ia menarik napas. Ternyata Hans mengaktifkan pengeras suara
"ternyata kamu tidak sendiri, Hans" ujar Clare, ia menegakkan tubuhnya. Tatapannya lurus ke depan
"sungguh tak tahu malu, aku muak dengan seluruh keluargamu, Hans"
"semua urusan antara kita akan selesai"
*tapi, aku tak akan membiarkan kamu bersenang-senang dengan hartaku*
Sambungan terputus.
Keheningan menyelimuti ruangan.
Jhon masih berdiri dengan badan kaku di samping Clare, menahan emosi
Clare menoleh. Wajahnya datar, namun sorot matanya penuh keteguhan.