Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem: Karir Mingguan

Sistem: Karir Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

### KARIR MINGGUAN

Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.

**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**

Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.

Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.

Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.

Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.

Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.

**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**

Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reward: Insting Bisnis

Malam terakhir masa tugas Reyhan sebagai pedagang, ia duduk di kursi lipat kecilnya yang sudah menemani selama tujuh hari penuh drama, ditemani Fajar dan Andre yang masih sibuk membereskan sisa-sisa peralatan.

"Bang, ini gerobaknya diapain besok? Dijual lagi apa disimpen?" tanya Fajar, mengelap wajan yang sudah bersih untuk kesekian kalinya.

"Belum tau, Jar. Kayaknya disimpen dulu aja di kos, siapa tau nanti kepake lagi."

"Kepake buat apaan, Bang?"

"Nggak tau juga, Jar. Tapi feeling saya bilang, ini belum berakhir beneran."

"Feeling apaan tuh, Bang? Feeling om-om galau?"

"Feeling pedagang berpengalaman, Jar. Beda kelas sama feeling kamu yang cuma modal nangis ngiris bawang."

Andre tertawa mendengar obrolan dua orang yang sudah seperti kakak-adik itu. "Kalian ini lucu banget, kayak stand up comedy tiap malem."

"Ini bukan comedy, Dre, ini derita harian," celetuk Fajar lagi, membuat mereka bertiga tertawa bersama.

Sebelum benar-benar membubarkan diri malam itu, Reyhan membuka layar holografik sistem, memeriksa hasil akhir dari misinya minggu ini.

> [RINGKASAN KARIER MINGGU KE-3: PEDAGANG]

> [Status: SELESAI DENGAN PENCAPAIAN JAUH MELAMPAUI TARGET.]

> [Total omzet: Rp31.200.000 dari target minimal Rp15.000.000]

> [Reward: Business Instinct Lv.1 diperoleh]

> [Bonus performa: Rp45.000.000]

"Bang! Coba liat, dapet berapa si untung bersih hari ini?" tanya Fajar penasaran

"Rahasia perusahaan, Jar," jawab Reyhan sambil tersenyum, menutup layar holografiknya cepat-cepat.

"Yah, pelit amat, Bang. Padahal saya kan bagian penting dari 'perusahaan' ini."

"Bagian penting yang gajinya nasi goreng doang," balas Reyhan, membuat Andre tertawa lagi mendengar sindiran itu.

"Eh, tapi serius, Bang," kata Fajar, kali ini nadanya sedikit lebih serius. "Makasih ya udah ngajak saya ikutan minggu ini. Seru banget, walau capek."

"Sama-sama, Jar. Kamu juga, Dre, makasih banyak bantuannya, walau cuma sehari tapi kerasa banget."

"Sama-sama, Mas. Kalo butuh bantuan lagi, kabarin aja, saya masih nganggur soalnya," jawab Andre, setengah bercanda setengah serius.

Keesokan paginya, sebelum sistem resmi mengumumkan karier baru, Reyhan menyempatkan diri menelepon Dimas untuk memberi kabar hasil akhirnya.

"Dimas! Target tercapai, malah jauh melampaui target awal!"

"Wah, selamat, Pak! Berapa totalnya?"

"Tiga puluh satu juta, Dimas! Nggak nyangka bisa sebesar itu."

"Gila, Pak! Itu udah kayak omzet warung gede, bukan gerobak pinggir jalan lagi."

"Semua berkat tips-tips kamu juga, Dimas. Kalo nggak ada kamu, mungkin saya masih struggle di fase keasinan."

Dimas tertawa mendengar itu. "Ah, Bapak bisa aja. Tapi seneng deh bisa bantu, itung-itung balas budi soal warung dulu."

"Eh, ngomong-ngomong, gimana warung Bapak kamu sekarang? Katanya udah mulai jual sarapan juga?"

"Alhamdulillah lancar, Pak. Malah kepikiran mau nambah menu lagi, siapa tau nanti bisa nanya-nanya lagi ke Bapak."

"Kapan aja, Dimas. Kita kan udah kayak partner bisnis jarak jauh sekarang."

"Hahaha, bener juga, Pak. Partner bisnis guru-murid, unik juga ya."

Menjelang siang, layar holografik sistem kembali menyala, menandakan periode misi minggu ketiga resmi berakhir.

> [SISTEM KARIR MINGGUAN — MINGGU KE-3 SELESAI.]

> [Skill kumulatif saat ini: Navigasi Lv.1, Manajemen Waktu Lv.1, Membaca Peluang Lv.2, Komunikasi Lv.1, Business Instinct Lv.1]

> [Karier minggu depan: MEKANIK]

Reyhan menatap tulisan "Mekanik" itu dengan raut wajah campur aduk. "Mekanik? Saya bahkan nggak tau cara ganti oli motor sendiri, Sistem."

Tidak ada jawaban dari sistem, seperti biasa. Hanya keheningan yang seolah menyiratkan, "urus sendiri."

"Duh," gumam Reyhan sambil menghela napas panjang, "kayaknya minggu depan bakal jadi drama baru lagi."

Sore itu, sebelum benar-benar menyimpan gerobaknya di gudang kecil belakang kos, Reyhan berdiri sejenak memandangi benda yang sudah menemaninya sepanjang minggu penuh kejutan ini.

Bekas cat yang mulai terkelupas, roda yang sedikit berkarat, dan sisa-sisa noda minyak yang tidak akan pernah benar-benar hilang semua itu menyimpan cerita yang jauh lebih besar dari sekadar angka omzet yang tertulis di layar holografiknya.

Fajar menghampiri, membawa dua gelas es teh dari warung dekat kos. "Bang, nih, buat ngerayain 'perpisahan' sama gerobak."

"Halah, lebay amat, Jar, kayak pisah sama pacar aja."

"Ya kan lumayan berkesan, Bang. Dari gerobak butut ini, kita bisa dapet omzet tiga puluh sekian juta. Kayak dongeng modern."

"Dongeng modern yang bumbunya keasinan di awal-awal," canda Reyhan, membuat mereka berdua tertawa mengenang drama hari pertama dan kedua yang penuh kekacauan.

"Eh, Bang, kalo bang Reyhan ga jual nasi goreng lagi, terus Abang kerja apa?"

"ada deh kepo lo." saut reyhan

"yeee anjritt gue kan nanya bukan kepo."

"sama aja itu ege"

Hening sejenak beberapa detik. Lalu Reyhan membuka percakapan lagi.

"ehh jar lo tau bedanya kunci pas sama obeng, Jar?"

"Nggak tau juga sih, Bang. Tapi kan bisa belajar."

Reyhan tertawa mendengar semangat Fajar yang selalu siap ikut serta apa pun kariernya minggu depan, meski jelas-jelas tidak punya bekal keahlian sama sekali. "Ya udah, nanti kalo emang butuh bantuan, saya kabarin lagi."

"Siap, Bang!. Ehh tapi kenapa dah Abang tiba-tiba tanya soal perkuncian?"

"udah ahh kepo mulu Lo jadi orang"

Malam itu, sebelum tidur, Reyhan menuliskan sesuatu di buku catatan kecilnya yang sudah penuh coretan sepanjang minggu ini bukan soal resep atau takaran bumbu, tapi semacam refleksi pribadi.

*Minggu ini saya belajar, modal kecil bukan berarti hasil kecil. Yang penting konsisten, mau belajar dari kesalahan, dan nggak segan minta bantuan orang lain. Dimas, Fajar, Andre, Pak Herman, Sinta. semua orang ini bantu saya tanpa saya minta secara langsung.

Mungkin ini juga bagian dari "insting bisnis" yang dikasih sistem: bukan cuma soal baca peluang pasar, tapi juga baca siapa yang bisa diajak kerja sama.*

Ia menutup buku catatannya, menatap ke arah gerobak yang sudah tersimpan rapi di sudut halaman kos, ditemani sinar bulan yang menerangi malam terakhirnya sebagai pedagang nasi goreng dadakan sebuah bab yang, meski hanya berlangsung tujuh hari, akan selalu dia kenang sebagai salah satu minggu paling berharga dalam perjalanan panjang menjalani sistem karier yang terus berubah ini.

Besok, dunia baru bernama bengkel motor akan menantinya, lengkap dengan tantangan dan drama yang, dia yakin, tidak akan kalah serunya dari minggu-minggu sebelumnya.

Keesokan paginya, sebelum benar-benar memulai hari, Reyhan menyempatkan diri mampir sebentar ke lokasi jualan lamanya, hanya untuk berpamitan dengan Pak Herman yang sudah jadi bagian penting dari perjalanan minggu ini.

"Pak Herman! Saya cuma mau pamit, mulai besok saya udah nggak jualan di sini lagi."

Pak Herman menghampiri dengan raut wajah sedikit kecewa. "Yah, Mas, secepat itu? Padahal baru mulai rame banget, sayang banget kalo diberhentiin gini."

"Iya, Pak, ini ada tawaran kerjaan lain. Tapi makasih banyak ya, Pak, udah bantu banyak hal sejak hari pertama saya jualan disini."

"Sama-sama, Mas. Jujur, saya bakal kangen jatah gratisan sih," kata Pak Herman sambil tertawa, mencoba mencairkan suasana perpisahan yang mulai terasa mengharukan.

"Pak Herman ini modus sampe di akhir juga," celetuk Reyhan, ikut tertawa.

"Ya iyalah, Mas, ini investasi jangka panjang. Siapa tau nanti Mas balik lagi bawa usaha baru, saya kan udah jadi pelanggan setia dari awal, dari jaman keasinan sampe sekarang."

"Aamiin, Pak. Doain aja usaha saya lancar terus ke depannya."

"Pasti, Mas. Semangat terus ya, apa pun pekerjaan yang mas jalanin."

Reyhan tersenyum, menjabat tangan Pak Herman erat-erat sebagai tanda perpisahan sementara, sebelum akhirnya berjalan pulang dengan perasaan hangat yang sulit dijelaskan perasaan bahwa meski kariernya terus berganti setiap minggu, jejak hubungan yang dia bangun dengan orang-orang di sekitarnya selalu meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar reward dari sistem, semacam kekayaan tak kasat mata yang tidak pernah tercatat di layar holografik mana pun.

Sesampainya di kos, Fajar sudah menunggu di teras, kali ini membawa sebuah buku tebal yang judulnya membuat Reyhan mengernyitkan dahi.

"Jar, ini buku apaan? 'Panduan Dasar Montir untuk Pemula'?"

"Ini buat Abang, Bang! gue beli tadi pagi di toko buku bekas, yaa karna gue mikir kan semalem Abang nanya soal kunci-kuncian jadi gue beliin deh"

"Kamu beneran niat banget ya, Jar. Nggak nyangka kamu mau repot-repot beliin buku segala."

"Ya iyalah, Bang, saya kan asisten setia. Lagian di dalemnya ada gambar-gambar mesin motor, lumayan buat belajar dikit-dikit sebelum beneran turun tangan."

Reyhan membuka-buka buku itu sebentar, menemukan diagram-diagram mesin yang terlihat rumit dan asing baginya. "Duh, ini kayaknya bakal lebih berat dari jualan nasi goreng, Jar."

"Tenang, Bang, gue juga bakal belajar bareng. Kita hadapin bareng-bareng aja yakann"

"Makasih ya, Jar. lo emang partner paling setia, meski modalnya cuma buku bekas sama semangat doang."

"Modal semangat itu penting, Bang! Kata orang bijak, semangat tanpa ilmu itu percuma, tapi ilmu tanpa semangat juga nggak jalan, jadi harus dua-duanya biar sukses."

"Sejak kapan lo jadi bijak gitu, Jar? Biasanya omongan kamu isinya minta gratisan doang."

"Sejak baca cover belakang buku ini tadi pagi, Bang. Ada kata-kata motivasi dikit, jadi ketularan bijak sementara."

Reyhan tertawa mendengar pengakuan jujur Fajar itu, menutup buku panduan montir tersebut sambil menatap langit sore yang mulai berubah warna pertanda hari sudah semakin larut, dan babak baru dalam perjalanan hidupnya sebagai pemegang Sistem Karir Mingguan akan segera dimulai keesokan harinya, membawa serta segala pelajaran berharga dari tiga minggu penuh warna yang sudah dia lalui sejauh ini.

1
Rizky Fadillah
tunggu katanya di awal duit cash di sompet sekitar 357rb dan ga cukup bayar kost lah ini duit di rekening ada juga 357rb jd total nya harus nya banyak dong ane ni atau aku yg salah mohon di koreksi lagi thor alur nya sebelum di upload
RR: siap salah. terimakasih sudah mengingatkan 😁
total 2 replies
Wega Luna
next update Thor
Wega Luna
ceritanya keren beda dari yg lain semoga kedepannya saat kaya jangan terlalu angkuh dan meremehkan orang serta jangan sombong , sesuaikan dengan dunia nyata saja😄
RR
bagi pembaca setia novel ini, yang menjadi peringkat pertama fans nanti. saya bakal masukan namanya jadi salah satu karakter utama pendamping MC 😁
RR
terimakasih yg sudah membaca 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!