Indonesia
NovelToon NovelToon
Preman Pasar Belahan Jiwaku

Preman Pasar Belahan Jiwaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Chicklit / CEO / Romansa
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

"Apa Mas Rimba tahu," suara Bintang bergetar hebat, air matanya menetes makin deras membasahi pipinya yang pucat.

"Kalau kemarin Mbak Dayang nyariin Mas Bima kayak orang kebingungan? Sampai-sampai Mbak tidak mau makan sama sekali?!"

Rimba membeku. Kata-kata Bintang bagai sembilu yang menghantam tepat di dadanya.

"Apa Mas tahu kalau kemarin Bayu masuk ke rumah kami?" lanjut Bintang dengan nada melengking penuh emosi dan keputusasaan.

"Bayu membius Mbak Dayang! Dia hampir memperkosa Mbak Dayang di dalam kamar kalau aku tidak cepat-cepat pulang sekolah!"

DEG!

Dunia Rimba serasa runtuh seketika. Seluruh aliran darahnya mendesir dingin menuju kepala. Matanya membelalak lebar, memandang Bintang dengan raut wajah syok yang teramat sangat.

Kenyataan mengerikan itu menghantam jiwanya tanpa ampun—di saat ia sibuk meratapi nasibnya dan kembali mengenakan jas mewahnya di kota, perempuan tulus yang dicintainya hampir menjadi korban kejahatan biadab.

"Bayu, membius Dayang?" bisik Rimba parau, napasnya memburu dan tangannya bergetar makin hebat.

"Iya!" jerit Bintang histeris, menunjuk dada Rimba dengan jari gemetar.

"Mas Rimba cuma memikirkan keinginan dan bisnis Mas sendiri! Mas, cuma peduli sama kontrak dan pabrik Mas, tanpa peduli keselamatan Mbak Dayang yang sudah mempertaruhkan segalanya buat Mas!"

Bintang menggelengkan kepalanya keras-keras, menatap pria yang dulu sangat ia kagumi itu dengan tatapan penuh keputusasaan dan rasa benci yang mendalam.

"Kamu jahat, Mas!" ucap Bintang penuh penekanan, tangisnya pecah sesenggukan.

"Kamu jahat sekali!"

Rimba melangkah mundur satu tapak. Lututnya terasa lemas tak bertenaga.

Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun di dunia bisnis itu kini tertunduk dalam, membiarkan kemarahan Bintang menghujat jiwanya yang dipenuhi rasa penyesalan tak bertepi.

Lampu merah bertuliskan OP-IN PROGRESS di atas pintu ruang operasi yang tajam membakar mata itu akhirnya padam.

Pintu ganda berbahan besi tebal mendadak terdorong terbuka.

Seorang dokter bedah senior bersama dua asistennya melangkah keluar dengan wajah kaku dan pelipis bersimbah keringat.

Rimba, Bintang, dan Bang Jaka seketika berhamburan mendekat.

Rimba melupakan sejenak rasa remuk di dadanya akibat ucapan Bintang, matanya yang memerah menatap sang dokter dengan raut ketakutan yang tak tertahan.

"Dokter! Bagaimana kondisi kakak saya?!" seru Bintang panik, mencengkeram lengan dokter dengan tangan bergetar.

Dokter bedah itu menghela napas panjang, melepaskan masker medisnya sebelum berbicara dengan nada berat.

"Kondisinya sangat kritis, namun penanganan awal berhasil menyelamatkan nyawanya dari masa kritis," ungkap sang dokter.

"Benturan keras saat kecelakaan menyebabkan patah tulang parah di kaki kirinya. Kami sudah melakukan tindakan operasi stabilisasi dan kakinya harus dipasang gips total untuk kurun waktu yang cukup lama."

Dokter menatap ke arah Rimba dan Bang Jaka secara bergantian, raut mukanya makin tegang.

"Namun fokus utama kami saat ini adalah pendarahan dalam yang cukup hebat di bagian trauma akibat benturan dada dan kepala. Pasien kehilangan banyak darah dan saat ini berada dalam kondisi koma. Beberapa jam ke depan adalah masa paling krusial untuk memantau apakah pendarahan di organ dalamnya bisa dihentikan sepenuhnya atau butuh tindakan bedah darurat lanjutan."

Kata-kata dokter bagai petir yang menyambar pancaindra Rimba.

Patah kaki, gips, pendarahan dalam, dan koma. Srikandi Pasar yang dulu begitu lincah, tangguh, dan tanpa gentar kini terbaring tak berdaya menabung nyawa di balik dinding tipis ruang perawatan intensif.

Bintang tersungkur di lantai koridor, menyembunyikan wajahnya di balik lutut seraya meraung menangis.

Sementara Rimba hanya bisa menyandarkan punggungnya ke dinding dingin, mengepalkan jemarinya hingga memutih.

Hatinya kian hancur meratapi betapa mahalnya harga kebohongan yang harus dibayar oleh perempuan yang paling ia cintai.

"Bintang," Rimba melangkah mendekat, suaranya parau dan sarat akan kecemasan yang tak lagi bisa ia sembunyikan.

Pria itu menoleh ke arah Dio. "Dio, bawa Bintang ke apartemenku sekarang. Amankan dia di sana."

Rimba beralih menatap Bintang yang masih memeluk lututnya di lantai.

Ia tidak mau jika Bintang ikut sakit di rumah sakit.

"Bintang, kamu jangan pulang ke rumah kayu dulu. Bayu masih berkeliaran di luar. Dia berbahaya, dan Mas ndak akan biarkan terjadi apa-apa lagi sama kamu."

Bintang mendongak, matanya yang sembap menatap Rimba dengan tatapan penuh penolakan dan amarah yang belum padam.

"Aku tidak mau ke apartemenmu! Aku tidak mau berhubungan lagi sama pembohong kayak Mas!"

"Bintang, tolong."

Rimba berlutut di hadapan Bintang, menyamakan tingginya.

Tatapan sang CEO kini sama sekali tak menyisakan keangkuhan—hanya ada keputusasaan seorang pria yang sangat takut kehilangan.

"Tolong, percaya sama Mas untuk kali ini aja. Mas cuma mau memastikan kamu aman. Tolong, Bin."

Melihat perdebatan itu, Bang Jaka mendesah berat.

Pria perkasa dari pelelangan ikan itu melangkah maju dan memegang bahu Bintang.

"Bin, kali ini kamu nurut sama Pak Rimba," ucap Bang Jaka dengan suara dalam dan tegas.

"Omongannya benar. Bayu itu keparat nekat yang lagi buron. Rumah kayu ndak aman buat kamu sendirian. Biar Bang Jaka sama anak-anak pasar yang buru Bayu di luar, kamu fokus amankan diri dan jaga diri buat Dayang."

Bintang menatap Bang Jaka, lalu beralih menatap Rimba.

Meski hatinya masih dibalut rasa sakit dan kekecewaan mendalam atas kebohongan 'Bima', kepasrahan di mata Bang Jaka akhirnya meruntuhkan pertahanannya.

Bintang hanya bisa mengangguk pelan seraya menyapu sisa air matanya.

Air mata Bintang kembali menetes saat ia berdiri dari duduknya.

Sebelum melangkah pergi mengikuti Dio, langkahnya terhenti.

Ia memutar badan, menatap Rimba dengan sorot mata yang campur aduk—antara keputusasaan, rasa sakit, dan sekeping harapan terakhir yang tersisa di dadanya.

"Jaga Mbak Dayang, Mas." bisik Bintang dengan suara parau dan berguncang menahan tangis.

"Jangan sakiti Mbak Dayang lagi."

Rimba mematung. Setiap patah kata yang keluar dari bibir Bintang menghantam relung hatinya dengan hantaman yang luar biasa menyakitkan.

Pria tegap itu mengepalkan jemarinya, menundukkan kepala dalam-dalam saat rasa bersalah yang teramat berat meremukkan seluruh keangkuhannya.

"Mas janji, Bin." balas Rimba serak, suaranya nyaris tenggelam oleh ketegangan di dadanya.

"Mas janji dengan nyawa Mas sendiri. Mas tidak akan ada lagi yang bisa menyakiti Mbakmu."

Bintang mengusap matanya kasar, lalu berbalik dan berjalan mengikuti langkah Dio menuju lift.

Sepeninggal mereka bersama Bang Jaka yang bergegas kembali ke desa untuk memburu Bayu, koridor rumah sakit itu kembali dibalut kesunyian yang mencekam.

Rimba melangkah pelan mendekati kaca transparan ruang ICU.

Di balik dinding kaca dingin itu, sosok Dayang terbaring kaku.

Kaki kirinya dibalut gips tebal, selang-selang medis dan ventilator terpasang di tubuhnya, serta bunyi detak jantung dari monitor berbunyi lambat.

Rimba menyandarkan dahi dan telapak tangannya pada kaca dingin tersebut.

Sang CEO menatap wajah pucat wanita yang dicintainya itu dengan mata membara penuh air mata dan penyesalan mendalam.

Bang Jaka melangkah mendekat, menyandarkan tubuh tegapnya pada dinding koridor tepat di samping Rimba.

Pria perkasa dari pelelangan ikan itu mengeluarkan sebatang rokok, namun batal menyalakannya saat mengingat mereka sedang berada di area steril rumah sakit.

Ia menatap sosok Rimba dari samping—pria yang beberapa hari lalu masih mengangkut keranjang ikan bersamanya, berpeluh keringat di bawah terik matahari pantai, dan makan nasi bungkus di atas meja kayu yang rapuh.

Kini, pria itu berdiri mengenakan kemeja sutra mahal yang bersimbah darah, dikelilingi pengawal pribadi, dan memiliki kekuasaan untuk menggerakkan seluruh fasilitas medis terbaik di kota ini.

"Aku masih belum menyangka kalau kamu Rimba Suryo." ucap Bang Jaka dengan suara berat, memecah kesunyian koridor yang mencekam.

Rimba tidak mengalihkan pandangannya dari balik kaca ICU.

Matanya tetap terkunci pada sosok Dayang yang terbaring kaku dengan berbagai selang medis yang menempel di tubuhnya.

"Maafkan aku, Bang Jaka." bisik Rimba parau.

Tak ada lagi nada dingin atau keangkuhan seorang CEO dalam suaranya—hanya ada penyesalan mendalam dari seorang pria yang hancur melihat wanita yang dicintainya berada di ambang maut.

"Aku tahu, tidak ada alasan apa pun yang bisa membenarkan kebohonganku."

Bang Jaka menghela napas panjang, menatap bayangan Dayang di balik kaca.

"Tahu tidak, Rim?" kata Bang Jaka pelan.

"Selama puluhan tahun aku kenal Dayang, baru kali ini aku lihat dia buka hati buat laki-laki. Dia itu Srikandi Pasar. Dia terlalu kuat buat bersandar sama orang lain. Tapi waktu kamu hadir, aku lihat binar beda di matanya. Dia percaya penuh sama kamu."

Kata-kata Bang Jaka bagai sembilu yang makin meremukkan hati Rimba. Jemari tangan Rimba mengepal keras hingga kuku-kukunya memutih.

"Dan, kepercayaan itu yang meremukkan dia sampai seperti ini," lanjut Bang Jaka dengan raut wajah kaku, menoleh menatap Rimba secara langsung. "Sekarang kamu bukan lagi 'Bima' kuli panggul yang cuma bisa pasrah. Kamu Rimba Suryo. Tunjukkan kalau kekuasaan dan nama besarmu itu ada gunanya buat melindungi Dayang."

Rimba menganggukkan kepalanya pelan, menerima setiap patah kata Bang Jaka sebagai cambukan yang makin menguatkan tekad di dadanya.

Tak berapa lama, dua orang anak buah Rimba berpakaian rapi melangkah cepat menyusuri koridor.

Mereka membawa beberapa kantong berisi makanan hangat dan minuman untuk Rimba serta Bang Jaka yang sejak tadi belum menyentuh makanan sama sekali.

"Silakan diminum dan dimakan dulu, Pak Rimba, Pak Jaka," ucap salah seorang anak buah Rimba dengan sopan seraya meletakkan kantong tersebut di atas kursi tunggu.

Rimba menatap kantong makanan itu, lalu beralih menatap Bang Jaka yang masih berdiri setia di sampingnya.

"Bang Jaka, tidak mengambil pasokan ikan pagi ini di pelelangan?" tanya Rimba dengan suara parau.

Bang Jaka mengulas senyum tipis, menggelengkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangan dari kaca ICU.

"Sudah diwakilkan, Rim. Anak-anak pasar yang urus pelelangan hari ini. Aku ingin menemani Dayang di sini."

Bang Jaka menghela napas panjang, menatap bayangan Dayang dengan binar mata seorang ayah yang penuh kasih sayang.

"Dia sudah aku anggap seperti putriku sendiri. Sejak almarhum bapaknya meninggal, aku yang janji sama diriku sendiri buat menjaga dia dan Bintang."

Rimba tertegun mendengarnya. Rasa hormat sekaligus malu makin memenuhi dadanya melihat ketulusan orang-orang di sekitar Dayang.

Sementara itu, di pusat kota, sedan hitam yang dikendarai Dio akhirnya berhenti di pelataran parkir sebuah gedung hunian vertikal paling eksklusif.

Dio mengawal Bintang memasuki lift pribadi yang membawa mereka langsung menuju unit apartemen milik Rimba di lantai paling atas.

Saat pintu lift terbuka, Bintang terpaku di ambang pintu.

Apartemen yang sangat megah terhampar di hadapannya—langit-langit tinggi berhiaskan lampu gantung elegan, lantai marmer buatan Italia, serta interior modern berselera tinggi yang jauh dari bayangan tempat tinggal bersahaja yang biasa ia huni bersama kakaknya.

Dio mengajak Bintang masuk, lalu meletakkan tas sekolah Bintang di atas sofa kulit yang empuk.

Dio melangkah ke dapur bersih dan menyajikan nampan berisi hidangan hangat serta minuman segar di atas meja makan.

"Mas Bintang, makan dulu ya," ujar Dio dengan suara lembut dan ramah, mencoba mencairkan ketegangan yang menyelimuti pemuda itu.

"Pak Rimba pesan supaya Mas Bintang istirahat dan isi tenaga dulu di sini. Nanti kalau ada kabar terbaru dari rumah sakit, saya langsung beri tahu."

Bintang menatap meja makan yang penuh hidangan lezat itu, lalu menunduk menatap jemarinya yang saling bertautan.

Hatinya masih terasa berat, namun kelelahan fisik dan emosional sepanjang hari ini membuat pemuda itu akhirnya mengangguk pelan.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
Muft Smoker
km harus berusaha keras buat ngeluluhin hati dayang rimba ,, dayang itu hidup di dunia yg keras ,, JD tulang punggung keluarga demi adik ny ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
Muft Smoker
akhirnya kebohongan terbongkar juga ,, menyisa kan kekecewaan bagi banyak org ,, terutama dayang ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Muft Smoker
nah kan ,, sudah ku bilang ,,, hapus penyamaran ,, sudah ku bilang ,, toh jujur saja ,, kalo dr awal kontrak ny begini ,, penjelasan ny jelas ,, tanpa kekerasan ,, mungkin dayang bisa berfikir ulang ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂
Muft Smoker
hati2 rimba jgn bermain terlalu jauh ,, nanti klo terbongkar dayang mengetahui sypa km sbnrnya ,, entah ap yg bakal gmn reaksi dayang ,, yg pasti bukan sesuatu yg bagus
Muft Smoker
hati2 rimba km milih lawan yg salah ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuut kak ,, cerita ny seruuu
Muft Smoker
yx kalian yg beres ma si dayang di jadiin ikan asin 🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
hai kak mampir lgi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!