Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.
Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.
Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.
Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIFAT YANG SULIT DI TEBAK
Alesya berhenti di taman dengan Jessica yang bersamanya. mereka memilih duduk pada salah satu kursi panjang disana.
Jessica tidak membantah, Ia hanya menuruti yang yang dilakukan oleh Alesya.
"Apa yang kau lakukan"
Jessica sudah mulai merasa jengah dengan tingkah Alesya, terdengar dari nada bicaranya yang nampak kesal.
"Duduk dulu"
"Apaan si"
Alesya berdehem sejenak lalu kembali membuka suara.
"Kau kenal Darren?"
Wajah Alesya berubah serius, ada raut yang sulit di jelaskan pada tatapannya. Namun tatapan itu bukan tertuju kepada Jessica, tapi pada topik pembicaraan mereka.
"Darren?"
"Yaa"
Jessica nampak mangguk-mangguk, sebelum menjawab.
"Sepertinya di dekat dengan Dante"
Jawab Jessica setelah memastikan.
Alesya menghela nafas perlahan.
"Apa keu pernah berfikir, bagaimana bisa seseorang memperlakukan orang yang tidak mereka kenal, seolah-olah orang itu adalah hal yang paling berharga dalam hidupnya, kau pernah?
"Maksud mu?" Jessica sedikit mengeryit
"Maksud ku ya Darren, cowok itu tampak sama sekali tidak pernah kenal, ataupun pernah berinteraksi dengan Reana"
"Namun kau tau?, Anehnya dia seakan-akan tau kalo Reana sedang dalam masalah "
Lanjut gadis itu
"Apa kau mencurigainya"
mata Jessica memicing ke arahnya.
"Aku butuh bantuan mu"
Ucap Alesya kembali dengan tatapan serius, wajahnya datar dan tanpa ekspresi. Membuat Jessica bingung, seperti apa sebenarnya raut asli gadis itu.
***
Pintu besi di ujung lorong bergeser dengan suara berdecit pelan.
Dante akhirnya memasuki ruangan bawah tanah.
Langkahnya terdengar berat, tetapi wajahnya tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Beberapa noda darah masih terlihat samar di pakaiannya, sisa dari pertarungan yang baru saja ia lalui.
Di dalam ruangan, Kael dan Darren sudah menunggunya.
Keduanya berdiri di sisi meja besar yang dipenuhi berbagai peralatan dan dokumen. Tepat di tengah meja terbentang sebuah denah lengkap kompleks ADX.
Begitu Dante muncul, Darren langsung melirik jam di tangannya.
"Lama sekali."
Kael yang sejak tadi memperhatikan denah hanya mengangkat pandangan sekilas.
"Kami hampir mengira kau tertangkap."
Dante berjalan mendekat tanpa tergesa. Ia menarik kursi, lalu duduk santai.
"Di hadang beberapa tikus dapur."
Darren mengernyit.
"Tikus dapur?"
Dante hanya mengangkat bahu.
"Kurang lebih."
Kael menatapnya beberapa detik. Dari tatapannya, jelas ia tahu Dante tidak sedang membicarakan tikus sungguhan.
Namun ia tidak bertanya lebih jauh.
"Sudah," ujar Kael dingin. "Kita lanjut."
Dante kembali berdiri dan mendekati meja.
Ketiganya mengarahkan perhatian pada denah ADX.
Beberapa titik telah diberi tanda merah. Ada yang menunjukkan jalur penjagaan, kamera keamanan, pintu besi, hingga lorong yang jarang dilewati para penjaga.
Darren menunjuk salah satu bagian denah.
"Kalau kita menaruh bom di sini, ledakannya bisa memutus akses menuju blok utama."
"Tapi terlalu dekat dengan jalur penjagaan," jawab Dante. "Kita akan ketahuan sebelum sempat keluar."
Kael menggeser jarinya menyusuri denah.
"Bagaimana dengan titik ini?"
Darren memperhatikan lokasi yang ditunjuk.
"Ruang utilitas?"
"Ya."
"Kalau meledak di sana, sebagian sistem keamanan bisa lumpuh."
Dante menyipitkan mata, mempelajari denah tersebut.
"Lalu jalur keluarnya?"
Kael menunjuk sebuah lorong sempit yang berada di sisi belakang kompleks.
"Ini."
Darren langsung menggeleng.
"Terlalu berisiko. Lorong itu terhubung dengan area yang dijaga."
"Karena itu kita tidak keluar lewat sana."
Kael mengambil sebuah pena dan memberi tanda pada bagian lain.
"Kita gunakan jalur servis."
Dante menatap tanda tersebut.
"Jalur servis ini menuju mana?"
"Terowongan lama."
Ruangan mendadak hening.
Darren menatap Kael.
"Terowongan itu sudah ditutup bertahun-tahun."
Kael menatapnya tanpa ekspresi.
"Ditutup bukan berarti tidak bisa dibuka."
Dante tersenyum tipis.
"Nah... sekarang mulai menarik."
Kael kembali menunduk pada denah.
"Kita tidak punya banyak waktu. Begitu sistem keamanan terganggu, seluruh kompleks akan masuk dalam kondisi darurat."
Ia mengetuk meja dengan ujung jarinya.
"Jadi semuanya harus tepat."
Dante menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Dan kalau satu saja meleset?"
Kael mengangkat pandangan.
"Maka kita mati di dalam sana."
Tak ada seorang pun yang tertawa.
Mereka kembali menatap denah ADX.
Di atas meja itu, bukan hanya sebuah rencana yang sedang disusun. Mereka sedang menentukan bagaimana mereka akan masuk, Namun—
Beberapa detik kemudian—
Pintu besi itu kembali terbuka.
Ketiganya sontak menoleh.
Dante, Kael, dan Darren sama-sama terdiam ketika melihat dua sosok yang berdiri di ambang pintu.
Alesya masuk lebih dulu dengan wajah penuh rasa ingin tahu, sementara Jessica berjalan beberapa langkah di belakangnya dengan kepala sedikit tertunduk.
"Wahhhh..." Mata Alesya langsung berbinar melihat ruangan tersebut.
"Keren. Jadi ini tempat apa?"
Jessica tidak menjawab, Sejak memasuki ruangan itu, gadis itu bahkan tidak berani mengangkat wajahnya. Ia tahu betul tempat ini seharusnya tidak boleh dimasuki sembarang orang.
Terlebih lagi...
Dante ada di sana.
Jessica masih mengingat kejadian kemarin, ketika diam-diam ia mengikuti pria itu. Dari situlah ia tanpa sengaja mengetahui beberapa hal yang seharusnya tidak ia ketahui.
Dan sekarang ia justru berdiri tepat di hadapannya.
Sial.
Sebenarnya Jessica sudah berusaha menolak ketika Alesya bertanya di mana biasanya Darren dan Dante berada. Ia bahkan tidak berniat membawa Alesya ke tempat ini.
Namun Alesya mengancam tidak akan mengajarinya bela diri jika Jessica tidak mau mengantarnya.
Pada akhirnya, ia tidak punya pilihan.
Kael menatap dua gadis itu dengan wajah datar.
Tidak ada keterkejutan yang berarti di wajahnya, meskipun keduanya baru saja memasuki area yang jelas-jelas merupakan tempat rahasia mereka.
Berbeda dengan Dante, Tatapannya langsung berubah datar, Bukan kepada Alesya. Melainkan kepada Jessica.
"Sedang apa kalian di sini?" tanya Dante dingin.
Alesya malah menjawab santai.
"Punya ruang pribadi tapi nggak ngajak-ngajak."
Kael mengangkat sebelah alisnya.
Jessica semakin menundukkan kepala.
Alesya kemudian kembali menatap cowok itu satu persatu.
"Jadi kalian bertiga saling mengenal?"
Tidak ada jawaban, Alesya berjalan lebih jauh ke dalam ruangan. Langkahnya berhenti tepat di depan Kael.
Ia menatap meja besar di belakang pria itu. Beberapa dokumen berserakan di sana, lengkap dengan denah ADX yang terbentang lebar.
Alesya memiringkan kepalanya.
"Ohhh..."
Ia memperhatikan berbagai tanda yang terdapat di atas denah.
"Rencana besar."
Kael menatapnya.
"Dari mana kau tahu tempat ini?"
"Hanya lewat saja."
Jawaban Alesya begitu santai, bahkan matanya masih terpaku pada denah di meja.
Kael mengernyit tipis.
"Alesya."
"Apa?"
Alesya akhirnya menoleh.
Tatapannya datar, seolah tidak merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang paling ditakuti hampir semua orang di ruangan itu.
Kael yang tadinya hendak mengatakan sesuatu justru terdiam.
"..."
"Kenapa?"
Alesya menatap Kael beberapa saat.
Lalu ia melirik Dante dan Darren satu per satu.
"Apa Aku nggak termasuk dalam rencana kalian?"
Suasana seketika berubah.
Kael mengernyit, Alesya melanjutkan dengan nada yang sedikit menuntut.
"Ya... seharusnya aku juga tahu, kan?"
Dante melirik Alesya sekilas.
"Seharusnya kau bersyukur."
"Kael melakukan semua ini demi kau."
Jessica semakin gugup ketika menyadari tatapan Dante kembali tertuju kepadanya.
"Kau juga tahu rencananya?"
Jessica langsung menggeleng cepat.
"Ah... ti-tidak. Aku cuma diajak Alesya."
"Yaa..." Alesya langsung menyahut.
"Aku yang mengajaknya."
Dante menatap Jessica beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangan. Namun Alesya justru mengangkat tangannya.
"Tapi sebenarnya aku nggak punya urusan dengan kalian."
Kael mengernyit.
"Apa maksudmu?"
Alesya tidak menjawab.
Ia justru menunjuk Darren.
"Dia."
Darren yang sejak tadi diam akhirnya menatap Alesya. Wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya menunjukkan rasa penasaran.
"Kau..."
Alesya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Apa maksudmu mendekati Reana?"
Darren diam.
"Kau menyukainya?"
Tatapan Alesya semakin serius.
"Atau memanfaatkannya?"
Dalam sekejap, seluruh perhatian di ruangan itu tertuju kepada Darren. Bahkan Kael ikut menoleh.
Dante memandang Darren beberapa detik.
Kemudian...
"Apa?"
Sudut bibirnya mulai terangkat.
"Kau jatuh cinta?"
Dante tiba-tiba tertawa lepas.
"HAHAHAHAHAHA!"
Tawanya menggema memenuhi ruangan bawah tanah.
Ia bahkan sampai menepuk meja sambil menatap Darren seolah baru saja menemukan sesuatu yang sangat lucu.
"Jadi orang seperti kau juga bisa jatuh cinta?"
Ya walaupun terkadang wajah cowok itu terlihat tajam dan datar, tapi sebenarnya tingkah Dante konyol.
Darren hanya menghela napas panjang.
Sebenarnya, pertanyaan Alesya bukan sesuatu yang mudah ia jawab.
Ia sendiri masih tidak mengerti apa yang sebenarnya ia rasakan kepada Reana.
Apakah itu cinta?
Atau hanya obsesi?
Ia belum menemukan jawabannya.
Darren mengangkat wajah dan menatap Alesya.
Tatapannya cukup mengintimidasi.
Namun Alesya sama sekali tidak bergeming.
Setelah beberapa detik, Darren akhirnya menjawab.
"Emm..."
Ia berhenti sejenak.
"Aku menyukainya."
Jawabannya singkat dan dingin.
Alesya hanya mengangguk-anggukkan kepala.
"Ohh..."
Seolah jawaban itu sudah cukup untuknya.
Ia kemudian berbalik kepada Jessica.
"Ayo pergi."
Jessica berkedip.
"Hah?"
"Ayo."
Alesya berjalan menuju pintu.
"Urusanku di sini sudah selesai."
Jessica buru-buru mengikutinya.
Namun sebelum keluar, Alesya berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.
"Aku cuma ingin memastikan satu hal."
Tatapannya jatuh kepada Darren.
"Bahwa dia nggak main-main sama Reana."
Setelah mengatakan itu, Alesya kembali berjalan pergi.
Jessica hanya bisa mengikuti dengan wajah bingung.
Sementara di dalam ruangan, tiga pria itu masih terdiam.
Dante menatap pintu yang baru saja tertutup.
Kemudian ia kembali melirik Darren.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Sepertinya ada yang tengah kasmaran"
Darren tidak menjawab, hanya menatapnya sekilas.
Kael pun kembali menatap denah ADX.
Namun untuk pertama kalinya sejak pembicaraan mereka dimulai...
perhatiannya tidak lagi sepenuhnya tertuju pada rencana pelarian.
Melainkan pada satu hal lain.
Alesya.
gadis itu memang sulit ditebak. Terkadang, ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat orang merasa seolah sedang berhadapan dengan seseorang yang sama sekali berbeda.
Diam.
Tenang.
Bahkan terkadang... misterius.
Sorot matanya bisa berubah begitu tajam hingga membuat orang bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan.
Namun anehnya, perubahan itu tidak pernah bertahan lama.
Beberapa saat kemudian, wajahnya bisa berubah menjadi begitu polos dan konyol, seolah tidak pernah menunjukkan ekspresi misterius sebelumnya.
Seperti bunglon.
Ia dapat menyesuaikan dirinya dengan keadaan tanpa orang lain menyadari kapan tepatnya perubahan itu terjadi.
Dan yang paling menyebalkan—
tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu mana wajah Alesya yang asli.
Jessica sendiri sudah cukup sering dibuat bingung karenanya.
Seperti sekarang.
Beberapa menit yang lalu, Alesya baru saja berdiri di hadapan tiga pria berbahaya dan menanyakan sesuatu dengan tatapan penuh intimidasi.
Namun begitu mereka keluar dari ruangan bawah tanah...
Alesya malah mengembungkan pipinya.
"Jessica."
"Hm?"
"Aku lapar."
Jessica terdiam.
"..."
'padahal tadi dia baru saja makan'
Jessica hanya menghela napas.
"Kenapa?"
Alesya menoleh dengan wajah polos.
"hanya itu saja urusanmu tadi?"
"emmm""
"Urusanmu cuma memastikan Darren nggak main-main sama Reana?"
"Iya."
"Lalu kenapa kau terlihat seperti sedang merencanakan sesuatu tadi?"
Alesya berkedip.
"Aku?"
"Iya."
Alesya berpikir sejenak.
Kemudian ia tersenyum kecil.
"Nggak tahu."
Jessica menghela napas lagi.
Benar-benar seperti bunglon.
Kadang ia bahkan merasa Alesya sendiri tidak sadar betapa drastis perubahan dirinya.
***