Indonesia
NovelToon NovelToon
Different For a Reason

Different For a Reason

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Barat / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rido Aji Darmawan

Gerbang-gerbang dimensi, satu hari pernah terbuka di Bumi secara bersamaan dan tersebar ke seluruh negara.

Puluhan juta pasukan monster berbondong-bondong keluar, memangsa semua manusia tanpa pandang bulu.

Jutaan Unique melawan mati-matian, demi melindungi warga sipil.

Peperangan besar pun digelar secara masif di seluruh penjuru Bumi.

Banyak Unique yang tewas di tangan petinggi-petinggi bangsa monster. Begitupun sebaliknya.

Peperangan ini seperti tidak ada habisnya. Sampai peristiwa 'the silent year' terjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rido Aji Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

URA Event Korea: Chapter 26

Gravito dan para juniornya berjalan menuju tepi pulau yang tak jauh dari area akomodasi sembari melihat-lihat sekitar.

Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di tepi pulau yang dipagari oleh besi. Seperti biasa, Gravito mulai membuat penghalang sebagai pijakan.

Para rookies dengan polosnya, mengikuti Gravito menaiki tangga dan berjalan ke tengah laut, seperti anakan itik yang sedang membuntuti induknya.

Belum berjalan begitu jauh, tiba-tiba ada suara teriakan, “Hei! Kalian mau kemana?”

Suara tersebut berasal dari anak laki-laki yang mereka lihat saat sarapan di auditorium.

Slamet yang berada paling belakang, menjadi agak panik seraya kakinya gemetar. Keempat bocah yang lain, juga merasa hal yang sama bak maling yang sedang kepergok.

Sementara para rookies panik, si senior itu, berpura-pura tidak mengenali mereka dan lanjut berjalan maju sambil bersiul.

“Hei, apakah aku boleh ikut?!” ucapnya lantang dari jarak agak jauh.

Mimik mereka terlihat jelas. Mereka semua terkejut sembari membelalak menatap anak cowok itu.

Merasa tak mampu menghadapi situasi, Slamet menoleh perlahan ke arah seniornya. “Kak Grav! Apakah bo-”

Slamet mematung tidak bisa berkata-kata, diikuti dengan kelopak matanya yang tak berkedip sama sekali lagi mulut agak terbuka.

“Gila! Senior udah jauh banget!” pungkas Val tercengang.

Terus berjalan tanpa memperdulikan kanan-kiri, depan-belakang. Dirasa sudah cukup jauh, dia celingukan. “Lumayan juga nih spot.” Gravito buru-buru duduk bersila. “Ah … sampai juga.”

Selang kurang lebih enam belas menit, para rookies sampai ke tempat seniornya duduk santai sedang memancing.

“Kalian sudah sampai? Kenapa lama sekali?” ucapnya tidak berbalik dan hanya fokus menatap pancingan.

“Kak, kenalkan. Ini Jeon Woojin,” ujar Slamet.

“Halo, saya Jeon Woojin. Salam kenal.” Kepalanya sedikit menunduk memberi hormat.

“Namaku Gravito, salam kenal juga ya,” ucapnya sambil mengangkat tangan kanan ke udara. “Kalau mau ikutan memancing, itu alat pancingnya ada di sana.” Tangan kanannya menunjuk ke tas besar yang berada di samping kanan.

“Sini, biar aku saja yang mengajari dia,” pungkas Pipo sumringah seperti biasa. “Kemarilah, Woojin.”

Pipo dan rookies yang lain, tengah bercengkrama dengan Jeon Woojin sembari menunggu umpan dimakan ikan.

Mereka mulai mengenal satu sama lain tanpa melihat suku, warna kulit, atau kekurangan tubuh.

Selang satu jam, ikan yang terkumpul sudah cukup. Gravito mulai membuka Noir Gate dan masuk ke dalamnya. Tak lupa, dia juga mengajak rookies pergi.

“Kita mau kemana?” tanya Woojin dengan mimik polos.

Val yang bertugas menjadi babu pembawa tas, menanggapi, “Kita mau bakar ikan, sudahlah ikut saja.”

Saat memasuki Noir Gate, ekspresi Woojin sama seperti rookies yang lain ketika pertama kali memasukinya.

“Wah … keren ….” Pupilnya tak henti-henti mengitari seisi ruang dimensi itu. “Aku belum pernah melihat yang seperti ini.” Matanya berbinar sembari mulutnya ternganga.

Sesudah kurang lebih satu menit berjalan, tibalah mereka di pulau kediaman Gravito. Woojin bertanya-tanya, tempat apa ini? Dan … dimana?

Teman-teman barunya mengatakan, bahwa mereka sedang berada di negara Indonesia tepatnya di teritorial milik Gravito (klaim sepihak oleh senior mereka).

Singkat kisah, setelah membersihkan ikan, mereka mulai membakarnya dengan bumbu kecap merek Pelikan + garlic (tak lupa garam dan micin).

Aroma smokynya, membuat nafsu makan mereka menggila. Sawut-sawut! Tiga sunduk ikan bakar langsung disambar oleh Pipo.

Gravito benar-benar sudah hafal dengan tingkahnya. Untung hasil ikannya lumayan banyak, jadi semuanya kebagian.

Jeon Woojin yang pertama kali memakan ikan bakar bumbu kecap, benar-benar terheran-heran dengan rasa nikmatnya. Gravito mempersilahkannya untuk ambil dua lagi kalau dia mau.

“Adeh … kenyang,” celetuk Pipo yang habis delapan sunduk ikan bakar. Jeon Woojin terkekeh melihat tingkah teman barunya itu.

Dirasa sudah selesai, Gravito kembali membuka Noir Gate untuk pulang ke area akomodasi. Mereka melewati jalan yang sama untuk pulang sambil berjalan-jalan melihat pemandangan.

Langkah kaki mereka sekarang sudah sampai ke tepi pulau. Tangga penghalang masih kokoh di tempatnya.

Para rookies menuruni tangga diiringi suara Pipo sedang mengunyah ciki yang dibawanya.

Karena Pipo baik, dia juga memberi seniornya satu kemasan ciki. Apa boleh buat, sang senior pada akhirnya menenteng dan mengunyah ciki seperti Pipo.

Setelah turun dari lantai penghalang dan berjalan beberapa meter, mereka berpapasan dengan empat rookies Korea.

“Hei Woojin, kau cocok sekali bergaul dengan mereka,” ucap lantang Kim Hyuk dari jarak agak jauh, diikuti dengan senyuman lebar memperlihatkan gigi putihnya.

Tidak cukup dengan senyuman, sorot matanya pun terlihat gembira melihat pemandangan kocak di depannya. Si buruk rupa bergaul dengan monyet-monyet Asia Tenggara. Hihihi … aku bisa mati tertawa kalau melihat mereka seharian. Lihat kulit mereka, ew … jelek sekali.

Gravito mendengar perkataan bocah itu dan paham kalau itu ejekan tidak langsung.

Namun dia tidak peduli, dan cuma menonton tingkah bocah-bocah itu sambil memakan ciki yang ditentengnya.

Seperti biasa, ekspresi Gravito datar-datar saja seakan tak terjadi hal penting.

“Woojin! Jiwoo ingin bicara denganmu, kemarilah!” teriak Hyunjae.

Woojin menengok ke arah teman-teman barunya. “Teman-teman, aku duluan ya. Dan tuan, terimakasih ikan bakarnya. Tadi itu sangat lezat sekali.”

Woojin mengatakannya dengan tersenyum seperti yang sudah-sudah. Kemudian, dia bergegas menuju rekan-rekan satu timnya.

“Kalian kenapa diam saja? Ayo jalan,” ucap Gravito.

Perkataan si senior membuat mereka sedikit terkejut. Kaki mereka mulai melangkah meninggalkan Jeon Woojin dan empat rookies Korea.

Gravito dan para juniornya mengambil sisi kanan, dan rookies Korea berada di sisi kiri. Jarak mereka agak berjauhan.

“Ada apa Jiwoo? Tumben sekali kau ingin bicara denganku?” Woojin tersenyum seraya mengusap rambut bagian belakangnya.

“Jeon Woojin, siapa yang menyuruhmu bergaul dengan mereka?” tanya Na Jiwoo dingin.

Kim Hyuk tersenyum kecil melihat mereka berdua bicara. Habis kau Woojin.

“Ah, soal itu … aku hanya penasaran kenapa mereka pergi ke tengah laut.”

“Hanya itu?” ujarnya sinis lagi dingin.

“Iya, hanya itu. Tadi setelah memancing, kami pergi ke suatu tempat lalu membakar ikan bersama. Hei Jiwoo, kau tahu, tadi itu adalah ikan bakar terlezat yang pernah kumakan. Kalau saja ikan bakarnya masih, pasti aku akan-”

PLAK!

“Kenapa kau-”

PLAK!

“Jeon Woojin, apakah kau tidak menghormatiku sebagai pemimpin tim ini?”

“Kapan aku-”

PLAK! PLAK! PLAK!

Tamparan demi tamparan, melayang keras ke sisi kepala Jeon Woojin. Tentu saja yang paling girang dengan situasi itu adalah Kim Hyuk.

Dia berdiri di belakang sembari melotot dengan senyum lebarnya. Namun … tiba-tiba saja tamparan Na Jiwoo berhenti.

Di lain sisi, Gravito sedang melenggang dengan santainya. Saat dia sekilas menengok ke arah juniornya, seperti ada yang janggal.

“Hei, dimana Zakaria?” Sesudah celingukan kesana kemari, mereka mendapati Zakaria ikut campur masalah rookies Korea.

“Duh, bocah itu,” pungkas sang senior seraya menghela nafas.

“Berhenti memukul temanku.” Mata Zakaria menajam.

Jiwoo melihat dingin tangannya yang sedang dicengkram olehnya.

Sekarang, pupilnya beralih menatap mata rookie yang berada di depannya dengan cara yang masih sama. “Kalau aku masih ingin memukulnya, kau mau apa?”

Dari belakang Jiwoo, dia bergerak mendadak menerjang Zakaria. “JANGAN IKUT CAMPUR JELEK!”

Tinjuan Kim Hyuk yang mendadak, ditepis oleh Slamet yang melesat dengan cepat.

“Apa? Kau siapa lagi?!” Ujug-ujug, Slamet meledakkan diri menjadi bola cahaya yang sangat besar. WUIIING!

Hanya perlu hitungan detik, Slamet dan Zakaria sudah kembali ke dekat Gravito.

Beberapa saat sebelum Kim Hyuk melayangkan tinjunya, Gravito menyuruh muridnya untuk menyeret kembali bocah naif itu. Slamet langsung melaksanakan perintah mentornya.

“Senior, kenapa kau melarangku membela Woojin?”

Mendengar keluhan Zakaria, Gravito hanya menatapnya dingin.

“Hei Zakaria, beberapa tamparan tidak akan membunuh Woojin. Tapi sikapmu yang naif itu, akan membuat masalah menjadi lebih runyam. Dan kau harus ingat, kita sedang berada di negaranya orang. Kau tidak bisa berbuat seenaknya di sini.”

Cahaya milik Slamet sudah menghilang. Gravito mengarahkan pupilnya ke rookies Korea dan mulai pura-pura tertawa mencairkan suasana.

“Hahaha! Maaf ya soal kesalahpahaman tadi. Semoga hari kalian menyenangkan,” ujarnya lantang.

Gravito memejamkan mata tersenyum lebar, sembari melambai-lambaikan tangan sebagai isyarat damai.

Selang beberapa detik, tiba-tiba Pipo berteriak, “Senior, awas di belakang!”

Hong Hyunjae sudah berada tepat di belakang kepala Gravito, bersiap menebaskan double blade yang di genggamnya. “Ini pelajaran untukmu yang suka ikut campur urusan orang! Hyah!”

Blaze … tolong pelan-pelan saja.

POW! Sesuatu menghantam pipi Hong Hyunjae. Dia terpental jauh lalu tersungkur. Melihat Hyunjae terpukul jauh, Park Inho dengan tombak serta perisainya juga ikut menerjang.

Kim Hyuk yang membenci monyet-monyet Asia Tenggara tanpa alasan, pun ikut maju. Tetapi hasilnya sama seperti Hyunjae.

Mereka bertiga tergeletak di tiga sudut tempat yang berjauhan. Kini Jiwoo yang gantian menyerang.

Entah apa kekuatan Unique-nya, tapi yang jelas, sepasang sayap hitam tiba-tiba muncul di punggungnya.

Lalu dari yang tidak memegang apa-apa, sekarang sedang mencengkram sebuah scythe hitam dengan bentuk tak lazim.

Tak cukup sampai disitu, scythe yang digenggamnya, tiba-tiba teraliri dengan api yang sangat berkobar-kobar.

Api itu memiliki bentuk yang aneh. Ada arwah-arwah berbentuk kepala iblis yang melompat-lompat dari dalam.

Pats! Sayap itu mengepak dahsyat, dan melontarkan tubuhnya dengan sangat cepat. Scythe itu berusaha masuk dari sisi kanan Gravito. Sesaat sebelum menyentuh, POW! Nasibnya sama seperti rookies Korea yang lain.

Jeon Woojin yang berdiri jauh di sana, terperangah dengan situasi di hadapannya. “Mereka … kalah dengan mudah? Aku tidak tahu kalau Gravito-nim sekuat ini.”

Ada alasan kenapa Jeon Woojin terkejut. Na Jiwoo, walaupun dia adalah rookie. Namun dia adalah salah satu dari sekian rookies yang sudah masuk peringkat dua ratus besar dunia. Jiwoo setara dengan adiknya James yang juga masuk rank dua ratus teratas.

Woojin juga mengetahui isu Asia Tenggara. Tidak ada satupun Unique di negara-negara di area itu yang masuk rank dua ratus teratas.

Woojin tak sanggup berkata apa-apa terhadap pemandangan yang dilihatnya barusan.

Beberapa saat setelah semua serangan rookies Korea berhasil dipatahkan, Gravito dikejutkan dengan energi besar yang sangat mengerikan.

Dia menoleh ke kanan lalu ke kiri mencari hawa energi mencekam itu, namun tidak menemukan apa-apa. Sontak dia terkejut kebingungan. “Ini … datangnya dari atas.”

Gravito buru-buru melihat ke langit. Mimiknya seketika berubah menjadi seolah-olah terkekeh sehabis mendengar lelucon.

Beberapa peluh keringat menempel di pelipisnya seraya berkata, “Sialan … padahal aku hanya ingin mancing dengan tenang. Kenapa malah jadi begini? Haha, ini benar-benar lucu.”

Sebuah bola api raksasa dengan arwah-arwah kepala iblis, muncul dari balik awan. Langit yang tadinya biru cerah, sekarang menjadi memerah.

Tidak diragukan lagi, api raksasa itu mengarah ke Gravito. Dia buru-buru membuka Noir Gate, lalu menyuruh para juniornya segera masuk. Rookies Korea pun juga buru-buru berdiri terhuyung, kemudian pergi.

Api itu datang. “Zirah, jawab panggilanku.”

1
White Shadow
kerenn 😳
Amegatari
seru banget, semangat kak
ridohabit: terimakasih supportnya 🫡
total 1 replies
Amegatari
masih inget mau mancing 😂😂
anggita
zakaria💥... slamet🔥
anggita
oke thor smoga novelnya sukses banyak pembacanya. klo mau promo bisa ke tempat kami, bebas👌
ridohabit: siap kak Anggit 😍
total 1 replies
Amegatari
😂😂 kalau di negara lain lagi berantem begitu ada yg bawa popcorn nggak wkwkw
anggita
kasih hadiah bunga🌹dan like👍
anggita
WUA.. World Unique Association
anggita
gravito... daruma💥
anggita
ilustrasi tokohnya keren👍
ridohabit: dang! kak anggit ke sini
total 1 replies
Amegatari
seru banget
ridohabit: terimakasih atas supportnya, saya sangat mengapresiasi hal ini
total 1 replies
Amegatari
bagus banget thor ceritanya, keren imajinasi nya, nanti lanjut baca lagi
Amegatari
nama karakter lainnya bagus Bagus 😭 kenapa ada Slamet disini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!