"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Biru 22
Di dalam lift, Tono melirik ke arah Rhea. Pria itu mengamati perubahan wajah Rhea sebelum dan sesudah pintu lift tertutup.
Tono bisa melihat Rhea yang tersenyum tadi ke arah Trisna, dimana seutas senyuman itu sirna beriringan dengan pintu lift yang tertutup.
"Mbak," panggil Tono ragu. Dia sangat tidak ingin mengungkit hal yang pernah dilihatnya dulu. Akan tetapi Tono juga tak bisa meredam rasa penasarannya yang sudah tertumpuk lama.
"Ya Pak Tono," jawab Rhea sambil melihat ke arah rekan kerjanya tersebut.
"Hmmm melihat reaksi Mbak Rhea dan karyawan itu tadi, apa kalian saling mengenal?"
Akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari bibir Tono. Ingatannya berputar pada waktu dimana ia menghadiri undangan pernikahan Oza dan Trisna, dan melihat kondisi terburuk Rhea.
Rhea tampak diam, dia mengalihkan pandangannya, menatap pintu lift lekat.
Sejenak Tono merasa gelisah, ia yakin ada sesuatu diantara Rhea dan dua orang itu. Dia juga merasa tidak nyaman sendiri karena bertanya hal demikian.
"Nggak usah dijawab juga nggak apa-apa kok Mbak. Aku cuma sedikit kepo aja heheheh," ujar Tono sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aman kok Pak Tono. Saya dan Trisna adalah te ... ah dulu kita adalah teman dekat. Tapi sekarang sudah tidak lagi, yah semacam itu lah," jawab Rhea pada akhirnya.
Tono menganggukkan kepalanya. Ucapan Rhea yang terpotong di tengah tadi seolah diperbaikinya.
"Kalau begitu, Mbak Rhea juga kenal ya sama suami Trisna. Ah iya, dia salah satu kabag juga. Kayaknya Mbak Rhea juga lihat pas rapat besar kemarin," sambung Tono. Rasa penasaran yang masih tertinggal itu diselesaikan sepenuhnya oleh Tono.
"Ya kenal, sangat kenal malah," jawab Rhea dengan senyuman. Bukan senyuman yang menggambarkan kebahagiaan karena mengingat kenalan, tapi sebuah senyum kecut yang terasa sangat pahit.
Degh!
Tono tersentak melihat ekspresi wajah Rhea ketika berkata demikian. Wajah itu menjadi muram. Meski senyum menghiasi bibirnya tapi aura yang dimunculkan adalah sebuah kesedihan.
Tring
Pintu lift terbuka. Suasana yang cukup sesak di rasakan Tono mendadak hilang. Wajah Rhea yang tadi muram kini sudah kembali normal.
"Ayo Pak Tono," panggil Rhea yang sudah berjalan lebih dulu.
Tono yang tadi sempat terpaku sejenak mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan. Dia lantas menyusul Rhea dan masuk ke ruangan Nayaka bersama.
Hanya lima menit suasana tidak nyaman itu berlangsung, ketika di ruangan sang atasan semuanya kembali menjadi serius karena sebuah pekerjaan. Bahkan waktu yang bergulir cepat pun sama sekali tidak terasa.
"Bos, maaf menyela. Sudah waktunya ISHOMA," ucap Tono setelah melihat jam yang ada di ponselnya.
"Ah iya, ya udah ayo makan siang. Kalian berdua ikut aku."
YES!
Tono bersorak senang mendengar ajakan makan siang dari Nayaka. Itu berarti mereka pasti akan makan enak.
Rhea yang sudah mulai terbiasa mengikuti alur Nayaka, langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan bersama dengan Tono. Beberapa hari bekerja di kantor LT, dia memiliki banyak hal yang dipelajari dari Tono perihal atasannya tersebut.
"Mau makan dimana Pak Bos? tanya Tono.
"Bebas, kalian mau dimana aku ikut aja kali ini," jawab Nayaka.
Wajah Tono full senyum. Dia yang sangat ingin makan nasi padang langsung merekomendasikan salah satu rumah makan padang.
"RM Malam Senja ya pak Bos, enak banget tuh. Dah lama pengen nyobain," ujar Tono.
Nayaka langsung melirik tajam. Rumah makan padang yang disebutkan Tono adalah rumah makan yang lumayan terkenal dengan harga yang lumayan. Bagi Nayaka tentu tidak masalah.
"Pinter banget kamu milihnya," sahut Nayaka.
Tono hanya terkekeh geli. Dia juga mengusap tengkuknya pelan.
Mereka bertiga berjalan bersamaan dengan formasi seperti biasa yakni Nayaka didepan dan Tono bersama Rhea berada di belakang.
Sepanjang mereka berjalan menuju ke tempat parkir, semua mata karyawan tertuju kepada tiga orang itu. Semua karyawan LT tahu bahwa Nayaka memiliki paras yang rupawan. Gabungan darah Indonesia dan luar negeri tertampak jelas. Tono yang merupakan tangan kanan dari Nayaka pun juga memiliki wajah yang teduh, dan pastinya tampan. Sedangkan Rhea, ternyata wanita yang kini jadi tangan kedua bos itu juga tidak kebanting dengan visual dua orang lainnya.
"Bu Rhea bisa cantik banget gitu ya? Dah bikin iri banget bisa jalan di belakang Pak Nayaka."
"Iya ih, impian banget nggak sih bisa deket gitu. Mana konon kabarnya pertama kali kerja langsung ke Eropa lagi."
"Iya kah, serius?"
Bisik-bisik para karyawan ketika Rhea berjalan bersama Nayaka dan Tono terus saja dilakukan sampai ketiga orang itu keluar dari gedung lalu masuk mobil.
Luar biasanya lagi, apa yang dikatakan para karyawan membuat seseorang menatap tajam. Orang itu adalah Trisna, dia tadi tak langsung pulang, namun juga tak berada di ruangannya. Entah apa yang dilakukan, hanya saha ketika Rhea keluar, ia mengikutinya dengan jarak aman tentunya.
Wajah Trisna memerah, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal erat.
"Kenapa dia selalu mendapatkan hal yang lebih dari aku," geramnya.
Trisna berjalan cepat, ia berdiri di depan lobi perusahaan sambil menatap mobil Nayaka yang menghilang diujung jalan.
TBC
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭