Tak pernah aku sangka, kalau dendam yang aku miliki akan membuat aku terjerumus pada cinta laki laki yang menjadi alat balas dendamku.
Pusara dendam yang aku jalani membuatku terikat kuat oleh laki laki milik wanita yang membuat dendamku membara.
Di saat aku memutuskan pergi setelah semua dendam terbalaskan, kakiku malah terikat kuat dan tidak bisa melangkah walaupun satu langkah.
yuuk ikuti ceritanya.....!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeny chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. kembali pulang........
Setelah urusan selesai, Eduardo langsung membawa Zavina menuju Bandara karena Jet pribadinya sudah menunggu dan seperti biasa terjadi derama pamitan ala Zavina yang membuat Eduardo langsung membawa paksa Zavina.
"Kamu jahat tau. "
protes Zavina saat Eduardo berhasil membawa masuk Zavina kedalam mobil.
"Kamu yang jahat membuat suami sendiri cemburu, sudah jangan bahas lagi derama kamu itu karena Pesawat satu jam lagi take off. "
jawab Eduardo dan Zavina hanya memanyunkan bibir nya tanpa mau menjawab ucapan suaminya.
Zavina sedang memeluk Narendra dengan tangisannya, Eduardo yang cemburu pun langsung melepas paksa pelukan keduanya dan membawa Zavina masuk kedalam mobil tanpa mendengar protes dari Zavina.
Perjalanan hanya dua puluh menit akhirnya tiba di Bandara, Eduardo langsung menggandeng Zavina setelah Zavina keluar dari mobil, Zavina yang masih marah pun hanya cemberut tanpa mau berbicara dengan suaminya.
Tidak lama berada di dalam pesawat akhirnya langsung take off menuju tanah air, Zavina langsung terlelap dan membuat Eduardo tersenyum lalu membenarkan kepalanya agar tidak sakit.
"Sepertinya ada yang salah dari kamu Zavina, setelah mendarat kita ke rumah sakit periksakan karena aku khawatir dengan kamu yang selalu tertidur bahkan sangat pulas. "
gumam Eduardo sambil mengusap kepala Zavina penuh sayang dan mencium kening nya.
Eduardo langsung duduk kembali setelah menyamankan posisi tidur Zavina, Eduardo hanya diam menatap langit langit Jet pribadinya karena dia tidak merasa kantuk sama sekali dan saat akan membuka dokumen perusahaan pun Eduardo merasa malas dan memilih diam saja kadang sesekali melirik ke arah Zavina yang tertidur begitu pulasnya.
.
.
Di negara J saat ini......
Narendra sedang mendengar penjelasan lebih rincinya dari Davin dan kadang Asistennya Eduardo pun membantu menjelaskannya.
Davin senang karena Narendra begitu cerdas dan langsung mengerti dengan semua penjelasannya.
"Intinya kalau Tuan Narendra ragu menandatangani berkasnya setelah mempelajarinya, langsung hubungi saya dan nanti saya akan membantu mempelajarinya. "
jelas Davin di akhir penjelasannya.
"Terimakasih karena kalian berdua sangat membantu sekali dan semoga saya dapat menjalankan amanah dengan benar, tidak mengecewakan Zavina. "
ucap Narendra dan kedua asisten itu mengangguk.
"Ini kunci rumah untuk Tuan dari Tuan Eduardo, Tuan tidak menghinakan rumah Anda tapi rumah ini lebih dekat jaraknya dengan perusahaan dan Anda bisa segera membawa tunangan Anda yang hanya tinggal di kontrakan kecil, Anda di beri wewenang untuk memperkerjakan Tunangan Anda bila berkenan. "
ucap Asisten Eduardo dengan memberikan sebuah kunci oada Narendra.
"Mereka baik sekali sama saya, padahal saya tidak ada ikatan apapun dengan mereka hanya saya menjadikan Zavina seperti adik sendiri. "
ucap Narendra saat menerima kunci rumahnya.
"Tuan Eduardo akan sangat baik kalau memang Anda baik tapi akan menjadi iblis kalau Anda berani mengkhianatinya, baru kali ini Tuan mempercayakan bisnis pada seseorang yang baru di kenalnya dan jangan menghancurkan kepercayaannya, pasti Nona Zavina juga akan ikut kecewa. "
ucap Asistennya Eduardo dan Narendra mengiyakannya.
"Mudah mudahan saya bisa mengemban tugas ini dan tidak melakukan kesalahan apapun, saya merasa berharga jadinya karena di percayai. "
ucap Narendra dan kedua Asisten itu mengangguk.
"Kami berdua akan meninggalkan negara ini dua hari lagi, jadi gunakan waktu itu Tuan untuk menanyakan apapun yang tidak Tuan mengerti. "
ucap Davin dan Narendra mengiyakannya.
Ketiganya kembali sibuk dengan berkas dan pekerjaannya, Narendra tidak terlalu kesulitan karena memang dia juga bekerja dengan setumpuk berkas sebagai manager di sebuah perusahaan.
.
.
Di tanah air saat ini......
Pesawat yang di tumpangi Zavina dan Eduardo akhirnya mendarat sempurna di Bandara, Zavina sudah membuka matanya dan mengeluh lapar perutnya, Eduardo langsung membawa Zavina menuju restoran yang tidak jauh dari Bandara.
"Kita ke rumah sakit yaa Sayang, aku khawatir sama kesehatan kamu karena akhir akhir ini kamu selalu mengantuk padahal tanpa minum obat tidur dan juga gak beraktifitas berat kan. "
ucap Eduardo dan Zavina pun menggelengkan kepalanya karena memang dia merasa tidak ada yang aneh dengan tubuhnya saat ini.
"Aku gak sakit dan aku lelah itu karena ulah kamu loh. "
ucap Zavina dan Eduardo hanya menghela nafasnya tanpa mau menjawab pertanyaan Zavina.
Tiba di restorannya, Eduardo langsung membawa Zavina masuk lalu memesankan makanan nya karena Zavina meminta Eduardo memilihkan makanannya.
"Besok kita total istirahat di rumah, aku gak akan mengganggu kamu dulu dan aku juga gak akan bekerja di rumah. "
ucap Eduardo setelah memberikan pesanannya pada pelayan.
"Aku gak yakin kamu gak akan mengganggu aku. "
ucap Zavina dengan tatapan tak percayanya dan membuat Eduardo tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Yasudah kalau gak percaya, aku buktikan sama kamu besok yaa. "
ucap Eduardo dan Zavina hanya mendelik saja tanpa mau menjawabnya.
Tak banyak menunggu waktu lama akhirnya pesanan makanan dan minuman pun datang, pelayan langsung menata nya di atas meja dan Zavina begitu berbinar melihat makanan yang ada di hadapannya karena dia tahu Eduardo sangat ahli memilihkan makanan jadinya Zavina meminta Eduardo yang memesankannya.
"Ayo makan jangan hanya di lihat, kalau masih kurang nanti aku pesankan lagi. "
ucap Eduardo yang mendekatkan piring berisi makanan Zavina ke hadapan Zavina.
Zavina langsung menyantap makanannya begitu lahap, bahkan sesekali eduardo mengelap makanan yang menempel di sudut bibir Zavina.
Eduardo memakan makanannya sambil sesekali melirik ke arah Zavina yang membuatnya gemas karena tingkah makan Zavina malah seperti anak kecil baginya.
"Zavina kehadiran kamu membuat kehidupan aku lebih berwarna dari sebelumnya. "
gumam Eduardo dalam hatinya dan membuat Zavina mengerutkan keningnya karena suaminya malah terlihat melamun sambil menatapnya.
"Kenapa gak di makan?? Aku takut melihat tatapan kamu itu loh. "
tanya Zavina yang merasa penasaran dengan tatapan suaminya.
"Takut kenapa coba?? Aku hanya senang menatap kamu yang sedang makan lahap dan menjadi kenyang ke akunya loh. "
jawab Eduardo dan Zavina hanya menghela nafasnya sambil melanjutkan kembali makannya.
Setelah makan selesai Eduardo langsung mengajak Zavina untuk pulang, terjadi lagi setelah di dalam mobil Zavina langsung terlelap dan Eduardo terus mengusapnya membawa kepala Zavina untuk di dekap di dadanya.
Eduardo tidak akan memaksa Zavina untuk di periksa karena kalau di paksa tidak akan benar dan takutnya menjadi masalah nantinya.
Tiba di kediamannya, Eduardo menggendong Zavina kembali menuju kamar nya dan meminta pelayan jangan mengganggunya karena Eduardo juga akan istirahat.
"Jangan ganggu saya dan istri saya, walaupun ada tamu yang datang bilang besok datang lagi atau hubungi Asisten saya untuk membicarakannya. "
titah Eduardo kepada kepala pelayan dan kepala pelayan mengangguk patuh.
Eduardo menuju kamar nya dan merebahkan tubuh Zavina di atas ranjang, bahkan Eduardo membuka sepatu di kaki Zavina dan melepaskan blezer yang menempel di tubuh Zavina.
.
.
Bersambung.......
mau mau minuman yang putih kental darimu....
🤣🤣🤣🤣🤣