Menikah muda, suami yang suka KDRT, hidup serba kekurangan dan tidak diterima keluarga mertua dengan baik adalah mimpi buruk Nastya di kehidupannya saat ini. Mau melangkah mundur juga nasi sudah menjadi bubur, mau terus melangkah maju tapi rasanya sudah tak sanggup. Bahkan jalan di tempatpun terasa sangat menyakitkan.
Bagaikan salah menerima skenario hidup dari Takdir Tuhan, hidupnya bagai raga tanpa jiwa, terasa kosong.
sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi tetap saja selalu salah.
Jika boleh memilih, bolehkan ambil saja nyawaku Tuhan untuk di kehidupan sekarang ? Lalu aku mohon ganti skenario kehidupan untukku di dunia mendatang. Agar aku bisa merasakan bahwa Takdirmu untukku itu Adil.
"Byurrr" tubuhnya masuk ke dalam sungai besar setelah menjatuhkan diri dari jembatan besar di kota itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacamata Coklat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Bye Cikita
Sudah tiga bulan lamanya Nastya bekerja dengan job ganda. Menjadi baby sitter Cikita dan baby sitter Hamish, eeehh salah, maksudnya sekretaris Hamish. Tapi jika di lihat memang seperti baby sitter Hamish, Nastya benar - benar memperhatikan Hamish. Mulai dari sarapan pagi, membenarkan baju yang berantakan, jadwal-jadwalnya hingga malam hari, bahkan setiap hari selalu di tutup dengan bertukar cerita tentang apa saja sebelum Nastya pulang ke rumah. sehingga tanpa Nastya sadari ada sedikit celah di hati Hamish yang sudah terisi oleh Nastya.
Perhatian Nastya pada putri kecilnya dan dirinya, seakan memberi warna baru. Menghangatkan jiwanya yang sempat dingin, keberadaan Nastya di sisinya bagai candu.
"Hari ini Ibu Helena sudah mulai masuk kerja Tuan. Kemungkinan Nona Nastya saya pindahkan ke bagian pemasaran. Sesuai dengan kemampuannya saat awal apply pekerjaan. Dan jadwal Tuan hari ini adalah...." Gavin memberi penjelasan panjang lebar tentang jadwal dan informasi hari ini, namun mendengar Nastya akan di pindahkan membuatnya melamun sehingga tidak mendengar lagi suara Gavin.
"Tuan? Tuan ?," melambai - lambaikan tangannya di depan wajah tuannya yang melamun dengan tatapan kosong.
"Eh ?" Tersadar dari lamunannya lalu meraup wajahnya kasar, "apa sudah ada baby sitter yang baru?" Nadanya terdengar frustasi.
Memang selama tiga bulan besama Nastya. Cikita sempat 5 kali berganti baby sitter, namun bayi itu seakan menolak semuanya dan berakhir kembali ke Nastya lagi. Seakan Nastya adalah pengasuh yang dipilih Cikita sendiri.
"Hari ini akan datang lagi baby sitter yang baru Tuan dan langsung menuju ke rumah." Gavin meletakkan ipad-nya dan duduk di depan bos sekaligus sahabatnya itu.
"Ada apa lagi bro ?"
"Apa Cikita mau dengan pengasuh selain Nastya ?" Menyandarkan punggungnya di kursi dan memejamkan matanya. "Dia adalah hal terindah yang aku miliki. Aku takut mentalnya terganggu karena terlalu sering berganti baby sitter."
"Mau nyobain saranku tidak? Biar tidak ganti - ganti baby sitter lagi?"
"Apa ?" Membuka matanya lalu menatap Gavin dengan serius.
"Nikahi Nastya, beres masalah !", Gavin tertawa puas melihat wajah kesal Hamish.
"Selamat pagi Tuan Hamish dan Gavin, bagaimana kabarnya hari ini?" Sapa Helena, sekretaris Hamish yang baru saja cuti melahirkan.
"Baik," jawab Gavin dan Hamish bersamaan.
"Selamat ya, atas kelahiran putramu, semoga selalu berbahagia dan sehat." Ucap Hamish.
"Amiin. Terima kasih tuan," tatapan Helena pada Hamish tidak berubah sejak dulu, selalu dengan tatapan kagum.
"Kamu datangi Nasty, dia akan serah terima tugas denganmu ya Hel, dia yang menggantikanmu selama cuti." Hamish beranjak dan menyambar jasnya yang di gantung. "Aku mau lihat Cikita dulu, sisanya kau urus Vin." Dan di balas acungan jempol oleh Gavin.
Saat melewati ruangan sekretaris, dia melihat Nastya sedang berbenah. Hamish menatap sekilas lalu melanjutkan langkahnya lagi.
Setelah Hamish pergi, Nastya menatap Hamish melalui dinding kaca ruangannya, dalam hatinya pun sedih harus berpisah dengan malaikat kecil cantik yang sudah memberi warna pada hidup Nastya 3 bulan terakhir. "Bye Cikitaku sayang, semoga kamu cepet dapat pengasuh yang sesuai, sayang kamu dan awet ya," Nastya tertawa kecil mengingat betapa rewelnya Cikita ketika menyeleksi baby sitter baru, ujung - ujungnya mereka mengundurkan diri padahal baru 2 - 3 hari. Lalu Nastya lagi yang turun tangan. Nastya juga iba dengan Hamish, padahal dia CEO perusahaan besar tapi demi anaknya, dia rela melakukan semuanya sendiri. "i love you Cikita."
...****************...
6 bulan berlalu..
Kini Nastya dan Hamish sama - sama sibuk dengan kehidupannya masing - masing.
Sepak terjang Nastya di unit pemasaran sungguh cemerlang. Banyak yang mengandalkannya, tak jarang dia sering melakukan dinas luar kota bahkan luar negeri.
Seperti pepatah, "Cinta tumbuh karena terbiasa bertemu". Begitulah yang dirasakan Nastya saat ini.
pria yang bernama Rudy Djoko Pamungkas. Merupakan rekan kerjanya yang memiliki ketrampilan pemasaran yang tidak perlu di ragukan lagi. Pria lulusan Universitas ternama luar Negeri itu begitu piawai memberikan rasa nyaman pada Nastya. Menghilangkan rasa trauma pernikahannya yang pertama dengan menghujani Nastya penuh cinta, limpahan kasih sayang juga perhatian.
Hingga akhirnya, mampu meluluhkan hati Nastya yang mau membuka hatinya lagi untuk makhluk yang bernama Lelaki. Mau membuka lembaran barunya lagi dalam ikatan pernikahan.
Tidak ada salahnya mencoba lagi, meski terkesan terlalu cepat mengingat tanggal ketok palu perceraiannya dengan Tommy sekitar 1 tahunan yang lalu. jika pernikahan pertamanya penuh dengan air mata dan derita, semoga pernikahan keduanya Tuhan mau berbaik hati memberikan suratan takdir dengan sejuta keindahan di dalamnya.
"Bu Helena," sapa Nastya dengan ramah.
"Haiii Nastya," balasnya tak kalah ramah lalu mencium pipi kanan dan kiri Nastya.
"Bagaimana kabar Cikita Bu ?"
"Aah baik, baik banget. Sehat, ceria pokoknya bahagia banget deh. Sudah bisa jalan kan jadi aktifnyaa, ampun - ampun deh." Senyum Helena terus tersungging di bibirnya selama bercerita penuh semangat.
"Waa syukurlah, dia cocok banget dengan Bu Helena. Padahal sebelumnya kan ganti Baby sitter terus ya bu?"
"Beneer bangeet Nas, oiya doain juga dong," menatap kanan kiri untuk memastikan tidak ada yang mendengar, " Doain Ayahnya Cikita juga cocok sama saya ya, saya lagi pendekatan nih sama Tuan Hamish. hehehe" tertawa pelan. Membuat Nastya mengerutkan keningnya.
"Maaf Bu jika saya lancang, tapi saya pikir Ibu sudah bersuami karena kemarin cuti melahirkan." Tanyanya dengan hati - hati, takut menyinggung. Tapi bukannya tersinggung, Helena malah tertawa, lalu mendekatkan bibirnya di telinga Nastya.
"Saya belum menikah Nas, Anak yang saya lahirkan kemarin juga membuat saya bingung, papanya yang mana, saya juga tidak tahu." Dengan santainya bisikan itu keluar dari bibir Helena, seolah bukan aib yang memalukan.
"Ooohh.. iya Bu, semangat, semoga berhasil," hanya itu yang mampu keluar dari Nastya, karena dia juga enggan mencampuri urusan orang lain terlalu dalam.
"Nanti kamu pasti saya undang deh ke pernikahan saya kalau berhasil, ahahahha" lagi, Helena tertawa senang.
"Terima kasih bu. Oiya, saya akan menikah bu, jika tidak keberatan, saya berharap ibu bisa datang."
"Oiya? Dengan siapa ?"
"Mas Rudy Djoko Pamungkas Bu, bagian pemasaran juga," Sontak jawaban Nastya tadi membuat Helena terkejut namun secepat mungkin dia sembunyikan.
"Baiklah, nanti taruh undangannya di meja sekretaris yang baru ya, Clarissa namanya. Oke, saya duluan ya, bye." Helena melangkah keluar gedung dengan penuh percaya diri dan angkuh, di depannya sudah menunggu mobil mewah berwarna hitam yang khusus digunakannya selama menjadi pengasuh Cikita. Dia bahkan tak menyapa karyawan lainnya. dia merasa derajatnya jauh lebih tinggi. Kecuali dengan Nastya, karena informasi dari Nastya-lah dia kini bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan menjadi pengasuh Cikita.
Tiing... suara pintu lift terbuka. Ingatannya mundur ke enam bulan yang lalu dimana dia hampir menghabiskan semua waktunya di lantai 25.
Sambil tersenyum, Nastya melangkah ke ruangan sekretaris dengan memainkan ponselnya yang sedang menerima chat dari calon suaminya, tiba - tiba...
Bruukk...tubuhnya menabrak dada bidang seseorang yang lebih tinggi darinya, tanpa sengaja undangan yang dia bawa terjatuh di lantai, belum sempat menengok siapa yang dia tabrak.
Pria pemilik dada bidang itu secepat kilat memungutnya dari lantai dan membacanya. Undangan pernikahan Nastya berbentuk board card tebal. Satu sisi berisi nama tamu yang di undang, disitu tertulis nama Helena Ayun Kirana dan sisi lainnya berisi informasi calon pengantin, tanggal juga alamat acara resepsinya.
"Pak Hamish, maaf saya tidak sengaja," Nastya membungkukkan badannya lalu memberanikan diri menatap sang CEO Orlando Corp.
Namun, tubuhnya meremang, tatapan tajam dan dingin dari Hamish seperti ingin mengulitinya hidup - hidup. Di tatap seperti itu oleh Pak bos cukup lama, Nastya jadi salah tingkah. Tubuhnya merinding.
"Ini sih lebih serem dari pada kuburan yang mayatnya bangkit lagi."
gak sabar pingin tahu kenapa Roger menipu...