Cinta dalam perjodohan yang sudah asing di telinga kita di era jaman serba modern ini. Tapi tidak untuk kehidupan Tsania kebahagiaan akan kelulusannya di warnai duka karena perjodohan dari keluarganya.Dengan lelaki misterius tanpa ia kenali, dan kejutan di hari pernikahannya yaitu lelaki misterius itu adalah guru favoritnya di sekolahan.Tsania begitu bahagia.Karena perjodohan ini tidak begitu menyeramkan.Tapi belum bisa menikmati pernikahannya dia di landa gelisah karena sang kekasih hati yang ia tinggalkan tanpa kabar itu,mengetahui dan sakit hati.Demi menjaga perasaan sang guru dia dan sang kekasih hati menutup rapat-rapat cinta di masa lalunya.Akankah Tsania kembali dengan sang kekasih hatinya? ataukah menata cintanya dengan sang gurunya? Yuk ikuti novel ini sampai selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyah Nur khudlriyyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTEMU KELUARGA BESAR
Setelah dari taman aku dan pak Zan segera ke caffe untuk mengisi perut yang sudah kosong ini.
"Sayang? kamu gak ke toilet dulu?kamu kelihatan pucat sekali"
"Iya, anterin ya? "
"Kan khusus cewek mana bisa kakak nganterin"
"Ya tunggu aja di depan"
"Iya deh apa sih yang enggak buat kamu"
Tak lama kemudian aku keluar dari toilet mencuci muka dan merapikan baju dan jilbab yang sempat berantakan.
"Kakak? "
"Iya sayang" pak Zan gelagapan menjawab panggilan ku yang sedang asik bermain game di gadget nya.
"Yuk, let's go "
"Siap komandan cantikku" jawabnya dengan merangkulku dari samping.
"Cie sekarang udah bisa jadi budak cinta ya? aman kita sekarang Taf" tiba-tiba adik kembar pak Zan menggoda sang kakaknya karena toilet cowok berada di depan toilet cewek.
Dan mereka berlalu meninggal kan aku dan pak Zan setelah berhasil menggoda kakaknya.
"Awas aja kalau ketemu di rumah...!!!" teriak pak Zan pada adik kembarnya yang sudah berlari di depan meninggalkan senyuman kemenangan.
" Udahlah kak biarin"
"Iya sayang"
"Tsania pikir kakak selalu akur dengan adik-adik kakak karena image kakak yang lemah lembut saat mengajar"
"Pencitraan ajalah Tan" jawabnya singkat karena wajahnya masih terlihat di tekuk.
"Gantengnya ilang lho kalau masih ngambek" godaku.
"Udah ni... udah... " pak Zan menempelkan kedua jarinya ke pipi dan memasang senyum palsunya.
"Iya ganteng banget sayangkuuuu" ku cubit hidung nya yang mancung itu dan berlari meninggalkannya.
"Awas ya kalau ketangkep gak tak kasih ampun" goda pak Zan dengan senyum bahagianya.
"Hahahah... Tangkep aja kalau bisa... wek... " ku julurkan lidahku menggoda pak Zan yang sudah siap mengejarku.
Dan aku terus berlari meninggal kan pak Zan yang sudah siap ingin memangsaku.Dan tepat di depan cafe pak Zan menangkapku dan menggelitik ku tanpa ampun.
"Ampun kak... udah... geli....hahaha... udah kak" tawaku menghindari gelitikan tangannya.
"Ehem.... cie si bucin " goda si kembar menghentikan aksi pak Zan.
Karena semua mata yang sedang sarapan memandang ku dan pak Zan.Terlebih keluarga besar pak Zan dan keluargaku memandang dengan mata sedikit genit dan senyuman menggoda.
"Wuah kita jadi tontonan mereka, kakak sih" bisikku pada pak Zan ke telinganya.
"Udah nggak apa-apa"
Dan pak Zan meninggalkan ku sendiri di depan cafe.Dia asyik menjitak satu persatu adik kembarnya dan di rangkul masuk ke dalam. Aku hanya bisa menggaruk kepala karena saking malunya mengikuti pak Zan di belakangnya.
"Ini nih biang keroknya " ucap pak Zan
"Ampun kak, ampun kak" si kembar yang mulai meringis saat di jitak oleh sang kakak.
Aku melempar senyum dan sedikit membungkuk saat keluarga pak Zan menatapku.
"Ayo nak sini sarapan " sapa bude Lasmi kakak ibu mertua yang dari kalimantan.
"Iya mbak Tan udah siang ini, ayo isi energimu lagi biar bisa kuat lagi melawan si bucin baru itu. Hahahahha" goda om Indra adik ibuk mertua.
"Iya pengantin baru kan harus selalu kuat" tambah bulek Wiwik istri om Indra
"Hah? "
Pak Zan menghentikan aksinya dan terkejut dengan ucapan pamannya.
"Apaan sih...." pak Zan yang sewot menarik tanganku dan segera mengambil piring mencari makanan yang di sukai tak menghiraukan godaan keluarganya.
"Kamu mau makan apa sayang? "
"Nasi goreng aja deh kak,sama juz jambu"
"Ok aku ambilin ya? "
"Iya, aku tunggu di sana ya kak? " sembari menunjuk di meja pojok yang masih kosong dan dekat dengan kaca yang bisa melihat langsung pemandangan di luar.
"Iya sayang"
Aku berlalu dan segera mengambil kursi untuk duduk di tempat yang sedikit sepi menghadap ke arah luar, yang memperlihatkan pemandangan jalanan kota yang sudah ramai sekali dengan kendaraan lalu lalang dengan tujuan masing-masing.
"Tsania? " Fulan menghentikan lamunanku.
"Eh, Fulan "
"Kok ngalamun aja? gak sarapan? "
"Udah di ambilin pak Zan kok"
"Wuah sekarang pak Zan jadi bucin baru ya? " Fulan terkekeh mendengar ucapanku.
"Hust, jangan sampai pak Zan denger bisa marah dia" aku segera menutup mulut Fulan dengan tanganku agar Fulan tak melanjutkan ucapannya.
"Lho, kenapa?emang kenyataanya begitu kan?"
"Udah, gak usah di lanjutin nanti pak Zan denger kamu bisa di usir dari sini"
"Hahahah, iya-iya. Wuah bisa nih nanti" gumam Fulan
"Eh, jangan aneh-aneh kamu" bentakku pada Fulan yang mulai kumat kejailannya.
"Lan?"
"Kenapa lagi?gitu aja ngambek pak Zan aja belum tentu marah"
"Bukan pak Zan, Lan"
"Terus kenapa lagi? "
"Arnold, Lan"
"Udah lah Tan ngapain kamu masih mikirin dia"
"Tapi Lan, semalem dia jatuh sakit.Dia hampir depresi lho... "
"Kamu tau dari mana? "
"Pak Zan "
"Nak Tan? " tante Wiwik dan bude Lasmi menghentikan obrolanku dengan Fulan.
"Sarapan yang banyak ya? biar nanti bisa lanjut lagi" sahut bude Lasmi .
"Iya bude" aku mengkerutkan keningku dan melirik Fulan yang sudah menahan tawanya
"Para emak-emak jangan pada julid ya? " tiba-tiba pak Zan datang membawa nampan yang sudah berisi makanan.
"Eh Irul, gimana nih? " goda bude Lasmi
"Apanya?udah ah sana pada minggir Irul mau sarapan dulu" pak Zan menaruh nampan tanpa menghiraukan pertanyaan mereka.
"Iya deh makan yang banyak biar kuat. Ckckckck.... " gelak tawa tante Dewi dengan mencolek dagu pak Zan.
"Tante....!!! " teriaknya dengan sewot
"Iya-iya kita pergi kok, kamu gak ikut pergi dek nanti jadi obat nyamuk nyesel lho? " imbuh tante Dewi lagi menunjuk ke Fulan.
"Iya tante" Fulan menunduk menahan tawanya.
"Udah biasa buk jadi obat nyamuk " gumam Fulan saat para emak-emak sudah pergi menjauh.
"Hah? "
Aku segera menutup mulut Fulan agar pak Zan tak bertanya-tanya lagi.
"Nggak kok pak,biasa lah Fulan si julid juga kayak tante ma bude"
"Maaf ya sayang, mereka emang julid sekali"
"Nggak apa-apa kok Tsania suka, Tsania pikir kemarin mereka itu judes, galak, sombong ternyata humoris dan baik hati"
"Hah?suka? mereka super julid lho apalagi kalau ada si kembar tambah ricuh pokoknya dan itu belum seberapa Tan kalau semua keluarga sudah kumpul apalagi dengan adik-adik papah mereka lebih julid lagi. Siap-siap aja kamu mati kutu karena keisengan mereka"
"Itu tandanya mereka sayang kak" ku rangkul lengannya dan ku buat sandaran kepalaku tuk menenangkan hatinya yang sempat gundah memikirkan ku.
"Makasih ya sayang kamu memang yang terbaik deh" usap lembut pak Zan di ujung kepalaku.
"Justru aku yang terimakasih kak, karena kakak selalu ada untuk ku"
"Ehem.... aku ini orang lho bukan patung" Fulan protes dengan cemberut
"Eh, iya-iya maaf deh" ku lepas rangkulanku ke pak Zan dan segera memeluk Fulan yang duduk disebelah kiriku.
"Apa perlu Fulan tak jadiin istriku aja biar kalian bisa selalu bersama tidak ada yang saling jadi obat nyamuk? " usul pak Zan.
Aku dan Fulan saling melempar pandangan dan langsung beraksi. Aku menjewer telinga kiri pak Zan dan Fulan menjewer telinga kanannya.Ya meski pak Zan adalah guru tapi aku dan Fulan sering bercanda bertiga ketika bertemu membahas suatu kerjaan.
Pak Zan sering banget bilang kalau lagi membahas kerjaan dan di luar sekolah, anggap saja seperti teman.2 tahun silam pak Zan menunjukku dan Fulan untuk mengikuti lomba desainer baju muda berbakat di salah satu mall karena sering banget melihat aku dan Fulan menggambar baju-baju yang lucu dan unik ya tepatnya aku menggambar dan Fulan menjahitnya. Karena mendapat juara 3 sejak itu aku dan Fulan sering bertemu pak Zan secara diam-diam tanpa di ketahui murid dan guru-guru lainnya. Pak Zan selalu mengajakku dan Fulan les private menjahit dan menggambar baju agar bisa lebih bagus lagi dalam bidang itu.Karena di sekolahan tidak ada mata pelajaran itu. Setiap kali ada event-event pak Zan selalu mengajak bertemu bertiga dan sejak itu menjadi lebih akrab lagi.
"Pak Zan...!!! " teriakku dan Fulan.
"Ampun...!!! " rintih pak Zan kesakitan.
"Kakak masih disini? " suara lembut Laili menyudahi aksiku dan Fulan.
Dan bukan ada Laili semata melainkan ada Arnold juga yang menghampiriku.
"Ayo sini Lel, Nold kita sarapan bareng" ajak pak Zan yang melihat Arnold membawa nampan yang sudah berisi makanan. Arnold dan Laili duduk persis di depanku.Mata lelah dan sembabnya terus menatapku dengan tatapan tajam aku hanya bisa menunduk menyesali kesalahanku.
Mengapa di saat aku mulai belajar ikhlas dia selalu datang lagi, seakan menggali kenangan yang sudah hampir terkubur. Aku lelah dengan hatiku yang mulai goyah ini. Ya Rabb mohon petunjuk-Mu.
Satu kata utk Fauzan EGOIS
satu kata untuk Stania BODOH
Duh Arnold datang tuh gimana ini??nyesek aku😭😭😭😭😭