Karya Ini Merupakan Karya Jalur Kreatif
Akibat membunuh anak dari gangster kelas kakap yang menyandera pengunjung pusat perbelanjaan, Matthew Dean justru dijatuhi hukuman penjara dan di pecat secara tidak terhormat dari kepolisian.
Lebih tragisnya, saat Matthew berada dipenjara. Mark yang merupakan ketua gangster, membantai keluarga Matthew dan merekam setiap kekejaman yang ia lakukan. Dia mengirim rekaman tersebut pada Matthew yang membuat pria itu murka.
Niat balas dendam pun muncul. Dengan bantuan Narapidana yang lain, dia berhasil kabur. Dia mulai merubah penampilannya dan melancarkan aksi balas dendam nya dengan mendekati putri Mark yang bernama Audrey. Tapi di luar dugaan, Audrey mempunyai sifat yang berbeda dengan ayahnya. Dan hal itu membuat Matthew ragu untuk menggunakannya sebagai jalan balas dendam.
Apakah Matthew berhasil membalaskan dendamnya? lalu bagaimana dengan hubungan Matthew dan Audrey setelah ia tahu jika Matthew hanya memanfaatkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzlan Airey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Matthew mengajak Audrey untuk pergi. Dia tahu jika suasana hati sang kekasih sedang tidak baik-baik saja. Apalagi peristiwa yang baru saja terjadi pasti membuat wanita itu takut .
Terlihat dari cara wanita itu memeluknya. Dia merasakan jika pelukan Audrey sangat erat. Tapi ia tidak mempermasalahkan hal itu. Untuk itu dia akan membawa Audrey ke suatu tempat yang akan membuat wanita itu merasa senang.
"Kita sudah sampai," seru Matthew setelah menghentikan motornya
"Sampai?" Audrey menegakkan kepalanya dan melihat sekitarnya, "pantai," lirihnya.
"Ayo kita turun!!!"
Audrey turun terlebih dahulu di susul Matthew . Pria itu lalu menarik tangan Audrey dan membawanya mendekati bibir pantai.
Walaupun siang hari, tapi cuaca hari itu sedikit mendung. Di tambah angin yang berhembus cukup menyejukkan. Matthew berdiri di belakang Audrey dan menggenggam kedua tangan wanita itu. Ia merentangkan kedua tangan mereka dan meminta Audrey untuk memejamkan matanya.
"Coba kau rasakan!! Bukan kah di sini sangat menenangkan?"
Audrey mengikuti apa yang Matthew katakan. Dia memejamkan matanya dan mencoba merasakan hembusan angin yang begitu menyejukkan. Apalagi di sana sepi, tidak ada satupun pengunjung yang datang. Hanya terdengar suara deburan ombak yang menghantam batu karang.
"Apa kau sudah merasa tenang?" tanya Matthew
Audrey membuka matanya dan mengangguk pelan. "Iya, aku sedikit lebih tenang. Tapi ngomong-ngomong kenapa di sini sepi sekali?" tanya Audrey
Matthew memeluk Audrey dan menopang dagunya di bahu wanita itu. "Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin karena ini bukan hari libur atau mungkin juga permainan bisnis. Entahlah."
"Oh ... " Audrey kembali menatap ke depan, dimana terbentang lautan luas. Selama ini dia hampir tidak pernah pergi berlibur. Bukan karena ia tidak mampu, tapi sangat tidak menyenangkan berlibur seorang diri.
Ibunya sudah meninggal. Begitu juga dengan kakak laki-laki nya. Kini hanya tinggal dirinya dan sang ayah. Tapi ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaan dan juga organisasinya.
Ingin mengajak orang lain pun percuma. Dia tidak mempunyai teman satupun. Semua orang takut pada ayahnya.
Tapi sekarang, dia mempunyai seseorang yang selalu ada untuk nya. Orang yang selalu membuatnya berdebar dan tersenyum setiap harinya. Namun walaupun begitu rasa takut itu tetap ada. Apalagi ia baru saja mengalami hal yg membuatnya sedih sampai sekarang.
"Kenapa kau diam, hm? Apa yang kau pikirkan?" tanya Matthew
"Tidak ada. Aku hanya merasa takut Daddy akan melakukan hal itu lagi padamu." Audrey melepas pelukan Matthew dan berbalik menatap pria itu. "Aku tadi sangat takut. Aku pikir kau akan melakukannya. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika sampai kau ... "
"Sstt ... " Matthew menempelkan jarinya di bibir Audrey dan berkata, "aku tidak mungkin melakukannya. Ya, aku tahu maksud dari ayahmu. Dia pasti ingin yang terbaik untukmu. Itu sebabnya ia mengujiku apakah aku bisa menjadi kejam sepertinya atau tidak. Tujuannya cuma satu, bukan untuk menggantikan posisinya tapi dia ingin tahu apakah aku bisa melindungi mu atau tidak."
Kedua mata Audrey berkaca-kaca. Dia memeluk erat tubuh Matthew dan berkata, "jujur, aku tidak pernah berfikir sampai sana. Selama ini aku hanya berfikir jika daddy hanya ingin menyingkirkan orang-orang yang ada di sekitar ku. Termasuk dirimu."
Matthew tersenyum dan membalas pelukan kekasihnya. Walaupun didalam tubuh Audrey mengalir darah seorang gangster, tapi dia yakin jika wanita ini adalah wanita baik-baik. Dia bisa melihat dan merasakan setiap berada di dekat Audrey. Dia hanya terjebak di lingkungan yang salah.
"Jangan menangis. Yang terpenting semua sudah baik-baik saja. Ya walaupun kita harus kehilangan teman kita," lirih Matthew
Audrey melonggarkan pelukannya dan menunduk dalam. "Maaf," lirihnya
"Hei .. Kenapa kau meminta maaf, hm? Ini semua bukan salahmu."
"Tapi dia ayahku, Vin. Dan dia sudah membunuh teman kita."
"Sstt ... Sudah-sudah, kita kemari untuk bersenang-senang. Jangan memikirkan hal itu lagi!!" Matthew memegang kedua pipi Audrey dan mengecup bibir wanita itu. "Jangan di ingat-ingat lagi, oke!!"
Audrey tersenyum dan mengangguk pelan. Mereka kembali mendekatkan wajah satu sama lain dan menempelkan bibir mereka.
"Aku mencintaimu, Vin," ucap Audrey di sela-sela ciuman mereka
"Yeah, aku lebih mencintai, sayang." bibir mereka saling beradu. Lidah mereka saling membelit satu sama lain dan bertukar saliva. Namun kegiatan panas tersebut harus terhenti saat ponsel Audrey berbunyi.
Mereka mengakhiri kegiatan mereka dengan nafas yang memburu. "Ada telepon," seru Matthew
Audrey mengangguk dan merogoh ponselnya yang berada di dalam tas. Dia tertegun saat melihat nama kontak yang tertera di depan layar ponselnya.
"Kenapa tidak di angkat?" Matthew mengintip sekilas dan terdiam sejenak.
"Aku harus bagaimana Vin?" tanya Audrey
"Angkat saja. Siapa tahu ada yang penting," seru Matthew
"Tapi ..."
"Tenang, oke!!"
Audrey mengangguk pelan dan mengangkat sambungan telepon dari ayahnya.
"Besok ajak kekasihmu itu ke rumah."
Satu kalimat terucap dari mulut Mark di seberang sana. Namun hal itu justru membuat tubuh Audrey bergetar hebat.
"Ada apa Audrey ? Kenapa kau seperti ini?" tanya Matthew khawatir
"Da-daddy ingin kau datang ke rumah, Vin."
Deg
semangat thor