Namaku Chris. Christian Airlangga Jhonson, lengkapnya. Aku bule Amerika-Indonesia yang beruntung karena berasal dari keluarga kaya raya dan sanggup membuat diri sendiri juga kaya raya.
Wajahku tampan, hidung mancung, tubuh atletis, tinggi, putih, semua yang digilai wanita ada padaku tapi kenapa hanya nasib saja yang tidak beruntung bila bertemu dengan wanita? Mulai dari bertemu wanita yang mengaku hamil dariku lalu mencoba bunuh diri dan melahirkan anakku, lalu punya tunangan yang berselingkuh dengan sahabatku, juga deretan sekretaris cantik yang kupecat karena sudah keterlaluan menggodaku. Apa salahku?
Takdir mempertemukanku pada Reina. Berawal dari memilih sekretaris dengan baju paling sopan lalu bunga cinta yang datang belakangan ini mengusikku. Dia Islam dan aku Kristen, dan ia sudah memiliki suami dan anak. Apa aku ini telah menjadi pria penggoda untuknya? Serius! Takdir memutar fakta yang sebelumnya ada untukku. Jadi, aku harus bagaimana? Tolong, bantu aku menjawabnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chris Vs Alex
"Maaf Pak, tapi uang yang Bapak kasih waktu itu masih saya pegang. Kan berlebih, jadi saya belikan mainan." Reina juga ikut-ikutan berbisik.
Alex menarik napas, kemudian menghembuskannya. "Ya, sudah."
Wanita ini. Kenapa jujur sekali ya? Menjadikan dirinya begitu sangat sempurna.
Baru beberapa langkah keluar dari toko mainan, seseorang memanggil Alex.
"Lex."
Alex membalik tubuhnya. Ada Chris dan Tama datang berkunjung.
"Pak, Bapak ke sini?" Reina terkejut.
"Iya. Sudah lama tidak bawa Tama bermain."
Tama sudah lebih dulu berlari dan memeluk kaki Reina.
Chris mendekat. "Bagaimana? Lancar?"
"Alhamdulillah." jawab Alex.
"Ini siapa?" Tama menunjuk Anjali.
"Ini namanya Anjali." sahut Reina. "Ayo kenalan."
Anjali menyodorkan tangan. Namun, tiba-tiba Tama mendekat mencium pipinya. "Cantik." Katanya lagi.
"Tama ...." Reina tersenyum.
Alex dan Chris tertawa.
"Daddy, dia genit." Anjali mengejar-ngejar Tama. Mereka berputar-putar di sekeliling Reina.
Reina mulai pusing melihat Tama dan Anjali yang berlari mengelilinginya. Apalagi Tama sering berpegang pada kakinya.
Melihat itu Chris berinisiatif menangkap Tama. Bocah itu yang tahu ingin digendong oleh Chris, merasa papanya ingin bermain-main dengannya. Karena itu ia mendorong Reina hingga jatuh ke pelukan Chris.
Alex terlihat kesal.
"Kamu gak papa." Chris membantu Reina berdiri.
Wajah Reina memerah. "Gak papa."
Terdengar tangis Tama. Ternyata Anjali mencubitnya. Anjali diambil oleh Alex, sedangkan Tama digendong Chris.
"Kasihan 'kan adik kecil," sahut Alex.
"Dia genit, Daddy," protes Anjali.
"Don't be naughty, I said. (kan sudah diberi tahu, jangan nakal)." Chris mempermainkan hidung Tama.
"Huaah ...." Tama masih saja menangis.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Sebentar lagi juga waktunya," ajak Chris.
Alex melihat jamnya. Kurang 15 menit. "Ok. Di tempatku saja di restoran Italia."
"Ok."
"Lady first. (perempuan lebih dulu)," sahut Alex setibanya di restoran.
"Mmh?" Akhirnya Reina memilih duduk di seberang.
Diikuti Alex yang duduk di kiri dan Chris di sebelah kanan. Reina bingung melihat dua pria yang duduk mengapitnya.
Chris meminta kursi khusus anak-anak untuk Tama karena tingginya yang kurang bisa menjangkau meja. Alex memesan makanan.
Chris memperhatikan Reina. Dandanannya hari ini begitu cantik. Pasti Alex membayar orang untuk mendandaninya.
"Ada apa, Pak?" Reina merasa diperhatikan.
"Tidak. Kamu habis didandani orang ya?"
"Iya. Aneh ya, Pak? Ini orang Salonnya Pak Alex, Pak. Tadi aku sudah bilang jangan berlebihan."
Alex yang mendengar mulai merasa kesal.
"Tidak. Bagus kok. Mau dandan seperti ini tiap hari?"
"Pak ...." Reina mencubit pinggang Chris.
"Aduh, aduh, aduh ...." Namun Chris tertawa.
Tama pun ikut tertawa. Alex mengernyit dahi. Ia melihat keduanya. Reina dan Chris. Sejak kapan mereka akrab? Katanya Chris tidak akan mengejarnya. Bagaimana dia bisa akrab?
"Reina kamu mau Arabiata?"
"Iya, Pak."
"Arabiata pedas ya? Aku mau coba." sahut Chris.
Alex kembali mengernyit dahi. Dia bukannya tidak suka pedas?
"Jangan Pak, nanti kepedesan lagi. Sakit perut nanti ...."
Rahang Alex terasa keras. Kenapa Reina peduli dengan Chris? Apa ia juga ada rasa dengan Chris? Apa kedua orang ini membohongiku? "Jadi?"
"Dua. Tambah Cream Soup buat Tama. Pakai crouton(roti potong yang dikeringkan) ya?" sahut Chris.
"Ok." Alex menyerahkan kertas pesanannya pada pelayan.
"Aku nanti mau ke tempat Mariko. Kau mau ikut gak?" ajak Chris.
"Dia masih bekerja padaku Chris," sahut Alex semakin kesal. Ia berusaha menahan emosinya.
"Aku pulang jam berapa Pak?" tanya Reina pada Alex.
"Jam lima."
"Kalau begitu aku tunggu saja ya? Aku temani Tama bermain. Di atas 'kan ada tempat permainan anak-anak. Kau mau ikut 'kan?" lanjut Chris.
"Iya, Pak."
Chris berdiri.
"Mau kemana, Pak?" Tanya Reina lagi.
"Mau ke toilet dulu."
"Aku juga." Alex langsung berdiri menyusul Chris.
Reina memandang keduanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Persahabatan yang aneh. Sifat mereka berlainan tapi kok ya bisa berteman ya? Yang satu tenang tapi tegas, yang satunya lagi ceplas-ceplos dan cuek. Hebat sekali mereka bisa berteman sedemikian lamanya, pikir Reina.
"Sebentar." Di depan toilet pria, Chris ditarik hingga ujung koridor oleh Alex.
Sebenarnya Chris tahu akan terjadi kejadian seperti sekarang ini, karena ia memang sengaja melakukannya. Ia ingin tahu apa yang akan Alex lakukan bila ia melakukan ini pada Alex.
Alex mendorong Chris ke dinding. Ia melipat tangannya dan memandang Chris dengan tajam. "Apa maksud kedatanganmu sebenarnya?"
"Maksud kedatangan apa?" Chris berpura-pura tidak tahu.
"Chris, kau menggangguku."
"Kamu datang jam kerja ke kantorku apa tidak menggangguku?"
Alex menatap lekat-lekat Chris karena kesal Chris membalik omongannya.
"Kamu mengejarnya 'kan? You love her, didn't you? (kamu mencintainya kan?)"
"Apa? Aku 'kan sudah katakan padamu Reina ...."
"Sudah punya suami?" Alex tertawa. "Untuk apa kamu memberitahukanku itu? Aku 'kan sudah tahu."
"Itu tidak mungkin Alex."
Alex menyeringai kesal. "Aku tahu kamu Chris, kamu tidak seperti ini."
"Apa maksudmu? I don't understand.(saya tidak mengerti)"
"Chris, you love her. You love her, but you don't admit it. (kau mencintainya. Kau mencintainya tapi tak mengakuinya).
"No way. (tidak mungkin)."
"Lalu apa?"
Chris berdehem. "Aku mau solat dulu."
Alex menatap Chris yang pergi ke luar restoran. Ia meninju dinding dengan keras. Sakit. Tapi tak ada yang bisa membantunya memberi jawaban atas semua rasa kesal di hatinya ini. Benar-benar menyebalkan!
Alex kembali ke meja makannya. Ia bingung harus bagaimana.
"Ini Arabiata ada tiga. Bapak makan Arabiata juga?" tanya Reina.
"Iya. Mmh. Aku solat dulu ya?" Alex melangkah keluar.
"Iya, Pak."
Reina berpindah tempat duduk ke seberang. Dengan begitu ia bisa mengurus anak-anak. Ia memasangkan tisu pada kerah baju Tama agar bajunya tidak kotor. Juga pada pangkuannya agar tidak mengotori celana Tama. Ia juga memotong-motong Pizza untuk Anjali agar gampang memakannya. Lalu ia kembali ke kursinya untuk mulai makan.
Tak lama kemudian Alex dan Chris datang. Mereka hanya duduk diam, tak bersuara.
"Aku solat dulu." Tak sengaja Reina melihat tangan Alex yang biru ketika ia mulai mengambil makanannya.
"Bapak kenapa tangannya Pak?" Reina memegangi tangan Alex yang telah membiru.
"Itu, aku ...." Alex tak bisa menjelaskan.
Reina melihat ke arah Chris. "Kalian tidak bertengkar lagi 'kan?"
"Lihat, tangan dan wajahku. Apa ada biru bekas pukulan?" Chris memperlihatkan tangan dan wajahnya.
"Tunggu sebentar, Pak." ucap Reina pada Alex. Ia masuk ke dalam restoran.
"Daddy kenapa tangannya?" tanya Anjali.
"Tidak apa-apa," jawab Alex.
"Kenapa? Pukul dinding?" Chris meledeknya.
"Bukan urusanmu." Alex mencoba mengambil garpu untuk makan, tapi ternyata tangannya masih nyeri untuk menggenggam. Sedangkan Chris sendiri sudah mulai makan makanannya.
Reina datang membawa batu es dalam plastik. Ia mengompres tangan Alex.
"Aduh, auw."
"Letakkan saja tanganmu di atas meja," perintah Reina.
Chris mulai kepedasan. Ia mengambil sebotol air mineral. Lalu ia membuka tutup dan meminumnya.
"Jangan banyak-banyak, Pak nanti sakit perut."
Alex mencoba makan dengan tangan kiri. Ia mengambil garpu tapi Reina menghentikannya.
"Jangan makan dengan tangan kiri, tidak baik, Pak. Sini saya suapi." Ia menusukan beberapa pasta dan daging dengan garpu, lalu menyuapkan pada Alex.
Alex terlihat senang. Wajahnya tersipu-sipu saat disuapi Reina. Sepertinya mood-nya sudah kembali.
Reina melihat sekeliling. Kenapa ia merasa dikelilingi para bocah yang susah diaturnya? Hufh.
"Aku sudah selesai. Aku mau tambah minum dulu." Chris meminta air pada pelayan. Seorang pelayan datang membawa dua botol air mineral.
Sambil minum, Chris memperhatikan kalau Reina belum menyentuh makanannya sama sekali. Ia menusukan beberapa pasta dan keju dan mengarahkannya pada mulut Reina.
"Reina makan dulu."
"Apa?" Tiba-tiba mulutnya sudah disumpal dengan makanan oleh Chris. Seketika itu juga ia berhenti menyuapi Alex.
"Kamu mau makan apa solat? Kalau mau solat, biar Alex aku yang suapi," sahut Chris.
Alex ingin protes tapi tak bisa karena mulutnya penuh.
Reina yang sedang mengunyah makanan, memberi isyarat dengan menunjuk keluar dan mengangkat jempol. Ia segera keluar.
Chris tersenyum nakal. Ia memegangi tangan Alex yang dikompres sehingga tidak bisa digerakkan. Ia lalu menusukkan banyak cabe ke garpunya dan menyuapnya pada Alex. Pria itu berusaha menghindar dan mereka bergumul berdua saling menghindar dan menyuapi.
"Daddy main suap-suapan ya?" Anjali tidak menyadari apa yang terjadi.
+++
"Kamu sih pergi tadi, tidak izin dulu denganku. Pedas sekali tadi cabenya."
Reina masih tertawa. "Kalau pedas kenapa dimakan?"
"Digelitik bagaimana bisa menghindar?"
Reina tertawa sambil memegangi perutnya. "Aduh, sakit perut aku tertawa terus dari tadi. Memangnya Pak Chris itu suka jahil ya, Pak?"
"Dia pembawaannya saja tenang, aslinya keterlaluan jahilnya."
"Mmh ...."
Alex melirik Reina. "Hubunganmu dengan Chris apa?"
"Mmh? Sekretaris dan Bos 'kan?" Reina bingung dengan pertanyaan Alex.
"Selain itu."
"Selain itu? Teman."
"Teman?" Oh, begitu caranya dia mendekati Reina ya? Cerdik sekali. Pantas bisa akrab.
"Boleh aku ... berteman denganmu?"
"Mmh?" Reina melirik Alex.
"Daddy ...." Anjali yang sedang mengikuti lomba menggambar di salah satu stand memanggil.
Reina dan Alex yang kebetulan duduk di sebuah kursi panjang di depan sebuah toko dekat situ, berdiri dan berjalan mendekat.
"Kamu gambar apa Anjali?"
"Daddy." Anjali memperlihatkan gambarnya pada Alex. Gambarnya sangat kacau.
"Apa ini? Daddy-nya seganteng ini kok di gambar seperti ini."
Anjali melipat tangan dan memajukan mulutnya.
Reina menahan tawa.
Chris melihat mereka dari atas. Ia sedang berdiri bersandar di pagar pembatas.
"Papa." Seru Tama lagi. Ia sudah beberapa kali memanggil tapi Chris tidak mendengar.
"Oh ya. Ada apa?" Chris mulai tersadar.
_________________________________________
Visual Alex. Jangan lupa untuk terus mendukung author dengan like, vote, komen atau hadiah. Salam, ingflora💋
Alex
Emang Reina virus?
sadar diri, kamu anak siapa.
sadar diri,, kamu dibesarkan oleh siapa.
iiiissshhhttt,,,, chrisssssss 😬😬😬😬,,, benar2 pengen ku jitak kepalamu. langamsung nikah aja napa. 😤😤😤
greget aku,,, pengen ku jontorkan itu bibirmu ke tiang listrik
aku yang greget jadinya.
iiihhhh,,,, oemgen ku benturkan kepalamu ke dinsing chriiiiissss 😡😡😡
susah amat memyatakan cinta. tarik ulur - tarik ulur macam layang2. klo kamu macam gini trus,,, ku doakan alex saja yang nikaj dengan reina 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣....
upppsss,,,, walaupun aku tak rela 🤣🤣🤣🤣🤣🤣