Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Uskup Agung
Aula audiensi utama Katedral Agung jauh melampaui kemegahan apa pun yang pernah Sasuke saksikan sepanjang perjalanannya di Astral—langit-langit yang menjulang puluhan meter dihiasi lukisan fresco raksasa menggambarkan penciptaan dunia, pilar-pilar marmer putih berukir emas berjajar rapi di sepanjang lorong utama, dan di ujung ruangan, sebuah singgasana besar berdiri di atas panggung bertingkat, dikelilingi tirai-tirai sutra putih yang berkibar lembut meski tidak ada angin yang terasa di dalam ruangan tertutup itu.
Mereka bertiga berjalan melewati lorong panjang itu, diapit barisan pendeta senior yang berdiri diam di kedua sisi, kepala tertunduk hormat namun mata mereka diam-diam mengawasi setiap gerakan pengunjung yang jarang sekali diberi kehormatan bertemu langsung dengan pemimpin tertinggi Gereja.
Di atas singgasana itu, duduk seorang pria dengan jubah keemasan yang begitu rumit hingga tampak seperti karya seni tersendiri, mahkota tipis melingkari kepalanya, wajahnya tampan dengan cara yang nyaris sempurna—terlalu sempurna, Sasuke memperhatikan, seperti sesuatu yang dipoles hati-hati untuk menciptakan kesan tertentu.
"Tuan Uchiha," Uskup Agung menyapa, suaranya dalam dan menggema di seluruh ruangan meski ia tidak berteriak sedikit pun, "akhirnya kita bertemu langsung. Aku sudah menantikan momen ini."
"Yang Mulia," Sasuke menjawab formal, membungkuk sopan meski matanya tetap waspada, mengamati setiap detail kecil dari sosok di hadapannya.
---
Uskup Agung turun dari singgasananya dengan gerakan anggun, melangkah mendekati mereka bertiga dengan senyum yang terlihat ramah, meski Sasuke tidak bisa mengabaikan sesuatu yang aneh di balik matanya—sesuatu yang sekilas terlihat seperti kilatan warna berbeda, terlalu cepat untuk dipastikan, namun cukup untuk membuat Sasuke semakin waspada.
"Dan ini pasti keluarga kecil yang sering dibicarakan," Uskup Agung berkata, menatap Saviera dan Elaina dengan senyum yang terlalu sempurna untuk terasa tulus. "Seorang demigod cahaya, dan seorang anak malaikat. Kombinasi yang menarik untuk dimiliki seorang pemburu System."
Elaina, yang biasanya ramah pada siapa pun, justru mundur selangkah, bersembunyi sedikit di balik kaki Saviera, matanya menatap Uskup Agung dengan kewaspadaan yang jarang ia tunjukkan pada orang asing.
"Ada apa, Sayang?" Saviera berbisik, memperhatikan reaksi tidak biasa itu.
"Dia bau aneh," Elaina berbisik balik, cukup pelan hingga hanya Saviera dan Sasuke yang mendengar. "Kayak... dua orang jadi satu."
Sasuke menajamkan indranya sepenuhnya mendengar bisikan itu, mencoba merasakan apa yang mungkin dirasakan Elaina dengan insting malaikatnya yang masih berkembang. Ada sesuatu, samar namun nyata—dua aliran energi yang berbeda, bercampur dalam satu tubuh, seolah dua kesadaran berbagi ruang yang sama.
---
"Mari kita bicara soal alasan sebenarnya kau di sini," Uskup Agung berkata, mengabaikan—atau mungkin tidak menyadari—bisikan yang baru saja terjadi. "Aku dengar kau telah bertemu langsung dengan pemilik System. Sebuah pencapaian luar biasa yang bahkan aku sendiri tidak berhasil raih dalam bertahun-tahun pengawasanku."
"Aku hanya bicara dengannya," Sasuke berkata hati-hati. "Bukan mengalahkannya."
"Tentu, tentu," Uskup Agung mengangguk, tersenyum lebih lebar. "Tapi itu langkah pertama yang penting. Katakan padaku, Tuan Uchiha, apa yang kau pelajari tentangnya? Kelemahannya, mungkin? Sesuatu yang bisa membantu kita merencanakan langkah selanjutnya dengan lebih baik?"
Sasuke merasakan sesuatu yang tidak nyaman di balik pertanyaan itu—terlalu spesifik, terlalu ingin tahu dengan cara yang terasa lebih personal daripada kepentingan institusional biasa.
"Aku tidak menemukan kelemahan yang jelas," Sasuke menjawab, memilih untuk tidak membocorkan detail tentang pengakuan Eternity bahwa ia juga bukan penduduk asli Astral. "Kekuatannya jauh melampaui apa pun yang pernah kusaksikan."
Uskup Agung menatapnya lama, senyumnya sedikit memudar, digantikan ekspresi yang lebih sulit dibaca. "Sayang sekali," ia berkata pelan, dan untuk sepersekian detik, suaranya berubah—lebih dalam, lebih berat, seolah dua suara berbicara bersamaan dalam satu napas yang sama.
Sasuke membeku, indranya menangkap perubahan itu dengan jelas. Ia melirik ke arah Saviera, yang matanya melebar, jelas juga menyadari keanehan itu.
---
Uskup Agung berkedip, dan suaranya kembali normal seketika, seolah momen aneh itu tidak pernah terjadi. "Maafkan aku," ia berkata, tersenyum lagi seperti biasa. "Aku sedikit lelah belakangan ini. Banyak tanggung jawab yang harus kupikul sendirian."
"Sendirian?" Sasuke bertanya, mencoba memancing lebih jauh tanpa terlihat terlalu curiga.
"Memimpin Gereja bukan tugas yang mudah, Tuan Uchiha," Uskup Agung menjawab, kembali ke singgasananya dengan langkah yang sedikit kurang anggun dari sebelumnya. "Terutama ketika ada... ekspektasi yang harus dipenuhi, dari berbagai arah."
Elaina, yang masih bersembunyi di balik Saviera, tiba-tiba angkat bicara dengan suara kecil namun jelasnya. "Kakek yang di dalam Bapak Uskup itu kelihatan sedih. Kenapa dia sedih?"
Seluruh ruangan hening seketika. Beberapa pendeta senior saling bertukar pandang gugup, tidak yakin bagaimana harus merespons ucapan seorang anak kecil yang terdengar seperti omong kosong tidak masuk akal—namun Sasuke melihat sesuatu yang jauh lebih signifikan: wajah Uskup Agung yang membeku total, matanya melebar dengan ekspresi yang untuk sesaat terlihat seperti ketakutan murni, sebelum dengan cepat ia kembali menguasai diri.
"Anak-anak memang punya imajinasi yang liar," Uskup Agung berkata, tertawa kecil yang terdengar terlalu dipaksakan untuk terasa alami. "Sesi audiensi ini sudah cukup untuk hari ini, kurasa. Aku akan mempertimbangkan semua yang kau sampaikan, Tuan Uchiha, dan mengabari langkah selanjutnya."
Ia bangkit terburu-buru, jubah keemasannya berkibar saat ia berbalik cepat menuju pintu di belakang singgasana, meninggalkan mereka bertiga dan para pendeta senior yang bingung di aula audiensi yang tiba-tiba terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.
---
Dalam perjalanan keluar dari Katedral, dikawal pendeta senior yang masih tampak gugup dengan berakhirnya audiensi secara tiba-tiba, Sasuke berjalan diam, pikirannya berputar cepat memproses semua yang baru saja terjadi.
"Kau lihat itu?" Saviera berbisik begitu mereka cukup jauh dari pendengaran siapa pun. "Suaranya berubah. Dan reaksinya waktu Elaina bicara..."
"Aku melihatnya," Sasuke menjawab pelan. "Elaina benar. Ada sesuatu—atau seseorang—di dalam dirinya. Berbagi tubuh yang sama."
"'Yang Tertinggal'?" Saviera bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.
"Mungkin," Sasuke menjawab, meski keraguan tetap ada dalam suaranya sendiri. "Atau sesuatu yang bahkan lebih rumit dari itu. Uskup Agung yang asli mungkin masih ada di sana, entah bagaimana—terjebak, atau dikendalikan."
Elaina, yang berjalan di antara mereka sambil menggenggam tangan masing-masing, mendongak dengan wajah serius yang jarang ia tunjukkan. "Papa, kita harus tolong dia, kan? Kakek yang sedih itu?"
Sasuke menatap Elaina lama, kebijaksanaan sederhana namun tajam dari seorang anak kecil sekali lagi menerangi jalan di tengah kerumitan yang bahkan orang dewasa kesulitan memahaminya.
"Mungkin," Sasuke akhirnya menjawab, "itu memang yang harus kita lakukan selanjutnya."
Di belakang mereka, menara-menara emas Katedral Agung tetap berkilau anggun di bawah sinar matahari sore, menyimpan rahasia yang kini mereka ketahui lebih dalam—namun jawaban penuh, dan cara untuk benar-benar membantu apa pun yang tersisa dari Uskup Agung yang asli, masih menjadi misteri yang menanti untuk dipecahkan.
---
*Bersambung ke Bab 34: Sosok di Balik Topeng*
jangan lupa mampir ya ke novel saya judulnya : di bawah nama yang di pilih Takdir 💪💪