### KARIR MINGGUAN
Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**
Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.
Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.
Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.
Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.
Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.
**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**
Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karier Keempat: Mekanik
Senin pagi, layar holografik itu muncul lagi tepat saat Reyhan sedang menyeduh kopi instannya, satu-satunya rutinitas yang tidak pernah berubah setiap minggu meski kariernya selalu berganti.
> [SISTEM KARIR MINGGUAN — MINGGU KE-4 DIMULAI.]
> [Karier Anda minggu ini: **MEKANIK**]
> [Penempatan: Bengkel Pak Slamet, Jl. Merdeka]
> [Misi: Selesaikan minimal 10 perbaikan kendaraan dengan tingkat kepuasan pelanggan tinggi dalam 7 hari.]
> [Reward: Mechanical Genius Lv.1 + bonus sesuai performa]
Reyhan menatap layar itu sambil menyesap kopinya pelan-pelan. "Mekanik, ya. Oke, setidaknya lebih jelas dari pedagang kemarin yang cuma dikasih modal doang tanpa arahan."
> [Kemiripan kesulitan tetap dipertahankan sesuai desain sistem.]
"Desain sistem katamu? Emang siapa yang desain ini semua?"
Tidak ada jawaban, seperti biasa setiap kali Reyhan mencoba menggali lebih dalam soal asal-usul sistemnya. Ia menghela napas, sudah terbiasa dengan pola itu, lalu bergegas bersiap-siap menuju alamat bengkel yang tertera di layar.
Sesampainya di bengkel Pak Slamet, sebuah tempat sederhana dengan atap seng dan aroma oli yang menyengat, Reyhan disambut seorang bapak paruh baya berkumis tebal yang sedang sibuk membersihkan tangannya dengan lap penuh noda hitam.
"Anda yang dikirim dari yayasan penyalur kerja itu?" tanya Pak Slamet, menatap Reyhan dari ujung kepala sampai kaki dengan raut curiga.
Reyhan sempat bingung sejenak, sebelum ingat bahwa sistem sepertinya selalu punya cara sendiri untuk "menitipkan" dirinya ke tempat kerja tanpa harus dijelaskan detail entah lewat yayasan fiktif, entah lewat cerita darurat seperti waktu jadi guru dulu.
"Iya, Pak, saya Reyhan," jawabnya, mengulurkan tangan.
Pak Slamet menyambut jabat tangan itu dengan ragu. "Anda pernah pegang mesin motor sebelumnya?"
Reyhan menelan ludah, mencoba mencari jawaban yang tidak sepenuhnya bohong tapi juga tidak membuka rahasia soal sistemnya. "Pernah dikit-dikit, Pak. Tapi lebih banyak belajar otodidak."
"Otodidak, ya," gumam Pak Slamet, terdengar tidak terlalu yakin. "Ya udah, sini saya kasih tau dulu alat-alatnya. Tapi awas kalau sampe rusak motor pelanggan, saya nggak tanggung jawab kalau Anda dimarahin."
"Siap, Pak. Saya usahain sebaik mungkin."
Pak Slamet mengajak Reyhan berkeliling bengkel kecilnya, menunjukkan berbagai alat yang namanya asing di telinga Reyhan kunci pas, kunci ring, obeng ketok, sampai alat-alat lain yang bentuknya membuat Reyhan bingung setengah mati.
"Ini kunci sok, buat lepas baut yang susah dijangkau tangan," jelas Pak Slamet, sambil menunjukkan satu set kunci berbagai ukuran.
"Oh, kunci sok," ulang Reyhan, mencoba menghafal meski dalam hati sama sekali tidak familiar dengan istilah itu.
"Terus ini kompresor, buat isi angin ban sama bersihin debu di sela-sela mesin."
"Siap, Pak."
Seorang anak muda yang sedang duduk di pojok bengkel sambil memainkan ponselnya, tampak memperhatikan Reyhan dengan tatapan menilai.
Anak muda itu bernama Yanto, karyawan lama Pak Slamet yang sudah bekerja di bengkel itu sejak tiga tahun lalu.
"Bapak yakin nih orang baru bisa dipercaya pegang motor pelanggan?" celetuk Yanto, tanpa basa-basi.
"Yah, kasih kesempatan dulu, Yan. Semua orang kan pernah jadi pemula," jawab Pak Slamet, meski nada suaranya sendiri terdengar kurang yakin.
"Ya udah terserah Bapak sih. Tapi kalau ada motor rusak gara-gara dia, saya nggak mau ikut-ikutan disalahin."
Reyhan tersenyum kikuk mendengar sambutan yang jauh dari ramah itu. "Tenang, Mas Yanto, saya usahain hati-hati kok."
"Nggak usah manggil Mas segala, panggil Yanto aja," jawabnya ketus, kembali sibuk dengan ponselnya.
Hari pertama Reyhan di bengkel dimulai dengan tugas paling sederhana membersihkan dan melumasi rantai motor pelanggan yang datang untuk servis rutin. Namun bahkan tugas sesederhana itu ternyata jauh lebih rumit dari yang dia bayangkan.
"Pak, ini caranya gimana ya, buka penutup rantainya?" tanya Reyhan, memegangi obeng dengan canggung di depan motor matic milik seorang pelanggan.
Pak Slamet, yang sedang sibuk menangani motor lain, menoleh sebentar. "Lho, itu bukan motor matic biasa, Mas, itu ada sistem CVT-nya, beda cara bukanya."
"CVT itu apa, Pak?"
Yanto, yang mendengar pertanyaan itu dari kejauhan, tertawa mengejek. "Ealah, CVT aja nggak tau. Ini beneran orang yang katanya udah otodidak belajar mesin?"
Reyhan merasa wajahnya memanas mendengar ejekan itu, tapi berusaha tetap tenang. "Iya, saya masih perlu belajar banyak, Yan. Makanya saya di sini."
"Ya udah, sini saya tunjukin, daripada motor pelanggan malah rusak gara-gara Bapak yang nanggung," kata Yanto, meski nadanya masih terdengar sinis, dia tetap mendekat dan menunjukkan cara membuka penutup CVT dengan benar.
"Makasih, Yan," kata Reyhan tulus, meski dibalas hanya dengan gumaman tidak jelas dari Yanto.
Menjelang siang, sebuah insiden kecil terjadi ketika Reyhan mencoba memasang kembali baut penutup mesin yang baru saja dia buka untuk membersihkan rantai. Tangannya yang belum terbiasa membuat baut itu terpasang miring, hampir membuat ulirnya rusak.
"Aduh," gumam Reyhan panik, mencoba memperbaiki posisi baut itu dengan hati-hati.
Pak Slamet, yang kebetulan lewat, langsung menghampiri begitu mendengar suara gumaman panik itu. "Ada apa, Mas?"
"Ini, Pak, bautnya kayaknya salah masuk," jawab Reyhan jujur, tidak berani menyembunyikan kesalahannya.
Pak Slamet memeriksa dengan teliti, mengernyitkan dahi sejenak sebelum akhirnya menghela napas lega. "Untung belum sampe rusak ulirnya. Kalau udah slek gini, biasanya susah dibetulin lagi."
"Maaf banget, Pak."
"Nggak apa-apa, namanya juga belajar. Tapi lain kali, kalau ragu, tanya dulu, jangan maksain sendiri."
"Siap, Pak."
Yanto, yang menyaksikan kejadian itu dari kejauhan, hanya menggelengkan kepala sambil bergumam pelan, cukup terdengar oleh Reyhan. "Baru juga hari pertama udah bikin masalah."
Reyhan menghela napas, menyadari bahwa minggu ini akan jauh lebih berat dari yang dia bayangkan sebelumnya bukan cuma soal teknis mekanik yang benar-benar asing baginya, tapi juga soal membangun kepercayaan dari rekan kerja baru yang sejak awal sudah meragukan kemampuannya.
Sore harinya, saat jam kerja hampir berakhir, Reyhan duduk sejenak di pojok bengkel yang sepi, memeriksa layar holografik sistem sambil memastikan tidak ada orang lain di sekitarnya.
> [Progres Misi: 0/10 perbaikan dengan kepuasan tinggi.]
> [Sisa waktu: 6 hari, 20 jam.]
Ia menutup layar itu cepat-cepat begitu mendengar langkah kaki mendekat. Ternyata Pak Slamet, yang datang membawa dua gelas teh hangat.
"Nih, minum dulu. Kerja seharian pasti cape," kata Pak Slamet, menyodorkan salah satu gelas.
"Makasih, Pak," jawab Reyhan, buru-buru memasukkan ponselnya ke saku sebelum Pak Slamet sempat curiga dengan apa yang sedang dia lihat sebelumnya.
"Jangan kecil hati soal tadi ya, Mas. Yanto emang gitu orangnya, galak di awal, tapi lama-lama juga baik kok kalau udah kenal."
"Nggak apa-apa, Pak. Emang saya yang masih banyak kurangnya."
"Yang penting mau belajar aja, Mas. Saya dulu juga gitu, awal-awal belajar mekanik dimarahin mulu sama guru saya."
Reyhan tersenyum mendengar cerita itu, merasa sedikit lebih tenang. "Makasih semangatnya, Pak."
Ia menyesap teh hangat itu perlahan, menatap ke arah bengkel yang mulai sepi ditinggal pelanggan terakhir hari itu, sambil dalam hati bertekad untuk membuktikan bahwa dia bisa jadi lebih dari sekadar "orang baru yang bikin masalah" seperti yang sempat disindirkan Yanto tadi siang.
Malam itu, sebelum tidur, Reyhan menelepon Fajar, sekadar mengabari perkembangan hari pertamanya tanpa membocorkan detail soal sistem.
"Bang, gimana hari pertama jadi montir? Udah bisa bongkar mesin belum?" tanya Fajar antusias di seberang telepon.
"Jauh, Jar. Baru bersihin rantai motor aja udah salah pasang baut."
"Wah, parah juga ya, Bang. Padahal katanya udah baca-baca dikit sebelumnya."
"Baca doang mah gampang, Jar, prakteknya beda jauh. Belum lagi ada karyawan lama yang sinis banget sama saya."
"Sabar, Bang. Namanya juga baru, wajar dicurigain dulu. Nanti juga lama-lama percaya kok kalo Abang emang niat belajar."
"Semoga aja gitu, Jar. Soalnya berat banget kayaknya jadi montir."
"Tenang, Bang, saya udah baca buku panduan montir yang saya kasih kemarin, siapa tau bisa bantu dikit-dikit."
Reyhan tertawa mendengar semangat sahabatnya itu. "Makasih ya, Jar. Kamu emang selalu siap sedia."
"Sama-sama, Bang. Yang penting jangan sampe kena marah pelanggan gara-gara motornya rusak, ntar reputasi Abang jelek."
"Iya, iya, saya usahain hati-hati."
"Btw, Bang, kalo nanti pas bongkar mesin ketemu baut yang aneh-aneh, foto aja dulu, kirim ke gue. Siapa tau saya nemu di buku panduannya."
"Kamu jadi konsultan teknis dadakan sekarang, Jar?"
"Ya iyalah, Bang, saya kan tim riset dan pengembangan sekarang, bukan cuma tim ngiris bawang doang."
"Riset dan pengembangan apaan, kerjaan kamu masih sama aja, baca buku bekas doang."
"Ih, jangan diremehin, Bang, buku bekas juga ada ilmunya."
Reyhan menutup telepon dengan perasaan sedikit lebih ringan, meski tantangan besar masih menanti di hari-hari berikutnya bukan cuma soal menguasai keterampilan teknis yang benar-benar baru baginya, tapi juga soal meyakinkan orang-orang di sekitarnya bahwa dia layak dipercaya, semua itu harus dia lalui sendirian tanpa bisa membocorkan rahasia besar yang sebenarnya membuat semua perubahan karier mendadak ini terjadi setiap minggunya.
Sebelum benar-benar terlelap, Reyhan membuka buku catatan kecilnya, menuliskan istilah-istilah baru yang dia dengar hari itu CVT, kunci sok, kunci ring supaya besok tidak lagi terlihat sepolos hari pertama di depan Yanto.
Ia juga menuliskan satu catatan kecil untuk dirinya sendiri *jangan sampai kelihatan lagi buka layar sistem di depan orang lain, terutama Pak Slamet yang perhatiannya cukup tajam.* Insiden sore tadi, saat dia buru-buru menyembunyikan ponselnya, membuatnya sadar betapa pentingnya menjaga kerahasiaan sistem ini di setiap tempat kerja barunya sesuatu yang selama tiga minggu terakhir berhasil dia jaga dengan baik, dan dia bertekad untuk terus menjaganya, apa pun godaan untuk berbagi cerita anehnya kepada orang lain di sekitarnya.
Ia menutup buku catatannya, merebahkan diri di kasur dengan pikiran dipenuhi bayangan besok pagi hari kedua di bengkel Pak Slamet, dengan harapan bisa menunjukkan sedikit kemajuan meski baru sehari belajar dunia yang sama sekali asing baginya ini.