Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.
Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.
Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.
Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
Lampu-lampu kota Bandung dari ketinggian Dago Atas tampak bagai hamparan permata yang bertebaran di atas kain beludru hitam. Udara dingin malam itu menembus , membuat kaca-kaca jendela rumah dua lantai itu berembun halus. Di dalam rumah, kehangatan pendingin ruang dan aroma lilin aromaterapi beraroma kayu cendana dan vanila memenuhi setiap sudut ruangan.
Setelah menyelesaikan seluruh kerumitan hari pertama di kampus termasuk ketegangan kecil di Jatinangor dan penanganan ancaman dari sisa-sisa geng Jakarta, Kenan dan Kirana akhirnya bisa benar-benar bernapas lega.
Kirana baru saja keluar dari kamar mandi utama di lantai dua. Rambut hitamnya yang panjang masih agak basah, terurai indah melintasi bahunya. Ia mengenakan satin nightgown berwarna krem lembut berpotongan sederhana namun anggun, dilapisi outer tipis ber-renda dengan warna senada. Kulitnya yang putih bersih tampak merona tertimpa pendar lampu kamar yang hangat.
Di sudut kamar, Kenan berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah pemandangan kota. Pria itu hanya mengenakan celana kain santai berwarna abu-abu gelap dan kaos hitam polos yang membungkus ketat tubuh atletis serta bahu lebarnya.
Mendengar langkah kaki halus Kirana di atas lantai kayu, Kenan memutar tubuhnya. Pandangan mata hitam Kenan seketika terkunci pada sosok istrinya. Ada kedalaman rasa, kagum, dan pendar hasrat yang amat kuat memancar dari matanya membuat dada Kirana berdesir hebat dalam sekejap.
"Belum tidur, Ken?" panggil Kirana pelan, suaranya halus seperti bisikan angin malam Dago.
Kenan tidak langsung menjawab. Ia melangkah perlahan mendekati Kirana. Setiap langkah Kenan terasa mantap, membawa atmosfer dominasi sekaligus kelembutan yang selalu berhasil membuat Kirana terpikat.
"Gimana bisa tidur kalau istri gue secantik ini?" gumam Kenan dengan suara bariton rendahnya yang amat serak dan memikat.
Kenan menghentikan langkahnya tepat di depan Kirana. Jarak di antara mereka terkikis habis. Aroma tubuh Kenan yang maskulin berpadu dengan wangi sabun mandi hangat langsung mengepung indra penciuman Kirana. Jemari tegap Kenan terangkat, perlahan menyelipkan helai rambut basah Kirana ke belakang telinganya, menyapu lembut kulit leher Kirana yang halus.
Sentuhan fisik itu membuat Kirana menahan napas sejenak. Tubuhnya bergetar pelan oleh sensasi hangat yang menjalar cepat ke seluruh aliran darahnya.
"Ken..." bisik Kirana, matanya bergetar menatap lurus ke dalam manik mata Kenan yang redup dan dalam.
"Iya, Sayang?" sahut Kenan lembut, ibu jarinya kini mengusap bibir bawah Kirana yang sedikit terbuka.
"Makasih untuk hari ini dan udah selalu jadi pelindung terbaik buat gue," kata Kirana tulus.
Kenan tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kehangatan yang hanya diperuntukkan khusus bagi wanita di depannya. Tanpa memberikan jarak lagi, Kenan merengkuh pinggang molek Kirana dengan tangan kirinya, menarik tubuh ramping istrinya hingga menempel rapat pada dada bidangnya. Tangannya yang lain berpindah menangkup belakang kepala Kirana, menyusup di antara helai rambut hitamnya yang harum.
Kenan menundukkan wajahnya. Tatapan mereka bertemu sejenak dalam keheningan yang sarat akan intensitas emosi, sebelum akhirnya bibir Kenan mendarat tepat di atas bibir Kirana.
Ciuman itu dimulai dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian, sebuah rasa kehangatan yang mengalirkan rasa cinta, rasa syukur, dan janji perlindungan yang tulus. Kirana memejamkan matanya rapat-rapat, meresapi setiap sentuhan bibir suaminya. Kedua tangan Kirana terangkat secara alami, melingkar kencang di leher Kenan, membiarkan dirinya pasrah sepenuhnya dalam dekapan pria yang dicintainya.
Perlahan, ritme ciuman Kenan berubah. Rasa manis yang dirasakannya dari bibir Kirana seolah membakar sisa-sisa kendali diri sang mantan Ketua OSIS yang biasanya selalu kaku dan rasional. Ciuman Kenan tumbuh menjadi lebih dalam, menuntut, dan penuh gairah yang menggelora. Kenan menyesap dan menyesuaikan tautan bibir mereka dengan keahlian yang membuat lutut Kirana terasa lemas.
Desahan halus lolos dari tenggorokan Kirana di sela-sela tautan bibir mereka. Suara kecil itu justru semakin memancing gelora di dalam dada Kenan. Genggaman Kenan di pinggang Kirana mengencang, menarik tubuh istrinya lebih tinggi hingga Kirana harus berjinjit demi mengimbangi postur tubuh tegap suaminya.
Kenan memindahkan tautan bibirnya merayap turun menyusuri garis rahang Kirana yang halus, lalu mendaratkan kecupan-kecupan panas dan dalam di sepanjang ceruk leher istrinya. Sentuhan bibir dan nafas hangat Kenan yang menerpa kulit lehernya membuat Kirana merinding hebat, jemarinya meremas kain kaos hitam di punggung Kenan dengan kencang.
"Ken... ah," bisik Kirana terbata, kepalanya mendongak pasrah memberikan akses lebih luas bagi pergerakan suaminya.
Kenan menghentikan kecupannya sejenak di bahu Kirana. Hembusan nafasnya yang memburu terasa begitu hangat di kulit Kirana. Kenan menatap wajah istrinya yang kini merona merah sempurna dengan mata yang sayu berbinar oleh gairah.
"Kirana," bisik Kenan, suara rendahnya terdengar begitu intim dan dalam di dekat telinga istrinya. "Malam ini... gak ada batasan diantara kita, apa boleh gue minta hak gue sebagai suami hem!"
Kirana menatap mata Kenan, menemukan kepastian, rasa hormat, dan cinta yang luar biasa besar di sana. Segala keraguan dan ketakutan masa lalu sirna tanpa sisa. Kirana mengangguk pelan, mempererat pelukannya di leher Kenan dan menyandarkan dahi mereka bersama.
Kirana tidak mengucapkan kata-kata hanya membalas dengan anggukan kepalanya tanpa keraguan lagi. Kenan sudah mendapatkan izin, tidak menyia-nyiakan waktu lagi. Dengan satu gerakan yang sangat mantap dan protektif, Kenan menyusupkan tangan kanannya di bawah lipatan lutut Kirana dan tangan kirinya di punggung istrinya, mengangkat tubuh Kirana ke dalam gendongannya. Kirana memekik kaget pelan, reflex menyembunyikan wajahnya yang panas di ceruk leher Kenan.
Kenan melangkah tenang membawa istrinya menuju tempat tidur berukuran king-size yang dilapisi sprei sutra berwarna krem hangat. Ia membaringkan Kirana dengan sangat perlahan dan hati-hati, seolah meletakkan barang paling berharga di dunia.
Kenan menyusul naik ke atas peraduan, memposisikan tubuh tegapnya di atas Kirana tanpa menindih berat badan sepenuhnya. Pandangan mata mereka kembali bertaut dalam keheningan malam Dago yang kian larut. Di bawah pendar lampu kamar yang redup, Kenan kembali menunduk, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang jauh lebih mesra, lebih bergairah, dan mengikat seluruh jiwa serta raga mereka dalam penyatuan ikatan pernikahan yang sesungguhnya.
Malam itu, dinginnya Kota Bandung lebur di dalam kehangatan cinta yang membara diantara Kenan Alister dan Kirana. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi penghalang yang tersisa hanyalah dua insan yang telah ditakdirkan untuk saling melengkapi dan memiliki sepanjang hidup mereka.
….
Keesokan harinya pukul 06.30 WIB, sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar utama, membiaskan cahaya keemasan di atas sprei yang sedikit berantakan. Udara pagi Dago terasa begitu segar dan bersih.
Kirana terbangun perlahan. Tubuhnya terasa hangat di bawah selimut tebal. Begitu membuka mata, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah wajah tampan Kenan yang tertidur lelap hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Tangan tegap Kenan melingkar protektif di pinggang Kirana, menarik tubuh istrinya begitu rapat ke dalam dadanya yang telanjang.
Kirana tersenyum tipis, rasa bahagia yang luar biasa memenuhi seluruh dadanya. Ia mengulurkan jemarinya yang halus, mengusap pelan alis tebal dan garis rahang tegas suaminya yang tampak begitu damai saat tidur.
Usapan lembut itu membuat Kenan perlahan terbangun. Mata hitamnya terbuka, langsung mengunci pandangan pada Kirana. Senyum hangat khas bangun tidur terkembang di bibir Kenan.
"Pagi, sayang..." sapa Kenan dengan suara baritonnya yang sangat serak dan seksi.
Kenan mendekatkan wajahnya, mengecup singkat bibir Kirana sebelum merapatkan kembali pelukannya.
"Pagi juga pak suami," balaskan Kirana manis, menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenan, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur.
Kenan mengusap punggung polos Kirana di balik selimut dengan kelembutan yang mendalam. "Ada yang sakit, ?" tanya Kenan penuh perhatian dengan wajah bersalah.
Wajah Kirana seketika memerah padam mengingat kembali kegiatan mereka semalam. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Kenan sambil memukul pelan bahu suaminya. "Ck, Kenan! Jangan ditanya gitu dong, malu!"
Kenan terkekeh pelan, sebuah tawa riang yang sangat jarang terdengar. Ia mengecup pucuk kepala Kirana lama. "Gue cuma mau memastikan lo baik-baik aja. Mulai hari ini, tanggung jawab gue buat membahagiakan lo lahir dan batin."
Dua jam kemudian, setelah menyelesaikan mandi hangat bersama dan merapikan kamar, suasana rumah kecil di Dago itu kembali dipenuhi keceriaan. Kirana yang mengenakan oversized sweater rajut warna krem dan celana jins santai tampak sibuk menata meja makan di dapur.
Kenan yang sudah rapi mengenakan kaos polos dan celana kasual sedang mengoreksi beberapa draf dokumen perkuliahan ITB di laptopnya sambil menikmati secangkir kopi hitam buatan Kirana.
Tiba-tiba, ponsel Kenan di atas meja bergetar nyaring. Nama kontak Rian, tetangga mereka dari Teknik Sipil ITB tertera di layar.
Kenan mengangkat panggilan tersebut dan mengaktifkan mode pengeras suara.
"Ya, Rian?"
"Ken! Woy, lo udah bangun belum?" suara Rian terdengar agak terburu-buru dari seberang telepon.
"Udah. Ada apa?" jawab Kenan tenang.
"Ini soal info yang lo minta kemarin malam! Tim anak-anak Sipil sama anak Fikom yang pegang area kost Jatinangor baru aja ngasih kabar. Mantan oknum pengurus yayasan dari Jakarta yang coba ngirim pesan ancaman ke Kirana itu... ternyata ngekos di daerah Hegarmanah!"
Mendengar kabar itu, Kirana menghentikan aktivitasnya menata piring dan berjalan mendekati Kenan.
Kenan menyesap kopinya tenang, mata hitamnya mendingin. "Terus?"
"Mereka tadi pagi udah didatangi sama tim keamanan gabungan kampus dan pihak kepolisian setempat gara-gara indikasi tindak intimidasi digital dan pemalsuan berkas pendaftaran! Oknum itu udah langsung ditangkap dan diproses hukum jam delapan pagi tadi, Ken! Jalur pendaftaran dia di Bandung otomatis dibatalkan total!" penjelasan Rian terdengar sangat puas.
Kirana menghembuskan napas lega yang luar biasa. Seluruh bayang-bayang ancaman dari masa lalu di Jakarta kini benar-benar telah dihilangkan.
"Bagus," jawab Kenan singkat namun tegas. "Terima kasih infonya, Rian."
"Yo, santai! Nanti sore kalau kalian gak sibuk, gue sama Nyokap mau ngajak kalian makan malam di warung kuliner Dago Atas ya! Hitung-hitam syukuran tetangga baru!"
"Oke, nanti kita kabari," jawab Kenan sebelum mematikan sambungan telepon.
Kenan meletakkan ponselnya, memutar kursi barnya menghadap Kirana. Ia merangkul pinggang Kirana, menarik istrinya duduk di atas pangkuannya.
"Dengar kan?" kata Kenan lembut, mengusap pipi Kirana. "Gak ada lagi yang perlu lo khawatirkan. Semua pengganggu dari sebelumnya udah selesai.
Kirana melingkarkan tangannya di leher Kenan, menatap suaminya dengan mata berbinar penuh cinta dan rasa hormat yang tak terhingga. "Semua berkat lo, Ken. Lo selalu bergerak cepat sebelum masalah itu sempat menyentuh gue."
"Karena tugas utama gue di dunia ini adalah memastikan istri gue bisa tersenyum dan hidup tenang," jawab Kenan mantap, lalu mendaratkan ciuman manis di bibir Kirana
Bersambung…