Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsesi Gila Grayson

Obsesi Gila Grayson

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.

Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Mobil *sport* hitam milik Grayson memasuki gerbang besi tempa yang menjulang tinggi, membuka jalan menuju pekarangan luas yang dikelilingi oleh pilar-pilar klasik bergaya Eropa. Rumah utama keluarga Balindra berdiri megah di hadapan mereka, berdiri dalam keheningan malam yang pekat. Lampu-lampu taman bernuansa temaram menyinari arsitektur bangunan tua yang terlihat mewah namun menyimpan kesan dingin yang teramat sangat.

Begitu mobil berhenti di depan lobi utama, seorang kepala pelayan paruh baya berjas rapi—Pak Darma—sudah berdiri menyambut dengan membungkuk hormat, diikuti oleh dua orang pelayan wanita di belakangnya.

"Selamat datang kembali, Tuan muda Grayson, dan Nyonya muda," sapa Pak Darma dengan suara tenang yang menggema di teras luas tersebut.

Grayson keluar lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Aurelia. Tanpa banyak bicara, tangan besar pria itu menggenggam jemari Aurelia, menuntun gadis itu melangkah masuk melewati pintu ganda kayu mahoni yang besar.

Suasana di dalam rumah utama itu langsung menyambut mereka dengan keheningan yang menyesakkan. Tidak ada suara canda tawa, tidak ada kehangatan keluarga. Ruang tamu bergaya Victoria itu tampak begitu luas, dihiasi lampu kristal raksasa yang padam, lukisan-lukisan tua berukuran besar di dinding, serta furnitur antik berlapis kain velvet gelap yang tertata kaku. Rumah ini sangat bersih, sangat terawat, namun terasa begitu mati. Hanya ada beberapa pelayan yang bergerak senyap di kejauhan, bagaikan bayangan yang menghidupkan bangunan megah ini secara terpaksa.

"Kamar kalian sudah disiapkan di lantai dua, Tuan," lapor Pak Darma sopan.

"Bawa barang-barang ke atas. Dan siapkan teh hangat di ruang kerja," perintah Grayson singkat dengan nada dinginnya.

"Baik, Tuan."

Grayson membawa Aurelia menaiki tangga melingkar berlapis karpet merah tua menuju kamar utama pria itu. Begitu pintu tertutup rapat, menyisakan keintiman di dalam kamar yang bernuansa monokrom dengan dominasi warna hitam dan abu-abu, Aurelia melepaskan tangannya pelan-pelan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mewah tersebut, merasakan betapa sesaknya atmosfir di tempat ini.

"Istirahatlah di sini. Aku harus memeriksa beberapa berkas di ruang kerja sebentar," ucap Grayson sambil melepaskan jas seragamnya, melemparkannya ke atas sofa tunggal. Pria itu menatap Aurelia sejenak sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar, meninggalkan sang istri seorang diri.

Di dalam kesunyian kamar yang asing itu, Aurelia merasa langkah kakinya terasa berat. Ia memutuskan untuk keluar sebentar guna mencari udara segar atau sekadar melihat-lihat sudut rumah besar tersebut. Dengan langkah hati-hati, ia menuruni tangga menuju lantai dasar, menyusuri koridor panjang yang diterangi lampu dinding temaram.

Ketika melewati area dapur belakang yang terhubung dengan ruang keluarga dalam, Aurelia mendengar suara rincingan cangkir porselen dan langkah kaki ringan. Di sana, ia melihat seorang pelayan wanita paruh baya—Bi Lastri, yang tadi sempat membantu membawakan tas—sedang merapikan meja pantry seorang diri.

"Ehm... permisi, Bi," sapa Aurelia ragu-ragu dari ambang pintu.

Bi Lastri terperanjat kecil, lalu buru-buru membungkuk hormat begitu melihat siapa yang datang. "Eh, Nyonya muda... Ada yang bisa saya bantu? Apakah kamar kurang nyaman, atau Nyonya mencari sesuatu?"

"Ah, tidak, Bi. Aku hanya... ingin melihat-lihat sebentar," jawab Aurelia tersenyum kikuk, lalu melangkah mendekat. "Boleh aku menemanimu sebentar di sini?"

"Tentu saja, Nyonya," balas Bi Lastri ramah, meskipun sorot matanya menyiratkan kelelahan dan kesenduan yang mendalam.

Sambil membantu Bi Lastri merapikan beberapa piring kecil, Aurelia tidak bisa menahan rasa penasarannya. Suasana rumah ini terlalu sunyi untuk ukuran tempat tinggal keluarga kaya raya. Tidak ada bingkai foto keluarga di dinding, tidak ada suara kehangatan yang lazim ditemui di rumah orang kaya pada umumnya.

"Bi... boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Aurelia hati-hati.

"Silakan, Nyonya."

"Kenapa rumah ini sepi sekali? Di mana... orang tua Grayson?"

Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan Bi Lastri yang sedang menyeka meja mendadak terhenti. Wanita paruh baya itu menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh ke masa lalu, seolah membuka kembali lembaran-lembaran luka lama yang tersimpan rapi di balik dinding-dinding megah rumah ini.

"Tuan besar dan Nyonya besar sudah lama tidak tinggal di sini, Nyonya," tutur Bi Lastri dengan suara lirih, penuh nada perih. "Mereka bercerai ketika Tuan Grayson masih berusia sepuluh tahun. Pernikahan bisnis yang dipaksakan keluarga membuat keduanya tersiksa, hingga akhirnya mereka memilih jalan masing-masing."

Aurelia tertegun, mendengarkan dengan napas tertahan.

"Setelah perceraian itu, Tuan besar langsung menikah lagi dengan wanita pilihan hatinya dan pindah ke luar negeri mengurus cabang perusahaan keluarga yang lain. Begitu juga dengan ibunda Tuan Grayson—beliau menikah lagi dengan seorang pengusaha asing dan membangun keluarga baru di Eropa," lanjut Bi Lastri, suaranya bergetar pelan. "Mereka sama-sama sibuk mencari kebahagiaan baru di atas reruntuhan hidup anak kandung mereka sendiri."

"Lalu... Grayson?" cicit Aurelia, dadanya terasa nyeri mendadak. "Di mana dia dibesarkan?"

"Di sinilah, Nyonya. Di rumah besar ini," ucap Bi Lastri sambil menatap sekeliling ruangan dengan mata berkaca-kaca. "Ditemani kesunyian dan deretan pelayan. Tuan Grayson kecil dibesarkan di antara dinding-dinding dingin ini tanpa pelukan seorang ibu, tanpa teguran hangat seorang ayah. Setiap kali beliau merayakan ulang tahun, yang datang hanya deretan cek tunai dari orang tuanya, seolah kasih sayang bisa dibeli dengan angka-angka di atas kertas."

Aurelia membeku di tempatnya. Sekujur tubuhnya merinding mendengar kisah tersebut. Bayangan tentang Grayson—pria berandalan elit yang terkenal dingin, kejam, posesif, dan sering lepas kendali—kini mendadak mendapatkan kepingan puzzle yang hilang. Sisi gelap, ketakutan akan kehilangan, dan obsesi gilanya untuk mengikat Aurelia erat-erat ternyata berakar dari lubang hitam masa kecil yang tidak pernah sembuh; luka ditinggalkan oleh orang-orang yang seharusnya paling mencintainya di dunia ini.

"Beliau tumbuh menjadi pemuda yang menutup rapat hatinya dari siapa pun," tambah Bi Lastri mengusap sudut matanya yang basah. "Sampai akhirnya... kedatangan Nyonya Aurelia ke dalam hidupnya adalah satu-satunya hal hangat yang pernah kami lihat mampu meruntuhkan dinding es Tuan Grayson. Tolong sayangi beliau, Nyonya... meskipun caranya mencintai terkadang menakutkan, jauh di lubuk hatinya, Tuan Grayson hanya seorang anak kecil yang takut dibuang."

Air mata Aurelia menetes tanpa disadari. Rasa takut dan benci yang sempat bersarang di dadanya perlahan-lahan luntur, berganti dengan gelombang rasa prihatin yang teramat besar. Ia kini mengerti mengapa Grayson begitu beringas mempertahankan dirinya, mengapa tatapan mata *amber* itu selalu memancarkan rasa kepemilikan yang gelap—karena Aurelia adalah satu-satunya dunia terang yang ia miliki di tengah istana megah namun sunyi ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!