Indonesia
NovelToon NovelToon
Korban VS Pembully

Korban VS Pembully

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Bullying dan Balas Dendam / Chicklit / Tamat
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAPPY - YO

Selena, gadis cupu dan pendiam yang menjadi bahan bully semenjak dirinya masuk ke SMA BINTANG. Ibu dan sahabatnya meninggal di waktu yang berdekatan membuat Selena perlahan hancur dan terlarut dalam kesedihan.

Dalam pusaran kesedihan yang dia rasakan, ada emosi dan amarah yang mengalir ketika Selena mendengar bahwa Nadia, gadis yang biasa membully dirinya terlibat dalam kasus kematian sahabatnya.

Perlahan rasa takut Selena menjadi kebencian yang memberikannya keberanian yang belum pernah dia rasakan. Selena mulai berubah, dia membalas setiap pembullyan dan kekerasan yang dia dapat, dan berjanji akan mengungkap kasus kematian sahabatnya.

Dia tidak akan menjadi wanita lemah lagi. Dia akan menghabisi para setan yang bertopeng manusia yang telah membully dirinya selama ini.

Dan siapa sangka, takdir mengikat kisah asmaranya dengan Sehan, sahabat dari gadis yang selalu membully dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAPPY - YO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Netranya mengerjap pelan sebelum mengernyit ketika cahaya lampu menyerang retinanya sebelum dia dapat melihat sekeliling dengan jelas. Kamar serba putih dengan bau obat yang menyengat, sudah dapat dipastikan dirinya kembali masuk rumah sakit. Sebenarnya Selena bersyukur, setelah reaksi alergi yang separah itu, dia sudah mendingan saat ini.

Selena jadi menghembuskan napas kasar mengingat kenapa di baksonya bisa ada daging udang. Entah siapa pelakunya, mungkin orang yang sama yang selama ini menjebaknya.

Selena menoleh ketika pintunya terbuka dan muncul Sehan yang masih mengenakan pakaian sekolah. Netra Selena melirik pada jam dinding, Sehan pasti langsung kemari setelah pulang sekolah.

Tapi ada yang berbeda dari dirinya hari  ini.

Selena dapat mengenali raut wajah Sehan yang biasanya datar, tenang dan tidak terbaca, kini terbaca oleh dirinya. Sehan nampak marah dan dia menahannya.

"Lo udah baikan?" Tanya Sehan.

Selena mengangguk sebelum beranjak bangun membuat Sehan membantunya membenarkan bantal untuk bersandar.

"Katanya elo yang bawa gue ke sini? Makasih, ya!" Ujar Selena namun Sehan tidak bereaksi, pikirannya seolah berada di tempat lain.

"Gimana perasaan elo tentang semuanya setelah kejadian kali ini?" Tanya Sehan.

Alis Selena berkerut, "Maksudnya?"

"Pelaku yang naruh daging udang di bakso elo, karena bakso disana gak mengandung udang, pasti ada pelakunya. Buat yang nyimpen rokok di tas elo, yang ngirim virus berbahaya ke whatssap elo, gimana tanggapan elo sama mereka? Apa lo marah? Apa lo pengen balas mereka karena merasa ditindas?" Tanya Sehan dengan napas memburu membuat Selena menunduk sambil meremas jarinya.

"Karena ini salah gue sebelumnya, buat apa gue balas mereka?" Ujar Selena pelan membuat Sehan menghembuskan napas kasar sebelum menyugar rambutnya ke belakang.

Selena belum pernah melihat Sehan segusar ini sebelumnya. Sebenarnya apa yang terjadi sebelum Sehan datang ke sini?

Yang Selena tahu bahwa Sehan sempat pergi setelah mengantarkan Selena ke rumah sakit, berbeda dengan Putri dan Neneknya yang menunggu sampai Dokter keluar dari ruangan Selena.

Sepertinya benar ada yang terjadi.

Dia tidak mungkin uring-uringan tanpa alasan. Apalagi Sehan itu tipe yang tenang.

Netra Selena membelalak ketika Sehan mencengkram bahu dan mengguncangnya pelan.

"Lo harus kuat! Jangan jadi lemah! Jangan balik lagi kayak Selena yang dulu! Yang gak bisa apapun dan selalu nerima takdir gitu aja!" Ujar Sehan membuat Selena tertegun.

"Ta-tapi, gue takut. Awalnya gue berani lawan Nadia karena di emang salah. Tapi sekarang gue yang salah! Gue yang bermasalah, maka dari itu semua anak di sekolah benci sama gue!" Ujar Selena mencengkram kepalanya sendiri sebelum air matanya luruh membasahi pipi.

Sehan menarik Selena ke dalam pelukannya membuat tangis Selena semakin kencang.

"Lo itu gak bersalah! Jangan dengerin apa yang orang omongin tentang elo! Selama elo yakin dalam hati bahwa elo gak bersalah, semuanya akan baik-baik aja. Lo akan jadi kuat lagi, jangan takut! Gue ada sama elo." Ujar Sehan membuat Selena tertegun.

"Jangan nangis. Gue gak suka lihat elo lemah." Bisik Sehan membuat tangis Selena semakin kencang.

Sehan melepaskan pelukannya sebelum menarik pipi Selena mendekat dan mencium bibirnya.

Netra Selena membelalak dengan jantung yang meledak. Tangisnya berhenti, otaknya masih kosong ketika Sehan menjauhkan wajah dan menatapnya.

"Jangan nangis."

Selena jadi mengerjap, pipinya mendadak memerah dengan jantung yang berdegup kencang ketika kejadian di rumah sakit kembali mampir ke otaknya. Setelah kejadian itu, Selena mendapatkan kembali rasa percaya diri dan juga keberaniannya yang beberapa hari ini terkunci dalam hatinya.

Sebab kejadian itu pula, Selena merasa bahwa dirinya mulai jatuh cinta pada Sehan.

Netra Selena melirik pada Sehan yang tengah menunduk, fokus belajar untuk Ujian Tengah Semester yang akan datang. Keduanya berniat belajar bersama selama waktu tersisa sampai Ujian di laksanakan.

Jantung Selena jadi berulah lagi mengingat bahwa beberapa hari ke depan, dirinya akan terus berduaan dengan Sehan di perpustakaan selama dua puluh menit sebelum Sehan pergi Les.

"Lo mikirin kasus Keira? Kenapa dari tadi bengong?" Tanya Sehan membuat Selena tersentak kecil sebelum menggeleng pelan.

Sehan jadi bergeming sebelum melengos kasar dan menutup bukunya, "Meskipun penyelidikan kita di tunda karena ada Ujian, tapi gapapa. Karena kita semakin dekat ke akhir."

"Padahal ini cuman UTS, kalau bukan karena bokap, gue gak akan berusaha keras kayak gini dan mungkin kita bisa lanjut penyelidikannya." Gumam Sehan mengumpat dalam hati.

Maka dari itu Sehan harus berusaha keras kali ini karena sepertinya Ayahnya akan benar-benar menghabisinya jika peringkatnya tidak naik.

"Seharusnya kita gerak cepat, tapi mau gimana lagi? Kemarin terhambat gara-gara Nadia jatuhin mental elo sampai gak kepikiran nyelidikin kasus Keira." Ujar Sehan.

"Bukannya kalau dia ngehambat gue sampai segitunya, artinya pelakunya emang dia?" Tanya Selena membuat Sehan mengangkat bahu.

"Meskipun begitu, mustahil jatuhin seorang Nadia Cantika tanpa bukti yang kuat. Maka dari itu penyelidikan ini ada, kan?" Tanya Sehan membuat Selena mengangguk.

"Gue harus pikirin cara buat nyari bukti kuat bahwa pelakunya Nadia. Gue bakal jatuhin elo Nadia! Lihat aja!" Gumam Selena mengepalkan tangannya.

Sehan bergeming menatapnya, "Kenapa elo seyakin itu?"

"Ha?"

"Kenapa elo seyakin itu kalau pelakunya Nadia? Kalau penyelidikan ini berhasil dan dapat bukti bahwa pelakunya bukan Nadia, gimana?"

Selena tersentak mendengar pertanyaan itu.

"Meskipun begitu, saat akhirnya terungkap nanti, mau Nadia atau yang lain, tetep mereka harus kena ganjarannya." Jawab Selena.

"Kalau gitu, bagus. Tujuan elo emang menegakan keadilan buat sahabat elo. Gue sempat salah sangka barusan kalau tujuan elo cuman balas dendam sama Nadia." Ujar Sehan menghembuskan napas lega.

"Tapi, bukannya sama aja?"

Sehan mengangkat sebelah alisnya.

"Pada akhirnya tujuan gue selalu berakhir di kata menegakan keadilan buat Keira dan balas dendam sama Nadia." Jawab Selena dengan alis mengernyit tatkala raut wajah Sehan berubah meskipun samar.

...****************...

"Lo belajar buat UTS?" Tanya Dekan memasuki kamar Nadia dan merebahkan tubuh di kasurnya.

Nadia yang sedang membaca buku di meja belajarnya hanya bergumam.

"Kenapa? Bukannya kali ini elo sama Sehan udah musuhan? Elo gak perlu bantuin dia lagi, kan?" Tanya Dekan sebelum tertawa kecil.

"Iya, tapi gue pengen jatuhin sambil ngejek dia dari peringkat atas." Jawab Nadia tanpa menoleh.

"Kalau gitu gue jadi gak sabar lihat dia dibunuh Ayahnya setelah ujian nanti." Ujar Dekan ringan sambil tertawa puas.

Tawa Dekan berhenti sebelum raut wajahnya menjadi serius, dia beranjak bangun dan duduk di tengah ranjang.

"Lo tahu apa yang gue temuin baru-baru ini? Ternyata Ibunya Selena itu...." Ujar Dekan mengucapkan sesuatu yang membuat Nadia mengalihkan atensinya dari buku dan berbalik menghadap Dekan.

"Beneran?" Tanya Nadia membuat Dekan mengangguk yakin.

Nadia tertawa kecil sebelum menyeringai pelan dan melipat tangan di depan dada, "Ternyata ini jadi semakin menarik."

"Mau bagaimana lagi, Sehan? Ternyata gue punya kartu as lain yang bisa jatuhin elo sedalam-dalamnya ke neraka." Gumam Nadia menyeringai.

1
Ayu Wulandari
semoga bikin part 2 nya hehehe
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʏͩᴜᷞʟͧɪᷡᴀͣ
hebat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʏͩᴜᷞʟͧɪᷡᴀͣ
putri ?
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʏͩᴜᷞʟͧɪᷡᴀͣ
jangan2 meninggalnya keira ada hubungannya dengan sehan. wah jdi masalah ni di kemudian hari..
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʏͩᴜᷞʟͧɪᷡᴀͣ
ya Allah.... sadis amat. anak sekolah udh berani ngebunuh temennya.
Fuji Lestari
nggak paham SM karakter Nadia
Fuji Lestari
MC ny terlalu bodoh
Nur Lela
luar biasa
Yulinda Kala
klu menurut aku, ini novel benar" bagus, novel pertama tentang pembelian yg aku suka... ❤👍
Viona Indriyani: syukurlah ada yang suka, terimakasi♡
total 1 replies
juliya
👍
juliya
novel ke dua tentang pembulian
Siti Patimah Prasetya
bagus banget, banyak teka teki yang tidak terduga..
Divya Alexa
lanjut thor
ilva
lanjut Thor buat pelakunya masuk penjara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!