konon katanya orang zaman dahulu percaya bahwa, seseorang yang mati dalam keadaan baik maka, dia akan terlahir dengan tanda lahir simbol hati merah di pundak kanan .
sedangkan jika seseorang mati dalam keadaan tidak baik maka, dia akan terlahir dengan tanda lahir simbol kunci di pundak kiri mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perjuangan
Di rumah keluarga mereka yang aman, Rajendra, Allen, dan Alex berkumpul di ruang keluarga.
Carlos terbaring lemah di sofa, tubuhnya penuh luka setelah penyiksaan brutal di istana.
Allen dengan hati-hati membersihkan dan mengobati lukanya, menggunakan ramuan penyembuh yang kuat untuk membantu proses pemulihan.
“Kau beruntung kami datang tiba tepat waktu” kata Allen sambil mengoleskan salep di punggung Carlos. “Kalau tidak, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu, jika kami datang tidak tepat waktu.”
Carlos menghela nafas, wajahnya masih terlihat pucat. “Mereka akan terus mencariku sampai mereka menemukan Mary. Asta… dia sudah mulai bangkit.”
Rajendra yang duduk di dekat jendela menatap keluar, ekspresi wajahnya serius. “Kami tahu. Kami juga bisa merasakan ada sesuatu yang berubah dengan Mary.”
Alex, yang duduk di sudut ruangan, menggelengkan kepalanya dengan cemas. “Kita harus bertindak cepat. Asta semakin kuat, dan kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”
Allen berhenti sejenak dari pekerjaannya dan menatap saudara-saudaranya. “Carlos, kau tahu sesuatu tentang Asta. Apakah ada cara untuk menghentikan proses ini sebelum Mary sepenuhnya dikuasai?”
Carlos menatap mereka dengan tatapan lemah namun tegas. “Asta adalah salah satu penyihir terkuat dari masa lalu. Dia tak mudah dilawan. Namun, Mary… dia bisa bertahan jika dia cukup kuat secara mental. Kita harus memastikan dia tidak kehilangan kendali atas dirinya sendiri.”
Rajendra mengangguk. “Kita harus menemukan cara untuk membantunya tetap sadar. Jika tidak, Asta akan mengambil alih dan menghancurkan segalanya.”
---
Di sisi lain, di kamar Mary, situasinya jauh lebih genting. Mary duduk di tempat tidurnya dengan tangan gemetar, berusaha menjaga ketenangan. Di dalam pikirannya, dia bisa merasakan roh penyihir Asta terus berusaha merasuki tubuhnya, mendorongnya ke tepi jurang kegelapan.
"Jangan menyerah... Jangan biarkan dia menguasai mu..." Mary bergumam pada dirinya sendiri, mencoba tetap fokus. Namun, suara tawa jahat Asta terus menggema di kepalanya, semakin mempengaruhi pikirannya.
“Kau tak bisa melawanku, Mary. Aku lebih kuat dari yang kau bayangkan,” suara Asta terdengar jelas di dalam benaknya. “Semakin kau melawan, semakin aku menguasai mu.”
Mary memejamkan matanya erat-erat, berkeringat dingin. Dia tahu dia harus tetap kuat, tetapi rasanya semakin sulit setiap detiknya. Tiba-tiba, dia merasakan kehadiran seseorang di dekatnya.
"Mary... kamu baik-baik saja?" suara lembut Abriella terdengar, membuat Mary tersentak kembali ke kenyataan. Abriella sudah berada di kamarnya, tatapannya penuh kekhawatiran.
Mary mengangguk pelan, meski tubuhnya terasa semakin lemah. "Aku mencoba, Abriella... tapi Asta semakin kuat. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan."
Abriella mendekat dan duduk di sampingnya. “Jangan menyerah, Mary. Kau lebih kuat dari apa yang kau pikirkan. Asta mungkin berbahaya, tapi kau bukan orang yang mudah menyerah.”
Mary menatap sahabatnya dengan tatapan penuh ketakutan. “Bagaimana kalau aku tidak bisa melawan, Abriella? Bagaimana kalau aku kehilangan diriku sepenuhnya?”
Abriella meraih tangan Mary, menggenggamnya erat. “Kau tidak sendirian dalam hal ini. Kami semua di sini untukmu. Aku tidak akan membiarkanmu melawan Asta sendirian.”
Mary tersenyum kecil, merasakan sedikit kekuatan dari dukungan Abriella. Namun, dia tahu, bahwa pertempuran ini lebih besar dari apa pun yang pernah dia hadapi.
Kekuatan Asta perlahan-lahan merayap lebih dalam ke dalam dirinya, dan waktunya semakin sedikit.
Di dalam pikirannya, Asta tertawa dengan kejam. “Kau bisa mencoba melawan, Mary. Tapi kau takkan menang.”
Mary menggigit bibirnya, tekadnya semakin kuat. “Aku akan melawanmu, Asta. Dan aku tidak akan menyerah.”
__ __
Sementara itu, di rumah, Rajendra memandang Allen dan Alex dengan ekspresi serius. "Kita harus menemukan solusi sebelum semuanya terlambat."
Allen menutup kotak obat setelah merawat Carlos dan meletakkan kembali kotak obat pada tempat nya. "Kita harus mencari cara untuk menghentikan Asta dari dalam. Mary sedang berjuang, tapi dia butuh bantuan kita."
Carlos meski lemah, mencoba berbicara. "Kalian harus menemukan segel kuno... Segel itu bisa membatasi kekuatan Asta dan menghentikan kebangkitannya."
Rajendra mengerutkan alisnya. "Segel kuno? Di mana kita bisa menemukannya?"
Carlos menatap Rajendra dengan tegas. "Ada sebuah tempat... tempat di mana segel itu disimpan. Tapi sangat berbahaya untuk ke sana. Banyak yang mencoba mencarinya, tapi tak pernah kembali."
Alex mengepalkan tangannya. “Bahaya atau tidak, kita tidak punya pilihan lain. Mary bergantung pada kita.”
Rajendra mengangguk, tekadnya semakin kuat. “Kita harus melakukannya. Kita harus pergi dan menemukan segel itu, sebelum Asta mengambil alih sepenuhnya.”
Allen, Alex, dan Rajendra saling bertukar pandang. Mereka tahu apa yang dipertaruhkan. Mary adalah pusat dari segala rencana Asta, dan mereka harus melindunginya, bagaimanapun caranya.
Gabung yu di Gc Bcm
kita di sini akan ada event dan reward special loh
serta kita di sini akan belajar bareng mengenai teknik menulis dasar yang baik dengan kaka mentor senior kita
caranya hanya wajib Follow akun saya sebagai pemilik Gc Bcm ya.
Thank you.