Indonesia
NovelToon NovelToon
KULDESAK

KULDESAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Konflik etika / Aliansi Pernikahan / Pernikahan Kilat / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa
Popularitas:105.3k
Nilai: 5
Nama Author: NL choi

Demonstrasi sejuta buruh dan mahasiswa yang mengepung istana negara menjadi perubahan konstelasi kehidupan seorang mahasiswi akhir bernama Nawa Putri. Agenda pertemuannya dengan dosen pembimbing skripsinya berjalan tidak sesuai rencana. Ia justru terjebak dalam malapetaka. Bahkan ia tak menyadari pasca-kejadian tersebut, Na—sapaan Nawa—telah masuk lebih dalam di kehidupan Saba yang rumit dan penuh intrik. Idealisme tidak lagi seia sekata dengan kerinduan yang mengharu biru. Tak jelas lagi ke mana arah yang dituju.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NL choi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Aksi Nyata

...25. Aksi Nyata...

“Ada info terbaru?” tanyanya pada seseorang di ujung telepon.

“Gak ada, Na. Titik kumpul masih sama. Lo bawa mobil sendiri?”

“Yap. Mobil gue nanti titip di sana.”

“Oke. Hati-hati lo.”

Ia menyimpan ponselnya di dalam tas yang diletakannya di bangku sebelah. Perlengkapan yang dibawanya di dalam tas menurutnya sudah lengkap.

Ada masker, kaca mata hitam, pasta gigi, tisu basah dan kering, handuk kecil, air minum, roti dan permen, topi, serta obat ringan seperti minyak kayu putih dan oxycan. Tak lupa pakaian ganti juga telah disiapkan.

Aksi akan dimulai pukul satu siang. Namun pukul 11 para peserta aksi harus sudah berkumpul pada titik-titik yang telah ditentukan oleh koordinator aksi.

...***...

Sementara di waktu yang sama, Saba tiba di kediamannya. Ia baru saja mengisi konferensi gabungan serikat buruh di sebelah barat Jakarta. Sebelum mereka berangkat untuk melakukan aksi.

Yanri mengabarkan jika sudah tiba di lokasi aksi. Sementara ia memilih memantau aksi kali ini dari rumahnya saja.

Ia menuju rumah utama. Menyimpan tas punggung di lantai yang berisi pakaian dan perlengkapannya selama pergi. Membawa tas laptop ke atas meja. Lantas menyimpan ponsel di sebelahnya. Menanti kabar terbaru dari Yanri.

Tubuhnya seolah tidak lelah. Padahal hari ke hari selama seminggu lebih ia berpindah-pindah tempat tanpa jeda.

Satu gelas minuman infused water yang diambilnya dari kulkas sekejap lenyap dari wadahnya. Ia melepas kemeja tactical, disampirkannya di kursi makan. Kemudian memilih berbaring di sofa panjang.

Baru beberapa detik ia berbaring, dering ponselnya memaksanya untuk segera bangkit. Melihat siapa yang meneleponnya. Yanri.

Ia kembali mengenakan kemejanya. Duduk dan menerima panggilan video.

“Gue di Patung Kuda. Massa sebagian di depan istana. Informasi yang gue dapat massa aksi yang datang mencapai angka 950.000. Ini masih jam 12. Aliansi mahasiswa se-Jabotabek belum gabung.”

“Tetap hati-hati, Yan.”

“Siap. Yang hadir sementara ini termonitor dari berbagai aliansi serikat pekerja buruh, petani, nelayan, guru honorer, PRT, para ojol, LSM, dan kaum perempuan. Ini hanya berasal dari Jakarta dan kota-kota penyangganya. Belum mahasiswa dan para pekerja dari Bandung yang infonya mereka ditahan untuk masuk ke Jakarta.”

“Ya itu upaya dari penguasa untuk membendung semua massa terkonsentrasi di istana.”

“Penghuni istana infonya malah pergi kunjungan kerja ke Bali.”

Ia tergelak kecil. Lalu mengusap kepalanya dari belakang ke depan. “Lagu lama,” cemoohnya. “Itu kepala negara yang gak punya nurani dan ngaco tingkat dewa. Masa rakyat mau bertemu dia malah berwisata.”

Yanri tertawa. “Wisata berkedok kunjungan kerja,” tambahnya. “Jelas-jelas surat pemberitahuan aksi massa ini sudah jauh-jauh hari dikirim. Dan setiap tahun may day selalu diperingati. Dan anehnya setiap tahun dia kunjungan kerja terus bertepatan dengan may day.”

“Ya, bisa-bisa dia aja.”

“Sekarang gue bisa lihat rombongan aliansi mahasiswa sedang lewat. Banyak banget ini. Mungkin mencapai ratusan.”

“Harusnya hari buruh juga diperingati semua pekerja yang merasa masih mendapatkan upah dari pihak lain. Akal-akalan yang punya kepentingan saja terminologi buruh dan pekerja sengaja dikotak-kotakan. Padahal hakekatnya mereka sama. Buruh ya pekerja, pekerja ya buruh. Selama ini buruh diasosiasikan dengan pekerjaan fisik seperti tenaga kerja pabrik, petani atau nelayan. Mereka dianggap dari kelas bawah yang tidak punya prestise. Sementara itu, pekerja atau pegawai diasosiasikan dengan pekerjaan yang membutuhkan intelektualitas dari kalangan menengah.”

Yanri menukas, “Memang istilah ini sengaja bias. Biar para pekerja atau pegawai ini gak bisa berserikat. Kalau mereka bisa berserikat, wah … wah, wah, dipastikan yang demo hari ini bisa diangka jutaan.”

“Ya itu dia tuh, perbedaan konotasi antara buruh, pekerja, pegawai maupun karyawan sengaja diciptakan para pemegang kuasa. Bisa jadi tujuannya agar pengusaha dan pembuat kebijakan bisa memecah kekuatan kelompok pekerja ini. Karena bagi mereka yang punya kekuasaan, pasti menghadapi ratusan ribu buruh akan lebih gampang ketimbang menghadapi jutaan tenaga kerja yang bersatu,” paparnya.

“Oke. Ulasan ini sementara cukup. Nanti gue hubungi lagi.”

...***...

“Dika mana?” Ia berada di antara lautan peserta aksi yang baru saja turun dari bus. Terpaksa mereka diturunkan jauh dari titik lokasi kumpul terakhir.

“Tuh!” Safiya menunjuk ke belakang mereka. Tadi saat masuk ia dan Nawa mendapat tempat duduk. Sementara Dika harus berdiri di bagian belakang.

“Gila. Alamat gue diblacklist dari daftar pencari kerja,” keluhnya. Bagaimana tidak khawatir. Statusnya sebagai pengangguran yang tengah mencari pekerjaan. Lha, kalau ketahuan ia suka ikut demo-demo begini, perusahaan mana yang akan mau meperkerjakannya.

Ia tersenyum melihat Safiya yang mengelap peluh dengan tisu. Mengenakan jaket kuning dan topi.

“Mati gue kalau ada yang tahu gue bukan mahasiswa lagi,” Safiya mengenakan lagi masker dan kacamata hitam. Agar tidak mudah dikenali.

Tawanya cukup keras. “Aman. Gak akan ada yang tahu.” Penampilan ia dan Safiya begitu mirip. Padahal tidak janjian.

“Yuk!” Dika yang datang dari belakang menghampiri mereka. Kemudian ketiganya berbaris acak dalam kerumunan almamater jaket kuning.

“Lo, tumben-tumben an sih, Na ikut beginian?” tukas Safiya sambil menggandeng tangannya. “Lo dulu antipati. Mending belajar di perpus atau belajar di rumah,” tambahnya mengejek.

“Mana ada! Gue gak serajin itu,” sanggahnya tak terima.

Suara teriakan sang koordinator aksi jakun di depan mereka terdengar melalui megafon.

“Hidup mahasiswa!”

Disambut massa : “Hidup Mahasiswa!”

“Hidup rakyat Indonesia!”

Disambut massa : “Hidup rakyat Indonesia!”

“Lo, sudah gak trauma, Na?” tanya Safiya. Hingga kini tiap tahun foto Mas Panca selalu terpampang di gedung FKM sebagai peringatan untuk mengenang wafatnya.

“Gue sudah berteman, Fi. Sudah 16 tahun berlalu.”

“Kapan ya, kita bisa memperingati hari buruh seperti ini secara damai lewat perayaan bukan demonstrasi kayak begini?”

“Hidup mahasiswa!!” Teriakan dari megafon kembali terdengar.

Disambut massa jakun : “Hidup mahasiswa!!

“Mungkin kalau para pekerja sudah mendapat kesejahteraannya, Fi. Tiap tahun mereka menuntut keadilan dengan cara begini artinya hak mereka belum terpenuhi.”

“Halloww ibu-ibu … kok kalian pada ngerumpi di sini?!” cetus Dika, yang tidak sengaja mendengar pembicaraan keduanya. “Kita lagi demo bukan ngerumpi ya ibu-ibu,” tambahnya.

Membuat dirinya dan Safiya spontan berteriak bersamaan menyahut megafon, “Hidup mahasiswa!” seraya mengepalkan tangan.

...***...

Saba sempat tertidur sesaat di sofa rumah utama. Lalu dering panggilan video dari Yanri membuatnya terbangun. Ia berdiri, mencuci mukanya. Menyambar kemeja yang tadi kembali disampirkan ke kursi setelah panggilan telepon dari Yanri selesai.

Ia kembali mengenakan kemejanya lagi. Lalu memilih duduk di teras rumah untuk menerima panggilan video tersebut.

“Ada kabar apa?” sahutnya melihat Yanri berdiri di tengah-tengah kerumunan massa.

“Gue habis siaran langsung. Lagi break.”

“Massa terpusat di dua titik. Istana dan patung kuda. Tapi melihat pembuat kebijakan memilih pergi ke Bali sepertinya ada perubahan titik kumpul. Sepertinya akan mengarah ke gedung MPR/DPR.”

“Artinya dia bersalah, makanya takut memilih menghindar. Coba kalau dia berani hadapi kemarahan rakyat, berarti dia bertanggungjawab. Sudah benar massa beralih ke sana. Karena dua lembaga itu sudah bermain mata. Mana mungkin pengesahannnya 3 hari lebih cepat dari jadwal yang seharusnya. Makanya mereka mengupayakan untuk disahkan sebelum adanya gelombang besar penolakan.”

“Benar. Mereka sengaja kucing-kucingan, rela membahas RUU ini siang-malam bahkan dini hari. Drafnya saja yang beredar di masyarakat selalu berubah-ubah. Awalnya 1200 halaman, lalu menjadi 800 halaman. Eh, lalu berubah lagi katanya 1000 halaman. Ampun.”

“Ya itulah pemerintahan yang ngaco. Lempar buah sembunyi tangan,” tandasnya kesal.

“Okelah … gue mau wawancara salah dua atau tiga peserta aksi dari mahasiswa.” Yanri mengarahkan tangkapan layar pada kerumunan mahasiswa yang berjalan. “Almamater lo, ini ….” Tukasnya ketika mahasiswa yang mengenakan jaket kuning lewat.

“Jangankan mereka kaum intelektual, para buruh pekerja yang tingkat pendidikannya tidak tinggi saja tidak mudah dibodohi.” Ia bisa melihat bagaimana adik-adik kelasnya itu bersemangat menyuarakan ketidakadilan.

“Ada yang lo kenal gak?” tanya Yanri mencoba mendekati.

Ia menyipitkan mata. Mendekatkan penglihatannya pada layar ponsel. “Gak ada,” jawabnya.

“Info terbaru kalau tuntutan mereka gak dipenuhi mereka mau bertahan sampai malam,” kata Yanri terus menyorotkan kamera pada peserta aksi yang berjalan lewat di hadapannya.

“Coba lo maju, Yan.”

Yanri menurut saja.

“Bukan. Yang di depannya lagi pakai tas punggung putih,” pintanya.

Yanri tetap menuruti perintahnya.

“Maju lagi,” tukasnya.

“Yang mana sih?! Yang pakai tas punggung putih banyak. Tapi ada 2 orang yang beriringan.” Yanri terlihat bingung.

“Ya itu. Yang pakai masker.”

“Dua-duanya pakai masker.”

“Yang pakai masker tertutup. Yang satunya, kan, maskernya agak ke bawah.”

“Sama saja.”

“Masa gak tahu bedanya,” tangkasnya tak sedikitpun mengalihkan perhatiannya pada tangkapan layar di ponselnya. “Kameramu jangan goyang-goyang, Yan. Itu ada beda dikit,” sanggahnya lagi. “Yang pakai topi hijau,” imbuhnya.

“Hijau apaan? Kan dua-duanya pakai topi hijau.”

Ia berdecak. Namun intuisinya berbisik 100% tak akan salah. “Hijau army.”

“Dua-duanya army.” Yanri tetap dalam pendiriannya.

Ia mulai kasak-kasuk. Bangkit dan menukas, “Lo, buta warna apa, ya?! Masa gak bisa bedain mana army green sama sage green.”

1
Dinda Gusti
bang saba temannya mas panca kah?
Dinda Gusti
😍
Dinda Gusti
aq ank ke 8 dr 10 bersaudara/Chuckle/
Dinda Gusti
sedihnya...jd ingat ibuq😔
anamsyahla qory
Sentul ini
anamsyahla qory
Karya othor neil selalu berkesan nggak pernah bisa di tebak ada rasa greget2 manis
anamsyahla qory
Othor Enel aku hadir Mpok Poernama
Vie ardila
Luar biasa
Syumie Susanty
kaka kemana yaaaaa ,aku kangeeen banget sama cerita yg kaka buat, sebelum aku punya bayi ,dan sekarang bayi aku udah 1t ,belum ada kelanjutannya 😭😭😭 ,semua nungguin kaka dan kelanjutan cerita ka nawa dan bang saba
yayah: iya, SDH lama sekali
total 1 replies
Norainah Hani
semoga segera lanjut ceritanya
Fauzi Nizam
ya Allah Thor.. sekian purnama nggak lagi up Thor.. udah 2025 nih... nggak di lanjutkan lagi nih.. padahal kangen sama bang saba nawa
Yay.
Hampir setahun ga dilanjutkan 😩
Elita Lestari
aku sampai agak lupa sama jalan crt nya, saking lama othornya nggak nulis lanjutan nya
Fauzi Nizam
ya Allah kak.. beneran AQ kangen Ama nawa dan bang saba..
tolong lanjutkan lagi lah nih novel...
please,,.
Syumie Susanty
masih belum ada tanda2 kelanjutannya ya, di pantau terus dari bulan manaaa mh, kmna kah kau author, 🤔
Atala Putri
bagus semua buku mu tak baca ini aplikasi dah kehapus cari" lagi ketemu semangat author tamattin ya bukunya
Fauzi Nizam
nawa cemburu bang,,
ah bang saba kurang peka
Fauzi Nizam
kapan novel ini dilanjutkan lagi Thor?? ah padahal seru loh ini .
mungkin ada banyak kosakata baru yg saya mengerti..
karena saya tidak pernah kuliah,
Khusnul Khotimah
dimanakah kak author nya?
Fauzi Nizam
novel ini kereen banget,, tapi sayang belum dilanjutkan lagi sampai end..
dan masih banyak teka-teki yg belum ke jawab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!