"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27.Pertemuan di kota.
Hening kembali menyelimuti lembah air terjun, hanya suara gemuruh air yang jatuh memecah keheningan malam yang mendalam. Jatmika berdiri tegak di atas batu besar, tatapannya tenang namun tajam menembus tirai air yang deras, seakan mampu melihat setiap jengkal ruang sempit tempat Alif bersembunyi. Ia tak bergerak mendekat, tak pula mengeluarkan ancaman seperti yang dilakukan rekan-rekannya dulu. Hanya keheningan yang terasa begitu berat, hingga akhirnya suara lembut namun jelas terdengar menyelinap di antara deru air.
“Mereka sudah pergi. Keluarlah. Aku tahu kau ada di sana.”
Di balik dinding air yang dingin, Alif masih menekan punggungnya ke dinding batu yang lembap. Tangannya mencengkeram gagang pedang erat-erat, napasnya tertahan rapat. Keraguan masih menguasai seluruh pikirannya—bagaimana jika ini hanya jebakan? Bagaimana jika siluman itu hanya ingin memancingnya keluar untuk menghabisinya dengan mudah? Selama bertahun-tahun ia diajarkan bahwa makhluk gaib tak pernah berbuat baik tanpa alasan tersembunyi, bahwa kebaikan yang mereka berikan hanyalah selimut untuk kejahatan yang lebih besar.
Menit berlalu terasa seperti berjam-jam, namun tak ada suara langkah kaki mendekat, tak ada gerakan mencurigakan. Hanya Jatmika yang masih berdiri diam di tempatnya, senyum tipis masih tersungging di bibirnya seakan mampu membaca segala keresahan yang menyelimuti hati Alif.
“Kalau aku ingin membunuhmu,” ucap Jatmika kembali, suaranya tetap tenang seolah sedang berbicara pada angin malam, “aku sudah melakukannya sejak pertama kali kau melangkah masuk ke wilayah ini.”
Kalimat itu menghantam dada Alif lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Ia teringat bagaimana Jatmika menundukkan ketiga pengejarnya dalam hitungan detik, betapa mudahnya ia bisa menghabisi dirinya juga jika memang menginginkannya. Perlahan, rasa takutnya mulai bergeser digantikan rasa malu yang mendalam. Dengan tangan yang masih gemetar, ia melangkah maju, menembus tirai air yang membasahi seluruh tubuhnya hingga basah kuyup.
Alif berdiri tegak di hadapan Jatmika, darah masih menetes dari beberapa luka di pelipis dan lengannya, pakaiannya compang-camping dan kotor terkena tanah serta lumpur. Tanpa ragu sedikit pun, ia segera menghunus pedangnya dan mengarahkan ujung tajam tepat ke arah dada Jatmika.
“Kenapa kau menyelamatkanku?” tanyanya dengan suara bergetar namun tegas, matanya menatap tajam mencari jejak kebohongan di wajah siluman itu. “Aku ini manusia. Aku ini bagian dari mereka yang kamu habisi. Kenapa kau tidak membiarkan mereka membunuhku saja?”
Jatmika tak mundur selangkah pun. Ia bahkan tak terganggu sedikit pun oleh ujung pedang yang mengancam nyawanya. Perlahan ia menggeleng pelan, tatapannya seolah menatap jauh ke dalam jiwa Alif yang sedang hancur.
“Karena tuanku tidak pernah membunuh manusia yang tidak bersalah.”
Kalimat itu begitu sederhana, begitu polos, namun kembali mengguncang seluruh pondasi keyakinan yang tersisa di dalam diri Alif. Di saat gurunya sendiri tanpa ragu merenggut nyawa orang tak berdosa demi kekuatan, di saat organisasinya sendiri mengajarkan bahwa musuh harus dimusnahkan tanpa ampun—justru makhluk yang selama ini dianggap iblislah yang memegang prinsip keadilan itu.
Alif perlahan menurunkan pedangnya, tangannya terkulai lemas di samping tubuh. Ia tak lagi sanggup memegang senjata itu, senjata yang ternyata hanya digunakan untuk menindas yang lemah dan melindungi kejahatan yang menyamar sebagai kebenaran. Tanpa menambah sepatah kata pun, Jatmika memberi hormat kecil dengan kepala, lalu berbalik perlahan menghilang ke dalam kegelapan hutan seakan terserap oleh bayangan malam itu sendiri. Meninggalkan Alif sendirian menghadapi kenyataan pahit yang kini harus ia telan bulat-bulat.
Keesokan paginya, sinar matahari menyelinap lembut masuk ke dalam rumah besar itu, menyentuh setiap sudut yang biasanya penuh ketegangan. Untuk pertama kalinya setelah berlatih berbulan-bulan, Raisa dibebaskan Arya dari latihan fisik berat di luar rumah. Ia duduk santai di beranda samping, menikmati secangkir teh hangat sambil membiarkan angin pagi menerpa wajahnya dengan lembut.
"Akhirnya aku bisa kembali menikmati kebebasanku dari latihan yang melelahkan itu. " Gumam nya dengan tersenyum lega.
Perasaan yang begitu damai, yang sudah lama dia tidak rasakan yaitu santainya pewaris wanita kaya.
Belum lama ia menikmati ketenangan itu, terdengar suara ketukan pelan di pintu depan. Sekar yang bergerak lincah namun tetap anggun segera membukanya, menerima bungkusan besar yang diserahkan kurir, lalu berjalan mendekat ke arah Raisa sambil tersenyum ramah.
“Nona Raisa, ini paket dari kota.”
Mata Raisa seketika berbinar cerah. Ia segera bangkit berdiri dan menerima bungkusan itu dengan tangan bergetar penuh harap. “Terima kasih, Sekar. Akhirnya datang juga.”
Dengan hati-hati ia membuka bungkusan itu, dan senyum lebar mekar di bibirnya saat melihat barang-barang kesayangannya kembali ada di hadapannya. Di dalamnya terdapat ponsel lama miliknya, buku tabungan pensiun almarhum ayahnya, beberapa foto kenangan, serta pakaian yang ia simpan baik-baik. Segera ia menyalakan ponselnya, dan begitu layar menyala, notifikasi pesan masuk bertumpuk—namun ada satu pesan yang membuat jantungnya berdegup kencang tak menentu.
Pengirimnya adalah seseorang yang bernama Hasan. Pesan itu singkat namun penuh makna: “Nak Raisa, jika kau menerima pesan ini, tolong hubungi aku. Aku Kakekmu dari pihak ibumu. Ada hal penting yang ingin kusampaikan dan ada sesuatu yang harus kuserahkan padamu.”
Raisa terpaku sejenak, rasa penasaran bercampur dengan rasa ragu melanda hatinya. Selama ini ia tak pernah bertemu satu pun kerabat dekat dari pihak ibunya. Mereka selalu menjauh, selalu menyalahkan dirinya atas segala hal buruk yang terjadi pada ibunya. Namun sekarang, tiba-tiba ada yang ingin menemuinya? Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera menekan tombol panggil pada nomor yang tertera.
Tak butuh waktu lama hingga panggilan itu terhubung. Suara berat namun terdengar lemah dan penuh penyesalan terdengar dari seberang.
“Halo... Raisa?”
“Iya, Kakek. Saya Raisa,” jawabnya pelan, berusaha menahan getaran dalam suaranya. “Benarkah Kakek Hasan? Mengapa baru sekarang Kakek menghubungi saya?”
Di seberang sana terdengar helaan napas panjang yang terdengar begitu berat. “Ada banyak hal yang tak bisa kujelaskan lewat telepon, Nak. Bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang harus kuberikan dimana barang ibumu yang tersimpan dirumah kakek.”
Raisa terdiam sejenak, lalu mengangguk meski tak terlihat. “Baiklah, Kakek. Di mana dan kapan kita bertemu?”
Mereka pun menyepakati tempat pertemuan di sebuah kafe sederhana dekat terminal bus kota, dua jam perjalanan dari desa tempatnya tinggal. Begitu panggilan tertutup, Raisa segera berlari menuju kamarnya, bersiap secepat mungkin dengan hati yang penuh tanda tanya. Sebelum melangkah keluar rumah, ia mencari Sekar yang ada di dapur.
“Sekar, saya mau pergi ke kota sebentar menemui Kakek Hasan,” ucapnya sopan namun tegas. “Jika Arya mencariku atau ada perlu penting hubungi aku,nomernya aku taruh di meja makan.”
Sekar hanya menoleh sekilas, menatapnya lekat sejenak, lalu mengangguk dengan pelan, “Baik nona,hati-hati dijalan. Tidak mau diantar dengan mobil?.”
“Tidak usah Sekar, aku nanti naik busa saja sekalian jalan-jalan. ”
Tanpa menunggu lagi, Raisa melangkah keluar rumah dan menunggu angkutan umum. Ia memilih tidak menggunakan mobil antik peninggalan kakeknya, lebih merasa tenang berjalan sendiri menembus perjalanan yang panjang. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus melayang—apa yang sebenarnya ingin disampaikan kakeknya? Barang apa yang begitu penting hingga baru mau diserahkan sekarang?
Dua jam berlalu cepat, dan Raisa akhirnya tiba di kota. Ia berjalan menuju kafe yang disepakati, dan begitu melangkah masuk matanya segera menyapu seluruh ruangan. Di sudut yang agak sepi, seorang lelaki tua berjalan tertatih sambil memegang tongkat melambaikan tangan perlahan ke arahnya. Raisa segera berjalan mendekat, lalu duduk berhadapan dengan lelaki itu.
“Selamat siang, Kakek. Saya Raisa,” ucapnya sopan sambil sedikit menunduk.
“Selamat siang, Nak. Aku Hasan,” jawab lelaki itu dengan mata berkaca-kaca menatapnya lekat, seakan sedang melihat sosok putrinya yang telah tiada.
Percakapan mereka berjalan canggung di awal, hanya membahas hal-hal ringan seperti perjalanan dan keadaan sekitar. Namun rasa penasaran Raisa akhirnya mengalah, dan ia memberanikan diri bertanya langsung.
“Kakek, sebenarnya apa tujuan Kakek ingin menemui saya? Dan mengapa baru sekarang?”
Wajah Hasan perlahan berubah serius. Ia menatap lekat mata Raisa, lalu bertanya dengan suara bergetar, “Kau... kau sekarang tinggal di mana?”
“Di Desa Suka makmur, di rumah peninggalan Kakek dari pihak ayah,” jawab Raisa jujur.
Belum selesai kalimat itu terucap, wajah Hasan seketika berubah pucat dan penuh amarah yang tertahan. Ia membentak pelan namun tegas, “Pergilah! Segeralah kau tinggalkan desa terkutuk itu secepat mungkin!”
Raisa terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis yang penuh kepahitan. “Mengapa Kakek melarang saya tinggal di sana? Apa alasannya?.”
Hasan menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum mulai bercerita. “Dulu... ayah dan ibumu memutuskan hubungan dengan keluarga kami dan pindah jauh ke kota tepatnya untuk menyelamatkanmu. Mereka tidak ingin kau menjadi penerus keluarga Margono, tidak ingin kau terikat pada kutukan dan makhluk yang menguasai tempat itu. Mereka ingin kau hidup normal sebagai manusia biasa.”
Raisa menatapnya tajam, rasa sakit hati yang selama ini tersimpan perlahan mulai merembes keluar. “Lalu apa hak Kakek menyuruhku pergi dari sana? Saat saya tidak punya tempat tinggal, saat saya butuh bantuan dan perlindungan—di mana Kakek? Di mana seluruh kerabat saya? Tak ada satu pun yang mau menampung saya, tak ada satu pun yang mau mengulurkan tangan. Kini saat saya sudah punya tempat berteduh, Kakek datang menyuruh saya pergi?”
Hasan terdiam seribu bahasa, tak mampu merangkai kata yang tepat untuk membalasnya. “Aku... aku punya alasan tersendiri, Nak.”
“Takut?” potong Raisa tenang namun tajam, matanya mulai berkaca-kaca namun tak jatuh. “Takut terkena kutukan sial yang selalu kalian tuduhkan padaku jika saya tinggal bersama kalian?”
Ia menarik napas panjang, menatap lurus ke manik mata kakeknya. “Kakek tak usah khawatir. Saya lebih memilih hidup bersama makhluk gaib yang jujur dan melindungi saya di sana, daripada hidup bersama manusia yang memiliki darah sama namun selalu menghina, membuang, dan menganggap saya pembawa sial.”
Raisa segera berdiri hendak pergi, namun tangan tua itu segera menyentuh pergelangan tangannya pelan. “Tunggu... bawa ini. Ini peninggalan ibumu yang lupa ia bawa saat pergi dulu.”
Lalu setelah itu kakek Hasan berbicara tulus, “Maafkan kakek... Maaf. ”
Sebuah kotak kayu kecil diserahkan padanya dengan tangan gemetar. Raisa menerimanya tanpa menatap wajah lelaki itu lagi, lalu berbalik dan melangkah keluar dengan perasaan yang campur aduk antara marah, kecewa, dan sedih yang mendalam.
Ia duduk sendirian di bangku kayu terminal bus, membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya tersusun rapi foto-foto lama—foto kedua orang tuanya saat masih berpacaran, saat melangsungkan pernikahan sederhana, hingga foto mereka sedang menggendong dirinya yang masih bayi. Wajah mereka begitu bahagia, begitu penuh cinta, seakan tak ada beban yang membebani hidup mereka. Melihat itu, tangis yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah tak terbendung. Ia memeluk foto-foto itu erat di dadanya, menangis sejadi-jadinya melepaskan segala rindu yang tak pernah tersampaikan.
Saat menyusun kembali foto-foto itu, selembar surat yang terselip di bawahnya terjatuh. Raisa segera mengambilnya, dan jantungnya berdegup kencang saat mengenali tulisan tangan yang begitu indah dan lembut—tulisan tangan ibunya.
“Untuk putriku kesayanganku, Raisa.
Ibu dan Ayah sangat bahagia saat kau hadir melengkapi hidup kami. Kau bukan pembawa sial, kau adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan. Jangan pernah dengar ucapan orang yang menyakitimu. Tetaplah tumbuh menjadi gadis yang baik, kuat, dan penuh kasih sayang. Ibu selalu menyayangimu, selamanya.”
Membaca baris terakhir itu, Raisa menangis semakin keras, seakan ingin memanggil kembali sosok yang menulis surat itu. Beberapa orang yang lewat memperhatikannya dengan rasa iba, namun tak ada yang berani mendekat. Tak lama kemudian, bus yang akan membawanya pulang perlahan berhenti tepat di hadapannya.
Namun sebelum ia melangkah naik, sebuah getaran hangat yang sangat ia kenal menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia mengangkat wajah, dan di sana—berdiri tegak di hadapan pintu bus—sosok tinggi besar dengan sorot mata yang tak pernah lelah mengawasinya. Arya.
Tanpa berpikir dua kali, Raisa segera berlari kencang menerjang ke arahnya, memeluk erat pinggang Arya seakan tak ingin melepaskannya lagi. Ia menangis tersedu-sedu di dada bidang itu, menumpahkan segala rasa sakit, kesepian, dan kerinduan yang selama ini ia pendam sendirian.
Arya tak berkata apa pun. Ia hanya berdiri diam, lalu perlahan mengangkat tangannya yang hangat, mengusap lembut punggung gadis yang kini menjadi tanggung jawab dan bagian dari hidupnya itu. Di tengah hiruk-pikuk terminal kota, di hadapan pandangan orang-orang yang mulai heran, Raisa tahu satu hal dengan pasti—di dunia ini, setidaknya masih ada satu sosok yang tak akan pernah membuangnya, tak akan pernah menyakitinya, dan akan selalu ada saat ia merasa dunia terlalu kejam untuknya.