Aisyah dokter 23 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang awalnya dia pikir semua baik-baik saja, tetapi ternyata kecelakaan 5 tahun lalu di saat dirinya masih remaja mengakibatkannya terikat dalam pernikahan itu.
Rahasia besar yang disembunyikan banyak orang kepadanya. Pria yang dia nikahi, ternyata menerima perjodohan dari orang tuanya karena memiliki maksud tertentu darinya.
Lalu bagaimana Aisya menjalani pernikahannya, di saat dia merasa semua baik-baik saja dan ternyata pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan yang menyakiti hatinya, karena perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Mari harus membaca karya saya dari awal sampai akhir, jangan lewatkan sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 Anaknya Sudah Tiada
"Tante selalu tidak mau disalahkan, selalu menganggap diri Tante paling benar, selalu menjadi korban, apa tidak cukup dengan semuanya hah!"
"Tante sudah merebut Ayah dari saya. Ayah harus memiliki anak lain. Kalian merebut semuanya dari saya. Tante tidak perlu khawatir, karena saya meminta bunda untuk berpisah dari ayah dan dengan begitu sesuka hati Tante menjaga suami Tante agar tidak berpaling kepada wanita lain dan ambillah dengan sesuka hati Tante!" tegas Aisyah.
"Saya tidak pernah bermaksud untuk merebut apapun dari kamu Aisyah, saya tahu bagaimana perasaan kamu dan saya datang ke makam ini bukan untuk datang ke makam nenek kamu, tetapi...."
"Selalu punya alasan, Tante juga memiliki anak dan Aisyah hanya berharap suatu saat nanti Tante tidak bersedih karena apa yang Aisyah rasakan dirasakan oleh anak Tante, mungkin Tante juga akan kehilangan dirinya," ucap Aisya.
"Saya sudah kehilangannya Aisyah," ucap Kamila dengan suara yang terdengar begitu lirih dan air matanya jatuh membuat Aisyah mengerutkan dahi
Tangan Kamila menunjuk pada makam di belakang yang membuat arah mata Aisyah melihat makam dengan mesan yang tertulis.
Cindy Fariska Dharma.
Aisyah cukup kaget melihat nama tersebut, nama ayahnya tertulis di belakangnya dan Aisyah juga melihat bintinya yang tak lain binti ayahnya.
"Saya sudah kehilangan putri saya sejak 7 tahun yang lalu, dia sudah tidak ada, kamu tidak perlu takut ada anak yang akan merebut posisi Ayah kamu, Mas darma adalah Ayah kamu satu-satunya dan kamu juga putri satu-satunya!" ucap Kamila.
Aisyah kesulitan menelan ludah, ini mengejutkan untuknya dan selama ini dia memang tidak pernah mengetahui siapa anak dari Kamila, tidak pernah ingin tahu.
"Jadi anak Tante sudah tidak ada lagi, baguslah!" hanya respon dengan tersenyum getir yang diberikan Aisyah.
"Untung saja dia tidak hidup di dunia ini dan mungkin akan menanggung dosa yang dilakukan ibunya," ucap Aisyah.
Kamila berurai air mata.
"Oh jadi ini maksud Tante mengatakan di saat pernikahan Aisyah, menganggap Aisyah sebagai anak Tante dan ayah juga bahkan meminta Aisyah menghargai Tante dan menganggap sebagai ibu. Tante yang kehilangan anak dan Aisyah harus bertanggung jawab untuk mengobati luka seorang ibu yang kehilangan anaknya,"
"Tante kehilangan anak bukan tanggung jawab Aisyah, sampai kapanpun Aisyah tidak akan pernah menjadi anak Tante dan tidak akan menganggap tante sebagai ibu. Bagi Aisyah Tante adalah wanita yang menghancurkan hidup Aisyah dan keluarga Aisyah!"
"Jadi jangan pernah memperlihatkan ekspresi yang sangat menyakitkan, seolah-olah kehilangan dan menggantikan Aisyah sebagai orang itu. Jika ada kehidupan setelah ini, mungkin hal yang Aisyah minta kepada Tuhan Aisyah tidak akan pernah ingin dilahirkan dari rahim wanita yang menghancurkan hidup orang lain!" tegas Aisyah penuh penekanan.
Pasti rasa sakit bagi Kamila mendengarnya dan apalagi kedua bola mata indah itu menatapnya dengan sangat penuh kebencian
Aisyah merasa cukup berbicara dengan Kamila dan akhirnya membuat Aisyah meninggalkan tempat pemakaman itu.
"Ini memang bukan tanggung jawab kamu Aisyah, hanya saya yang berharap terlalu banyak dari kamu, saya pikir saya akan baik-baik saja, saya pikir semua kerinduan saya ke terobati dengan melihat kamu bahagia," batin Kamila melihat kepergian Aisyah.
******
Aisyah mengantarkan secangkir teh kepada suaminya yang saat ini duduk di sofa di kamar mereka sedang memeriksa pekerjaannya.
Kaivan tersenyum menerima secangkir teh dari istrinya itu.
"Makasih ya," ucapnya ketika meneguk teh tersebut yang mungkin rasanya sudah sesuai dengan kemauannya.
Aisyah hanya tersenyum, tetapi Kaivan mengerutkan dahi ketika melihat sang istri sepertinya tidak baik-baik saja dengan wajahnya yang tampak begitu murung.
"Ada apa Aisyah?" tanya Kaivan dengan lembut memperhatikan istrinya.
Aisyah mendekatkan diri pada Kaivan.
"Tadi di pemakaman Aisyah kesal karena bertemu seseorang," ucap Aisyah
"Kenapa?" tanya Kaivan.
"Aisyah bertemu dengan tante Kamila, ternyata putrinya sudah meninggal," Kaivan yang tadi masih ingin menunggu teh tersebut tiba-tiba saja tidak jadi Kaivan melihat serius ke arah istrinya.
"Seperti biasa, jika bertemu dengannya pasti ada perdebatan dan Aisyah pikir dia memang berziarah ke makam nenek, ternyata dia berziarah di makam putrinya, Aisyah juga tidak pernah mengetahui siapa putrinya, yang Aisyah tahu dari bunda sia putrinya sekitar 4 sampai 5 tahun di atas Aisyah,"
"Tetapi Aisyah sangat membenci ekspresinya, seolah-olah kehilangannya kepada putrinya adalah tanggung jawab Aisyah, ia selalu berekspresi ingin dimengerti, sangat menyebalkan, Aisyah kesal melihat wajahnya yang selalu mengeluarkan air mata, ingin diminta kasihani, emangnya Aisyah yang membuat putrinya meninggal?" ucap Aisyah mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Mungkin melihat kamu membuatnya teringat pada putrinya," sahut Kaivan
"Itu yang membuat Aisyah marah kesal, Aisyah tidak ingin dia menjadikan Aisyah sebagai putrinya atau justru baginya dengan adanya Aisyah maka rasa rindunya akan terobati, Aisyah tidak ingin, mungkin jika dia orang lain yang tidak menghancurkan keluarga Aisyah. Aisyah mungkin akan membiarkannya menganggap Aisyah sebagai anaknya,"
"Tetapi tidak, untuk apa yang telah dia lakukan, dia bahkan membuat Ayah sangat marah pada Aisyah dan tidak pernah berpihak pada Aisyah, tidak pernah melakukan apapun untuk Aisyah dan Aisyah harus dituntut untuk hormat kepada wanita itu hanya karena dia kehilangan putrinya, apakah dia tidak sadar mungkin saja itu teguran dari Allah...."
"Aisyah," suaminya menegur dengan lembut.
"Kamu terlalu buruk sangka, mungkin Ayah kamu melakukan kesalahan besar dengan memiliki istri dan anak lain, tetapi mungkin ada di balik sesuatu yang beliau korbankan untuk kamu," ucap Kaivan.
"Mulai deh, membela seseorang yang menyakiti Aisyah," ucapnya wajah cemberut memalingkan wajahnya.
Kaivan memegang tangan istrinya.
"Saya tidak membela siapapun, tetapi sebagai suami saya hanya menginginkan istri saya bijak dalam menyikapi segala sesuatu. Aisyah tidak ada gunanya ribut-ribut, bagaimanapun beliau adalah ayah kandung kamu, semua manusia memiliki kesalahan," ucap Kaivan berusaha untuk memberi nasehat kepada istrinya.
"Tapi rasa Aisyah seketika menjadi mati, ketika beliau membohongi Aisyah, kak Aisyah sangat benci dibohongi, Aisyah juga tidak ingin menjadi pengobat luka untuk orang-orang kehilangan," ucap Aisyah.
Kaivan terdiam, terlihat kerongkongan yang tampak kesulitan menelan ludah.
"Kak, Aisyah takut memberi kepercayaan kepada seseorang dan untuk itu Kakak jangan pernah bohongi Aisyah, sekecil apapun itu, jujur mungkin menyakitkan tetapi jujur itu jauh lebih baik," ucap Aisyah.
Kaivan membawa Aisyah ke dalam pelukannya, kepala Aisyah berada di bawah dagunya.
"Saya masih memiliki banyak kekurangan sebagai suami, maafkan saya Aisyah," ucap Kaivan.
Aisyah mengerutkan dahi bingung dengan permintaan maaf suaminya yang secara tiba-tiba membuat Aisyah mengangkat kepala.
"Kenapa harus meminta maaf? memang mau minta maaf untuk apa?" tanyanya.
"Apapun itu, terkadang saya suka berkata aneh kepada kamu, terkadang perasaan saya aneh, terkadang...... saya menganggap kamu sebagai orang lain,"
Kaivan melanjutkan kalimatnya di dalam hati.
"Aisyah juga meminta maaf kepada kakak, bisa juga pasti selama pernikahan kita ada sesuatu hal yang membuat Kakak kesal, ingin menegur tetapi tidak berani dan takut Aisyah salah paham, Aisyah juga memiliki banyak kekurangan sebagai istri," ucap Aisyah.
"Tidak Aisyah, bagi saya kamu sudah menjadi istri yang sangat baik," sahut Kaivan.
Aisyah tersenyum mendengar pujian suaminya, membuat Aisyah mengeratkan pelukan itu.
Bersambung.....
suaminya loh ....pengantin baru looh