Sebuah Kisah tentang seorang yang telah di kutuk menjadi Tua sejak lahir. Dimana segala yang melekat dalam dirinya mengandung misteri di balik apa yang membuatnya berbeda...
Siapakah Doris Hart sebenarnya?
Kutukan, Sihir, dan Cinta selalu berkecimpung di dalam Kehidupannya....
Dapatkah Doris hidup dalam keadaan Tua Sejak Lahir?
Baca kisahnya dan ikuti kisahnya sampai season akhir nanti. karena Doris Hart Novel yang akan hadir dalam beberapa Season.
Tinggalkan jejak kalian yang telah membaca kisah ini, dengan cara dukung author melalui Vote, Follow, Like dan Komentar 🥰
update : 2 hari sekali
Happy Reading 💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febby Sadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpisah
Doris tercengang dengan ucapan Gide. Dan dia pun semakin percaya. "Ya, inilah Gide! dia Gide! dia Gide!" pekik Doris dalam hati. "Tapi.... mengapa dia masih hidup?" gumamnya lagi.
"Ya! ini aku!" jawab Doris, dengan keras pula.
Gide menyungging senyum lebar. Doris semakin heran melihatnya, Doris tahu, Gide tersenyum karena apa. Namun saat Gide tertawa terbahak, sedangkan dia mendengar suara jeritan ketakutan dari orang yang tak asing bagi Doris. Doris pun menoleh ke belakang, dan langsung membulatkan kedua matanya.
"Lepaskan Aivrle!" bentaknya. Melihat Aivrle tengah di ikat kedua tangan dan kakinya oleh seorang lelaki yang datang bersama Gide, berpakaian baju perang, bertubuh gagah dan terlihat begitu kejam, saat Doris menatap kedua mata Ukasah.
Saat Ukasah tahu, Doris sedang menatapinya tajam. Dia langsung berjalan mendekati Doris, dengan cepat dia cekik leher Doris.
"Mengapa kau menatap ku seperti itu?!!" bentaknya. Doris berontak, namun kekuatannya masih belum terkumpul, Doris mengerang. Tetap dia tak mampu melepaskan cekikan tangan Ukasah.
Gide hanya diam melihatnya, tanpa melarang Ukasah. Lalu berjalan mendekati Aivrle. Aivrle menatap ketakutan, saat Gide menggerakkan tangannya yang seolah meraba udara, bibirnya yang telah berkerut bergerak, kedua matanya terpejam namun alisnya mengerut seolah menyambungkan keduanya tanpa jarak. Dan seketika itu,
Tiba-tiba saja angin berhembus dengan kencangnya. Aivrle berteriak keras, jantungnya berdegup kencang, Gide tak berhenti membacakan mantra nya, Ukasah hanya diam di tempatnya berdiri saat tiba-tiba tangannya terlepas dari mencekik Doris. Dan dia tak tahu Doris telah diterbangkan angin kemana. Sedangkan Doris masih berputar-putar terbawa angin, dia terus berteriak.
"Aaaaaa!!!"
𝘋𝘶𝘨𝘩! 𝘋𝘶𝘨𝘩! Aivrle dan Doris terlempar di tempat yang mereka berdua tak ketahui. Nafas mereka masing-masing terengah-engah. Kedua mata mereka tiada henti melihat sekeliling mereka. Mereka benar-benar tak tahu dengan apa yang akan terjadi, dan dimana mereka kini berada.
Sedangkan Gide pun langsung membuka kedua matanya, setelah dia tahu Doris dan Aivrle telah berada di tempat yang dia sendiri tak tahu dimana. Tapi dia yakin akan menemukannya.
Dia lihat sekelilingnya dengan membelalakkan kedua mata lebar, tangannya merentang di udara. "Apa mereka telah hilang!!!" ucapnya dengan nada membentak. Ukasah mengangguk, "Ya..." jawabnya.
𝘏𝘢 𝘏𝘢 𝘏𝘢! tawa Gide menggelegar. "Akhirnya! mereka berpisah! dan.... aku akan dengan mudah mendatangkan Aqwe di hadapan ku!" ucapnya, yang seolah berbicara dengan diri sendiri.
Lalu dia tatap tajam Ukasah, "Dan saat itu pula... KAU PENGGAL AQWE!!!" bentaknya, menekan saat mengucapkan kata kau penggal Aqwe.
Ukasah mengangguk lemas, di benaknya masih belum mengetahui mengapa ibu asuhnya itu mengincar para Raja penguasa terbesar! Ukasah tak tahu bahwa merekalah musuh Gide.
"Ya, bu. aku akan lakukan sesuai perintah mu...."
...****************...
Tangannya sibuk membersihkan bajunya yang kotor dari tanah. Lalu berdiri dari tersungkurnya. Dan berjalan lemas, dia lihat sekelilingnya.
"Dimana aku?" gumamnya dalam hati.
Doris tatap satu persatu pohon di tempat itu, menyentuhnya. "Aku seperti mengenal tempat ini? pohon-pohon ini,.... mirip sekali dengan pohon Ustret di Neustrelitz."
Tiba-tiba suara Doris tercekat, tenggorokannya terasa ada sesuatu yang masuk, menjalar... kini telinganya yang terngiang. Dan samar-samar terdengar, namun tetap dia bisa memahaminya.
"Doris.... Doris.... Doris, apa kau mendengar ku? cepat pulanglah nak... ayah membutuhkan mu."
.
.
.
✍
tinggal jejak di karyaku juga ya kak