Indonesia
NovelToon NovelToon
Most Wanted

Most Wanted

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rianti Al

Gadis mungil itu masih berdiri di jajaran kedua dari terakhir. Mengikuti serangkaian acara saat upacara pembukaan MOS. Music Academy School sudah menerima siswa baru dan kini sekolah musik yang terbilang favorit itu tengah mengadakan MOS untuk melatih kedisiplinan siswa yang sudah lulus dari Sekolah Menengah Pertama seperti sekolah pada umumnya.

Setelah kepala sekolah memberikan sambutan dan membuka MOS tahun ini, semua siswa angkatan baru diperbolehkan masuk ke kelasnya masing-masing dibimbing oleh seniornya dari Organisasi Siswa Music Academy School yang setara dengan OSIS.

Kanaya duduk sendirian di kursi paling depan, ya, sendirian, belum ada yang di kenal di kelasnya. Dia tau siapa mereka tapi dia tak kenal, yah anak-anak di kelasnya kini merupakan anak-anak satu SMP-nya namun tak ada yang satu kelas dengan nya dulu. Kanaya tau karena mereka termasuk anak-anak yang populer di sekolah nya dulu, atau mungkin biasa disebut Mos.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rianti Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dipeluk Dapa

Kanaya mengerjapkan matanya ketika merasakan selimut yang menutup tubuhnya merosot hingga ia sedikit kedinginan. Mata sayu perempuan itu langsung membola saat sadar dia berada dalam rengkuhan seseorang yang tertidur di sampingnya.

"Lho? Alvin?" gumam perempuan itu saat matanya menangkap garis wajah laki-laki yang sangat ia kenal dalam kegelapan. Gadis itu baru ingat bahwa semalaman ia bersama Alvin dan dia sudah mencurahkan hatinya kepada Alvin.

"Aduhh.. Kenapa Alvin sih." Kanaya mengusap wajahnya, Alvin tampak tak terganggu oleh gerakan Kanaya yang ingin keluar dari dekapan Alvin.

Kanaya mencoba mengambil senter di belakang kepala Alvin yang menjadi penerangan satu-satunya dalam tenda, setelah mendapatkannya, perempuan itu mulai menyorot wajah damai Alvin hendak mengusik Alvin agar cowok disampingnya itu bangun. Namun sayang, Alvin hanya menggeliat dan kembali merengkuh Kanaya seperti guling. "Enghhh.. ***** banget sih ni cowok!" Kanaya menarik tubuhnya hingga benar-benar keluar dari tubuh Alvin. Dan hal itu membuat Alvin melenguh dan membuka matanya pelan. "Gempa ya?" gumamnya tak nyambung.

Kanaya memutar bola matanya sambil mengubah posisi berbaringnya hingga duduk. "Bangun lo, nanti dikira apaan lo keluar dari tenda gue..

Alvin menarik tangannya hingga suara gemertak rulang terdengar oleh Kanaya. "Pantes banget gue tidurnya nyenyak, gak kedinginan gue.." kata Alvin yang dihadiahi pukulan oleh Kanaya di kepalanya. "Berisik.. Sono keluar, mumpung masih sepi!"

"Ini jam berapa sih?" tanya Alvin, ia ikut duduk dan membersihkan wajahnya dengan tangannya takut ada yang tertinggal di mata dan bibirnya.

Kanaya mengambil ponselnya yang ia simpan di dekat bantal. "Mumpung masih jam tiga nih. Mumpung nggak ada yang liat, sono. Lo mau di grebek?" Kanaya mendorong-dorong tubuh Alvin agar cepat keluar tenda. Alvin mendengus

"Lo juga, kenapa malah tidur disini sih Bukannya pergi pas gue tidur."

"Ck. Lo sadar gak sih, lo tidur meluk gue.. Mana gak bisa dilepas lagi, makannya gue ketiduran disini." kata Alvin sambil mencari sendalnya yang ia ingat ia masukkan ke dalam tenda Kanaya.

"Gak usah ngayal.."

"Siapa yang ngayal? Kenyataan kali."

"Ck" kini giliran Kanaya yang berdecak. Untung gelap, jadi Alvin gak bisa liat wajah merahnya karena malu, memang sih Kanaya sadar kemarin ia menangis dipelukan Alvin hingga terlelap, tapi memang benar dia tak mau melepaskan pelukannya saat tidur? Jelas-jelas tadi saat bangun dia yang dipeluk erat oleh Alvin, ingat, di peluk erat.

.

.

.

.

.

3 jam kosong pelajaran sejarah musik, Kanaya menghabiskan waktunya di perpus utama. Duduk dipojok dengan laptop dan imajinasinya. Tiga hari tak bersentuhan dengan benda elektronik dan dunia imajinasinya, kini Kanaya benar-benar lupa dengan dunia nyatanya. Kanaya lupa bahwa dia sudah bekerja, mencari uang dengan hobbynya.

Kanaya merasa tangannya keram, duduk dipojok dengan meja pendek dan bantal sebagai alas duduknya membuat kakinya ikut keram, ia meregangkan tubuhnya setelah menutup laptopnya. Pekerjaaan Nya sudah selesai, tinggal edit dan kirim.

Melelahkan.

Handphonenya yang ia simpan di samping laptop berbunyi, Kanaya mengangkatnya yang ternyata panggilan dari Indah.

"Hal-"

"Kanaya!!!lo dimana??? Gue mau nebengg ihhhh..

Suara melengking khas Indah sukses membuat Kanaya menjauhkan layar teleponnya dari telinganya.

Gue di perpus, bisa gak sih kalau ngomong itu gak usah pakek teriak segela kesal Kanaya.

1
Rien Pun Okti
banyak kata kasar ya... permisi undur diri
Rien Pun Okti
pake alkohol d muka.. iritasi dong 🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!