Maaf ya yeorobun kalau aku sering menghapus cerita yang baru-baru aku update.
itu karena aku lagi nggak ada ide ceritanya.
Dan ini aku kembali mempunyai ide untuk bikin cerita lagi dan sketsa ceritanya
Semoga tidak mengecewakan kalian semua.
.
.
.
. (*˘︶˘*)~。.:*♡
.
.
. 。・:*:・(✿◕3◕)❤
.
.
. (❁´◡`❁)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yong_Aereum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Sesampainya di rumahnya yang sudah gelap gulita, sepertinya seluruh orang yang dirumah ini sudah tidur semuanya.
Devan memyampirkan jasnya dipergelangan tangannya.
selangkah demi selangkah anak tangga dia pijak ,hingga langkah kakinya berhenti didepan kamar pintunya.
Saat memasuki kamar Devan melirik ke arah sofa yang sudah ada Rinni yang terbaring disana.
meletakkan jasnya diatas tempat tidur , Devan pun berjalan ke kamar mandi untuk mandi.
15 menit kemudian Devan telah selesai mandi dan langsung naik ke ranjang tidurnya.
tidak butuh waktu lama untuknya tidur hanya hitungan beberapa menit saja sudah terdengar suara dengkuran halus.
***
" Selamat pagi Mih , Selamat pagi sayang." Devan mengecup kening Jessy.
" Pagi Bang " sapa Davan
" Hem.. "
" Jam berapa kamu pulang Dev ?" tanya Mami yang sedang menikmati roti bakarnya.
" Jam 11 malam lewat Mi ."
"Lain kali kalau kamu pulangnya telat kabari istrimu Dev , kamu tahu Rinni nungguin kamu terus sampai sampai dia ketiduran di sofa."
"Iya Mi , maaf.."
Devan melirik ke arah Rinni yang tersipu malu.
" Hem.. Mi , nanti pulang kerja aku mau mengajak Rinni dan Jeje makan malam diluar." ucap Devan dengan sedikit keraguan.
" Benarkah , ada hal apa sampai kamu bisa kepikiran begitu."
" Teman lamaku mengajak ku makan malam dan dia ingin bertemu dengan Jessy."
" Dan Rinni juga ?"
" Iiiya Mih ."
" Yasudah nanti Mami bilang sama Mbok nanti sore tidak perlu masak."
" Jadi nanti aku makan malamnya gimana Mi ?" ucap Davan
" Nanti kita pesan makanan siap saji saja, sekali-kali biar Mbok Atun santai."
" Oke Mi."
Selesai sarapan Rinni mengantar Jessy kesekolah dengan diantar oleh Pak Amir, setelah itu ia diantar Pak Amir ke salon langganan Indri.
Sedangkan Devan menyetir mobilnya sendirian ke kantor.
saat dia tiba di lantai ruangannya Karmila berjalan cepat menghampirinya dengan wajah yang cemberut.
" Ada apa La ?" tanya Devan
" Itu diruangan bapak ada tamu."
" Tamu ? , siapa ?"
" Teman Bapak yang kemarin datang."
" Baiklah , suruh Ob buatkan teh hangat dan antarkan keruanganku.
Karmila berbalik jalan ke mejanya lalu ia menekan tombol yang terhubung ke ruang pantry.
" Hai Dev selamat pagi." sapa Tifanny
" Hai , pagi ." Devan berjalan ke mejanya
" Kenapa kamu kesini tidak mengabari ku." Devan duduk di sofa.
" Kejutan dong... " Tifanny menyilangkan kedua kakinya hingga pahanya yang mulus terekspos.
Tokk...tokk..
" Masuk."
" Ini Pak minumannya " ucap Tony
" Letakkan di meja."
" permisi." ucap Tony lalu berjalan keluar.
Setelah Tony keluar Tifanny pun berpindah duduk disamping Devan.
Devan duduk di sofa singel dan Tifanny duduk di lengan sofa , perlahan tangannya mulai mengelus punggung Devan.
" Dev, bolehkah aku bertanya satu hal padamu?!"
" Hem.. apa ? jawab Devan santai
" Apakah kamu masih memiliki perasaan untuk ku ?" tanya Tifanny
" Aku tidak tahu Fan.."
" Dev , kalau aku masih mencintai mu apakah kamu percaya?"
" Kenapa kamu diam saja Dev." Tifanny berpindah duduk di kedua paha Devan sekarang.
" Aku tidak tahu Fanny , karena sejak kamu pergi begitu saja aku selalu menyibukkan diri dengan perkerjaan ku saja dan saat itu kita bertemu aku merasa sedikit senang itu saja."
" Itu artinya kamu masih memiliki perasaan untuk ku Dev."
" Fan ,kita sedang dikantor " Devan menghindari Tifanny saat akan mencium bibirnya.
" Kenapa ? tidak ada yang akan melihatnya Dev dan tidak ada yang akan marah "
" Lihatlah saat ini hanya ada kita berdua, dan apa kau tidak rindu dengan yang ada pada diriku " ucap Tifanny dengan lemah lembut.
Tifanny memegang kedua tangannya Devan lalu di tuntunnya untuk memegang punggungnya , setelah itu Tifanny mengalungkan kedua tangannya di leher Devan.
Devan seolah akan terhipnotis oleh tatapan Tifanny hingga apa yang dilakukannya tidak dilawannya.
Tifanny mendekati wajahnya ke wajah Devan yang hanya berjarak 2cm saja hingga deru nafas keduanya saling menyentuh kulit wajah mereka masing-masing.
Tifanny memejamkan matanya dan kedua bibir mereka bersentuhan dan Tifanny pun pelan-pelan melancarkan aksinya.
Devan seorang laki-laki normal , libidonya mulai terpancing dengan perlakuan Tifanny sengaja mendekatkan dadanya dengan dada Devan hingga begitu terasa olehnya.
Yang tadinya hanya kecupan kini berganti dengan ciuman panas dan Devan bermain di neck kiss Tifanny.
samar-samar Tifanny mengeluarkan suara erangnya sambil meremas rambut Devan.
dari leher Tifanny kini semakin turun dan pakaian Tifanny bagian dada sudah terbuka yang kini hanya menampilkan penutup dadanya yang berwarna hitam serta menampilkan belahannya.
satu tangan Devan berhasil mengeluarkan isi penutup dadanya dan saat Devanakan bermain disana tiba-tiba....
Tokk..tokk..
"Pak 10 menit lagi kita akan ada meeting." ucap Karmila sedikit keras
" Iya , tunggu aku akan segera ke ruang meeting."
" menganggu saja" umpat Tifanny.
" Maaf ada meeting yang tidak bisa aku tunda , rapikan rambutmu ya " Devan mengancingkan baju Tifanny.
" Kapan kita bisa melakukannya Dev?" ucap Tifanny sambil merapihkan rambutnya
" Nanti kita bicarakan lagi ya , sampai jumpa nanti diapartemen ya." Devan mengikat dasinya.
" Baiklah, aku akan menunggumu."
" Setelah 5 menit aku pergi, barulah kamu keluar ya."
" Iya ."
" Aku pergi dulu , nanti kamu hati-hati dijalan ya "
Devan kembali memakai jasnya dan mengambil file yang ada didalam tasnya, sebelum pergi Devan tersenyum pada Tifanny yang sedang bermake-up.
lipstik yang berwarna merah tadi melekat dibibirnya kini sudah pudar karena pergumulan bibirnya dengan Devan.
Berpindah tempat disebuah salon Rinni yang sedang melakukan manipedi disalon langganan Indri.
saat ia tiba tadi sudah disambut langsung oleh pemilik salon kecantikan.
kedatangannya sudah Indri infokan sehingga Rinni hanya duduk diam menerima apa yang dilakukan asisten salon.
Hampir 5 jam Rinni berada di salon kecantikan langganan mertuanya.
saat di ruangan spa Rinni sempat tertidur pulas, dan kini semua perawatan kecantikan sudah selesai.
Pak Amir kembali menjemputnya dan mengantarkan dirinya ke sekolah Jessy.
Orang tua murid yang disana hampir semuanya terdiam mematung karena melihat Rinni yang berbeda.
" Tuh orang baru ya ?" bisik ibu-ibu yang nungguin anaknya pulang.
" Sepertinya begitu , soalnya belum pernah lihat"
Tidak butuh lama Rinni menunggu kepulangan putri sambungnya keluar.
Jessy yang masih berjalan dengan bantuan alat kruk dan ditemani gurunya.
saat melihat Rinni yang seperti mencari seseorang membuat Jeje langsung berteriak memanggilnya.
" Mama." teriak Jessy memanggil Rinni.
" Hei.." Rinni melambaikan tangan dan menghampiri putrinya.
" Mama cantik sekali." puji Jeje
Orang tua murid yang tadinya membicarakan Rinni langsung mematung saat mendengar Jessy memanggilnya dengan sebutan Mama.
Guru yang berjalan bersama Jessy pun ikut mematung.
" Mama " gumam gurunya Jessy.
" Terimakasih Miss sudah mau mengantar Putri saya sampai depan gerbang." ucap Rinni
" Iiiiya Bu sama sama."jawab gurunya dengan gugup.
" Kalau begitu saya permisi ya Miss , " ucap Rinni
" Sampai jumpa Miss." ucap Jessy sambil melambaikan tangannya.
Orang tua murid yang masih ada disana langsung menghampiri gurunya.
" Wah.. ternyata Papanya Jessy sudah menikah, " emak-emak
" Kok kita tidak diundang ya ?" ucap ibu-ibu satunya lagi.
" Apa sudah hamidul terus nikahnya diam-diam saja."
" Mungkinlah ya , ya kan Miss."
" Saya tidak tahu Bu ,kalau begitu Saya pamitan masuk kedalam dulu ya , mari semuanya.'' wali kelas Jessy pun berjalan masuk kedalam sekolah.