Mengisahkan tentang kehidupan pasangan yang berbeda latar belakang,antara keluarga elit dengan seorang gadis dari kalangan keluarga biasa dan sederhana.Kayyisa Virly Putri(Kay) terpaksa menikah secara diam-diam di usianya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas.Awalnya Kay tidak setuju untuk menikah,tapi keadaan ekonomi keluarganya yang pas-pasan dan terlilit banyak hutang.Memaksa Kay harus menyetujui pernikahan secara ikhlas untuk memperbaiki keuangan keluarganya.Namun,pernikahan rahasia yang ia jalani tidaklah mudah.Karena ia harus berjuang menyesuaikan diri dengan kehidupan mewah kelas atas dari keluargabarunya,dan mengharuskannya terus belajar berbagai banyak hal sambil terus berusaha beradaptasi dengan suami yang tidak menyenangkan,yang memiliki hati dingin dan angkuh yang bernama Ben Nathan Hartanto(Ben).Seorang CEO muda ternama sekaligus pewaris tunggal dari keluarga Hartanto.Keduanya saling tak menyukai,tapi tetap menjalankan pernikahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuliastro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengikuti diam-diam.
Di lapangan golf super canggih,Ben sedang bermain golf bersama ketiga sahabatnya yaitu Gavin, Bram dan Varo.
Mereka memainkan golf ganda (doubles) yang terdiri dari dua pemain pada setiap tim.Ben satu tim dengan Bram,sedangkan Gavin satu tim dengan Varo.
Dan sesuai kesepakatan bersama mereka memilih format permainan stroke play ganda,yaitu setiap tim harus menyelesaikan 18 hole dengan skor gabungan.
Desain lapangan yang lebih kompleks dan menantang serta memiliki kontur yang beragam.Lapangan yang sepertinya hanya bisa diselesaikan oleh seorang profesional dengan sedikit putaran.
Ben dengan penuh percaya diri memegang tongkat golfnya dan bersiap mengayunkan tongkatnya untuk melakukan finishing putt.
Sebaliknya ketiga sahabat Ben terlihat tegang melihat Ben melakukan pukulan terakhir pada hole kedelapan belas.
"Ace! Hole in one!"pekik Bram keras.
Ben berhasil memasukkan bola ke hole terakhir dalam satu kali putaran.
Senyuman tipis menghiasi wajah dingin Ben yang sangat tampan.Sebaliknya Gavin dan Varo terlihat murung saat mengetahui Ben berhasil melakukan putt kemenangan sweat sehingga timnya memenangkan permainan.
"Your game was impressive,Ben!"kata Bram sambil menepuk pelan pundak Ben.
"Commiserations to my team, congratulations to yours!." Gavin tersenyum kecut menjabat tangan Ben.
"Best of luck in your next game!"imbuhnya.
Kemudian,Ben dan ketiga sahabatnya menuju ke restoran untuk menikmati fasilitas eksklusif yang disediakan di lapangan golf super canggih itu.
Baru beberapa langkah Ben berjalan bersama teman-temannya.
"BEN!."Tiba-tiba seorang wanita berteriak memanggil Ben.
Ben menoleh ke arah wanita itu,yang rupanya adalah Dea.
Tak sengaja Ben dan Dea saling memandang dengan wajah canggung.
Dea terlihat stylish mengenakan polo shirt putih berkerah yang dipadu dengan mini skirt beraksen ombre pink dan putih.Dengan rambut panjang dikuncir kuda dan memakai white visor,kaos kaki knee length yang senada dengan sepatu.
Dea tersenyum dan datang menghampiri Ben bersama teman-temannya.
"Apa kalian sudah selesai bermain golf?tanya Dea dengan wajah berbinar-binar melirik ke arah Ben.
Bram dengan penuh semangat menjawab pertanyaan Dea.Sekaligus memberitahu Dea jika dia bersama Ben menang bermain golf melawan Gavin dan Varo.
Dea terlihat senang mendengarnya sambil sesekali menoleh ke arah Ben yang dingin.
Dea tahu jika Ben adalah pemain golf yang profesional yang selalu dapat memasukkan bola dalam satu kali pukulan.
Sejenak, Dea terdiam, mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Ben di lapangan golf.Kesamaan minat mereka terhadap golf mempererat hubungan mereka, sehingga mereka bergabung sebagai anggota klub golf yang sama.
Lambat laun, hubungan pertemanan mereka menjadi dekat dan berkembang menjadi hubungan yang istimewa.
"Kami akan ke restaurant.Kau masuk dan latihan golf saja"ucap Ben dingin sambil beranjak pergi.
Dea tersentak mendengar suara Ben yang membuyarkan lamunannya.
"Tunggu Ben!"pinta Dea.
"Apa aku boleh ikut kalian ke restaurant?"imbuhnya.
Ben menoleh ke arah Dea.
"Bagaimana dengan latihan golf mu?"tanya Ben ketus.
"Aku akan mengobrol dengan kalian sebentar.Setelah itu aku akan latihan golf,"jawab Dea.
Ben memalingkan wajah lalu berjalan menuju ke restoran.Dea tersenyum mengikuti langkah Ben.
Sebaliknya Gavin,Bram dan Varo menatap bingung pada perubahan sikap Dea yang sudah kembali ceria.
Tanpa sepengetahuan Ben,seorang pria secara diam-diam sedang mengambil fotonya bersama Dea yang sedang berjalan di dekatnya.
Sesampainya di depan pintu restoran.
Ben dan ketiga teman-temannya menghampiri Zidan yang sejak tadi menunggu mereka bermain.
"Kau pasti lama menunggu"ucap Ben yang memilih duduk di dekat Zidan.
"Tidak juga." Zidan tersenyum simpul sambil menutup layar laptopnya.
Saat menoleh ke arah Ben.
Zidan kaget melihat Dea tersenyum ke arahnya.
Gavin mencoba memperkenalkan Dea pada Zidan.
Dea tersenyum lalu mengatakan jika dia sudah mengenal Zidan dan sudah bertemu sebelumnya.
Gavin mengernyit sambil memandang heran ke wajah Dea.
Dea menoleh sekilas ke arah Ben untuk melihat reaksinya.Tapi Ben terlihat acuh,bahkan saat dia memutuskan untuk duduk di dekat kursi Ben.
Ben hanya diam tanpa memandangnya sedikitpun.
Dea menghela nafas panjang dan bersikap tenang mengendalikan kegelisahan hatinya.
Kemudian dia menceritakan awal pertemuannya dengan Zidan.
"Dunia ini sangat kecil rupanya,sehingga setiap orang dapat mengenal dengan mudah"ucap Bram mengomentari perkataan Dea.
Semua orang tersenyum mendengar ucapan Bram kecuali Ben yang diam.
"Kenapa dari tadi kau memegangi tangan mu Ben?"tanya Zidan.
Sontak Dea langsung memandang lekat Ben.
"Tidak apa-apa"jawab Ben datar.
Ben teringat akan jari tangannya yang digigit Kay.Kemudian senyuman kecil terurai dari wajah dinginnya tanpa dia sadari.
Dea yang mengamati Ben merasa bingung dan menatap penuh keheranan akan arti senyuman Ben yang tidak biasanya.
***
Bel istirahat berbunyi,Kay sedang berada di kantin bersama kedua sahabatnya
Kay menyantap mie instan cup dengan lahap.
Juju dan Bilbil memandang heran ke arahnya.
"Ada apa denganmu Kay?Kau terlihat seperti orang yang belum pernah makan mie instan saja!"tanya Juju dengan mata membulat lebar.
"Apa kau baik-baik saja?"tanya Juju lagi sambil menempelkan telapak tangannya di kening Kay.
Kay tidak bergeming dan hanya tersenyum kecil menoleh ke arah Juju.
Slurppp...
Kay menyeruput mie dengan suara nyaring dan terdengar sangat berisik.
Tentu saja Kay sangat menikmati makanannya karena mie instan adalah makan yang dilarang untuk dikonsumsi di keluarga Hartanto.
Kay mengusap mulut dan pipinya yang terkena percikan kuah mie dengan tisu.
Lalu meneguk beberapa tegukan air putih dari botol air mineral.
Wajah Kay terlihat sumringah.
"Aku baik-baik saja,jangan khawatirkan aku"ucapnya.
"Entah kenapa,kau terlihat berbeda"kata Juju dengan wajah serius.
"Aku masih sama seperti Kay yang dulu.Tidak ada yang berubah dariku,Juju." Kay tersenyum kecil memandang wajah Juju dan Bilbil bersamaan.
Juju terdiam sejenak,lalu memandang tajam wajah Kay diikuti juga dengan Bilbil.
"Apa yang kau rahasiakan dari kami Kay?"tanya Juju.
Sontak saja Kay gugup mendengar pertanyaan Juju.
Tatapan tajam dari kedua sahabatnya itu membuat Kay merasa sangat tidak nyaman.
"Tidak ada yang ku rahasiakan dari kalian"ucap Kay dengan grogi.
"Benarkah?"tanya Bilbil yang meragukan ucapan Kay.
"Tapi kami merasa seperti ada hal yang berusaha kau sembunyikan dari kami.Dan banyak sekali perubahan besar yang terjadi padamu Kay."Bilbil menyingkirkan mangkok bakso dari hadapannya lalu melipat kedua tangannya di meja.
Juju mengangguk setuju dengan kata-kata Bilbil.
"Kau tidak pernah lagi naik bus.Bahkan saat kami mencoba ke rumahmu.Kau tidak ada disana.Hanya ada kedua orang tuamu saja"sahut Juju sambil menghela nafas pendek dan menatap Kay penuh curiga.
"Kau tidak cerita jika rumah mu di renovasi dan hampir selesai.Aku dan Bilbil sangat terkejut melihat rumah mu kini terlihat sangat megah dari rumah mu sebelumnya.
Dan lagi sikap kedua orang tuamu terlihat aneh tidak seperti biasanya"lanjut Juju.
Bilbil pun tidak mau ketinggalan meluapkan rasa curiganya pada Kay.
"Mendadak keluargamu jadi kaya dan kau tidak pernah pulang sekolah bersama kita lagi.Bahkan ponselmu sulit sekali dihubungi.Kami rindu bisa jalan-jalan denganmu,Kay. Kau semakin aneh dan sangat berbeda.Bahkan kita sudah lama tidak bermain bersama dan hanya bertemu sebentar di sekolah.Sebenarnya ada apa denganmu Kay?"kata Bilbil sedih.
Dicecar pertanyaan oleh kedua sahabatnya seperti itu, membuat jantung Kay berdetak sangat kencang.
"Ayahku mendapat undian dalam jumlah besar dan mendapat bantuan dari saudaranya yang kaya.Oleh karena itu, kehidupan keluarga ku menjadi lebih mapan sekarang." Kay menjawab dengan terbata sambil melihat ke arah Juju dan Bilbil.
"Aku tidak ingin cerita kepada kalian tentang rumahku yang sedang direnovasi.Karena ku rasa itu bukan hal penting untuk dibicarakan,sebab akan terkesan pamer." Kay diam sejenak lalu meneruskan perkataannya lagi.
"Aku tinggal di rumah saudara ayahku selama rumahku belum selesai di renovasi.Kalian tahu kan,tidak akan leluasa jika kita tinggal di rumah orang lain.Jadi,aku tidak bisa bermain dengan kalian untuk menghabiskan waktu bersama.Dan soal aku tidak pernah naik bus,hal itu karena saudara ayahku menugaskan sopir pribadinya untuk mengantar dan menjemputku sekolah." Kay menarik nafas pendek perlahan.
"Lalu kenapa sopir yang menjemput mu tidak langsung ke sekolah saja Kay?kenapa kau harus berjalan memutar?"tanya Juju lagi.
"Itu karena aku tidak ingin menjadi pusat perhatian dari anak-anak lain"jawab Kay.
Juju dan Bilbil terdiam mendengar penjelasan Kay yang terdengar sedikit konyol,tapi masuk akal.
Kay melihat ke arah Juju dan Bilbil secara bersamaan.
Lalu dia menarik nafas lega karena kedua sahabatnya sudah tidak bertanya lagi.
Tiba-tiba bel masuk kelas berbunyi.
Kay bersama kedua sahabatnya bergegas menuju ke ruang kelas.
Pulang sekolah,Kay berjalan bersama Juju dan Bilbil.Mereka sudah tampak akrab lagi dan terlihat bergurau sambil menenteng camilan di tangan masing-masing.
Tidak lama setelah itu,mereka berpisah jalan pulang.Kay memandangi kedua sahabatnya yang sudah berjalan terlebih dulu menuju ke arah halte bus.
Kay menarik nafas dalam lalu menghembuskannya beberapa kali.
"Jika kalian tahu,aku masih ingin bersama kalian." Kay sejenak terdiam dengan raut wajah sedih.
"Maaf teman-teman,aku berbohong pada kalian"imbuhnya lagi dengan suara lirih.
Kemudian Kay bergegas menuju ke tempat toko kue pertama kali dia bertemu dengan Ben.
Karena disanalah biasanya mobil Ben sudah menunggunya.
Tanpa sepengetahuan Kay,kedua sahabatnya yang menaruh curiga Kay.Diam-diam mengikuti Kay dari belakang.
"Apa tidak apa-apa kita melakukan ini Ju?"tanya Bilbil ragu.
"Bukankah Kay sudah menjelaskan semuanya kepada kita!"lanjut Bilbil lagi sambil melihat ke wajah Juju.
"Ssssstttt…!." Juju meletakkan jari telunjuknya di dekat bibirnya.
"Diam dan kecilkan suaramu,Bil !."
Bilbil mengangguk pelan.
Tiba-tiba Juju mengajak Bilbil untuk bersembunyi.Saat tidak sengaja melihat tiga orang wanita misterius dengan mengenakan setelan jas berwarna hitam menghampiri Kay dari belakang.
Padahal tiga orang wanita misterius itu adalah asisten pribadi dan dua pengawal pribadi Kay.
Tapi Juju yang tidak tahu akan hal itu merasa cemas dan takut.Dia pikir tiga wanita misterius itu memiliki niat buruk pada Kay.
Hampir saja Juju bertindak gegabah dan melabrak tiga wanita misterius tersebut.
Beruntung Bilbil mencegahnya.
"Tunggu Juju!." Bilbil memegangi lengan Juju.
Juju menoleh,"Kenapa kau menghentikan aku?Kay dalam bahaya!Kita harus menolongnya."
"Coba lihatlah,ku rasa tiga orang wanita misterius itu tidak memiliki niat buruk pada Kay."
"Iya kau benar Bil."
"Sepertinya tiga wanita misterius itu seperti menjaga Kay,seperti seorang bodyguard lebih tepatnya"ucap Bilbil.
Juju mengangguk setuju dengan kata-kata Bilbil.
"Kau juga terlihat biasa saja di dekat mereka dan juga tampak akrab.Kita harus mengikuti Kay dan mencari tahu siapa tiga wanita misterius itu"kata Juju.
Kemudian Juju dan Bilbil memutuskan untuk terus mengikuti Kay.Hingga mereka dikejutkan dengan mobil sedan super mewah berwarna hitam dan tidak asing di mata keduanya.
"Sepertinya aku pernah melihat mobil itu?"ucap Bilbil.
"Iya,aku juga tidak asing dengan mobil itu"sahut Juju.
"Kita sudah curiga pada Kay.Dia sudah mengatakan kebenarannya pada kita,jika saudara ayahnya sangat kaya." Bilbil memandang ke arah Juju.
"Tapi aku tidak menduga jika saudara ayah Kay sangat kaya" balas Juju.
Bilbil lalu mengajak Juju untuk segera pergi dari tempat itu dan berhenti untuk memata-matai Kay.
Juju mengangguk mengiyakan ajakan Bilbil.Dia merasa bersalah sudah tidak percaya pada Kay dan membuntutinya diam-diam.
Tapi sebelum sempat Juju dan Bilbil pergi.
Tiba-tiba Ben keluar dari mobil sedan itu.
Ben berjalan menghampiri Kay.
Sontak saja dua sahabat Kay itu terkejut dan saling berpandangan.
"Kenapa kau lama sekali?bukankah kau tahu aku tidak suka menunggu"kata Ben dengan wajah kesal.
"Aku tidak memintamu untuk menungguku. Lagipula aku bisa pulang sendiri"balas Kay ketus.
Juju dan Bilbil yang menguping pembicaraan antara Kay dan Ben.
"Apa yang terjadi?apakah Ben Nathan Hartanto adalah saudara dari Ayah Kay?"tanya Bilbil memandang wajah Juju yang masih terlihat syok.
"Aku tidak tahu.Apakah karena Ben adalah saudaranya jadi dia merahasiakan nya dari kita?"kata Juju.
Juju dan Bilbil terlihat bingung sambil berusaha untuk mendengar pembicaraan sahabatnya.
"Apakah seperti itu caramu berbicara dengan suamimu?"bentak Ben.
"Suami?."Juju dan Bilbil saling berpandangan dengan mata membulat serta mulut ternganga lebar.
Mendadak dada mereka terasa sangat sesak mendengar ucapan Ben.
Kay memandang wajah Ben dengan dingin sambil menghela nafas pendek.
"Aku tahu kau adalah suamiku.Tapi apakah kau harus berbicara dengan keras, sehingga semua orang tahu kita berdua adalah pasangan suami istri"ucap Kay.
Kemudian Ben menarik tangan Kay dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Mendengar kata-kata Kay,dua sahabatnya semakin syok.
"Apa aku tidak salah mendengarnya Bil?."Juju berbicara dengan terbata sambil menelan salivanya dengan kasar.
"Kay dan Ben adalah suami istri?cubit atau tampan aku Bil! Ini pasti mimpi kan."
Bilbil langsung mencubit pipi Juju.
"Auwww! Sakit Bil!." Juju kesakitan memegang pipinya.
"Kau yang meminta aku mencubitmu kan !"sahut Bilbil.
"Ternyata ini bukan mimpi Bil. Bagaimana bisa Kay menikah dengan pangeran impian kita?dan dia merahasiakannya dari kita selama ini! Kay sangat jahat!"kata Juju dengan wajah syok.
Mobil sedan hitam super mewah yang membawa Kay dan Ben lalu melaju pergi.
Diikuti oleh tiga mobil sedan lainnya yang mengekor di belakang.
Di dalam mobil,Kay diam memalingkan wajahnya ke luar kaca jendela mobil.
"Kenapa kau diam saja gadis aneh?apa kau marah padaku?"tanya Ben.
Kay menoleh ke arah Ben dan balik bertanya,"Apa aku harus memberi alasan di balik tindakan ku padamu?."
Ben tersenyum.
Karena tujuannya bertanya pada Kay supaya gadis itu menatap wajahnya dan merespon ucapannya.
"Setelah kelas kursus pastry mu selesai.Aku akan mengajakmu menonton film.Bersiaplah dan jangan terlambat"ucap Ben dengan lembut.
Kay diam memandangi Ben.
"Sikapnya sangat aneh dan cepat berubah.Kadang sangat kasar tapi tiba-tiba menjadi begitu lembut.Tapi aku lebih suka saat dia berkata lembut padaku.Dia terlihat berkharisma"gumam Kay di dalam hatinya.
Kay tidak menyadari saat memandang Ben,senyuman kecil mengurai indah dari wajah cantiknya.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?Apa kau gila?"tanya Ben ketus.
Lamunan Kay buyar seketika.
"Apa aku tidak boleh tersenyum?"ucap Kay dengan gugup.
"Apa kau tersenyum seperti itu,karena baru menyadari jika aku terlihat sangat tampan dan berkharisma." Ben memandang tajam ke wajah Kay.
Kay membeku tiba-tiba dan terperanjat mendengar kata-kata Ben.
"Bagaimana dia tahu apa yang sedang kupikirkan?"batin Kay.
Ben menepuk lembut kening Kay sambil berkata,"Berhenti menatapku,jika terlalu lama kau akan benar-benar jatuh cinta padaku."
Kay mengernyit lalu memalingkan wajahnya yang merona merah.
Sebaliknya Ben tersenyum melihat sikap gugup Kay.