Riyla tidak mempercayai kalau dia terlahir kembali disebuah dunia misterius, walau hanya menjadi anak petani yatim piatu, tapi Riyla tidak mempermasalahkannya, hingga suatu ketika dia bertemu dengan pemuda misterius bernama Flynn, pemuda tersebut mengalami sebuah amnesia, bukan hanya itu dia juga memiliki tanda daun dilengannya seperti tanda pada ras Leaflin, ras yang keberadaannya telah lama tidak ada. tetapi pertemuan singkat mereka harus berakhir karena orang-orang iri dan serakah menghancurkan desa tempat tinggal Riyla, memaksa keduanya untuk pergi dan tidak bisa kembali lagi, maka keduanya memutuskan berpetualang dan mengembalikan ingatan Flynn, lalu mencari berbagai misteri-misteri dari dunia Ethland
bagaimana kisah petualangan Riyla dan Flynn, akankan ingatan Flynn berhasil dipulihkan dan misteri apa yang menanti mereka disana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elisya Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 (Flynn) : Penguasa Gunung Part 1
Awal memasuki hutan memang terasa lancar dimata Flynn, ya itu memang awalnya saja, belum bagian dalam. Dia tidak akan mengira kalau hutan ini beserta gunung yang nanti akan mereka daki akan menjadi tempat yang berbahaya seperti ini.
Dimulai dengan sambutan sekelompok babi, hingga tak sengaja mereka berpapasan dengan beruang hitam yang terkenal akan genasannya. Tetapi itu belum seberapa, karena tempat ini masih memiliki penghuni yang tak kalah kuat dari sebelumnya.
Dari penjelasan Eilaria, kalau hutan ini diberi nama Hutan Tornado. Bukan tanpa alesan karena diberi nama seperti itu, dia bilang beberapa orang seperti pemburu atau kesatria yang hendak masuk kedalam hutan selalu melihat tornado muncul begitu saja dan menari bebas disekitar hutan maupun gunung.
Kemunculannya memang sangat tidak alami sebab bisa muncul baik itu cuaca bagus atau buruk, sesekali juga akan terasa angin kencang berhembus disekitar gunung. Sang penyihir bilang semua fenomena itu disebabkan oleh penguasa puncak gunung itu sendiri.
Dia memang bilang ada rute aman untuk mendaki gunung yang hanya diketahui penyihir saja, tetapi itu pun kalau mereka tidak diketahui oleh sang penguasa gunung. Penguasa gunung disini sangat tidak suka dengan orang asing masuk kedalam wilayah mereka, sekali masuk entah nyawa masih dalam genggaman atau sudah melayang duluan.
Tak terkira dalam dirinya kalau perjalanan mereka akan berubah menjadi seperti ini, tapi baik dia maupun Riyla sudah siap menghadapi resiko apapun kelak.
“jadi sosok penguasa gunung itu seperti apa?” Tanya Flynn.
Eilaria berhenti sejenak “kalian pernah dengan monster Griffin?”
Rasanya Flynn pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi dimana ya.
“macan dengan kepala elang dan sepasang sayap. dipunggungnya?” jawab Riyla, wajahnya terlihat pucat.
Eilaria mengangguk “benar, Riyla sepertinya kamu sudah mendengar desah desuh soal monster ya”
“sedikit, tapi tak aku sangka mereka itu ada” jawab Riyla pelan.
Eilaria menjelaskan, monster itu ada dan mereka tersembunyi ditempat tertentu. Diantara mereka ada yang hidup tenang diwilayahnya ada juga yang menyerang wilayah manusia apabila mereka merasa lapar atau terancam.
Tapi untuk Griffin yang satu ini, dia menyarankan setidaknya mereka tidak mengusik monter tersebut. lebih bagus menghindarinya perlahan-lahan.
Gagasan Eilaria disetujui oleh Flynn maupun Riyla, bagaimana pun mereka tidak ingin masuk dalam pertarungan yang tak diuntungkan.
Semakin dalam mereka memasuki hutan, aura yang mereka rasakan semakin kental, entah karena hutan ini jarang dimasuki manusia atau mungkin sosok Griffin ada didekat mereka.
Apapun itu, mereka berdua harus tetap berjalan menyusuri jalan hutan sampai dikaki gunung
Niatnya sih begitu, didepan mereka lagi-lagi ada sekumpulan babi beristirahat dibawah pohon, jumlah sekitar 5-7 ekor. Babi-babi itu ukurannya cukup besar untuk babi liar, ditambah gading mereka yang terlihat runcing dan tajam. Sekali seruduk pasti tidak tau nasibnya.
Dengan hati-hati mereka bertiga pelan-pelan melangkah melewati sekumpulan babi yang berkumpul dari balik semak-semak. Riyla memeluk Grey dengan erat, berharap itu kucing tidak main lompat atau bersuara, tetapi sepertinya Grey memahami situasi mereka saat ini dan memilih diam walau itu kucing bisa mendengar suara detak jantung Riyla begitu jelas.
Salah seekor babi menoleh kearah mereka, dengan cepat Flynn dan Eilaria tiarap, sedangkan Riyla sembunyi dibalik salah satu pohon. Suara babi menghembuskan napas terdengar, menandakan babi itu curiga akan area yang dia tempati, ada kemungkinan babi itu tau keberadaan Flynn dan teman-temannya atau mungkin dia hanya sekadar merasakan saja.
Pelan-pelan, Flynn membuka sebagian daun-daun dalam semak-semak, ada satu babi yang curiga, ukuran dia sama persis dengan yang lain, tetapi ada semacam luka goresan dimuka, tak henti-henti itu babi melirik sekitar.
Sekitar 6 menit lamanya, babi tersebut akhirnya tenang kembali dan memilih tidur. Kesempatan ini langsung diambil Eilaria, menuntun teman-temannya menjauh dari kawanan babi.
Sekali lagi mereka kembali melangkah pelan-pelan, berusaha menjauh, ditambah jantung Flynn tak henti-henti berpacu.
Setelah aga menjauh dari kelompok babi, akhirnya mereka semua bisa bernapas lega. Grey dengan cepat lompat ke pundak Flynn, entah karena dia merasa sesak dipeluk erat oleh Riyla atau mungkin tak ingin merasa tegang dan menghirup napas sebentar.
Ada sungai mengalir dihadapan mereka, ini kesempatan untuk istirahat sejenak.
Riyla duduk dipinggir sungai sambil membasuh muka, Flynn mengisi kembali tempat minumnya, Eilaria mengecek setiap sisi aliran sungai sedangkan Grey dia turun dari pundak Flynn dan langsung minum.
Satu persatu dari mereka beristirahat dan makan untuk kembali mengisi tenaga, Flynn tidak tau apa lagi yang akan mereka hadapi setelahnya, cuman dia merasa semakin kedalam, semakin banyak juga bahaya yang akan mereka hadapi.
Jika sebelumnya tantangan yang harus mereka lewati adalah lolos dari kesatria, sekarang jauh lebih berbahaya, dalam diri Flynn dia meraka tak yakin apakah mereka semua bisa keluar dari hutan ini hidup-hidup. Tetapi saat dia melihat Eilaria, Grey lalu Riyla satu persatu, perasaan ragunya mulai sirna.
Sebagai seorang Leaflin yang berusaha mendapatkan kembali ingatannya yang ilang dia haruslah optimis.
Dari sinilah Flynn sadar, dia adalah seorang Leaflin, harusnya dia lebih diuntungkan dari pada monster-monster yang menunggu mereka semua disisi lain hutan.
Disentuh salah satu pohon, Flynn berkomunikasi dengannya, meminta bantuan.
Setelah berselang lama, pohon itu memberitaukan Flynn kalau rute jalan yang hendak mereka tuju sudah dekat, namun tempat itu dijaga oleh seekor harimau.
“kita sudah dekat” ucap Flynn.
“dekat?” Riyla kebingungan.
“pintu masuk jalan yang dibilang Eilaria” Flynn memberitaukan.
Kedua teman Flynn langsung pahan kalau dia baru saja berkomunikasi dengan pohon.
“cuman ada masalah” ucap Flynn.
“masalah?” Tanya Eilaria.
“ada seekor harimau berjaga dipintu masuk” jawab Flynn.
Baik Eilaria maupun Riyla sama-sama kaget, termasuk yang paling kaget adalah Eilaria. Gadis penyihir itu tak memercayai ucapan Flynn kalau jalan yang selalu dilalui penyihir dijaga oleh harimau.
Bahkan dia sendiri berkata kalau sudah 7 bulan terakhir semenjak dia terakhir kali menggunakan jalan tersebut, tak disangka dalam waktu dekat ada sosok harimau mendiami tempat pintu masuk jalan.
“apa harimau menjadikan pintu masuk sebagai wilayahnya?” Tanya Riyla.
“entahlah” jawab Eilaria aga ragu “tapi apapun itu kita harus siap menghadapinya”
Flynn memeriksa kembali pedangnya, apakah pedang tersebut ada goresan atau tidak. Setelah selesai dia menyarungkan pedangnya kembali.
Terpikir oleh Flynn untuk memberikan sebuah belati ke Riyla, karena Riyla adalah satu-satunya orang disini yang tidak memiliki senjata.
“Riyla” Flynn menghampiri Riyla “ini pakailah” Flynn memberikan belati.
Riyla memerhatikan baik-baik belati ditangan Flynn “untukku?”
“iya, dengan ini setidaknya bisa_”
Flynn menghentikan ucapannya saat dia melihat Riyla mengeluarkan gulungan kain coklat berisi pisau-pisau runcing nan tajam, jumlahnya ada 7 buah.
Sejak kapan Riyla menyimpan benda mengerikan itu ditasnya, dia tak pernah menunjukan sama sekali benda-benda tersebut. bahkan sepanjang perjalanan saja, tak pernah sekalipun Riyla memamerkannya, apa mungkin setelah meninggalkan desa Natrila, dia membawanya.
“maaf aku enggak pernah bilang” ucap Riyla tersenyum kecil “sebenarnya aku membawa ini semenjak kita pergi dari desa”
Dugaan Flynn benar.
Salah satu pisau diambil oleh Riyla, pisau paling tengah, begitu tajam dan cukup menyayat kulit, dia memasang kuda-kuda kedepan, tengan kanan memegang gagang pisau, ujung pisau diarahkan kebelakang kepala, Flynn bisa melihat kedua mata Riyla penuh konsentrasi, tak pernah dia melihat sosok Riyal seperti ini, dia tidak seperti Riyla yang dia kenal.
Tidak, Flynn pernah melihat Riyla seperti ini, saat mereka berhadapan dengan Eilaria kedua kalinya dulu, Riyla tidak pernah menunjukan sosok ragu dan takut, dia berani menghadapi apa pun dihadapannya.
Bahkan saat dia dipenjara dimension, Riyla dengan berani menyusup kedalam untuk menyelamatkannya, perempuan desa biasa tidak akan sanggup melakukan hal nekat seperti itu, tapi Riyla mau melakukannya, dia berani mengambil resiko.
Secepat kilat, Riyla melempat pisau tersebut kedepan, lemparan pisau Riyla begitu kuat dan cepat, hingga berhasil menancap sebongkah batu yang berdiri didepan akar pohon. Lemparan pisau tersebut tidak terpantul, melainkan menancap keras diatas batu.
Eilaria yang baru melihatnya terheran-heran dengan bakat tersembunyi Riyla.
“sejak kapan kamu belajar lempar pisau?” Tanya Flynn.
“sebelum aku ketemu Flynn, aku terkadang bermain lempar pisau dirumah, sekadar mengisi kebosanan” jawab dia.
Kalau sekadar cuman bermain saja, enggak mungkin bisa sekuat itu, pikir Flynn.[]
Jangan lupa singgah ke novelku My Hot Daddy is a Vampire🙌🙌
btw mampir yuk di karya pertama ku judulnya 𝗢𝘁𝗵𝗲𝗿 𝘀𝗶𝗱𝗲 𝗼𝗳 𝗺𝗲.
mampir juga dikisahku yang My Perfect Ghost makasih 🙏