Kehancuran, kehilangan, dan siksaan sudah menjadi makanan keseharian alya.
alyana keysa. Putri sulung dari seorang pengusaha kaya raya yang bernama kevano daneswara. Namun itu semua tak menutupi sifat asli seorang KEVANO terhadap putri nya yang sangat ia benci selama ini
"Alya cuma pengen disayang sama papa.. Emang sesulit itu ya buat papa bisa sayang sama alya."
"SAYA BUKAN AYAH KAMU!!" Bukan pelukan yang alya dapat melainkan sebuah teriakan cukup keras yang keluar dari bibir laki - laki yang ada didepannya.
"Kalo bukan papa terus siapa?" Alya menangis, dadanya teramat sesak mendengar perkataan yang baru saja dilontarkan kevano. Padahal selama ini juga tak sedikit ia mendengar cacian dari kevano tapi ntah kenapa inilah yang paling menyakitkan.
Kisah hidup dari alyana Keysa.
CERITA INI UNTUK DIBACA BUKAN DITULIS ULANG!!
PLAGIAT MENJAUH
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea Aldebaran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita
Kini alya dan atlanta tengah berbincang seru didepan minimarket, disana disediakan kursi serta meja untuk seseorang beristirahat sejenak di minimarket tersebut.
"Oh ya, wajah lo ngapain pada biru gitu?" Celetuk atlanta tiba - tiba sembari meringis.
Alya yang mendengar perkataan atlanta menundukan kepala. "Lo pasti risih ya liat penampilan gue seburuk ini" Alya kembali mendongakan kepalanya, tersenyum pedih.
"What? Buruk? Lo masih tetep cantik bahkan dimata gue" Atlanta berkata jujur, sungguh ia tak pernah bohong disetiap kalimatnya saat ini. Alya masih saja terlihat cantik dimatanya, dengan bulu mata lentik, mata indah, hidung mancung, kulit putih susu, bahkan bibirnya yang merah alami. Tuhan, kau ciptakan mahkluk didepanku ini dengan apa? Batin atlanta kala itu.
"Gue balik dulu, lagian dah jam 9 malam. Lo juga balik, nggak baik perempuan diluar sendirian malam - malam gini" Atlanta kembali menutup tudung hoodie nya kemudian melangkah menjauh dari pelataran minimarket tersebut.
"Jam 9? Perasaan tadi baru jam 7" Beo alya. Matanya membulat saat kembali mengulang kata - kata awalnya.
"Ya tuhan.. Mama dan papa pasti nungguin dirumah" Alya menepuk jidatnya kemudian berlari menjauhi minimarket tersebut menuju rumahnya.
"Bundaa.. Pasti papa bakal hukum alya lagi.. Alya nggak mau bunda.." Dada alya bergemuruh saat tubuhnya telah berada didepan pintu utama rumahnya yang menjulang tinggi didepan nya. Rasa takut menjalari setiap bagian tubuhnya itu.
"Nggak papa, lagian ini juga salah alya" Alya menghembuskan nafas panjang kemudian membuka pintu tersebut pelan.
Plak
Suasana hening beberapa saat ketika suara tamparan terdengar nyaring.
"Darimana kamu? Saya nyuruh kamu beli cokelat buat vania, kamu beli cokelat itu dimana hah?" Nafas ardila memburu. Menatap nyalang anak tirinya itu.
"Bawa sini, kasian anak saya sudah menunggu sejak tadi" Ardila merebut kantong plastik yang tadinya alya genggam. Setelah itu ia melangkah menjauh
"Mama kasian vania karena dia nggak dapat yang dia mau, tapi alya ma? Kenapa mama juga nggak kasian ke alya saat alya harus melihat kalian menjadi keluarga bahagia tanpa aku." Alya tersenyum pedih, hatinya terlalu kebas untuk merasakan sakit lagi. Bahkan mungkin air matanya juga telah mengering karena terlalu sering ia keluarkan.
...****...
Pagi hari yang cerah kembali menyambut alya dihari ini. Energinya yang telah terkuras habis untuk ia gunakan menangis kini kembali terisi setelah semalam ia tertidur.
"Terimakasih tuhan, di pagi ini aku masih diberi nyawa untuk ada disini, untuk meraih kebahagiaanku sebelum aku menemui bunda di alam sana" Alya tersenyum didepan cermin, tangan nya meraba cermin yang memantulkan bayangan nya sendiri.
"Tuhan, tolong.. Buat aku bertahan, masih ada yang ingin aku rasakan didunia ini. Termasuk pelukan mama"
Seusai mengatakan hal tersebut, alya keluar dari kamarnya. Berjalan pelan menuju dapur. Matanya bergulir menatap sekitar
Dimana keluarganya? Batin alya bertanya.
Tak mempedulikan apapun lagi. Alya mengambil selembar roti lantas bergegas menuju halte sebelum tidak ada angkutan umum yang lewat.
...****...
"Shutt jangan berisik orangnya dateng."
"Cewek murahan"
"Nggak pantes buat hidup"
"Kasian ya kaisar"
"Cewek gatel, nggak pantes buat orang mana pun"
Baru saja alya menapak didepan gerbang sekolah SMA 03 Alandra. Kini, dirinya sudah disuguhi oleh bisik - bisik para siswa maupun siswi yang sepertinya tengah menggunjingkan orang, oh ralat itu mungkin— dirinya.
Alya terus berjalan melintasi lorong panjang yang berada dibangunan sekolah megah tersebut. Kepalanya terus menunduk tak berani menatap para siswa maupun siswi yang mulai mengolok - olok dirinya.
"Lagian si kaisar juga ngapain masih mau sama cewek kek dia, udah tau digituin masih aja nggak mau mutusin cewek gatel gitu."
"Kaisar kan baik, nggak kek ceweknya yang munafik"
Alya terhenyak ditempat mendengar seruan siswi dibelakang nya yang menggunjingkan hal buruk tentangnya. Alya berbalik, menatap kedua manusia yang juga tengah balas menatapnya dengan tatapan terkejut serta tatapan meremehkan.
"Kalian—" Alya menatap satu per satu wajah dua orang yang ada didepan nya ini.
"Kalian tadi ngomongin gue?? Sejak kapan gue itu cewek gatel? Sejak kapan gue kek gitu hah?? Bahkan gue nggak pernah deket sama cowok mana pun selain kaisar" Bentak alya. Dua orang tersebut saling pandang kemudian tertawa nyaring.
"Hello? Bangun princess bangun dong. Lo itu harusnya sadar lah, lo kan daridulu emang gatel" Siswi tersebut mengedikan bahunya tak acuh.
"Kalo lo nggak gatel, terus kertas yang di mading sekolah itu apa? Apa iya kamera bisa salah ngefotoin orang. Lawak bener lo" Mereka kembali tertawa kemudian pergi meninggalkan alya yang masih terpaku. Matanya memanas, kemudian tanpa pikir panjang lagi kakinya yang mungil berlari menuju papan mading sekolah berada.
Didepan papan mading sendiri kondisinya benar - benar sudah kacau. Siswa mulai berbisik yang tidak - tidak mengenai dirinya. Alya datang menyerobot membuat semua orang merasa geram bukan main.
Hatinya terasa diremat ketika mendapati fotonya tengah bersama atlanta didepan minimarket tadi malam berada disana. Bedanya foto kali ini sedikit di edit, dengan sebuah adegan alya dan atlanta yang tengah berciuman.
Air matanya luruh. Tuhan, sesakit ini hidup didunia ciptaanmu kah? Apakah sehina ini dirinya hanya untuk meraih sebuah kebahagiaan didunia?
Kaisar datang dengan tergesa, nafasnya terdengar memburu, matanya yang tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya menatap kearah papan mading yang didepan nya terdapat alya sendiri, gadis yang sedari tadi ia cari.
"Ngapain lo pada disini? Mau liat apa kalian? Berita ini nggak bener sialan. Pergi lo semua!!" Kaisar menarik lembaran kertas yang tertempel dipapan mading kemudian merematnya dan melemparnya kedalam tempat sampah