Manusia hanya bisa berencana selebihnya Tuhan lah yang menentukan, tapi bagaimana dengan Takdir apakah itu sama saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deirayas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Suasana pagi ini di kantor divisi program sedikit berbeda, ya Icha, Angga dan mbak Rani tengah sibuk berkutat di depan layar terpaku mereka masing-masing, mereka baru saja mendapat broadcast pesan mendadak dari kantor cabang bandung perihal beberapa sistem yang mengalami gangguan yang mengakibatkan beberapa program tidak bisa berjalan dengan normal.
"sistem error lagi sistem error lagi, tau aja pagi-pagi belum sarapan sudah di kasih hidangan beginian, emang kayaknya butuh di upgrade kok ini softwarenya, lagian perusahaan gede upgrade sistem mah kecil"keluh Angga sambil trus mengotak-atik beberapa kode yang terlihat seperti kerumunan semut.
"denger-denger sih bakalan meluncurkan software baru ngga, tapi ngga tau kapan"imbuh Icha yang juga sama dengan Angga sedang mengotak-atik kode-kode yang hanya di pahami anak programmer.
"duh pusing kepala gue kalo kayak gini lama-lama, makin tambah lagi ini kayaknya minus gue"keluh mbak Rani seraya membetulkan letak kacamatanya.
Tiga orang programmer dengan kesibukannya masing-masing yang sedang berkutat dengan layar terpaku mereka masing-masing, semuanya memasang wajah serius, bahkan big bos yang hendak masuk ke ruangan mereka pun mengurungkan niatnya dan kembali ke ruangannya.
"tuh big bos kalo tadi jadi masuk gue nggak mau tanggepin kalo dia ngomong, nggak tau apa orang lagi pusing, untung nggak jadi masuk".
"beliau tau mbak kita semua lagi pasang muka serius makanya beliau nggak berani masuk, ada untungnya juga ya?gue yakin sih itu keknya kalau jadi masuk tadi bakalan ngomel-ngomel"jawab Icha kali ini dia menghentikan sejenak kegiatan di depan layar komputer lalu menyandarkan punggungnya di kursi putarnya.
"kan emang udah kerjaan beliau ngomel-ngomel sama kita, belum afdol kalo sehari aja nggak ada ngomel-ngomel bisa-bisa ke bawa mimpi ntar"sahut Angga yang masih sama dengan kegiatan tadi.
"kayaknya nanti pulang kantor kita butuh nongkrong dulu deh"ajak mbak Rani lalu menghentikan kegiatannya mengikuti Icha menyandarkan punggungnya di kursi berputarnya.
Agenda rutin mereka jika banyak kerjaan seperti sekarang, mereka berempat pasti akan menyempatkan waktu buat nongkrong di kafe sepulang kantor.
"ayo aja aku mah, gas pokoknya, coba ada Ian makin seru nih pasti".
"apalagi tuh bocah kalo soal pemrograman kek gini mah paling ahli dia, di antara kita bertiga pasti cuma dia yang masih stay cool"ucap mbak Rani
"iya, sampai big bos bolak balik demi ngelihat dia yang masih aja stay cool padahal mah kita udah ngereog"imbuh icha.
"semoga aja ya dia segera balik tugas disini lagi, kantor sepi kalo nggak ada dia yak, nggak ada yang di ledekin sama big bos habis dia diem-diem aja kalo di ledekin".
"jangan-jangan di suka beneran lagi mbak sama big bos makanya cuma diam aja"ucap Icha asal tebak.
"ngawur aja loe Cha, Ian pernah bilang sendiri ke gue, dia cuma males ribet makanya kalo di ledekin sama big bos dia cuma diem aja"Angga memberikan pembelaan kepada sahabat yang kini sedang di tanah rantau.
"lagian juga nggak rela kalo Ian sama big bos"imbuh mbak Rani.
Mbak Rani walau terkadang suka meledak Ian sama big bos tapi jujur dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia tidak akan rela jika kawannya itu menjalin hubungan dengan big bos si ibu manager mereka, memang ada yang bilang kalau cinta itu tidak kenal umur, tapi bukannya gimana-gimana hanya saja lebih cocok jika Ian itu anaknya bukan pasangannya.
"kerja lagi kerja lagi, di lihatin big bos tuh"seru Icha ke mbak Rani dan Angga, mereka pun lalu fokus kembali ke layar terpaku mereka.
Tanpa terasa hari sudah beranjak sore, waktunya untuk pulang dari kantor, tampak Icha, mbak Rani dan Angga sudah bersiap-siap untuk pulang, tanpa menunggu lama mereka langsung meninggalkan ruangan kerja mereka.