Sebuah alam yang penuh kekacauan menunggu seorang pemimpin yang di
ramal kan. Dia yang akan terlahir, mencabut segala segel, dan kutukan. Serta segala alam akan terhubung segala dimensi akan tersambung, dia juga termasuk kekasih Sang Pengantar Tulisan, juga sang pewaris empat naga kuno. apa? dia bisa menaklukkan dua alam, yaitu Alam Eheiwha dan Alam Armanaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAHLEILI YUYI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Cincin Budak Suci
Aldi.
"Ini anak, apa mencari sakit sih!!". Ucap Elia kembali duduk.
"Percuma menjelaskan nya, dia keras kepala". Jawab papa Aldi, sambil menyendok nasi.
"Aku sudah ke habisan cara mendidik anak ini". Ucap mama nya.
"Sudah, nanti dia akan sadar sendiri". Jawab papa nya enteng.
"Apa papa tidak sayang sama Aldi, dari dulu papa tidak pernah tegas sama dia, papa tidak pernah membantu ku dalam masalah ini". Ucap mama nya.
"Mama saja yang tegas sama dia, tidak pernah didengarkan nya lagi, apa lagi papa". Jawab Gio seperti tidak mau tahu saja urusan istrinya.
"Tapi sekali saja papa bantu tidak apa-apa". Ucap Elia.
"Hanya Yuyi yang bisa membantu kita, putri kakak mu itu". Ucap Gio.
"Hmmm!". Mamanya Aldi hanya bisa pasrah dan menghirup napas dalam-dalam.
\*\*\*\*\*\*\*
Setiap tangga kristal yang mereka injak, terpancar berbagai macam aura yang mengandung kekuatan spiritual tinggi, langkah demi langkah mereka rasakan kekuatan itu, perlahan-lahan mulai menghisap kekuatan kultivasi mereka, tapi sejak awal Admiko mengetahui, dia sendiri melindungi jiwa dan tubuh nya dan juga melindungi Yuyi dalam perjalanan, Admiko wajahnya mulai pucat.
"Kenapa wajah mu pucat, kamu tidak sehat?". Tanya Yuyi pada Admiko.
"Aku sehat, tidak apa-apa". Jawab Admiko, tapi keringat membanjiri pakaian nya.
"Jika tidak sanggup, jangan di paksakan kita kembali ke ruang delapan lagi". Ucap Yuyi, terus mengelap dahi dan wajah Admiko dengan ujung lengan bajunya.
"Kita harus lanjut, sudah tanggung ini tekad kita". Jawab Admiko.
Tapi sesekali dahinya berkerut seperti jeruk purut, di wajahnya seperti menahan sakit.
"Apa ada yang kamu sembunyikan dari ku,?". Tanya Yuyi kelihatan agak cemas.
"Tidaaak". Jawab Admiko menggelengkan kepala.
"Jangan berbohong, aku termasuk siswa yang termuda mencapai peringkat kultivasi bintang mutiara jalur Alcemist serta ilmu kedokteran kuno dan moderen, di sekolah teratai emas surgawi". Ucap Yuyi menyombong kan diri.
"Di lihat dari wajah dan aliran pembuluh darah mu. Qi dan kekuatan kultivasi mu turun ke titik terendah, lautan kekuatan meridian mu terkuras, seperti sesudah berperang melawan musuh di alam yang lebih tinggi dari mu, aku tidak tahu hingga alam mana pencapaian tingkat alam kultivasi mu aku tidak bisa melihatnya". Ucap Yuyi lagi.
Admiko menyipit kan mata menatap Yuyi seakan tidak percaya, ucapan nya.
"Alkimia Bintang Mutiara". Ucap Admiko dalam hati.
Di umur belum genap dua puluh tahun, telah mencapai peringkat Bintang Mutiara, bisa di bilang hitungan jari di benua Sin Suanshin yang mencapai peringkat ini, Yuyi termasuk salah satu orangnya berada di peringkat ini.
Admiko terasa makin bersalah, membawa masalah dan bencana pada seorang Alcemist Bintang Mutiara, paling tidak seluruh benua utara musuh Admiko, seakan Admiko telah memulai peperangan terbesar.
"Kamu kenapa?". Tanya Yuyi melihat Admiko sedang menatap kekosongan.
"Aku tidak bisa melihat tingkat kultivasi seorang Alkimia beda dengan Kultivasi kultivator, ternyata aku telah memulai peperangan, harga mu setimpal dengan benua utara atau separuh benua utara" Ucap Admiko.
"Jangan di pikir kan, aku yang akan menghadapi ini semua, kamu tidak perlu menanggungnya". Ucap Yuyi.
Yuyi selalu tersenyum memandangi wajah Admiko, wajah yang di juluki Dewa Agung Selatan, bintang jatuh di tanah fabao, jangan kan perempuan biasa, Yuyi saja tergila-gila pada Admiko.
"Bukan kamu tidak sanggup melihat nya, tapi aku bisa menyembunyikan aura kultivasi ku, tapi itu juga tidak berlaku, pada para kultivator tingkat langit ke atas". Ucap Yuyi.
"Apa benar, aura kultivasi alcemist, bisa di sembunyikan?". Tanya Admiko, dengan tatapan sendu nya pada Yuyi.
"Jika seseorang alkemis, belajar tentang kultivasi kultivator, bisa." Jawab Yuyi.
"Oh, aku baru paham". Ucap Admiko.
Dengan langkah lunglai dan gontai keringat Admiko terus bercucuran, dengan perlahan Admiko terus melangkah sambil membimbing tangan kiri Yuyi.
"Tingkat Berlian Matahari dan tingkat Bintang Mutiara". Ucap seseorang berdiri di hadapan para muridnya.
Mereka telah berdiri beberapa waktu yang lalu, sedang menunggu orang yang hadir ke ruang sembilan beserta dengan ratusan anak murid nya.
"Selamat datang, kalian tamu pertama orang asing di ruang ku". Sapa tetua ruang ke sembilan dia bernama Eiji.
"Terimakasih Senior telah menyambut kaa!!!". Ucapan Yuyi terhenti.
"Bruuuuk!!!". Admiko terjatuh tidak sadarkan diri.
"Hei!!, kamu kenapa, hei, kamu kenapa?". Tanya Yuyi, dia cemas dan terus menggoyang-goyang kan kepala Admiko.
"Tetua apa yang terjadi pada nya?". Tanya Yuyi ketakutan.
"Dia kelelahan, karena membagikan kekuatan qi nya pada mu, jika tidak, mungkin beberapa hari lagi kalian baru sampai ke ruang sembilan ini". Ucap Eiji.
Lalu dia memanggil beberapa orang murid nya. Dan menyuruh membawa Admiko yang sedang tidak sadar kan diri ke sebuah ruangan.
"Bawa dia ke ruang Istirahat". Perintah Eiji pada murid nya.
"Kenapa kamu lakukan, perbuatan yang beresiko tinggi ini". Ucap Yuyi dalam hatinya.
"Apa dia akan sehat lagi?". Tanya Yuyi pada Eiji.
"Dia cuma kelelahan, seharusnya kamu tahu, sebab kamu sendiri telah mencapai alam Bintang Mutiara". Ucap Eiji sambil menatap wajah Admiko yang pucat.
"Ma'af senior, aku belum belajar cara membuka tabir rahasia tingkat alam kultivator". Ucap Yuyi.
"Tingkat kan daya kultivasi mu tentang para rahasia kultivator, sebab kamu tidak akan sulit meningkat kan daya nya, karena aku rasakan dalam diri mu, ada aura darah kultivator yang melegenda". Ucap Eiji sambil menatap Yuyi. Lalu dia pergi menyongsong para murid nya yang sedang membawa Admiko.
"Kenapa di hadapan mu, hanya kecemasan yang ku miliki, sehingga aku lupa bahwa aku seorang dokter". Ucap Yuyi dalam hati.
"Tetua kapan dia akan sadar?". Tanya Yuyi, berjalan di belang Eiji.
"Kemungkinan esok pagi". Jawab Eiji terhenti dari langkah nya, lalu dia melihat ke arah Yuyi.
Eiji melihat Yuyi memungut cincinnya yang jatuh, karena tertarik oleh Admiko saat ambruk ke lantai tadi.
"Cincin budak Suci". Ucap Eiji sambil menatap cincin itu hendak di pakai Yuyi lagi.
"Cincin budak Suci terjatuh di Ruang ku".,Ucap Eiji dalam hati.
Matanya terbelalak seperti melihat hantu dan setan.
"Tidak, tidak, tidak mungkin".,Gumam Eiji seperti orang ketakutan.
"Senior ada apa?". Tanya Yuyi sambil menatap Eiji bingung.
"Oh!!, tidak, tidak tidak apa-apa". Jawab Eiji, seperti menyembunyikan sesuatu.
"Ayo kita temui teman mu". Ajak Eiji melangkah dan di Ikuti oleh Yuyi.
Admiko di bawa ke sebuah kamar kuno, dengan meja dari giok, juga ranjangnya dari batu kristal yang mengeluarkan asap seperti batu es, di tengah kamar itu juga ada kolam mandi yang terus mengeluarkan gelembung asap.
Tiang-tiang penyangga langit-langit kamar Itu juga terbuat dari
Bersambung*******