Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 La Fille d'Adrien
Aku menatap gadis di depanku.
Élodie.
Pisau kecil masih berada di tangannya, meskipun ujungnya kini mengarah ke lantai.
Kalimatnya terus berputar di kepalaku.
Ayahmu masih hidup.
Aku ingin percaya.
Sialnya...
Aku sudah terlalu sering dibohongi.
"Ulangi."
Élodie mengangkat alis.
"Apa?"
"Yang tadi."
"Ton père est vivant."
"Bahasa yang aku mengerti."
Élodie menghela napas.
"Ayahmu masih hidup."
Aku menelan ludah.
"Bagaimana kau tahu?"
Ia tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, ia memasukkan pisaunya ke dalam saku jaket.
Lalu berjalan melewatiku.
"Karena aku pernah bertemu dengannya."
Aku langsung berbalik.
"Kapan?"
"Delapan tahun lalu."
"Di mana?"
"Marseille."
Aku mengerutkan dahi.
"Marseille?"
Élodie mengangguk.
"Dia tidak menggunakan nama Adrien."
"Namanya apa?"
Élodie menatapku.
"Gabriel."
Aku terdiam.
Léo yang sejak tadi berdiri di belakangku langsung menyela.
"Sebentar."
Ia mengangkat satu jari.
"Jadi ayah Maël masih hidup, tetapi menggunakan nama lain?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena dia sedang diburu."
Léo mengangguk perlahan.
"Masuk akal."
Aku menoleh kepadanya.
"Bagian mana yang masuk akal?"
"Bagian diburu."
"Kenapa?"
"Karena keluargamu memang ribet."
Aku hampir tertawa.
Hampir.
── Maël kepada kalian ──
Aku mulai berpikir...
Mungkin keluarga normal memang hanya ada di film.
Keluargaku punya:
Ayah yang hilang.
Ibu yang meninggalkan pesan rahasia.
Seorang pria tua bernama Lucien yang suka muncul seperti hantu.
Henri yang menyimpan terlalu banyak rahasia.
Dan sekarang...
Seorang gadis bernama Élodie yang muncul membawa kabar bahwa ayahku masih hidup.
Kalau ini keluarga kalian...
Kalian mungkin juga akan memilih tinggal di bawah jembatan.
Setidaknya tikus tidak punya rahasia keluarga.
── Kembali ke cerita ──
Aku berjalan mendekati Élodie.
"Kenapa kau mencariku?"
"Aku tidak mencarimu."
"Lalu?"
"Dia yang menyuruhku."
"Siapa?"
Élodie diam.
Aku mulai kehilangan kesabaran.
"Élodie."
"Siapa yang menyuruhmu?"
Ia menatapku cukup lama.
Kemudian berkata,
"Ayahmu."
Dadaku langsung terasa sesak.
"Dia tahu aku di sini?"
"Tidak."
"Lalu bagaimana?"
"Dia tahu suatu hari kau akan datang."
Aku mengernyit.
"Bagaimana mungkin?"
Élodie mengambil sebuah foto dari saku jaketnya.
Ia menyerahkannya kepadaku.
Foto itu tua.
Warnanya hampir pudar.
Aku melihat seorang pria berdiri di depan sebuah rumah kecil.
Adrien.
Di sampingnya...
Élodie.
Namun Élodie di foto itu masih seorang anak kecil.
Mungkin berusia sepuluh tahun.
Aku menatap foto itu.
"Kau..."
"Iya."
"Berapa umurmu sekarang?"
"Delapan belas."
"Berarti..."
"Foto itu delapan tahun lalu."
Aku melihat wajah gadis di foto.
Kemudian wajah Élodie sekarang.
Memang orang yang sama.
Aku mengembalikan foto itu.
"Kenapa ayahku bersamamu?"
Élodie tersenyum tipis.
"Karena..."
"...aku juga salah satu anak Orphée."
Aku membeku.
Aku pernah mendengar nama itu.
Orphée.
Nama yang selama ini muncul di setiap sudut kehidupan yang tidak kumengerti.
Anak-anak yang hilang.
Rumah perlindungan.
Ayahku.
Lucien.
Henri.
Semuanya seperti benang kusut.
Dan sekarang...
Élodie.
Aku duduk di tepi meja.
"Jelaskan."
Élodie menarik kursi.
Duduk di depanku.
"Orphée bukan organisasi."
Aku mengerutkan dahi.
"Lalu?"
"Awalnya memang begitu."
"Tapi kemudian..."
"...menjadi jaringan."
"Jaringan untuk apa?"
"Untuk menyelamatkan anak-anak."
"Anak-anak dari mana?"
"Mana saja."
"Anak jalanan."
"Anak korban kekerasan."
"Anak yang kabur dari rumah."
"Anak yang tidak memiliki dokumen."
"Anak yang keluarganya tidak bisa ditemukan."
Aku terdiam.
Élodie melanjutkan.
"Adrien percaya satu hal."
"Apa?"
"Tidak ada anak yang seharusnya tumbuh sendirian."
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa...
Dadaku terasa sesak.
Karena selama bertahun-tahun...
Aku memang tumbuh sendirian.
"Kalau ayahku begitu baik..."
kataku pelan.
"...kenapa dia meninggalkanku?"
Élodie menatapku.
"Dia tidak meninggalkanmu."
Aku mengangkat kepala.
"Dia mencoba kembali."
"Kenapa tidak?"
"Karena dia tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena..."
Élodie menarik napas.
"...orang-orang yang mengejarnya menggunakanmu sebagai umpan."
Aku membeku.
"Apa?"
"Setelah kebakaran..."
"...mereka tahu kau masih hidup."
"Mereka mencari keberadaanmu."
"Adrien tahu."
"Jadi dia pergi?"
"Dia pergi supaya mereka tidak menemukanmu."
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena sakit.
"Jadi semua orang pergi..."
"...demi melindungiku?"
Élodie mengangguk.
Aku menggeleng.
"Hebat."
"Semua orang ingin menyelamatkanku."
"Tapi tidak ada yang pernah bertanya..."
"...apakah aku ingin diselamatkan dengan cara seperti itu."
Élodie diam.
Aku berdiri.
"Selama lima belas tahun..."
"...aku tidur di jalan."
"Aku mencuri makanan."
"Aku dipukuli."
"Aku lari dari polisi."
"Aku bahkan tidak tahu nama belakangku sendiri."
Aku menatapnya.
"Dan kalian semua sibuk menyembunyikan kebenaran."
Élodie tidak membantah.
Karena mungkin...
Ia tahu aku benar.
Tiba-tiba terdengar suara dari lantai bawah.
BRAK!
Kami semua membeku.
Léo langsung berdiri.
"Ada orang."
Élodie mengambil pisaunya lagi.
"Berapa?"
Aku mendekati tangga.
Mendengarkan.
Suara langkah kaki.
Satu.
Dua.
Tiga.
Aku mengangkat tiga jari.
Léo berbisik,
"Orang Lucien?"
Aku menggeleng.
"Entahlah."
Kami mundur ke dalam kamar.
Élodie mematikan lampu.
Langkah semakin dekat.
Tok.
Tok.
Tok.
Kemudian...
Pintu depan dibuka.
Suara seorang pria terdengar dari lantai bawah.
"Maël."
Aku membeku.
Aku mengenal suara itu.
Tidak mungkin.
Aku menatap Élodie.
Ia juga tampak terkejut.
Suara itu terdengar lagi.
"Maël."
Lebih dekat.
Aku perlahan turun tangga.
Léo menarik lenganku.
"Jangan."
Aku melepaskannya.
Di ruang bawah...
Berdiri seorang pria.
Jas hitam.
Rambut abu-abu.
Wajah yang sangat kukenal.
Aku langsung berhenti.
"Henri?"
Ia menatapku.
Lalu melihat Élodie.
Wajahnya berubah.
"Jadi..."
"...kau sudah menemukannya."
Élodie mengangkat pisau.
"Kau tidak seharusnya datang."
Henri menghela napas.
"Aku datang untuk membawanya pulang."
Aku menatap Henri.
"Pulang?"
Aku tertawa kecil.
"Aku tidak punya rumah."
Henri terdiam.
Kemudian berkata,
"Maël..."
"...kau harus ikut denganku."
"Kenapa?"
"Karena sekarang mereka tahu kau berada di Versailles."
"Siapa?"
Henri tidak menjawab.
Aku maju satu langkah.
"Siapa?"
Ia menatapku lurus.
Kemudian mengatakan sesuatu yang membuat darahku terasa berhenti mengalir.
"Orang yang membunuh ibumu."
Aku membeku.
Élodie menurunkan pisaunya sedikit.
Léo menatapku.
Dan untuk pertama kalinya...
Aku tidak ingin tahu siapa orang itu.
Aku harus tahu.
"Namanya."
kataku.
Henri menggeleng.
"Belum."
Aku mendekat.
"Namanya."
"Maël—"
"NAMANYA!"
Suara teriakku menggema di rumah tua itu.
Henri akhirnya menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Takut.
Kemudian ia berkata pelan:
"Gabriel Delacroix."
Aku membeku.
Gabriel.
Nama yang tadi diberikan Élodie.
Nama yang katanya digunakan ayahku.
Aku menatap Élodie.
Kemudian Henri.
Satu pertanyaan langsung muncul di kepalaku.
Kalau Gabriel adalah ayahku...
kenapa Henri mengatakan Gabriel adalah orang yang membunuh ibuku?
Dan saat itulah aku sadar...
Mungkin selama ini...
Aku bukan sedang mencari ayahku.
Aku sedang mencari orang yang menghancurkan keluargaku.