Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.
Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cinta.
Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.
Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.
Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Confession 2
"Saya..." Ibra menarik napas panjang, menatap lurus mata Ayah Naya meski dadanya gemetaran hebat. "Naya hamil, Om. Dan saya adalah ayah dari anak yang dikandungnya." Ibra mengatakannya dengan mantap, meski setengah tercekat. "Saya membuat kesalahan terhadap anak Om."
Hening, seketika hawa ruang tamu itu terasa berat. Ibra menahan napas usai kalimat itu benar-benar keluar dari mulutnya.
Ayah Naya berdiri kaku. Sorot matanya yang semula hangat dan penuh rasa hormat seketika padam, berubah memerah dan memancarkan kekecewaan yang teramat dalam. Ia melirik Naya beberapa detik dengan tatapan terluka sebelum menyembur Ibra.
Naya bergetar di tempatnya. Tatapan itu bukan sekadar marah. Ada kebingungan, rasa tidak percaya, sekaligus luka.
"Kamu... bicara apa kamu?!" raung Ayah Naya, suaranya melengking parau memecah keheningan. Pria paruh baya itu mencengkeram dadanya sendiri yang terasa teramat sesak, matanya memerah basah oleh air mata yang tak sanggup ia tahan lagi.
Tanpa aba-aba, Ayah merangsek maju, mencengkeram kerah kemeja Ibra lalu melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah pria muda itu tanpa ampun.
Pukulan keras mendarat di rahang kiri Ibra, menyobek sudut bibirnya hingga darah segar menetes menodai kemeja putihnya. Namun Ibra tidak membalas, tidak juga menghindar. Ia membiarkan tubuhnya menjadi sasaran amuk Ayah Naya.
Berpikir bahwa ia pantas mendapatkannya.
"Kamu tahu gimana sulitnya saya membesarkan Naya?!" histeris Ayah, suaranya bergetar hebat, dipenuhi ratapan seorang orang tua yang hatinya diiris-iris. Tiap satu pukulan mendarat, tiap itu pula kata-katanya keluar, menyayat. "Saya jaga dia dari kecil! Jangankan disakiti orang, digigit nyamuk saja saya enggak suka!"
Ibra menunduk, meresapi tiap kata, juga luka yang kian menghantam dirinya.
"Dia itu...." Ayah menunjuk Naya. "...Anak gadis saya satu-satunya... kebanggaan saya! Brengsek sekali kamu merusaknya!"
Ayah terus memukuli dada Ibra, kini cengkeramannya mulai melemah seiring tubuhnya yang bergetar.
"Kamu datang ke rumah ini... bertamu rapi, sopan, bawa status kamu sebagai atasan... Tapi kamu malah merusak putri saya! Kamu hancurkan hidup Naya! Kamu cabut masa depannya sampai tak tersisa!"
Naya semakin menunduk. Dadanya terasa sesak mendengar setiap ucapan Ayah. Ia tahu Ayah kecewa, tahu semua ini bukan hal yang pernah Ayah bayangkan untuk dirinya. Tapi mendengar Ayah mengatakan masa depannya sudah hancur membuat air mata Naya kembali deras tanpa bisa ditahan.
"Saya mendidik Naya jadi anak baik-baik bukan untuk di beginikan! Hati saya sakit... Sakit sekali, tahu kamu, hah, SAKIT?!" jeritnya dengan suara pecah, berubah menjadi isakan lirih yang teramat menyakitkan. "Kalau bisa, barter saja nyawa saya sekarang, asalkan anak saya tidak hamil seperti ini..."
PRANG!
Suara nampan dan gelas pecah melengking dari arah dapur. Bunda berdiri mematung sebelum akhirnya merosot, terduduk lemas di ubin dengan wajah sepucat mayat, syok berat menyaksikan itu.
"Bunda...." Suara Naya lirih, bergetar.
Namun Bunda tidak menjawab. Tatapannya masih kosong, seolah otaknya belum mampu menerima semua yang baru saja didengarnya.
Bertindak Naya, bertindak! Suara batin Naya berteriak. Tidak seharusnya Ibra membiarkan Ayah memahami semuanya dengan cara seperti ini.
Melihat Ayahnya meratap dan hendak mengangkat tangan lagi, Naya tidak bisa tinggal diam. Gadis itu langsung menerjang maju, merentangkan kedua tangannya di depan dada Ibra, menjadi perisai tanpa ia sadari.
"Jangan, Ayah! Jangan pukuli Pak Ibra lagi!" teriak Naya histeris, air matanya menetes makin deras, menggeleng dan menatap ayahnya penuh permohonan.
"Naya! Minggir! Laki-laki kurang ajar ini sudah merusak kamu, dan kamu masih mau membela dia?!" bentak Ayah murka. "AYAH BILANG MINGGIR!"
"Bukan salah Pak Ibra sepenuhnya, Yah!" tangis Naya pecah, suaranya parau. "B-bukan begitu, Yah. P-pak Ibra... Pak Ibra, bukan salahnya. dia tidak tahu apa-apa awalnya. Malam itu... kami sama-sama tidak sadar, Yah. Naya juga nggak tahu semuanya terjadi seperti apa."
"Naya, cukup..." bisik Ibra serak, menahan rasa bersalah yang makin membakar.
Tepat saat situasi di ruang tamu itu berada di titik paling destruktif, ketukan tongkat kayu yang berirama tegas terdengar dari luar teras.
Tok... tok... tok...
Pintu depan yang terbuka lebar perlahan bergeser. Seorang pria sepuh melangkah masuk dengan setelan jas mahal, disangga tongkat berukir klasik. Garis rahangnya keras, berkarisma serta dingin. Memancarkan wibawa absolut seolah tak bisa dielak. Di belakangnya, Papa dan Mama Ibra mengekor dengan wajah tegang.
Tentu saja, mereka mendengar semuanya dari luar. Putra bungsu mereka, tengah diserang oleh tutur kata yang tidak santun, kekerasan juga sepertinya turut serta.
"Hey, dengarkan putrimu sebelum menghajar cucuku."
Ayah Naya menoleh tajam, siap menyemprot siapa pun tamu tak diundang itu. Namun, begitu matanya menangkap sosok pria sepuh di ambang pintu, napas Ayah seketika tertahan. Matanya melebar sempurna. Naya yang masih bersimpuh pun mendadak membeku, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Sosok di hadapan mereka adalah Pratama Daneswara--taipan properti legendaris, pemilik bisnis raksasa sekaligus pria sepuh yang wajahnya sering menghiasi media nasional.
Kakek Ibra... adalah Pratama Daneswara.
***
"Bagaimana? Apa pemikiranmu sudah terbuka?" Kakek bertanya pada Ayah Naya yang terdiam seribu bahasa usai mendengar seluruh penjelasan dan pengakuan dari Ibra, Naya, juga dirinya.
Pratama mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan yang masih menyisakan jejak kekacauan sebelum akhirnya tatapannya kembali jatuh pada Ayah Naya yang napasnya masih memburu naik turun.
"Tetap saja dia bajingan, sudah menghamili--"
"Hey, seharusnya kamu mengajari putrimu untuk tidak sembarangan masuk ke kamar pria lain," tutur Pratama tenang, memotong, suaranya rendah namun menghujam tajam tanpa celah.
Ayah terperangah. Meski sudah mendengar pengakuan keduanya, ia masih denial, menolak kenyataan dan sulit menerimanya.
"Dan harusnya, sebagai kepala keluarga, kamu meredam amarahmu dan bertanya baik-baik sebelum bertindak di luar kendali. Mengatai cucu saya brengsek di rumahmu... berani sekali."
"Lalu, jangan mencoba berkelit atau menyangkal kenyataan yang ada," tukas Pratama dingin, matanya menghujam lurus pada Ayah Naya yang masih tersulut. "Mengecam pihak lain tidak akan menghapus apa yang sudah terjadi pada putrimu."
Pratama melangkah satu pijak lebih dekat, mengetukkan ujung tongkat kayunya ke lantai dengan bunyi nyaring, yang memotong keheningan mencekam di ruangan itu.
"Ibra memang bersalah karena lalai menjaga batas. Tapi cucuku bukan pengecut, dan keluarga kami tidak pernah lari dari tanggung jawab. Jangan memperkeruh keadaan dengan terus bersikap defensif."
Mendengar itu, Ayah Naya yang sejak tadi didera rasa sakit dan amarah seketika merasakan gelombang penghinaan yang luar biasa. Harga dirinya, sebagai seorang ayah yang hancur karena putrinya dirusak, justru diserang balik lewat sindiran telak tentang cara ia mendidik anak. Urat-urat di leher Ayah kembali menegang, matanya memerah menatap tajam ke arah Pratama Daneswara.
"Jangan putar balikkan fakta!" sergah Ayah Naya dengan suara bergetar hebat, menolak tunduk meski berhadapan dengan orang berkuasa itu.
"Cucu Anda yang tidak bisa menjaga diri! Jangan seolah-olah semua ini salah anak saya. Dan sekarang Anda malah mau mengajari saya bagaimana cara mendidik anak saya?!"
"Ayah... sudah..." lirih Naya gemetar, mencengkeram ujung kain celana ayahnya dengan air mata yang kembali luruh.
Mama Ibra yang melihat situasi semakin memanas memberanikan diri melangkah maju. Wanita paruh baya itu menatap Bunda yang masih terduduk lemas, lalu menatap Ayah Naya dengan mata berkaca-kaca penuh iba.
"Kami minta maaf..." suara Mama Ibra bergetar halus, mencoba meredakan ketegangan. "Kedatangan kami kemari tidak berniat untuk merendahkan siapa pun. Kami tahu anak kami salah besar, dan hati kami pun hancur melihat situasi ini. Tapi tolong... beri kami kesempatan untuk meluruskannya dengan baik-baik. Demi masa depan Naya dan anak yang dikandungnya."
Naya kembali menunduk. Kata “masa depan” terdengar begitu berat setelah malam yang sudah menghancurkan banyak hal dalam hidupnya.
Pratama mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar menantunya itu berhenti berbicara. Semua sudah dijelaskan, memang sulit untuk dipercaya, tapi beginilah adanya. Lalu mata tajam sang taipan kembali tertuju lurus pada Ayah Naya, menuntut jawaban mutlak.
Makasih thor lanjut up ya