NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 MATA KUNING KEEMASAN HARUMA DAN MATA HITAM LEGAM HARUMI
Malam telah bergeser tepat menyeberangi garis tengah malam.
Pukul dua belas malam berlalu dalam kesunyian yang amat pekat di rumah keluarga Zaki.
Di luar, rintik hujan gerimis telah reda, menyisakan suara tetesan air yang jatuh teratur dari talang atap, menimpa dedaunan basah di halaman.
Udara malam itu berembus begitu dingin, merayap menembus celah-celah ventilasi, membawa hawa yang menyengat dan mengendap kaku di setiap sudut ruangan.
Di dalam kamar tidur utama di lantai bawah, suasana terasa begitu hening. Zaki dan Nisa terbaring lelap di atas tempat tidur besar akibat rasa lelah batin dan fisik yang teramat sangat setelah berhari-hari terkuras oleh ketakutan.
Di ruang tamu, Pak Rusdi tertidur dalam posisi duduk bersila, kepala kakek tua itu terkulai lemah di dada dengan tasbih kayu gaharu yang masih terselip di antara jemarinya yang keriput.
Seluruh rumah itu seolah diselimuti oleh kabut keletihan yang teramat berat.
Namun, di atas ranjang kamar bawah tempat ia dibaringkan, Haruma sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Gadis itu berbaring telentang, menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang gelap. Selimut tebal yang membungkus tubuhnya sama sekali tak mampu mengusir rasa dingin yang menggigit hingga ke tulang. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan adik kembarnya—Harumi—yang terkurung sendirian di dalam kamar gelap di lantai atas selalu hadir meneror pikirannya.
Kata-kata ayahnya tadi terus menerus bergema di dalam kepala Haruma bagaikan dentang lonceng kematian. Harumi dipenjara di kamarnya sendiri. Harumi memegang pisau daging. Harumi mencekik Yuda sampai nyaris tewas.
Setetes air mata hangat meleleh dari sudut mata Haruma, membasahi bantal kain di bawah kepalanya.
Dada Haruma terasa sesak, seolah-olah ada beban seberat gunung yang menghimpit pernapasan fisiknya.
"Rumi..." bisik Haruma sangat pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh desir angin malam. "Gimana rasanya sendirian di atas sana, Dek? Gimana rasanya waktu tubuhmu dikuasai sama iblis jahat itu...?"
Rasa tidak tega dan penderitaan batin yang dirasakan Haruma telah mencapai puncaknya. Ia tidak bisa membayangkan adik kembarnya—gadis yang biasanya tertawa riang, yang selalu memeluknya setiap kali merasa takut—kini harus meringkuk di dalam kegelapan, dianggap sebagai ancaman pembunuh oleh orang tua mereka sendiri.
Haruma menarik napas panjang, mengusap air mata di pipinya.
Sebuah keputusan nekat mendadak berembus kuat di dalam dadanya. Ia tidak bisa hanya diam saja berbaring di tempat tidur ini sementara adiknya tersiksa di atas sana. Ia harus melihat adiknya. Ia harus menemui Harumi, apa pun risikonya.
Dengan gerakan yang sangat perlahan dan hati-hati, Haruma menyibakkan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Ia menggeser kakinya ke pinggir ranjang, meraba lantai keramik yang terasa sedingin es.
Saat telapak kakinya menyentuh lantai, Haruma memegangi perutnya. Luka jahitan bekas operasi penusukan di perut bagian bawahnya masih terasa agak ngilu, namun Haruma mengabaikan rasa sakit itu.
Ia bangkit berdiri, menahan napas sejenak untuk memastikan tidak ada suara berdenyit yang ditimbulkan dari gerakannya.
Haruma melangkah mengendap-endap mendekati pintu kamar bawah. Ia memutar kenop pintu kayu itu dengan sangat pelan, memastikan gerakannya tidak menimbulkan suara gesekan sedikit pun.
Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan lorong ruang tengah yang gelap gulita.
Dengan langkah kaki telanjang yang tak bersuara, Haruma keluar dari kamar. Ia berjalan menyusuri kegelapan ruang tengah, matanya yang mulai terbiasa dengan keremangan malam melirik ke sekeliling ruangan.
"Kunci... di mana Bapak menyimpan kunci kamar atas...?" gumam Haruma dalam hati, matanya mencari-cari keberadaan kunci cadangan yang digunakan ayahnya untuk mengunci kamar Harumi.
Haruma mendekati sebuah bufet kayu jati berukir yang terletak di samping meja makan. Ia membuka laci pertama dengan sangat perlahan. Tangannya meraba-raba di dalam kegelapan laci, menyingkirkan tumpukan kuitansi, gunting, dan nota pembayaran. Nihil. Kunci itu tidak ada di sana.
Haruma beralih ke laci kedua. Jarinya menyentuh dinginnya besi dan gantungan kunci berbahan kuningan. Haruma menarik benda itu keluar. Di bawah bias remang cahaya rembulan yang menembus jendela, Haruma melihat sebuah gantungan kunci besi bertuliskan angka dua—kunci untuk pintu kamar lantai atas.
Secercah kelegaan melintas di wajah pucat Haruma. Ia menggenggam kunci besi itu erat-erat di telapak tangannya, menekan gantungan kuncinya agar tidak menimbulkan suara gemerincing yang bisa membangunkan kakeknya di ruang tamu.
Haruma berbalik, memutar tubuhnya menghadap ke arah tangga kayu yang membujur ke lantai atas.
Tangga kayu itu membentang ke atas, tertutup oleh bayangan hitam yang sangat pekat. Semakin tinggi tangga itu menjulang, hawa dingin yang memancar dari lantai atas terasa semakin menusuk dan tidak wajar.
Aroma pekat bunga melati yang telah membusuk dan bau kemenyan basah mendadak merembes turun menyapu anak tangga, menyengat hidung Haruma hingga membuat perutnya mual.
Haruma menelan ludah dengan susah payah. Ia menggenggam kunci di tangannya semakin erat, lalu memajukan kaki kanannya, memijak anak tangga pertama.
Sreeek...
Baru saja telapak kaki Haruma menyentuh anak tangga kayu pertama, sebuah gejolak rasa sakit yang luar biasa dahsyat mendadak meledak di dalam perutnya!
"Aaghh...!" Haruma merintih tertahan, refleks mendongak dan menempelkan sebelah tangannya ke perut bagian bawah.
Rasa sakit itu datang secara tiba-tiba dan begitu hebat, bagaikan ada sebilah pisau tak kasatmata yang mendadak ditancapkan dan diputar kembali tepat di atas luka bekas operasinya.
Daging dan otot perut Haruma berdenyut-denyut brutal, memanas bagaikan disiram oleh air raksa yang mendidih!
Luka tusuk yang didapat Haruma dari pisau pusaka berkarat di atas panggung Candi Prambanan beberapa minggu lalu—luka yang secara medis sudah dinyatakan menutup dan mengering oleh Dokter Surya tadi pagi—tiba-tiba bereaksi secara liar!
Jahitan di dalam daging perutnya seolah dipaksa tertarik dari dalam.
Darah merah yang kental dan hangat mendadak merembes keluar menembus kain kasa dan perban tebal yang membalut perut Haruma.
Cairan merah itu dengan cepat meresap basah menembus kain sweter rajut berwarna cokelat yang dikenakannya, menciptakan noda merah kehitaman yang semakin melebar.
"Hhh... hhh... Ngg-nggak... kenapa ini...?" ringis Haruma, tubuhnya bergoyang hampir kehilangan keseimbangan. Kedua lututnya gemetar hebat menahan bobot tubuhnya yang mendadak terasa sangat berat.
Luka di perut Haruma bukanlah luka fisik biasa. Luka itu ditorehkan oleh bilah senjata peninggalan Kerajaan Baka yang telah ternoda oleh sihir hitam Panglima Jin.
Dan malam ini, saat Haruma mencoba melangkah mendekati sumber kekuatan sihir tersebut di lantai atas, luka di perutnya merespon getaran energi gelap dari kamar Harumi secara brutal, seolah-olah sihir di dalam bilah pisau itu menolak kehadiran sang Perisai!
Darah terus merembes basah di perut Haruma, menetes satu per satu menimpa anak tangga kayu.
Tes... tes... tes...
Rasa sakit yang membakar itu seakan merobek kewarasannya, memancing Haruma untuk memutar balik badannya dan berlari kembali ke dalam kamarnya yang aman.
Namun, Haruma menatap ke atas.
Di ujung tangga yang gelap itu, ia membayangkan wajah adik kembarnya yang menangis ketakutan. Ia membayangkan bagaimana Harumi selalu memegang tangannya setiap kali badai petir datang di malam hari.
"Nggak..." desis Haruma dengan napas tersengal-sengal, giginya mengatup rapat menahan rintihan kesakitan yang nyaris meledak dari tenggorokannya. "Aku nggak boleh mundur... Rumi butuh aku... Aku adalah Kakaknya... Aku harus melindungi adikku..."
Cinta dan kasih sayang yang mendalam terhadap adik kembarnya membakar habis rasa takut dan mengalahkan rasa sakit fisik yang merobek perutnya.
Haruma menolak untuk menyerah.
Dengan tangan kiri memegangi perutnya yang basah oleh darah dan tangan kanan mencengkeram pegangan tangga kayu, Haruma memaksa kakinya melangkah menaiki anak tangga kedua.
Srekk... Srekk...
Setiap kali kakinya berpijak naik, denyutan di perutnya terasa semakin menyiksa.
Darah terus mengalir pelan, membasahi kain sweternya. Namun Haruma terus melangkah.
Satu anak tangga...
Dua anak tangga...
Tiga anak tangga...
Ia merangkak naik dengan kekuatan tekad yang murni. Peluh dingin bersimbah di dahinya, bercampur dengan air mata yang menetes menimpa dadanya.
Di dalam benaknya, hanya ada satu nama yang terus ia panggil: Harumi... Harumi... Harumi...
Setelah pertarungan panjang melawan rasa sakit yang mengoyak fisiknya, kaki Haruma akhirnya berhasil memijak selasar lorong lantai atas.
Suhu di lorong lantai atas itu berada di titik yang sangat ekstrem. Udara di sana begitu dingin hingga setiap kali Haruma mengembuskan napas, uap putih tebal keluar dari mulutnya. Dinding-dinding lorong bercat putih itu tampak diselimuti oleh lapisan embun tipis yang membeku.
Haruma berdiri terhuyung-huyung di tengah koridor yang remang. Noda darah di sweter cokelatnya sudah melebar hingga ke pinggang, namun ajaibnya, begitu Haruma berhasil berdiri tegak di lantai atas, rasa sakit hebat di perutnya perlahan-lahan mereda menjadi denyutan yang tumpul.
Di ujung lorong, pintu kayu kamar Harumi berdiri kokoh. Pintu itu terkunci rapat dari luar oleh sebuah gembok besi berukuran besar yang menggantung di kusen pintu.
Dari balik celah bawah pintu kayu itu, tidak ada cahaya sedikit pun yang terpancar. Hanya ada kegelapan yang pekat dan bau busuk kemenyan yang keluar menguar secara intens, seolah-olah ruangan di balik pintu itu telah berubah menjadi dasar sumur tua yang terkutuk.
Haruma melangkah perlahan, menyeret kakinya yang lemas hingga ia tiba dan berdiri tepat di depan daun pintu kamar Harumi.
Saat Haruma berada di jarak kurang dari satu meter dari pintu tersebut...
Sebuah fenomena spiritual yang luar biasa dahsyat mendadak bergejolak di dalam raga dan darahnya.
Darah Tulang Wangi yang mengalir di dalam tubuh Haruma—darah murni milik sang Perisai—bereaksi secara spontan terhadap konsentrasi sihir hitam Panglima Jin yang berada di balik pintu!
BUUUMMM!!!
Sebuah getaran energi tak kasatmata yang sangat halus namun bertenaga masif meledak dari dalam dada Haruma.
Udara di sekeliling Haruma bergetar hebat.
Rasa lelah, lesu, dan sakit pada fisiknya seketika tersapu bersih oleh luapan energi spiritual kuno yang membangkitkan kesadaran batinnya secara sempurna.
Dua bola mata Haruma yang tadinya berwarna cokelat gelap...
Perlahan-lahan...
MULAI BERUBAH!
Pupil matanya memancarkan pendar cahaya keemasan yang sangat terang, indah, dan anggun!
Cahaya emas itu memancar keluar dari sepasang kelopak matanya, membiaskan sinar suci yang murni di tengah kegelapan lorong lantai atas.
Itu adalah wujud murni dari aura pelindung Tulang Wangi—sebuah perisai gaib yang terpancar dari jiwa seorang kakak yang siap mengorbankan nyawanya demi melindungi adik kembarnya.
Pemandangan itu menciptakan kontras yang sangat drastis dan mengerikan.
Di luar pintu, Haruma berdiri dengan mata berbinar keemasan yang memancarkan kedamaian, kesucian, dan aura pelindung yang hangat.
Sementara di dalam kamar, di balik kegelapan yang membeku, Harumi duduk bersila dengan sepasang mata yang seluruhnya hitam legam sempurna, dipenuhi oleh kebencian, dendam, dan aura penghancur dari Panglima Jin Kerajaan Baka.
Dua kekuatan dari zaman purba kini berhadapan kembali, dipisahkan hanya oleh selembar pintu kayu yang terkunci gembok besi.
Haruma menatap daun pintu kayu di hadapannya dengan mata keemasannya yang menyala tenang. Bibirnya yang pucat perlahan terangkat, membisikkan kata-kata dengan suara yang begitu lembut namun bergema penuh otoritas spiritual.
"Rumi..." panggil Haruma lirih, suaranya menembus celah serat kayu pintu. "Kakak ada di sini, Rumi... Kakak datang buat kamu, Dek..."
Di dalam kamar yang gelap gulita, sosok yang duduk bersila di tengah ruangan mendadak membeku.
Harumi—atau entitas yang menguasai tubuhnya—mendadak membuka matanya lebar-lebar.
Sepasang mata hitam legam tanpa bagian putih itu berkilat marah saat merasakan radiasi cahaya keemasan dari aura Tulang Wangi Haruma yang menembus daun pintu!
Sring!!!
Aura hitam pekat berhembus keluar dari tubuh Harumi, membuat tirai kamar bergoyang liar.
Sang Panglima Jin menggeram rendah di dalam tenggorokan Harumi, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan dua batu raksasa di dasar bumi.
"Perisai sialan..." suara parau dan berat bergema meluncur dari mulut Harumi di balik pintu. "Kau datang menyerahkan nyawamu lebih cepat dari yang kubayangkan, Anak Manusia!"
Mendengar suara asing dan mematikan itu keluar dari kamar adik kembarnya, Haruma tidak sedikit pun gentar. Cahaya keemasan di matanya memancar semakin terang, membentengi jiwa dan kewarasannya dari tekanan aura gaib yang mencoba mengintimidasi dirinya.
Haruma mengangkat tangan kanannya yang memegang kunci besi.
Dengan gerakan yang tenang, ia memasukkan anak kunci itu ke dalam lubang gembok besi yang menggantung di kosen pintu.
KLIK!
Suara mekanisme gembok besi yang terbuka terdengar nyaring di tengah keheningan lorong lantai atas.
Haruma melepas gembok besi itu dan meletakkannya di lantai kayu. Jemari tangannya yang pucat kini menyentuh kenop pintu kayu kamar Harumi.
"Iblis laknat..." ucap Haruma dengan nada suara yang penuh keberanian mutlak, matanya yang berwarna emas menatap tajam ke arah kenop pintu. "Kau boleh menguasai tubuh adiku saat ini... tapi kau tidak akan pernah bisa memusnahkan cinta kami. Malam ini, aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Harumi lagi!"
Haruma memutar kenop pintu itu perlahan...
Lalu mendorong pintu kamar Harumi hingga terbuka lebar ke dalam.
Pintu berderit terbuka...
Memperlihatkan kegelapan abadi di dalam kamar.
Dan...
Dua pasang mata yang saling berhadapan—mata emas "sang Perisai" yang memancarkan cahaya kehidupan, dan mata hitam "sang Wadah Roro Jonggrang" yang memancarkan bayangan kematian.
Pertemuan langsung antara dua saudari kembar itu akhirnya terjadi di tengah malam yang paling mencekam.
akhirnya aku nggak perlu jauh jauh mendatangi sang perisai