Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Study Tour
Hari Rabu telah tiba—hari di mana seluruh siswa kelas 10 seangkatan diwajibkan mengikuti agenda study tour tahunan sekolah. Mau tidak mau, suka tidak suka, para siswa harus mempersiapkan diri dan meramaikan kegiatan luar kelas ini.
Di sebuah rumah kos sederhana, Danu sedang sibuk memeriksa ulang isi tas ranselnya, memastikan tidak ada satu pun barang esensial yang tertinggal.
"Hmm... sikat gigi ada, handuk ada, baju ganti ada, dan ya... uang saku... 5 ribu doang?" Danu melirik dompetnya lalu tersenyum kecil. "Tapi gapapalah, ini hasil tambahan dari nulis novel, apalagi daganganku di sekolah makin rame."
Setelah merasa semuanya aman, Danu mengangkat tas itu, mengaitkannya di kedua pundaknya, lalu melangkah keluar kamar dan mengunci pintu rumah kosnya.
Ia berdiri sejenak di depan halaman, menghirup udara pagi yang segar sambil meregangkan otot-ototnya. Pemandangan matahari pagi yang cerah sukses membakar semangatnya.
"Haa... semoga saja study tour kali ini berjalan lancar tanpa ada masalah aneh-aneh. Aku cuma pengen menikmati momen santai kayak gini," gumam Danu penuh harap.
Ia pun mulai berjalan santai menyusuri trotoar menuju titik kumpul sekolah.
Sesampainya di persimpangan jalan dekat gerbang, ia melihat teman-temannya sudah berdiri bergerombol mengenakan pakaian olahraga kasual khas sekolah.
"Halo, teman-teman!" sapa Danu sambil melambaikan tangan.
"Halo juga, Danu!" balas Rio dan Zahra hampir bersamaan.
Danu meletakkan tasnya sebentar untuk mengatur napas. "Kalian bawa bawaan apa aja nih?"
"Hmm... nggak banyak sih, gue cuma bawa baju ganti secukupnya, sikat gigi, sama handuk. Bajunya juga dikit aja, soalnya kan acaranya cuma sehari semalam, kan?" jawab Rio bangga dengan ransel tipisnya.
"Iya sih, logis juga," angguk Danu. Ia lalu menoleh ke siswi di sebelahnya. "Kalau kamu, Zahra?"
Zahra mendengkus bangga. "Hmm... kalau aku jelas bawa perlengkapan tempur dong. Ya... tau lah, sunscreen, skincare, lotion anti nyamuk, dan lain-lain biar muka nggak gosong."
Rio langsung melotot. "Woy! Bukannya aturan sekolah nggak boleh bawa makeup berlebihan pas acara luar sekolah?!"
"Yaelah, emang siapa yang bilang mau dandan menor? Kan ini pelindung kulit, gimana sih lu, Rio! Sekolah kita kan beda sistem pengawasannya dibanding sekolah lain!" protes Zahra sengit berkacak pinggang.
"Eh... iya juga ya, baru tau gue," kata Rio cengengesan.
Hahaha... tawa kecil pecah dari Danu dan Putri mendengar perdebatan kecil dua temannya itu.
"Jangan ketawa lu, Danu!" sungut Rio, meski ujung bibirnya ikut tersenyum.
Saat mereka mulai berjalan mendekati gerbang utama tempat bus pariwisata berjejer, sosok Putri terlihat berdiri menunggu di dekat pilar. Tanpa membuang waktu, Rio langsung mempercepat langkahnya dan menghampiri gadis itu.
"Putri... kamu tipe yang suka ikut study tour gini nggak?" tanya Rio dengan nada sok akrab.
Putri sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. "Eh, Rio. Hmm... ya, nggak terlalu suka sih, suasananya kadang terlalu bising kalau di dalam bus. Kalau kamu sendiri gimana?"
"hmm kalau aku sih suka apalagi ada seseorang spesial, aha!"
"lihat tuh, dia malah bucin" Zahra yang melihat tingkah konyol Rio
"Hahaha... ya sudahlah, gapapa," jawab Putri tersenyum tipis menanggapi obrolan tadi.
Mereka berlima pun mulai berjalan teratur menaiki tangga bus pariwisata yang telah disiapkan pihak sekolah, lalu mencari tempat duduk masing-masing di bagian tengah.
Tak lama kemudian, suara ketukan mikrofon berderak pelan sebelum suara guru pendamping menggema memenuhi kabin bus.
"Halo... tes, tes, satu dua. Ehem. Oke, anak-anak, pastikan semuanya sudah duduk di tempat masing-masing. Ada yang merasa tertinggal atau ketinggalan barang?"
"Tidak ada, Bu!" serempak para murid menjawab penuh semangat.
"Baiklah... Sambil bus ini berjalan menuju lokasi, Ibu selaku guru IPA akan menceritakan sedikit sejarah tempat yang akan kita tuju. Jadi, mohon disimak ya..."
Perjalanan darat itu berlangsung cukup panjang, memakan waktu sekitar dua jam penuh. Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam bus sangat bervariasi. Ada beberapa anak yang mulai teler dan mabuk perjalanan karena jalanan yang berkelok, sementara di sudut lain, sekelompok siswa sibuk berkaraoke ria menggunakan speaker portabel untuk mengusir rasa gabut.
Hingga akhirnya, bus besar yang mereka tumpangi melambat dan memasuki area parkir yang luas.
"Anak-anak, kita sudah sampai. Silakan turun dengan tertib!" instruksi guru dari depan.
Satu per satu siswa mulai berhamburan turun, meregangkan otot-otot kaki mereka yang kaku setelah duduk berjam-jam. Setibanya di halaman depan kompleks museum bersejarah yang megah, mereka langsung disambut pemandangan bangunan tua berarsitektur klasik.
"Wah... ini tempatnya, ya? Luas juga ternyata," celetuk sebuah suara tiba-tiba dari belakang, membuat Rio yang sedang merapikan tali ranselnya terlonjak kaget.
"Ehh, weladalah! Reno! Sumpah, ngagetin aja lu dateng-dateng nggak ada suaranya!" protes Rio sambil mengusap dadanya.
Reno menyengir lebar. "Haha, sorry, sorry. Abisnya muka lu keliatan serius banget."
"Lu dari tadi duduk di mana sih? Di dalam bus kok gue nggak pernah lihat batang hidung lu," tanya Rio penasaran.
"Ouh, gue duduk di kursi paling belakang pojok sendiri. Enak, bisa sambil tidur."
"Ahh, pantesan! Gue duduk di barisan depan, mana keliatan," timpal Rio manggut-manggut.
Sebelum mereka sempat melanjutkan obrolan, sang guru pendamping meniup peluit kecil dan mengumpulkan barisan di depan pintu masuk museum.
"Baik, anak-anak, perhatian sebentar! Sebelum kita masuk ke dalam gedung museum, Ibu mau memperkenalkan satu teman baru di angkatan kita yang baru sempat bergabung hari ini. Silakan maju ke depan."
Seorang siswi berambut pendek sebahu dengan gaya berpakaian yang kasual dan terkesan cuek melangkah maju ke sebelah guru. Celana jeans gombrang dan jaket bomber yang ia kenakan langsung memancarkan aura tomboy yang kuat.
"Ouh... perkenalkan diri nih? Oh, oke. Jadi, gue Nadia. Semoga kalian semua bisa berteman baik sama gue. Dah, gitu aja," ucap Nadia singkat, padat, dan langsung to the point, tanpa basa-basi berlebihan.
Murid-murid lain langsung berbisik-bisik penasaran melihat kedatangan murid pindahan yang terbilang santai itu.
Reno membelalakkan matanya, lalu menyenggol lengan Danu di sebelahnya. "Wah... cewek tomboy. Emang kalian berdua udah pernah liat cewek setomboy itu sebelumnya di sekolah kita?" bisik Reno.
Krik... krik... krik...
Tidak ada yang merespons. Reno menoleh ke samping.
"Teman-teman?" panggilnya bingung.
Ternyata Rio, Zahra, Danu, dan Putri malah sibuk merapikan barang dan mengabaikannya begitu saja.
"Lah, dia malah sibuk sendiri," batin Reno pasrah, mengelus dadanya sabar.
Nadia yang baru selesai perkenalan singkatnya melangkah turun dari undakan kecil, dan matanya langsung menangkap sosok Reno yang berdiri agak canggung sendirian di barisan. Tanpa ragu, siswi baru itu langsung berjalan menghampiri Reno.
"Halo, bro! Nama lu siapa?" sapa Nadia ramah dengan gaya bicara yang santai selayaknya teman lama.
Reno sedikit salah tingkah. "E-eh, mm... nama gue Reno."
"Ouh, Reno! Salam kenal ya, bro. Oh iya, cepet cabut gih, barisan udah mulai jalan tuh, kita disuruh masuk," ajak Nadia sambil menepuk pundak Reno sekilas.
"Ah, iya!"
Tanpa membuang waktu lagi, kelompok kecil mereka yang kini bertambah satu orang merapatkan barisan, melangkah melewati pintu besar museum untuk memulai petualangan baru di study tour ini.
Langkah kaki rombongan siswa kelas X menggema di lantai marmer putih yang luas begitu mereka memasuki aula utama museum sejarah. Deretan diorama kuno, artefak masa lalu, serta papan informasi berjajar rapi di balik dinding kaca yang diterangi lampu sorot temaram.
"Wah, rame banget..."gumam Zahra sambil merapatkan tas punggungnya agar tidak menyenggol pajangan di sebelah kirinya.
"Namanya juga study tour wajib, Ra. Kalau nggak rame, bukan sekolah namanya," sahut Danu sambil mencatat beberapa poin penting di buku kecilnya—jaga-jaga kalau nanti ada lembar kerja siswa dadakan dari guru IPA.
Di barisan depan, Rio berjalan beriringan dengan Putri, sesekali melirik ke arah kelompok lain yang sibuk berfoto di depan fosil purbakala. Sementara itu, Reno tampak berjalan agak santai di belakang bersama Nadia, si murid pindahan baru yang tampak sama sekali tidak canggung.
"Eh, Na. Emangnya lo pindahan dari kota mana sih? Kok tiba-tiba banget masuk sekolah kita pas mau study tour?" tanya Reno penasaran, melirik sekilas ke arah jaket bomber yang dikenakan gadis itu.
Nadia mendengus pelan, menyelipkan kedua tangannya ke dalam kantong celana jeans-nya. "Rahasia. Yang jelas, gue pindah karena suatu alasan. Tapi lumayan juga, hari pertama sekolah langsung disambut jalan-jalan ke museum begini. Nggak bikin bosan."
Mendengar jawaban itu, Reno hanya bisa tersenyum tipis. Kehadiran Nadia yang blak-blakan dan santai sepertinya bakal membawa warna baru yang cukup seru di geng mereka.
Tanpa mereka sadari, dengan bergabungnya Nadia, formasi kelompok kecil anak-anak Ekstra Musik kini telah lengkap menjadi delapan orang. Sebuah kepingan puzzle terakhir yang pas sebelum badai konflik yang sebenarnya—termasuk kemunculan sang antagonis misterius—datang menghantam di Bab 30 nanti.
"Anak-anak! Kelompok satu sampai lima, silakan berkumpul di depan zona diorama kerajaan! Jangan ada yang mencar sendiri!" seru guru pendamping lewat pengeras suara portabel.
Mendengar instruksi itu, Rio, Zahra, Danu, Putri, Reno, dan Nadia langsung merapatkan barisan, menyusul teman-teman sekelas lainnya. Hari panjang yang melelahkan, namun penuh keseruan, baru saja dimulai.
[Bersambung ke Bab 29]
aku juga penasaran sama karya kamu, Danu...