Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdir Kita Yang Belum Selesai

Takdir Kita Yang Belum Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nita_001

Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.

Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.

Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.

Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.

Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?

Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - Ketenangan Sebelum Badai

"Seandainya aku bertarung dengan senjata tajam, kau sudah menjadi mayat sekarang." Chongyue menurunkan tangannya sambil menatap Murong tajam. "Aku sudah memperingatkanmu untuk mengerahkan seluruh kemampuanmu!"

Murong tidak menyangka Chongyue mampu mengincar titik vitalnya dalam waktu sesingkat itu. Dia tidak bisa meremehkannya lagi.

Keduanya kembali bergerak hampir bersamaan.

Tinju beradu dengan telapak tangan. Langkah kaki mereka terus bergeser di atas tanah.

Chongyue mengandalkan kecepatan, kelincahan, serta perubahan arah serangannya yang sulit ditebak. Sementara Murong menggunakan kekuatan fisik dan pengalaman bertarungnya untuk menahan setiap serangan.

Awalnya Murong masih menahan diri.

Namun seiring pertarungan berlangsung, dia terpaksa meningkatkan kekuatan setiap pukulannya karena dirinya terus didesak oleh serangan Chongyue yang lincah dan agresif.

Pertarungan jarak dekat itu berlangsung sengit di tengah halaman.

Ketika akhirnya berhenti, napas Chongyue terengah-engah dan tubuhnya basah kuyup dengan keringat.

Sementara napas Murong masih relatif stabil meskipun tubuhnya juga dipenuhi keringat.

Chongyue menyeka keringat di dahinya sambil tersenyum tipis. "Seandainya kondisi fisikku berada pada tiga puluh persen dari kemampuanku dulu, kau pasti tidak akan bisa mengimbangi kecepatanku."

Di kehidupan sebelumnya, dia terbiasa bertarung dengan vampir secara langsung.

Makhluk-makhluk itu memiliki keunggulan dalam kecepatan dan kekuatan fisik. Karena itu, untuk mengalahkan mereka, kecepatan refleks dan daya hantam serangannya harus dilatih hingga batas maksimal.

Tubuh yang ditempatinya saat ini sebenarnya memiliki struktur tulang yang baik. Hanya saja, ketahanan fisiknya masih agak lemah.

Chongyue yakin kondisi tubuh ini akan segera meningkat seiring berjalannya waktu. 

Murong tidak menjawab. Dia hanya menunduk dan melirik telapak tangannya sendiri.

Awalnya dia memang tidak mengerahkan seluruh kekuatannya. Namun di tengah pertarungan, dia terpaksa menggunakan tenaga dalamnya untuk bertahan.

Kemampuan bertarung jarak dekat gadis ini benar-benar luar biasa dan mematikan.

"Pergilah untuk membersihkan diri." Chongyue mengusap lehernya dengan handuk dan kembali ke kamarnya. "Aku akan masuk terlebih dahulu."

Setelah masuk ke kamar, dia segera membasuh tubuhnya dengan air hangat. Kemudian duduk bersila di atas ranjang kayu dan mengambil posisi meditasi.

Bei Mingye telah mengajarinya metode kultivasi dasar saat mengantarnya pulang kemarin, sehingga dia sudah memahami dasar-dasar kultivasi yang benar.

Di luar kamar, Yu Liu melirik ke dalam ruangan sebelum mengalihkan pandangannya kepada Murong.

"Mengapa tubuhmu sampai berkeringat sebanyak itu?" tanyanya sambil mengerutkan kening.

Murong menjawab pelan, "Yu Liu, teknik pertarungan jarak dekat Nona Kelima sangat berbahaya."

Seandainya tubuhnya tidak ditempa oleh energi dalam yang kuat, dia pasti akan mengalami kelelahan separah Chongyue.

Mendengar itu, Yu Liu awalnya tidak percaya. Namun dia tahu Murong tidak pernah berbohong. 

Mungkinkah gadis yang selama ini dianggap sampah benar-benar memiliki kemampuan bertarung sehebat itu?

Selama beberapa hari berikutnya, Chongyue menghabiskan waktunya untuk berkultivasi di dalam kamar.

Untuk makanan sehari-hari, para pelayan tetap mengantarkannya secara rutin. 

Namun dengan adanya Yu Liu di sampingnya, dia tidak perlu repot-repot menguji racun sendiri dan cukup menyerahkan makanannya kepada Yu Liu untuk diperiksa.

Setelah beberapa hari berlatih dengan tekun, tingkat kultivasinya akhirnya berhasil meningkat dari seniman bela diri tingkat tiga menjadi tingkat empat. 

Dia mengira kehidupan tenangnya akan berlangsung cukup lama.

Namun tepat pada hari keenam, seseorang yang penting tiba-tiba kembali ke Kediaman Jenderal.

Orang tersebut tidak lain adalah Nona Keempat yang dikenal sebagai jenius keluarga Xuan—Xuan Meng!

Seorang kultivator dua-elemen spiritual kayu dan api, seorang alkemis, sekaligus seniman bela diri tingkat enam. 

"Nona Kelima, Tuan meminta Anda datang ke aula utama." Cui Cui menyampaikan pesan dengan acuh.

Mengingat bagaimana Chongyue telah merusak wajah Nona Sulung, dia yakin Nona Keempat pasti akan membalasnya.

Sebagai pelayan pribadi Xuan Qingqing, Cui Cui juga sangat membenci Chongyue.

Sejak wajah Xuan Qingqing dirusak, temperamennya berubah menjadi semakin pemarah. Para pelayan yang berada di dekatnya sering menjadi sasaran kemarahannya.

Di sisi lain, setelah menghabiskan beberapa hari bersama Chongyue, sikap Yu Liu terhadap gadis itu tidak lagi sedingin sebelumnya.

Alasannya sederhana.

Dia sudah berulang kali menyaksikan kemampuan bertarung Chongyue dalam beberapa hari terakhir.

"Apakah para pelayan di Kediaman Jenderal selalu bersikap sesombong ini?" Yu Liu menatap Cui Cui dengan dingin.

Takut menghadapi ketegasan Yu Liu, Cui Cui tidak berani lagi menatap Chongyue secara langsung.

"Nona Kelima, sebaiknya Anda segera pergi ke aula utama," katanya singkat lalu berbalik dan bergegas pergi.

Chongyue meletakkan sumpit di tangannya, lalu mengetukkan jemarinya di atas meja.

Dia kemudian berdiri sambil menatap Yu Liu dan Murong. "Apakah kalian berdua akan ikut denganku ke sana?"

Murong mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Tentu saja." Yu Liu menatap Chongyue dengan tegas. "Tugas utama kami di sini adalah melindungi keselamatanmu, jadi tentu saja kami tidak akan membiarkanmu masuk ke dalam bahaya sendirian."

"Apakah begitu?" Chongyue menyunggingkan senyum tipis. "Aku merasa Xuan Yang berniat mengakhiri nyawaku kali ini."

Yu Liu mengerutkan kening.

"Kami tetap akan menemanimu," tegasnya.

"Terserah kalian." Chongyue mengangkat bahu sebelum berbalik dan melangkah menuju aula utama.

Murong dan Yu Liu segera mengikutinya dari belakang.

Setelah menyusuri jalan setapak menuju aula utama selama sekitar lima belas menit, mereka bertiga akhirnya sampai.

Suasana di dalam aula dipenuhi tokoh-tokoh penting keluarga Xuan.

Tidak hanya Xuan Yang yang menjabat sebagai kepala keluarga, tetapi ayahnya-- Xuan Zheng, juga telah keluar dari tempat pengasingannya. Dia bahkan didampingi oleh seluruh tetua.

Pengaruh Xuan Meng sungguh luar biasa.

Tuan Tua itu biasanya tidak mau mencampuri urusan internal keluarga Xuan dan memilih fokus berkultivasi. Tetapi hari ini dia justru keluar untuk menyambut kepulangan cucu kesayangannya.

Begitu Chongyue melewati ambang pintu aula utama, suara menggelegar Xuan Zheng langsung membentaknya.

"Anak kurang ajar, berlutut sekarang juga!"

Chongyue mengerutkan kening. Namun, dia tetap berdiri tegap tanpa menggeser posisi kakinya.

"Kakek, aku tidak tahu kesalahan apa yang telah kuperbuat." Dia menatap Xuan Zheng tanpa rasa takut. "Mengapa aku harus berlutut?"

Xuan Zheng menggebrak meja dengan marah. "Berani-beraninya kau membantah ucapan orang tua! Ambilkan tongkat disiplin keluarga sekarang juga!"

Segera setelah itu, seorang murid keluarga Xuan melangkah maju sambil membawa tongkat kayu tebal.

Melihat itu, ekspresi Chongyue langsung berubah dingin.

"Kakek, kau berniat langsung menghakimi dan memukulku tanpa penjelasan. Ketegasanmu sungguh luar biasa. Namun sayangnya, aku bukan lagi orang yang bisa ditindas begitu saja."

Mendengar jawaban tegasnya, Xuan Zheng mengerutkan kening dan mengamati cucu perempuan yang selama ini selalu diabaikannya.

Dulu dia pernah melihat gadis ini sekali—sosok yang penakut, lemah dan bodoh.

Kapan gadis ini berubah menjadi begitu berani?

Bahkan aura yang terpancar darinya jauh lebih dominan dibandingkan keturunan keluarga Xuan lainnya.

Sungguh disayangkan, gadis ini hanyalah seorang sampah yang tidak bisa berkultivasi.

"Adik Kelima, kau telah melukai Kakak Keduamu hingga parah dan merusak wajah Kakak Sulungmu sampai cacat." Seorang gadis yang duduk tepat di bawah posisi Xuan Zheng mengangkat cangkir teh dan menyesapnya dengan anggun. "Apakah masih ada hal lain yang ingin kau bantah?"

Mendengar tuduhan itu, Chongyue mengalihkan pandangannya kepada gadis tersebut.

Kulit gadis itu seputih salju, dipadukan dengan alis tipis yang membingkai sepasang mata bunga persik yang memikat dan penuh pesona. 

Di bawah hidungnya yang mancung terukir bibir mungil merah yang kini tengah menyeruput cangkir teh dengan anggun.

Gadis ini memang memiliki kecantikan yang mempesona. Sayangnya, hatinya sangat beracun.

"Seperti kata pepatah, sebuah pertikaian tidak akan terjadi jika hanya satu pihak yang memulainya." Chongyue menatap gadis itu dengan tenang.

"Kakak Keempat langsung menjatuhkan tuduhan kepadaku begitu saja. Mengapa kau tidak terlebih dahulu bertanya kepada Kakak Sulung dan Kakak Kedua mengenai alasan mengapa aku melukai mereka?"

Dia berhenti sejenak, lalu menatap seluruh anggota keluarga dengan tatapan dingin.

"Ataukah penjelasan apa pun sebenarnya tidak ada gunanya bagi kalian?" tanyanya dengan suara yang semakin dingin. "Kalian semua hanya ingin membunuhku, bukan?"

"Aku tidak menyangka Adik Kelima bisa bicara setajam ini setelah sembuh dari keterbelakangan mentalmu." Xuan Meng meletakkan cangkir teh di atas meja, lalu menyunggingkan senyum sinis. "Karena kau sudah mengetahui tujuan kami hari ini, sebaiknya kau menurut saja. Hal itu akan mempermudah jalan bagi dirimu sendiri, begitu pula bagi kami semua!"

1
beybi T.Halim
semakin menarik
marlaina marliana
walau ini ke -dua kalinya saya membaca tetap sj ikut menahan nafas saat membaca.
saya ingin sekali mencabik Xuan meng😡
marlaina marliana
nona chongyou sudah dikeroyok kalo raja hantu tak menghancurkan para tetua bodoh dan kediamany jendral saya kecewa. katanya satu kali lagi bila menyentuh chongyou tidak ada ampun😔😔
Author Nita_001: Bisa aja Bei Mingye menghancurkan mereka kak, hanya saja Chongyue maunya balas dendam sendiri nantinya
total 1 replies
marlaina marliana
beraninya main keroyokan dasar iblis
marlaina marliana
semangat chongyue, balas dendam musnahkan semua musuh 💪💪
marlaina marliana
nah baru tau cerita awalnya pertemuan mereka ternyata seperti itu ya 🤔
marlaina marliana
masih menyimak 😊😊❤❤
marlaina marliana
kakak syantik ini sama seperti yg yg f**z* ya.
Author Nita_001: Iya kak say, aku pindah kesini, karena disana sepi pembacanya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!