Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Kultivasi Sandera

Sistem Kultivasi Sandera

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!

Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Lilin-lilin minyak tembaga menyala temaram di sepanjang dinding Aula Musyawarah Bawah Tanah.

Pintu batu seberat sepuluh ribu kati telah ditutup rapat dari dalam. Tiga lapis jimat peredam suara ditempelkan di setiap celah ventilasi udara demi memastikan tidak ada getaran suara yang bocor ke permukaan.

Di sekeliling meja bundar kayu cendana, dua belas tetua inti Sekte Pedang Langit duduk melingkar dengan wajah tegang.

Tetua Gudang Chen Feng meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja, matanya berkaca-kaca menatap Patriark Song Tianhe.

“Patriark, kita tidak bisa terus hidup seperti ini,” bisik Chen Feng dengan suara tercekat menahan pedih. “Hari ini dia merampas delapan puluh persen senjata perang. Besok lusa, anak itu mungkin akan meminta seluruh perbendaharaan batu roh tingkat tinggi kita!”

Song Tianhe memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Kantung mata hitam menggantung tebal di bawah matanya.

“Kau pikir aku tidak pusing?” sahut sang Patriark lirih. “Setiap kali anak itu terbatuk di kamarnya, kakek buyutku di dalam gua langsung memuntahkan darah hitam. Jika anak itu melompat dari tebing, sekte kita akan musnah dalam hitungan detik!”

Tetua Penegak Disiplin Tie Gang menggeser kursinya ke depan.

Wajahnya yang kaku tampak dipenuhi tekad gelap. Ia membuka cincin penyimpanannya, lalu mengeluarkan gulungan kertas perkamen sutra tebal ke atas meja.

“Aku punya solusi permanen,” kata Tie Gang seraya merentangkan gulungan tersebut di hadapan para tetua.

Semua pasang mata tertuju pada gambar rancangan arsitektur yang tertera di kertas sutra.

“Ini adalah cetak biru Sangkar Giok Emas Sembilan Lapis,” jelas Tie Gang dengan nada berbisik. “Ruangan ini akan kita bangun di lantai dasar Paviliun Awan Mengambang. Dindingnya dibuat dari emas murni berperedam getaran, dilapisi bantal bulu angsa setebal tiga jengkal di seluruh sisi, termasuk lantai dan langit-langit.”

Chen Feng menyipitkan matanya meneliti gambar. “Tanpa sudut tajam?”

“Tidak ada satu pun sudut lancip,” tegas Tie Gang. “Seluruh tiang berbentuk silinder bulat. Makanan akan kita alirkan lewat pipa kayu lunak dari luar. Di dalam sangkar itu, Gu Ran tidak akan bisa tersandung, tidak bisa terbentur, dan tidak bisa menjatuhkan diri ke mana pun. Keselamatan Leluhur akan terjamin seumur hidup!”

Para tetua lainnya saling berpandangan, mengangguk-angguk setuju dengan mata berbinar lega.

“Rancangan yang jenius,” puji Song Tianhe seraya menghela napas panjang. “Besok pagi kita mulai pembangunannya secara diam-diam—”

KREEEKKK…

Suara derit pintu batu tebal tiba-tiba memotong ucapan sang Patriark.

Seluruh ruangan mendadak hening membeku.

Pintu aula bawah tanah yang seharusnya terkunci tiga lapis segel peredam terbuka setengah depa.

Sesosok pemuda kurus berambut putih melangkah santai melewati ambang pintu, mengenakan jubah tidur sutra longgar dan sandal jerami yang berdebu.

Di tangan kirinya, Gu Ran memegang sebuah buah apel merah yang sudah tergigit separuh.

Di tangan kanannya, ia memegang sebilah belati berkarat bergerigi kusam yang tampak kotor oleh noda minyak tanah.

“Malam-malam begini ruang bawah tanah kalian sejuk sekali ya,” ucap Gu Ran santai sambil mengunyah remahan apel di mulutnya.

Dua belas tetua di ruangan terpaku bagai patung es, napas mereka serentak tercekat di tenggorokan.

Gu Ran melangkah mendekati meja bundar, lalu melirik sekilas ke arah cetak biru sangkar emas berperedam busa yang terbentang di depan Tie Gang.

“Oh, gambar sangkar burung yang bagus,” komentar Gu Ran dengan senyum tipis di bibirnya.

Ia memindahkan belati berkarat itu ke ujung telunjuk kanannya, memutarnya dua kali hingga bilah logam tumpul itu berdesing pelan di udara.

“Tadi di dapur paviliun aku menemukan belati tua ini di bawah rak piring,” kata Gu Ran seraya menatap Tetua Tie Gang dengan mata mengantuk. “Kelihatannya cukup berkarat dan licin. Ada yang mau melihat atraksi belati terbang di ruangan sempit ini?”

Gu Ran melempar belati berkarat itu setinggi satu meter ke udara, lalu bersiap menangkapnya kembali dengan telapak tangan terbuka tanpa sarung pelindung.

“JANGAN TANGKAP PAKAI TANGAN KOSONG!”

Jeritan histeris meledak serempak dari tenggorokan dua belas tetua sekte saat mereka melompat dari kursi masing-masing dengan wajah pucat pasi.

1
Selarik Syarah
system model baru, menarik utk di baca
Rayzent
🔥👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!